Posted on

Ndue’s Journey to Jakarta Aquarium Neo Soho (2017)

Backlight me and The Piranha. * * #piranha #siluet #backlight #fish #weekend #selfie #jakarta #enjoyjakarta #holiday

A post shared by NDue 'Rini Astuti Handayani' (@ndueisndue) on

Ada yang pernah denger atau berencana main ke Jakarta Aquarium? Tadinya saya berpikir ini semacam pameran aquarium yang ada di salah satu mall di Jakarta Barat yaitu Neo Soho. Dari awal tahun 2017 saya sudah mulai mengintip apa saja yang ditawarkan oleh Jakarta Aquarium, tetapi karena di rasa harganya lumayan jadi saya urungkan niat untuk main ke lokasi ini.

Welcome board in Neo Soho

Tetapi, setelah melihat beberapa review yang menarik tentang tempat ini, jadilah akhirnya saya mengunjungi tempat ini dua minggu lalu. Setelah juga melihat review tersebut dengan membandingkan tempat bernuansa yang sama di Sea World Ancol, rasanya tidak adil kalau saya harus mengurungkan niat itu lagi. Jakarta Aquarium itu jelas berbeda dengan yang ada di Sea World walaupun temanya hampir sama.

Untuk tiket masuk yang regular dibandrol dengan harga 175 Ribu dan apabila ingin merasakan pertunjukan 5 Dimensinya maka tiketnya dinamanya menjadi premium dengan harga 225 ribu untuk satu orangnya. Pasti banyak yang bilang, kok harganya lumayan, ya? Yah wajar aja, temans. Karena lokasinya di Mall jadi kalian ndak perlu bayar tiket masuk lainnya lagi seperti kalau ke Sea World ketika masuk kita harus membayar tiket masuk di gerbang ancolnya. Semakin banyak yang masukdalam sekeluarga, maka makin kerasa juga mahalnya siy, ya..

Rasanya mau nyelam di air ini..

Selain itu juga biaya perawatan satwanya membutuhkan biaya yang tidak murah. Terlihat dari ragam satwa yang lumayan lengkap disini dan juga perawatan untuk alat-alatnya bisa dibayangkan biayanya tidak murah. Yang menarik di Jakarta Aquarium ini setiap tempat satwa diberikan ipad untuk menunjukkan informasi hewan apa dan bagaimana cerita dari populasinya. Jadi selain liburan bisa menambah wawasan bagi anak-anak atau juga usia dewasa.

Yang menjadi hal pertama kali menarik perhatian saya adalah Nemo dan Dori. Yap, sebagai penggemar berat mereka saya harus mencari mereka terlebih dahulu baru kemudian saya ingin melihat satwa yang lainnya. Saya lupa kalau di Sea World apakah ada Nemo, tapi disini Nemo dan Dori dari ukuran kecil sampai yang menurut saya besar ada. Lengkap dengan warna yang sesuai dengan filmnya. Dan tentunya mereka gemas-menggemaskan saya luar biasa. Andai saja saya bisa membawa mereka ke rumah, saya mau menjadi anteran yang pertama untuk menjadi orang yang bisa membawa Nemo ataupun Dori kerumah. Yah ampun, they succeed stole my heart. They so cute.

the legend. 🙂

Kemudian yangmenjadi perhatian saya selanjutnya adalah Piranha. Iya ikan yang konon mematikan ini juga mempunyai spot tersendiri untuk dinamai Piranha Spot. Ketika saya mengamati ikan-ikan ini kenapa mereka tenang sekali ya. Saya jadi kepikiran bagaimana mereka bisa menjadi brutal bahkan mematikan? Apakah Piranha ini akan menjadi agresif dengan sesuatu yang pergerakannya juga secara refleks dan spontan, ya? Selama 10 menit saya mengamati, dan saya jadi terhipnotis akan ketenangan yang diberikan oleh Piranha-Piranha ini.

blue woman.

Oh ya, waktu saya membeli tiket di depan petugasnya memberikan informasi kalau weekend di jam 13, 15 dan 17, ada pertunjukkan yang menggabungkan aksi panggung dengan trik ilusi dan tarian bawah air berjudul Pearl Of The South Sea. Karena saya datang di jam 13.30 maka saya terlambat untuk pertunjukan yang pertama. Jadi saya menyaksikan yang di jam 15 saja. Lokasi pertunjukkannya sendiri ada di depan teater 5 Dimensi dekat dengan pintu keluar. Pertunjukkan ini aman untuk anak kecil, lho. Jangan khawatir karena sebelum pertunjukkannya petugasnya memberikan semacam informasi bahwa akan ada suara yang keras dan asap yang keluar sehingga para orang tua wajib untuk menjaga anak-anaknya. Dan ketika pertunjukkannya berlangsung saya sangat siap menyaksikannya. Jujur, saya aja yang udah segede ini masih kagum akan si putri duyungnya atau mermaid gimana mereka yang masih anak-anak, ya? Pertunjukkan ini keren! Beneran deh, kalian harus menyempatkan untuk melihatnya.

