Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 2 – The Peak, Madame Tussauds Bertemu Pak Jokowi, Museum Trick Eye 3D

Bertemu Pak Jokowi di Hong Kong. Bahagia banget!

…Menyambung tulisan sebelumnya bagian – pertama dan kedua. Silahkan di klik masing-masing link untuk membacanya.

Agenda hari kedua di HK akhirnya tersusun secara rapi. Setelah pagi dan siang kami lalui, akhirnya kami siap untuk melanjutkan adegan selanjutnya yakni ke The Peak.

Yiay, our tickets already in my hand. Lets start this journey!

Apa aja yang ada di The Peak?

Di gedung ini kalian bisa mengunjungi patung lilin yang menyerupai aslinya yakni Madame Tussauds, dan tentunya bisa melihat gedung-gedung tersusun rapih dari ketinggian 428 mdpl dengan view 360 derajat yang juga bisa disebut Sky Terrace 428. Tempat ini wajib dikunjungi kalau kalian ke HK, karena selain tempatnya bagus untuk berfoto juga untuk menuju ke gedung ini sendiri di tempuh dengan The Peak Tram.

The Peak Tram already arrived. Ah.. i cant be patient for enjoy this Tram..

Apa itu The Peak Tram?

Saya menyebutnya kereta dengan dua gerbong. Kalau membaca ceritanya, kereta ini konon sudah beroperasi dari dahulu kala. Bisa ratusan tahun usianya. Tetapi, tidak perlu khawatir karena kereta ini aman dan juga selalu diperbarui. Ada sejarahnya ketika kalian memasuki The Peak atau Victoria Peak. Pada saat naik Peak Tram, jangan lupa untuk ambil posisi kanan dari kedatangan keretanya, ya! Karena kalian bisa merasakan naik kereta dengan kecuraman yang hampir miring/vertikal. Perasaan saya campur aduk, dan pastinya bahagia tidak tertandingi. Saya bahagia.

Bagaimana akses ke The Peak?

Gini, dari jauh-jauh hari sebelum sampai di HK, saya selalu berkomunikasi dengan Cory untuk memilih yang terbaik untuk agenda selama kami di HK. Mengingat waktu 5 hari 4 malam disana itu rasanya kurang banget untuk meng-explore Negara ini. Dan ternyata untuk jadwal ke The Peak adalah hari minggu. Yang mana, antreannya pasti mengular. Jadilah kesepakatan kami membeli tiket paketan dari KLOOK. Awalnya rada bingung bagaimana untuk pembayaran, meeting point, dan kesulitan-kesulitan dilapangan.

Tugas ini adalah tanggung jawab saya. Jadi sebelum saya memutuskan membeli paketan yang mana, saya pelajari dulu apa itu KLOOK dan bagaimana prosesnya. Setelah meyakinkan diri bahwa KLOOK bukan hanya sekedar aplikasi, tetapi bisa menjadi sarana mempermudah perjalanan kami, jadilah saya membelinya.

I meet you, KLOOK. *love*

Apa saja yang ada di KLOOK?

Banyak. Tergantung kalian mau memilih paketan mana-mana saja sesuai dengan selera, budget dan jam yang disepakati. Waktu itu saya memilih jam 3, dengan paketan lengkap selama kami di The Peak. Pada saat membeli, saya juga menghafalkan dimana kami harus bertemu. Yap, KLOOK bisa ditemukan di MTR Central dengan pintu keluar K. Kalau belum ada agentnya, kalian harus menunggu sampai mereka membawa bendera kuning bertuliskan KLOOK dan disebutkan jam berapa yang masuk ke jalur antrean. Semuanya tertib dan teratur.

Meeting pointnya.

Yang kami beli :

  1. Return The Peak Tram dengan antrean khusus 1 kali pada saat berangkat.
  2. Entrance Madame Tussauds.
  3. Entrance Trick Eye 3D
  4. Entrance Sky Terrace 428

Dan kami paling gencar jalan di belakang guide kami untuk menanyakan posisi duduk yang nyaman, bagaimana prosedur kami disana, dan juga bertanya seputar The Peak. Oh ya point pertama diatas, apabila kalian membeli untuk weekend itu sangat, sangat berguna. Betapa antreannya mengular dengan jalur umum, tetapi dengan membeli special line from KLOOK, tidak perlu mengantre. Saya, merasakan seperti orang penting karena jalan tertutup pembatas itu terbuka begitu saya lewat. Really really worth it.

