Yangon Tempat Seribu Pagoda di Myanmar
Myanmar

Traveling ke Myanmar, Negeri Seribu Pagoda

Negeri Seribu Pagoda

Traveling ke Myanmar menjadi tujuan saya dan Archa di tahun 2019 ini. Wacana mengunjungi Negara yang terkenal dengan Negeri Seribu Pagoda ini telah tercetus setahun yang lalu setelah kami mengunjungi 3 Negara yang menjadi wilayah Indocina.

Kami bukan orang yang selalu beruntung dalam mengandalkan tiket promo untuk membeli tiket pesawat, tetapi kami selalu beruntung menemui orang-orang di tempat wisata yang kemudian bertukar media sosial dan berlanjut pertemanannya. Jadi saya selalu sampaikan kepada pembaca blog ini bahwa setiap pengalaman kalian atau saya pasti berbeda tidak bisa selalu sama. Bagian terpenting adalah nikmati perjalanan dan belajar dari pengalaman yang ada.

Seperti pengalaman yang saya ceritakan disini, tentang kami yang merasa ‘ditipu’ karena tidak pandai menawar atau mempelajari dengan serius, jadi perjalanan ini tugas saya membackup Archa. Dengan kesepakatan bersama, kami nyatakan bahwa perjalanan Myanmar ini sukses baik dari segi budget maupun dari rencana perjalanan yang bejalan dengan sangat baik.

Baca juga : Festival Bunga Sakura Di Jinhae, Korea Selatan

Untuk memulai perjalanan Traveling ke Myanmar yang juga tekenal Negeri Seribu Pagoda ini, saya akan bagi menjadi beberapa bagian. Traveling ke Myanmar tidak cukup hanya satu postingan saja karena Negara ini benar-benar cantik.

***

Myanmar, 21 Oktober 2019

Setelah mencari tiket pulang pergi dengan harga yang masuk di budget, Malindo Air adalah pesawat yang terpilih. Berbekal dengan pengalaman tahun lalu ke Vietnam dengan maskapai yang sama dan pelayanannya bagus dari Malindo, untuk Traveling ke Myanmar kali ini kami membeli langsung pulang pergi dengan harga Rp. 2.400.000,- saja.

Malindo Air ke Myanmar

Dengan pesawat Malindo ini kalian harus transit di Kuala Lumpur, Malaysia. Jadwal perpindahan pesawat ini tidak terlalu lama, 2 jam saja cukup untuk pergi ke toilet, minum dari water station yang ada di Bandara, dan juga untuk melihat papan informasi Gate mana untuk pesawat selanjutnya.

Saran saya, kalian harus perhatikan Gate yang ada di papan informasi, ya! Karena biasanya dari Indonesia sudah di bantu cetak untuk boarding passnya, tetapi petugas di Indonesia juga menyarankan kami untuk mengecek di bagian counter transit yang ada di Malaysia. Benar saja, pas kami di Malaysia ada penumpang yang tertinggal pesawat Malindo karena entah si penumpangnya ini tidak update papan informasi atau dia sudah yakin dan kemudian tidak bertanya. Jadilah penumpang tersebut harus membeli tiket yang baru untuk bisa sampai ke tempat tujuannya, duh..

Dan sebagai informasi saja, kalau penerbangan Malindo Air sekarang sudah tidak ada free snack on board, mungkin menyesuaikan dari harga yang murah untuk penerbangannya menurut saya, jadi gakpapalah ya.. makan di Bandara juga masih bisa dibawah harga 100 ribu. Gunakan kartu kredit untuk membayarnya daripada kalian harus menukar Malaysia Ringgit yang digunakan untuk sekali atau dua kali makan saja.

Dengan pendaratan yang baik, kami sampai juga di Yangon International Airport. Yiay, selamat datang di Myanmar. Untuk memasuki Negara Myanmar, semua pemegang Paspor Indonesia tidak memerlukan Visa. Di Malaysia pun kami ditanyakan Visa Myanmar, saya langsung jawab, Indonesia tidak perlu Visa, petugas Bandara meloloskan kami. Seketika saya sumringah, untuk pertama kalinya saya merasa bangga memiliki paspor Indonesia, karena pemegang paspor Malaysia pun masih harus menyiapkan Visa Myanmar.