Very nice perform and its a honour for me to took a picture with all cast in this show 🙂

Kalau mengenai cerita theater 5 Dimensinya saya tidak mau cerita, ya. :p takutnya nanti saya spoiler. Intinya seru dan juga kerasa dingin luar biasa. Deg-degan juga, siy. Tapi menyaksikan pemandangan bawah laut yang sangat luar biasa itu rasanya kalau tidak sekalian membeli tiket yang premium rugi juga. Jadi sekalian saja beli tiket yang terusan.

Area Jakarta Aquarium dibagi menjadi 2 lantai. Ketika masuk itu saya namakan lantai atas. Di lantai ini satwanya beragam dari yang hidup di air maupun yang hidup di darat seperti ular, bunglon, katak, kura-kura dan banyak lagi. Dan ada yang menggemaskan yakni berang-berang. Ada yang pernah atau menjadi fansnya Narnia? Pasti kalian makin kesengsem sama hewan lincah ini. Dan dibawah kandang berang-berang bisa buat foto karena semacam ada lorong kacanya. Dan yang membuat saya makin bahagia lorongnya muat atau bahkan saya bisa bergerak bebas, itu tandanya badan saya gak gede-gede banget, kok. Hahahaha!

Di lorong berang-berang..

Turun ke lantai bawah langsung di sambut dengan aquarium raksasa yang instagramable. Buat saya di lantai bawah ini semua tempat bisa menjadi lokasi apik untuk diambil fotonya. Dan saya paling suka mengambil foto dengan backlight. Walaupun mungkin bagi sebagian orang gelap gak kelihatan wajahnya atau gimana. Tapi, buat saya itu semacam refleksi wajah yang eksotik. Makanya stock foto saya banyak di lokasi ini dan belum banyak yang saya upload di Instagram. Jadi sabar saja yah semua my fans, Hahaha.

looking at you, Nemo…

Kalau ada yang bilang ada batasan waktu ketika main di lokasi ini, saya tidak merasakan adanya peraturan itu. Karena ketika saya membeli tiket, saya pastikan kepada petugas yang didepan apakah benar? Ternyata tidak ada batasan waktu saya bisa leluasa bermain di dalam hingga Jakarta Aquarium tutup jam 22. Jadinya saya kemarin puas-puasin disana saja. Mungkin kalau ada ide foto prewed disana juga keren, kok. Tapi prewednya pakai hape saja jangan pakai flash jadi hasilnya nanti backlight and exotic. Seriously im being fan of backlight photos. Entah sejak kapan karena menurut saya memang keren.

M for your intial and Me.

Akhirnya setelah menunjukkan hampir jam 6 sore, saya memutuskan untuk menyudahi kebersamaan dan perjalanan saya bersama Jakarta Aquarium. Karena saya ada jadwal acara selanjutnya. Rasanya sedih juga berpisah dengan seluruh satwa yang ada disana. Semuanya keren-keren banget. Ubur-ubur yang mengingatkan saya dengan Patrick dan Spongebob dan semua hewan yang saya pernah lihat ketika saya memainkan game mancing di handphone saya dulu. Akan ada waktunya untuk berpisah juga. Suatu saat saya pasti kembali untuk mengunjungi kalian kembali. 🙂

Jadi sudah ada rencana untuk ke Jakarta Aquarium?

Regards,

Ndue.

Red Jellyfish. And i took this pic with my phone only. Instagramble 🙂
I still can see you…
backlight blue..
youre totally stole my heart~
Aquarium di lantai bawah
Posted on

Ndue’s Journey to Danau Biru Cisoka – Tangerang (2017)

Postingan perihal perjalanan saya ke Hong Kong saya postponed dulu, ya. Karena saya lagi kepikiran untuk menulis acara weekend list saya untuk sekedar kuliner atau menjelajahi tempat-tempat disekitaran domisili saya. Karena saya memiliki target baru bahwasannya saya harus pergi keluar untuk menghibur diri setelah seminggu bertempur dengan hiruk-pikuk Jakarta. Duh, luar biasa sekali bahasa saya kali ini, ya!

Baiklah, postingan kali ini saya bermain disekitaran tempat yang kemungkinan beberapa tahun kedepan saya singgahi. Setelah juga berdiskusi sama Dia, akhirnya mencapai kesepakatan untuk menjelajahi Tangerang. Dari dulu, saya kepengennya pergi ke Planetarium, hanya saja Planetarium masih dalam perbaikan yang entah harus berapa lama lagi dibuka secara umum.