Sampai di The Peak, kami langsung melihat lokasi Madame Tussauds. Saat itu jam 4 sore dan karena di rasa masih rame pengunjung, kami memutuskan untuk ke Museum Trick Eye 3D saja dulu. Ternyata, ada di gedung sebelah. Jadi kami keluar menuju gedung bernama The Peak Galleria.

Gedung The Peak Galleria juga sama dengan The Peak. Bentuk bangunannya juga menyerupai Mall dengan 3 lantai saja. Dan lantai paling atas bisa ditemukan Trick Eye 3D. Sebenarnya museum ini banyak banget di Indonesia. Tetapi, rezekinya saya pertama kali justru di HK. Alhamdulillah. Mungkin, saya akan mengunjungi yang ada di Indonesia suatu saat nanti.

Untuk tema di museum ini ada 5 bagian dan terbagi juga menjadi 5 ruangan. Secret Garden di bagian pertama, World of Masterpice di bagian kedua, Great Adventure di bagian ketiga, Neverland di bagian keempat, dan terakhir adalah Hong Kong Discovery.

Tidak perlu mengantre. Because KLOOK have special line. Yiay~

Memasuki ruangan seperti ini menjadikan saya ataupun Cory berasa muda kembali. Suasanya ceria dan berwarna-warni. Dari setiap bagian-bagian itu yang saya suka adalah di bagian pertama. Disana warnanya dominan biru, warna kesukaan saya. Dan yang PR adalah ketika badan besar saya ini memasuki tong untuk bergaya di depan Monalisa. Butuh tenaga ekstra dan bantuan Cory juga pandangan penuh tanya dari beberapa pengunjung kenapa saya nekat terjerembab di tempat itu. Jadi, untuk kalian hati-hati ya karena terjebak dalam tong itu lebih menyakitkan daripada terjebak nostalgia. *eh.

Ini butuh usaha keras buat bisa gelantungan kayak begini…
Full of colour..
Rainbow of me…

Setelah berkeliling, berfoto di museum ini selama 2 jam kami keluar. Tidak langsung memasuki The Peak lagi. Ada 1 jam kami beristirahat dan bercerita ngalor-ngidul tentang kerjaan, kisah percintaan, harapan, atau apapun saja yang bisa kami ceritakan dan dilebur dalam sore dibawah gedung The Peak senja itu.

Favorite spot~
Terjebak di Tong…

Dan langsung kami berjalan kembali ke Madame Tussauds. Sebenarnya pada saat ke Singapore November 2016 lalu, kami berdua sudah mengunjungi museum patung lilin ini. Hanya saja, kali ini istimewa. Kenapa istimewa? Jelas, ada dua Presiden Indonesia di museum tersebut. Dimana, yang terbaru adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Karena kami berdua ngefans dengan Bapak Jokowi, maka kami harus mengunjungi dan merasakan dekat dengan Bapak walau hanya melalui patungnya. Tetapi, si Bapak benar-benar mirip aslinya. Oh ya, pada saat kami kesana tepatnya mendekati hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tema baju dan backgroundnya Pak Jokowi juga berbeda. Saat itu Bapak menggunakan batik dengan berlatar belakang monas, icon of Jakarta, and Indonesia.

Finally i meet you Mr. President. 🙂

Saya penasaran, kenapa harus Bapak Jokowi yang terpilih? Setelah saya baca penjelasannya baru saya mengerti dan setuju. Dituliskan bahwa Pak Jokowi terkenal dengan ‘blusukannya’ dan juga Presiden yang ingin mengembalikan ke-maritiman Indonesia dengan membangun banyak proyek jalanan di Indonesia yang menghubungungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Duh Pak, kerennya Bapak kok ya kebangetan. Dan setelah melihat ekspresi Cory yang tidak ingin berpisah dengan Bapak rasanya sedih, Pak. Seperti berpisah dengan kekasih saja, kami harus menemui Bapak di Negara Hong Kong, Negara yang jauh dari Indonesia, Pak. Seandainya saja ada Bapak disana beneran, pasti rasanya kami histeris, Pak. Hahaha.