Bandara Yangon menurut saya tidak terlalu luas. Jadi kami hanya turun satu tangga, disambut petugas Imigrasi. Siang itu sepi, dan ada antrian khusus untuk ASEAN. Ketika petugas imigrasi menanyakan Visa, dengan mantap saya menjawab bahwa Indonesia tidak perlu, dan paspor saya resmi di cap oleh petugas tersebut, resmi sudah saya menjadi turis di Myanmar selama 14 hari kedepan walau saya hanya mengambil 6 hari saja. Saatnya Traveling ke Myanmar!

Yang harus dilakukan setelah keluar dari Imigrasi di Yangon International Airport:

  • Menukar Uang dari USD ke MMK (Myanmar Kyat)
Traveling Ke Myanmar

Ketika kalian Traveling ke Myanmar, kalian harus mengetahui Mata uang dari Negara Myanmar adalah MMK atau Kyat yang dibaca Cyat. Di Indonesia kemungkinan tidak ada MMK yang bisa ditukar. Saran saya, kalian bawa uang USD kemudian ditukar di money changer yang ada di Bandara. Tidak perlu khawatir masalah Rate, menurut saya masih bagus ratenya, kok.

1 USD = 1.527 Kyat, sedangkan 1 Kyat = 10 Rupiah. Konversi mata uang yang gak membuat saya migrain karena saking mudahnya.

Kalau beli minuman 500 Kyat artinya 5.000 Rupiah. Gampang, kan?

Jadi saya tukarkan 100 USD = 152.700 Kyat. Kalau kalian punya uang USD pecahan 50/20/10 itu beda yah Ratenya. Karena semakin kecil nominal USDnya, nilai tukarnya juga semakin kecil. Usahakan bawa pecahan 100 USD.

  • Membeli SIM Card Tourist 7 Days.
Sule Pagoda

Setelah menukar uang Kyat, kami langsung menuju outlet Ooredo yang ada di sebelah Money Changer, ada 2 outlet penjual kartu disana yang satu berwarna biru. Setelah sepakat, kami memutuskan membeli Ooredo saja. Kami berbagi koneksi dengan handphone Archa menjadi perangkat hotspotnya.

Dengan paket 10 GB untuk masa aktif 15 hari kami membeli seharga 12.500 Kyat, dibagi dua jadi saya membayar ke Archa 6.250 Kyat. Dengan koneksi ini memudahkan kami membuka Maps dan berselancar di internet. Ooredo sejauh ini pilihan koneksi terbaik kami di Myanmar.

Ada pilihan juga kalau kalian gak mau berbagi koneksi, jadi belinya untuk pemakaian sendiri, harganya gak berbeda jauh, kok. Tergantung kalian masing-masing, ya!

  • Transportasi dari Bandara ke Kota
Icon Sule Pagoda di Myanmar

Sebenarnya begitu keluar dari Imigrasi kami langsung terkena shock culture gitu. Jadi Bapak-bapak bersarung Longyi dan menyirih (kalau Bahasa jawanya nginang) mengikuti kami dan menawarkan jasa taksi ke kami. Gak tanggung-tanggung mereka setia mengikuti kami kesana kemari selama 1 jam.

Kami sudah menolak dengan sopan untuk tidak mengikuti kami lagi, tetapi mereka masih saja berusaha. Karena rencana kami adalah keluar dari Bandara, jalan kaki untuk mencari makanan di luar area Bandara, kemudian mencari taksi dengan harga yang lebih murah dibandingkan taksi dari Bandara untuk berkeliling kota sebelum kami meninggalkan Yangon menuju Old Bagan.

Hal yang membantu kami adalah kemudian kami seperti sudah kebal untuk tidak berbicara, tidak mendengar, dan tidak melihat. Saya belajar tentang perilaku ini dari traveler orang luar dimana mereka bisa struggle dengan kepura-puraannya tersebut. Tadinya kami masih menjawab mereka yang menanyakan kami darimana, mau kemana, dan lain-lain. 

Dengan penuh percaya diri kami keluar dari Bandara. Diseberang jalan dengan kejelian mata saya, akhirnya kami menemukan Bus dengan tulisan Sule Pagoda. Saya mengajak Archa untuk memilih Opsi tersebut. 

Tarif busnya murah meriah, hanya 500 Kyat saja. Walau Bapak petugasnya tidak memahami Bahasa Inggris, dengan Bahasa isyarat saya menayakan Sule? Sule Pagoda? Mereka mengangguk penuh semangat dan mengeluarkan uang 500 Kyat sebagai contoh nominal uang untuk kami masukkan ke kotak yang ada di Bus.

