Posted on

Ndue’s Visit to Ragunan Zoo (Jakarta) with The Trips.

Libur telah tiba, Libur telah tiba, hatiku gembira!

Bulan Desember tahun ini dibuka dengan long weekend dan diakhiri dengan long weekend juga di akhir bulan. Semua orang pasti bersuka cita karena aktivitas yang biasanya dikerjakan akan mengalami off pada hari libur tersebut. Sebutlah saya tanpa inisial apapun. Saya yang bekerja sebagai buruh sangat menikmati setiap yang namanya libur panjang. Biasanya saya habiskan waktunya untuk menonton film-film yang siap di tonton, atau membaca beberapa novel yang sudah saya koleksi dari beberapa waktu yang lalu. Dan harapan saya beberapa waktu kedepan semoga saya menjadi seorang blogger yang kece untuk selalu bisa menulis di halaman blog ini.

Kemarin, hari Jum’at tanggal 1 Desember 2017 bertepatan dengan Maulid Nabi saya dan beberapa rekan saya menyusun liburan hemat dan sehat untuk menghabiskan seharian bersama. Rasanya kalau sudah berkumpul dengan sahabat waktu itu berjalan begitu saja. Cepat sekali. Rasanya baru bertemu pagi ini, tetapi tahu-tahu sudah jam 9 malam dan waktunya pulang kemudian berpisah lagi.

Burung di depan pintu masuk utara.

Tadinya ada beberapa opsi yang dipilih untuk long weekend kali ini. Tetapi karena budget dan ketersediaan tiket yang terbatas kami memutuskan untuk berkunjung ke Kebun Binatang Ragunan atau biasa disebut juga Ragunan Zoo. Kebun Binatang yang ada di Jakarta Selatan ini bukanlah hal yang asing untuk saya. Karena dari kecil, ketika Alm. Bapak mempunyai rezeki yang berlebih kami pergi ke Ragunan. Banyak koleksi foto saya saat itu, tetapi sekarang sudah tidak saya temukan lagi. Maka dari itu saya seperti mengulang kembali kenangan indah tersebut. Saya tidak lagi bersedih hati, karena saya harus bahagia bahwa Bapak dan Mama saya adalah orang yang menyayangi saya dan selalu ingin menyenangkan hidup saya tanpa batas. Terima kasih yah Pak, Ma..

Elephants!

Kalau dulu moda transportasi yang digunakan untuk ke Ragunan terbatas, sekarang tidak lagi. Untuk menuju ke Ragunan selain ditempuh menggunakan kendaraan pribadi, juga banyak moda transportasi umum yang bisa kita gunakan. Hari ini contohnya, saya menggunakan Transjakarta yang langsung ke arah Ragunan dari Monas. Kalau beberapa tahun yang lalu ke Ragunan harus menggunakan jalur dukuh atas2 yang transit haltenya panjang sekali, saat ini ada alternatif lain dari Monas yang langsung ke Ragunan dengan menggunakan dua metode via Mampang atau Kuningan disesuaikan dengan kebutuhannya.

Saya baru tahu kalau dari Monas ada yang langsung ke Ragunan beberapa waktu ini. Karena sering melihat sewaktu saya mengantre Bus pulang kerja, makanya saya mencetuskan untuk menggunakan Transjakarta saja. Armadanya banyak, kok. Jadi tidak perlu khawatir berdesak-desakan seperti dulu lagi. Dan kemarin beruntungnya kami mendapatkan yang via Mampang, jadi kami merasakan jalanan fly over khusus untuk Transjakarta. Duh, bahagia!

Wajah-wajah bahagia dapet kursi paling belakang dengan formasi lima minus si Kobed.

Setelah sampai di Ragunan, kami singgah ke tempat makan untuk menyambung kehidupan dulu. Dan di samping terminal Ragunan ada warung soto ayam dan seperangkatnya. 😀 jadi kami membeli makanan disitu dengan harga yang standar tapi menurut kami rasanya kurang enak. Jadi kalau mau makan sekedar mengisi perut kosong bisa disitu atau ada alternatif lain di dalam Ragunan seperti pecel atau kerak telor.

Ragunan hari ini tampak lengang. Saya bisa melihat dari jumlah penumpang yang turun dari Transjakarta, parkir kendaraan pribadi, dan antrean loket tiket yang berada disamping pintu masuk.

Untuk masuk ke Ragunan sendiri saat ini metodenya menggunakan uang elektronik seperti halnya kita naik Transjakarta atau Commuter Line. Tadinya saya pikir semua kartu bisa di tap dan masuk tetapi untuk di Ragunan sendiri semua harus menggunakan kartu dari Bank DKI atau disebut JackCard. Karena kami tidak ada satupun yang menggunakan JackCard, jadi kami harus membeli 1 kartu untuk digunakan berlima.

Ciwi-ciwi The Trip’s.