Setelah bersedih karena berpisah dengan Pak Jokowi, akhirnya saat yang membahagiakan untuk saya, dong! Saya bisa bertemu dengan HULK! Yah ampun saya histeris, saya seperti bertemu dengan seseorang yang saya rindui selalu. Saya ngefans sama superhero ini dari 15 tahun yang lalu dan akhirnya bertemu dengan Hulk adalah sesuatu yang luar biasa mengguncang perasaan saya malam itu. Rasanya, cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Cinta itu terbalaskan dengan melihatnya saja. Kemudian saya juga menyadari bahwa saya mulai lebay.

Johny deep.

Setelah mendapatkan beberapa foto dengan artis-artis dan figur mendunia disini, kami memutuskan untuk keluar. Dan ternyata jam sudah menunjukkan angka 9 malam. Saatnya menikmati pemandangan malam di Negara ini.

Karuan saja, walaupun masuk ke Sky Terrace 428 bayar, masih banyak turis yang datang dan menikmati udara sejuk malam di musim panas ini dan melihat lampu gemerlap yang luar biasa indahnya dari jejeran gedung-gedung pencakar langit dibawah sana. Warna-warni menentramkan hati siapapun yang melihatnya. Sebenarnya kita bisa menikmati alam lebih indah lagi di tempat-tempat yang ada di Indonesia dengan julukan Bukit Bintang. Saya pernah merasakan dan melihatnya ketika berkunjung ke Jogja bulan Juli 2017 lalu. Tetapi di HK tetap saja berbeda. Cuaca panas walaupun hari sudah malam masih saja bisa dirasakan. Suasananya benar-benar berbeda dan menyenangkan. Dan kemudian terjadilah dialog yang super lebay dan juga selalu diucapkan setiap harinya.

Ndue : “Cor, gue pengen nangis. Gue bahagia banget, bersyukur liburan yang kita rencanain 8 bulan lamanya akhirnya bisa dirasakan saat ini dan malam ini. Lu bahagia, Cor?”

Cory : “Banget. Jangan lupa selalu bersyukur sama Tuhan.”

Spot foto yang selalu ramai..
Sky Terrace 428. Pic taken by myself.

Dan dialog semacam ini selalu kami ucapkan disetiap kesempatan  yang ada. Setelah dirasa cukup menikmati pemandangan ini, dan juga merasa bahwa antrean pulang naik The Peak Tram makin malam makin mengular, kami putuskan untuk pulang saat itu juga. Jam menunjukkan angka 9 Malam dan kami turun. Sampai diantrean The Peak Tram, kaki sudah mulai kram dan luar biasa panjangnya. Estimasi kami mengantre 1 jam 15 menit dengan bediri. Walhasil, kami menikmati antrean ini dengan suka cita sambil merencanakan perjalanan besok ke Macau dan juga bertemu rekan saya Dimas. Suatu kebetulan ketika akhirnya saya dan Dimas memiliki jadwal liburan dan tujuan yang sama.

Dari stasiun The Peak Tram masih berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai MTR Central. Walaupun jam 10.30 malam tetapi masih banyak ditemui antrean turis untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Dari Central kami langsung menuju ke MTR Tsim Sha Tsui. Kami mendarat cantik di hotel jam 11.00 Malam. Selama di negara ini saya merasa waktu berjalan begitu cepatnya. Dan di tengah malam gini, kami masih di luar berjalan-jalan di gemerlap lampu Negara ini. Coba kalau di Jakarta, Mama saya pasti sudah sibuk menanyakan lokasi dan kapan saya pulang. But, its okay! Mommy always caring me so much. Thank you very much, Mom. I love you.