Saran saya, siapkan uang pas. Karena di kotak tersebut tidak ada uang kembalian. Kalau kalian punya uang 5.000 kyat, artinya kalian harus siap berdiri untuk menunggu penumpang lain naik dan meminta uang tersebut sebagai kembalian uang kalian.

  • Makan Siang di Sule Pagoda

Jarak dari Bandara ke Sule Pagoda dengan menggunakan Bus Seperti TransJakarta adalah 1 jam. Kalau dibandingkan naik taksi sebenarnya saya lebih suka menggunakan moda transportasi Bus umum. Karena selain harganya murah, kesempatan menikmati suatu Negara tersebut dengan penduduk lokal dan berkeliling Kota tersebut adalah hal yang menyenangkan. Dan Sule Pagoda adalah pemberhentian terakhir. 

Sule Pagoda adalah sebuah Pagoda yang berada tepat di pusat kota. Pagoda ini melingkari jalanan utama di Yangon. Jadi di Kawasan ini paling terkenal dengan makanan yang beragam, Bus dengan banyak tujuan, juga tempat beribadah.

Yangon kondisinya panas banget, jadi jangan heran kalau kalian akan menemukan orang-orang disana baik perempuan maupun pria menggunakan bedak cemong untuk menjaga wajah dari sengatan matahari. Bedak itu bernama Thanakha.

Ada restaurant lokal yang ada di seberang Sule Pagoda, dan kami memutuskan makan disana. Harga makanan tersebut masih tergolong masuk di kantong kami. Saya sendiri hanya memesan Nasi Goreng seharga 2.500 Kyat.  Dan minumnya saya tidak memesan karena sudah membeli di Bandara seharga 500 Kyat.

  • Istirahat di Sule Pagoda

Setelah mengetahui bahwa harga tiket masuk Sule Pagoda untuk turis adalah 5.000 Kyat, kami urungkan niat tersebut. Dengan pertimbangan kami masih terlalu repot membawa perlengkapan tas carrier yang segede punggung saya tersebut. Kami melihat ada trotoar didepan Gereja yang ada di seberang Sule Pagoda dan memutuskan duduk santai sambil menghirup oksigen. 

Benar-benar panas rasanya air mineral disana adalah kebutuhan yang harus dipenuhi, kalau tidak kalian bisa dehidrasi. Sambil beristirahat, kami memikirkan bagaimana caranya dari Sule Pagoda bisa sampai di Terminal Bus Aung Mingalar. Karena dari beberapa orang yang kami temui di sekitar Sule baik yang di restaurant maupun dijalanan tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.

  • Bus dari Sule Pagoda ke Terminal Aung Mingalar
Min Mingalar Bus Yangon

Saya coba membaca beberapa petunjuk di internet perihal Bus nomor berapa yang bisa membawa kami dari Sule Pagoda ke Terminal Aung Mingalar yang terkenal di Myanmar, dan semua nihil. Karena berujung dengan paling mudah menggunakan taksi duduk manis, dingin, dan sampai. Saya tidak mau pengalaman di Thailand kemarin terulang lagi. Terlalu mudah untuk menyerah.

Jadi kami berjalan menyelusuri Bus Stop yang ada di Sule dengan harapan ada petugas yang membantu mengarahkan turis seperti kami. Sayangnya, tidak kami temui. Bahkan kami selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di Sule karena siang terik begini, kami membawa carrier dan kami perempuan yang berjalan hanya berdua saja, tidak ada rombongan lainnya.

Secara acak saya mengajak warga lokal berbicara Bahasa Inggris. Ada yang menolak, ada yang tersenyum. Bersyukurlah saya bertemu dengan 3 orang Mba dan Mas-Mas yang membantu kami. Mereka menyirih, yang mana saya gak bisa fokus mendengarkan mereka karena aroma sirihnya itu luar biasa. Tetapi saya masih bisa menangkap pembicaraan mereka.

“Bus Stopnya ada di sebelah sana, di seberang sana, dengan nomor bus 36, berwarna kuning, dan tarifnya 300 Kyat.”