Perjalanan ini ke lokasi bernama Danau Biru Cisoka. Atau bisa juga bernama lain Danau Biru Cigaru, Telaga Biru Cisoka, dan bisa juga menjadi Danau Cisoka Cigaru. Apapun namanya, lokasinya selalu sama ketika kalian mengetikkan petunjuk ke Danau Cisoka.

Cuaca saat itu mendung cenderung hujan. Setelah meyakinkan diri bahwa   harus berangkat karena tergiur sepanjang jalanan berwarna biru alias tidak ditemukan tanda-tanda macet, jadilah kami berangkat ke tempat yang ngehits ini.

Perjalanan ditempuh menggunakan sepeda motor selama 1 jam 10 menit untuk jarak tempuh dari rumah saya 40KM. Luar biasa, perjalanan kali ini menyebrang Provinsi. *oke kali ini lebay*

Benar kalau lokasinya memang masuk kedalam seperti harus masuk ke gang perumahan warga sekitar. Jadi, jangan berharap lokasinya benar-benar dipinggir jalan raya. Kalau bingung, tinggal ikuti saja GPS mengarahkan. Jalanan tadi masih bisa dilalui mobil simpangan kok, jadi jangan paranoid dulu mendengar berita kalau jalanan sempit atau apalah. Semua itu harus dibuktikan dengan jejak langkah kaki kita di sana. *ciye~

Sebelum masuk ke danau, ada plang tanda bahwa masuk ke Danau tersebut harus melewati penjaga jalan didepan. Saya katakan penjaga, karena kami membayar Rp. 5.000,- untuk bisa menuju ke arah danau. Disini, tidak ada tiket masuk alias tidak ada bukti pembayarannya. Setelah itu masuk ke gerbang kedua membayar lagi sebesar Rp. 5.000,- kali ini ada tiketnya. Dan untuk parkir sepeda motor kita juga harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 5.000,- Jadi total untuk administrasi dua orang dengan satu sepeda motor adalah Rp. 15.000,-

Sampai disana cuaca masih mendung. Air di danau tidak menampakkan warna biru seperti yang sering saya lihat di Instagram. Seketika hati saya sedih dan menciut.

Sambil iseng berfoto-foto dilokasi manapun, semesta mendukung saya kali ini. Awan mendung bergeser menjadi awan yang cerah dan menghasilkan foto-foto yang cantik juga untuk menjadi koleksi dan dibagikan di Instagram saya. Alhamdulillah.

happiness 🙂

Oh ya, di danau ini semua aman. Tidak ada pengamen atau pengemis. Walau terkesan dikelola oleh warga, semuanya bisa sesuai dengan harapan kita. Hanya saja, kalau Pemerintah peduli, akan banyak peluang usaha tercipta disana. Seperti tempat makan permanen atau toilet permanen disekitaran danau-danau ini.

Okeh, saya hanya bisa berpendapat dan membaca dari internet. Itu beneran danau, ya? Sebenarnya dulu ini adalah galian pasir yang kemudian sudah tidak beroperasi lagi. Kemudian hujan menggenangi bagian-bagian yang menjadi galian ini. Jadi genangan air itu kena paparan sinar matahari dan perubahan cuaca sehingga berubah menjadi warna biru atau hijau. Walaupun ini galian, tidak dianjurkan untuk berenang disana. Konon, dalamnya lebih dari 10 Meter. Saya bayanginnya aja merinding, jadi nikmati saja untuk bisa berfoto-foto disana.

Jangan mencoba berenang..

Rekan-rekan saya yang melihat foto saya pada heran. Bahkan sebagian kena tipu oleh saya yang mengaku bahwa lokasi pengambilan foto ini adalah di Belitung yang terdapat danau kaolin. Sebagian percaya, sebagian keukeuh bahwa saya menipu. Ketika saya berkata jujur sebagian yang percaya tadi mencari tahu lokasinya dan ingin berkunjung kesana. Cihui kan saya? Bisa membuat orang penasaran dan semoga benar-benar tertarik untuk berkunjung kesana.

Setelah dua jam saya berkeliling dan mengambil foto dengan berbagai macam gaya juga yang aneh-aneh semua karena kelakuan saya itu, saya memutuskan untuk meminta pulang saja. Karena cuaca mendadak mendung dan takut turun hujan. Semua makanan disana terlihat enak, tetapi saya belum tertarik untuk mencobanya. Saya lebih tertarik dengan Bapak-Bapak penjual cilok yang dibalurin telur kemudian digoreng. Enak betul rasanya dan murah meriah.

candid :p

Mengenai perjalanan kali ini menyenangkan. Dan terima kasih ‘Dia’ yang selalu menemani saya dan berusaha untuk membuat hasil foto-foto saya selalu keren untuk dibagikan di Instagram saya. Kalian bisa langsung mampir ke blog saya, ya!

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.  🙂

 

Regards,

 

Ndue