Sampai hotel kami masih makan malam dong. Makannya jam 11.15 malam. Dan tidur jam 2 pagi setelah juga berkabar dan mengupdate social media kami. Besok pagi adalah jadwal saya bangun pagi untuk menyebrang ke Macau. Jadi PR luar biasa ketika saya harus bangun pagi, mandi, dan menyiapkan sarapan. Kaki saya pegal luar biasa. Dan saatnya saya tidur karena Cory sudah tertidur dari 1 jam yang lalu.

Perjalanan kami menuju Macau dan keajaiban bertemu dengan Dimas, saya akan ceritakan selanjutnya. Selamat menanti!

Itenary hari kedua adalah :

  1. Causeway Bay
  2. Victoria Park
  3. Dim Sum Halal di Islamic Canteen Center
  4. The Peak Tram
  5. Musuem Trick Eye 3D – The Galeria Peak
  6. Madame Tussauds – The Peak
  7. Sky Terrace 428 – The Peak
  8. Tsim Sha Tsui

Regards,

Ndue.

Sore itu, di bawah Sky Terrace 428.
Mom help me. Mom..
Lepaskan dia Cor…. jangan ketahuan banget jomblonya..
Angel of Cory.
HULK~~~~
Star from HK. Jacky~
the sexiest woman in this world!
Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 2 – Victoria Park, Causeway Bay, Dim Sum Canteen Islamic Center

Diantara Tram Ding-Ding.. Icon of Hong Kong.

…sambungan dari part 1 sebelumnya. Silahkan bisa di lihat disini.

Hong Kong serasa di Indonesia? Tentu bisa dan ada. Hari kedua saya di HK adalah hari minggu. Rencana pagi dan siang ini random saja, karena belum tersusun secara pasti. Barulah pada sore dan malam hari kami sudah ada jadwal mau kemana-mananya. Jadi karena juga pagi ini kami bangun kesiangan, ikuti saja jejak kaki melangkah. Walaupun masih random kami sudah memiliki beberapa opsi yang bisa diambil untuk tetap disinggahi selama kami di HK.

Lets start this second day, Kak! enjoy HK.

Baiklah, pertama kali saya merengek untuk ke Victoria Park. Sebuah taman yang ada di daerah Causeway Bay. Taman ini terkenal dengan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mengadakan pertemuan, atau semacam temu kangen, atau juga bisa dikatakan bahasa kekiniannya gathering. Tadinya rencana kami mau ke kedutaan Republik Indonesia yang ada di Hong Kong. Setelah tanya sana-sini tidak juga bertemu, jadi dipastikan kami menuju ke arah Victoria Park saja.

Tahun 2010, Victoria Park pernah menjadi terkenal dengan film apik dari Lola Amaria yang juga berjudul Minggu Pagi di Victoria Park. Duh, dulu ya saya kepengen banget ke lokasi ini. Dan 7 tahun kemudian saya berhasil mewujudkannya. Im so happy!

Untuk mencapai ke Victoria Park, kami naik MTR dari Tsim Sha Tsui kemudian menuju ke arah Causeway Bay. Setelah turun disana, ikuti saja arah ke Victoria Park untuk mengetahui pintu mana yang mau dituju. Atau, kalau kalian ndak mau repot yasudah tanya saja sama orang-orang disana yang kebanyakan juga orang Indonesia yang menuju ke taman tersebut.

Sepanjang jalan kaki dengan mereka, saya kok merasa tidak asing di Negara ini, ya? Entah kenapa, rasanya welcoming banget. Apakah karena memang orang-orang Indonesia terkenal dengan ramahnya termasuk juga saya lho ya! Hahaha. Tapi, saya merasa tidak asing dan tentunya, im not alone in this country. Mereka yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan di bagi-bagi menjadi beberapa bahasa daerah lagi. Duh, ini siy bukan di HK rasanya.

Lapangan basket yang ada di seberang Victoria Park.

Saya berjalan menyelusuri taman ini. Sepanjang jalan, mereka menggelar tikar-tikar atau alas untuk duduk dan bertukar cerita. Sayup-sayup saya dengarkan kebanyakan bercerita perihal ‘majikan’ atau bagaimana situasi mereka bekerja. Tidak jarang juga mereka berbagi resep masakan, makanan, atau bahkan saya lihat ada yang sedang mengulek sambal rujak untuk dimakan bersama. Seketika saya mellow keingetan Mama dan masakan sambalnya yang luar biasa ngangenin itu. *mulai lebay lagi*

Minggu pagi di Victoria Park, Ndue..