Langsung kami mencari Bus dengan nomor 36 tersebut. Yang belakangan kami ketahui bahwa nomor bus 36 dari Sule itu ada yang menuju pemberhentian terakhir di Terminal, dan ada yang berbelok ke arah lain sebelum terminal. Sampai sekarang kami tidak tahu dimana bedanya, karena tulisannya dalam Bahasa Burma. Kalian harus menanyakan hal tersebut ke orang lokal, kalau tidak, bisa berakhir seperti kami yang hampir saja nyasar karena ternyata salah naik Bus 36. 

Kami diselamatkan oleh penumpang Bus tersebut yang melihat arah dari GPS Archa tidak sesuai dengan arah yang seharusnya ke Terminal. Mereka membantu memberhentikan Bus tersebut, ada yang berteriak ada yang sampai berdiri kemudian ngomong ke petugas busnya. Warga Myanmar sangat berbaik hati.

Kami menyambung dengan nomor bus kalau saya tidak salah mengingat nomor 19. Dibantu warga lokal untuk mengetahui nomor busnya. Bayar hanya 200 Kyat saja.

Jarak tempuh dari Sule Pagoda ke Terminal Aung Mingalar adalah 1 Jam 15 Menit. Jadi jangan mepet waktu, ya! Karena waktu itu kami  jalan jam 3an, sehingga tidak terlalu macet.

  • Terminal Bus Aung Mingalar Menuju Ke Old Bagan
Terminal Aung Mingalar Yangon

Begitu sampai didepan Terminal, sudah banyak warga atau calo yang menawarkan tiket bus. Terminal ini adalah yang terbesar di Yangon. Satu-satunya pintu untuk menuju ke luar kota menggunakan moda transportasi darat ada di sini.

Kejadian ini jangan ditiru, Archa masih harus belajar untuk tidak berbaik hati seharusnya. Dia mengeluarkan ponselnya memberikan ke calo untuk menanyakan busnya. Kami memang sudah memiliki tiket yang dibeli secara online di Indonesia. Jadi semua sudah disiapkan dari keberangkatan kami ke Myanmar. Hasilnya, calo tersebut menjawab busnya tidak ada, adanya yang siap jalan disebelahnya, dan tidak ada ruang tunggu. Archa hampir percaya, tetapi saya tidak. 

Saran saya, kalian langsung masuk saja kedalam Terminal. Karena suasana Terminal sesungguhnya adalah 100 meter dari jalan raya. Disana kalian akan menemukan banyak loket Bus yang menuju ke Arah Mandalay, Old Bagan, atau tempat tujuan lainnya. Jadi gunakan ilmu kepercayaan diri dan melangkah maju saja. Didalam kalian akan disambut puluhan Bus parkir secara rapi. Untuk tiketnya sendiri kalian bisa memilih untuk membeli secara online atau ditempat. Kalau kami selalu membeli online, selain memiliki kesempatan untuk memilih kursi, juga untuk memudahkan kami tidak membawa uang banyak atau mengeluarkan kartu kredit. Dan harganya sudah pasti jadi tidak perlu memusingkan penyedia bus mana yang lebih murah harganya.

Untuk menuju ke Old Bagan, kami memilih Bus yang tercepat untuk jam keberangkatannya. Jadi bus Mandalay Min Express adalah pilihan kami. Bus berangkat jam 7 malam dengan estimasi sampai di Old Bagan jam 5 Pagi esok hari. Kami masih bisa berburu sunrise. Bus ini hanya berhenti 1 kali saja, jadi manfaatkan waktu pemberhentiannya untuk ke toilet dan makan.

Semua Bus yang ada di Myanmar sangat nyaman untuk digunakan jarak jauh. Saya akui karena semua busnya baik yang lokal ataupun yang terkenal seperti JJ express, menggunakan Scania atau Mercedez dalam pengoperasian Busnya. Kalau kalian ingin merasakan sensasi naik Bus dengan warga lokal silahkan memilih armada bus selain JJ express. 

  • Sampai di Old Bagan

Kami sampai di Kota Seribu Candi ini tepat jam 5 pagi. Perjalanan ini saya akan tulis di postingan selanjutnya. Karena ada cerita seru ketika sampai di Terminal Bagan Shwe Pyi. Karena ada perdebatan antara kami dengan para pencari rezeki yang bertugas sebagai driver taksi. Seperti apa ceritanya? Stay tune, ya!

Berikut ini untuk detail biaya yang dikeluarkan hari pertama kami di Myanmar. Kalau ada yang perlu dipertanyakan, silahkan menulis dikolom komentar, ya!

Budget Traveling Ke Myanmar

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.