Perjalanan kali ini hanya berlima dari biasanya berenam. Karena Obed lagi ada keperluan yang lain jadi pria satu-satunya diantara empat wanita ini adalah Hulman. Dan para wanita alias geng ciwi-ciwi ada Saya (Ndue), Kak Corry, Putri, dan Ito Lidya.

Setelah melakukan pembayaran dan masuk, kami mulai menjelajahi Ragunan. Hal yang harus diperhatikan ketika mengunjungi ragunan adalah gunakan alas kaki yang nyaman. Karena Ragunan ini luasnya menurut saya ndak karuan. Intinya luas banget. Kalau bawa high heels atau widgets udah mendingan dilepas terus telanjang kaki saja. Karena pasti baru berjalan beberapa langkah saja kakinya pasti lecet.

feel like in heaven.

Selain itu juga gunakan pakaian yang menyerap keringat, tas yang mudah dibawa dengan isi secukupnya, dan bawa payung. Karena ini adalah musim hujan yang bisa datang sewaktu-waktu untuk mengantisipasi air hujan yang tiba-tiba datang kemudian pergi. *eh.

Squad ciwi-ciwi.

Kami menjelajahi Ragunan selama 4 jam dengan berkeliling melihat Gajah, Rusa, Jerapah, Burung, Unggas, Berang-Berang, dan beberapa hewan lainnya di daerah Utara dan Timur. Untuk menjelajah daerah Selatan dan Barat rasanya sudah tidak kuat kaki melangkah. Jadi untuk hewan seperti ular ataupun buaya tidak kami kunjungi.

Jerapah dan rumah Jerapah.

Selain itu juga kami masuk ke tempat bernama Pusat Primata Schmutzer. Kalau saya baca di mesin pencarian, taman ini walaupun berada di kawasan Ragunan tetapi untuk pengelolanya sendiri dari pihak swasta. Makanya pada saat di pintu masuk tas kami diperiksa secara detail banget. Air minum sama sekali tidak boleh masuk dan harus dititipkan di tempat yang tersedia. Di taman ini semua primata didesain seperti tinggal di kawasan aslinya. Karena untuk pengunjung hanya disediakan jalan setapak yang mengelilingi tempat-tempat primata ini. Pada saat kami memasuki kawasan ini suara primata-primata yang ada di dalam kandang ini bersaut-sautan dan ternyata suaranya merdu loh!

Welcome to Taman Primata 😀

Sayangnya pada waktu kami singgah kami tidak bisa melihat gorila langsung. Sudah menunggu didepan kandangnya tetapi tidak kunjung tiba. Mungkin mereka sedang beristirahat. Jadi kamu putuskan untuk keluar dan melanjutkan acara selanjutnya.

Walau kamu terlihat gelap tapi saya tetap cinta…

Dan sebelum pulang, di sebelah kanan tangga sedang dilakukan pemutaran film tentang satwa dan peradaban manusia yang ada di dunia. Walau penontonnya keluar-masuk karena mungkin saja itu membosankan, menurut saya itu menarik. Bagaimana dulu manusia berburu hewan, bagaimana dulu nenek moyang kita dijelaskan dengan evolusinya, sampai dengan saat ini peradaban manusia menjadi berambisi untuk memindahkan manusia ke Planet lain selain di bumi. Filmnya edukatif sekali. Dan juga sekalian kami mengistirahatkan kaki dan ngadem di tempat ini. :p

Sudah nungguin gorila tapi tak kunjung datang. Putri lagi menikmati minuman gratis di keran-keran yang sudah tersedia.

Waktu sudah menunjukkan tepat jam 4 sore saatnya kami kembali ke halte Transjakarta untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya yakni makan dan ngobrol cantik di daerah Sarinah. Sekalian merayakan hari jadi geng kami yang dinamakan sangat alay oleh saya. Namanya The Trip’s. Tanpa terasa perjalanan geng ini sudah berjalan satu tahun lamanya. Tahun 2017 kami berhasil ke Bali semoga di tahun selanjutnya geng ini bisa melanglang buana ke beberapa tempat lagi. Dan di tahun-tahun selanjutnya semoga tetap utuh dan selalu kompak. Thank you, Gengs. For spending one day together with me. Thank you for bring me back to my childhood memories.

Happy bday for us. Happy bday The Trips for the 1st time and will be forever. Amin~

Dan buat yang mau lihat-lihat foto lainnya atau mau lihat Instagram Story bisa lihat di IG saya ya. Ada disini ig saya ndueisndue.

Dan rincian pengeluaran kami hari ini.

  1. Tiket Transjakarta PP – Ragunan – Sarinah 10.500,-
  2. Tiket Masuk Ragunan 5.000,-
  3. Tiket Masuk Taman Primata 7.500,-
  4. Makan di Terminal 35.000,-
  5. Makan di Sarinah + Nongkrong 50.000,-

Total pengeluaran seharian Rp. 108.000,- dan berakhir selalu bahagia. 🙂

Ini cerita liburan saya kali ini, kalian gimana?

Regards,

Ndue.