Semua yang duduk disana diatur oleh petugas seperti keamanannya. Jadi tidak ada yang sembarangan gelar di jalan, atau buang sampah sembarangan. Semuanya tertib dan alangkah menyenangkannya berada di sini. Tidak jarang juga saya ditawari makanan oleh mereka. Melihat pejuang devisa Negara ini entah kenapa hati saya sedih. Mereka harus bertahan jauh dari sanak saudara untuk beradu nasib disini. Dan mungkin saja dengan caranya seperti ini mereka bisa menghilangkan sedikit rasa rindu untuk Negara Indonesia dan terlebih keluarga mereka. Stay strong yah, Mba.. your family must proud of you!

Setelah berkeliling di Victoria Park, selanjutnya kami sepakat untuk makan siang dulu. Walaupun masih tergolong pagi karena disana jam 12 siang setara dengan jam 11 di Indonesia, jadilah kami menelusuri jalanan di Causeway Bay. Sekalian kalau ada yang jual waffle atau egg tart kami mau beli. Sayangnya, kamu tidak menemukan makanan yang harus dibeli saat kami berada di HK. *sedih

Victoria Park, HK.

Cory menyiapkan jadwal selanjutnya dengan sangat matang ternyata. Dia sudah menyiapkan kisi-kisi untuk menuju tempat makan yang halal tersebut. Saya dan dia sepakat harus cari makanan halal selama kami di HK. Dan Cory dari entah dua bulan sebelumnya atau bahkan lebih dia sudah berburu video atau daftar makanan yang harus dicoba. Luar biasa teman saya yang satu itu.

Baiklah, kami harus makan dim sum halal dan juga we should eat and visit this place untuk hari ini. Nama makanannya adalah dim sum di kantin Masjid Ammar and Osman Ramju Islamic Centre. Namanya lumayan rumit, ya! Dan juga menuju ke lokasi ini tergolong rumit menurut saya.

Tanpa koneksi dan maps hanya berbekal insting, kali ini si Cory luar biasa usahanya untuk bisa ke lokasi ini. Dengan persiapan screenshot dari petunjuk arah yang kita cari selama di hotel karena adanya wi-fi disana. Dan dengan berbekal tanya sana-sini akhirnya bisa bertemu juga. Rasanya bahagia luar biasa.

Well, jadi gimana petunjuk arahnya, Ndue?

Okay gini, yang pertama dituju adalah MTR Causeway Bay dan kemudian turun di Wan Chai. Setelah dari Wan Chai, cari pintu exit A3. Keluar di pintu kami hanya terdiam terpaku melihat keramaian yang ada didepan mata. Tujuan kami adalah Masjid itu aja dulu yang bisa ditanya ke pengunjung di sekitar stasiun MTR ini. Dari beberapa orang yang ditanya hasilnya nihil.

Keluar MTR Wan Chai. Saking galaunya foto aja udah hayuk~

Sampai akhirnya kami bertemu dengan Mba Dian. Kami berkenalan dengannya sepanjang dari Wan Chai sampai ke Masjid. Mba Dian yang mengantarkan kami. Tadinya Mba Dian juga tidak yakin apakah Masjid yang dituju untuk bertemu pengajiannya adalah yang sama dengan tujuan kami. Dan Alhamdulillah ternyata sama.

Patokannya sevel untuk ke islamic center.

Jadi dari keluar A3, menyebrang sekali untuk ke stasiun Tram Ding-Ding. Selama di HK kalian wajib banget nyobain transport ini lho, gengs. Karena ini transportnya yang juga jadi icon dari HK itu sendiri. Dan pastinya kalau ada film-film yang shooting di HK pasti ada adegan transport ini kelihatan.

Didalam Tram Ding-Ding..

Naik Tram Ding-Ding nomor 43-E di O’brien Road, dan hanya dua stasiun dari pemberhentian tersebut baru kalian turun ya. Supaya lebih yakin kalian turunnya di nomor 47-E di Tonochy Road. Dan kalian harus jalan dulu sebelum menemukan Masjid ini. Setelah turun di 47-E, kalian nyebrang nanti ada lapangan basket yang main kokoh-kokoh kesukaannya Cory. Hahaha. Nah, naik tangga di samping lapangan basket tersebut. Terus nyebrang jalan lagi dan jalan aja disebelahnya Sevel sampai kalian jalan buntu kemudian belok kekiri. Nah, masjidnya ada di situ.

Mari nyebrang..
Alhamdulillah sampai juga. Ada Ndue, ada Saya di depan Masjid ini.

Walaupun hari minggu tetapi Masjid tidak terlalu ramai. Kami berpisah dengan Mba Dian di depan Masjid. Kami berterima kasih dan bersalaman sambil mengucapkan semoga ada kesempatan untuk bertemu lagi di Indonesia ataupun di HK dikemudian hari. Oh ya, Mba Dian sudah dua tahun di HK dan sedang mengajukan cuti untuk kembali ke Indonesia. Semoga saja dipermudah yah, Mba.

Kami masuk pintu masjid yang paling kanan. Mungkin celana saya kependekan atau ada yang aneh dengan penampilan kami sehingga semua memandang kami. Tetapi, berlalu begitu saja setelah kami lemparkan senyum ke mereka. Kantinnya sendiri ada di lantai 5, silahkan naik lift saja.

Didepan pintu masuk kantin islamic center – lantai 5.

Sedih adalah ketika saya bisa di Masjid tetapi karena siklus bulanan jadi tidak bisa sholat disini. 🙁

Sampai di lantai 5, kami dihampiri waitressnya dan menanyakan berapa orang. Karena kami hanya berdua langsung mendapatkan tempat makan. Dan tiba saatnya memesan dim sumnya, sejujurnya saya bingung karena bahasa kami rada ndak nyambung. Jadi saya hanya menunjukkan angka yang mana saja yang mau kami order. Di buku menu ada kok harganya. Karena menurut kami ini harga murah untuk makan di HK, jadi saya selaku juru pesan memesan dengan banyaknya. Hahaha.

Tenang, kalau gak habis bisa dibungkus, kok. Hanya saja biasa untuk take awaynya adalah HK 1 dolar, alias 1.720 kalau di tukar dengan mata uang IDR. Rasa dim sumnya enak banget ternyata. Apalagi yang model bakso goreng, Duh! Rasanya kayak gak mau move one. Kali ini saya minumnya soft drink Coca Cola, rasanya segar banget. Gak tau kenapa rasanya beda banget sama yang ada di Jakarta. Beneran rasanya nyegerin dan bikin ketagihan.

Karena ada beberapa dim sum yang gak habis, kami bungkus sisanya. Dan terima kasih banyak lho Kak Cory yang sudah membawakan sepanjang hari walau di akhir hari sempat ragu mau dibuang atau tidak. Ternyata pas di buka aromanya tidak bau, jadi masih dibawa pulang dan kami bisa panaskan dengan microwave yang ada di kulkas. Alhamdulillah.

Lagi ditugasin Nyonyah Cory buat order makanan..
Makanannya datang. yiay!

Dan total makan kami disana adalah HKD 141 dengan exchange IDR 1.720 per 1 dolarnya. Jadi silahkan di konversikan. 😀

Mari makan..
Wajah bahagia…

Benar adanya, belum afdol ke HK kalau belum ke dua tempat sepanjang pagi dan siang ini. Waktu makan sudah selesai, saatnya kami kembali ke MTR Central untuk melanjutkan perjalanan sore-malam selanjutnya. Karena perjalanan sore-malam ini menyenangkan dan panjang untuk diceritakan, saya akan melanjutkan kemudian, ya! Harap bersabar 😀

Wait for next post, ya!

Itenary lengkapnya juga saya tuliskan setelah hari kedua ini closed, ya! Di postingan selanjutnya. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan tulis dicomment yah, gengs!

Regards,

Ndue.

Full of colour.. Ah.. can’t move on from this Country..
Ini daftar harga dan makanan yang kita pesan..