Sebuah Penyesuaian :)

Feeling so blessed. 🙂

Seminggu yang lalu saya ingat betul bagaimana rasanya menjadi galau. Galau bukan karena perkara percintaan. Melainkan besok menjadi hari pertama saya bekerja ditempat yang baru. Ternyata, saya sudah melalui selama seminggu. Dan bersyukur saya mulai terbiasa akan beradaptasi di tempat yang baru.

Sahabat saya, Chacha namanya. Kalau cerita dengan dia rasanya gak bisa berhenti tertawa dan tertohok. Dia orang yang saya tanyai, jawabannya itu selalu nyeleneh. Seminggu yang lalu saya menanyakan hal ini:

“Cha, kira-kira aku besok gimana yah? Pasti akan berbeda jauh dengan tempat yang lama. Aku galau dan takut, Cha..”

Kalian tahu jawabannya apa? (Panggilan dia kesaya itu Ces, menandakan panggilan saya Princess ke saya. Hahaha) Okay, begini jawabannya..

“Ces, aku pernah baca dulu waku SD, salah satu ciri makhluk hidup didunia ini adalah bisa beradaptasi. Nah, kamu bisa menilai besok kamu makhluk hidup atau tidak.”

Okeh, saya gak bisa menahan antara kesel atau ketawa. Ada benarnya dia menjawab seperti itu. Seminggu berlalu dan saya sukses dinyatakan sebagai makhluk hidup karena saya bersyukur dan masih mencoba beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru.

Semingguan ini saya menyadari bahwa adakalanya menilai seseorang itu bisa salah, bisa juga benar. Dan saya bersyukur saya memiliki Keluarga yang selalu support apa yang menjadi keputusan saya. Saya bersyukur mempunyai seseorang yang mencintai, menyayangi saya dan dia yang menjadi saksi kehidupan saya. Saya juga bersyukur punya teman atau sahabat yang selalu setia menyemangati saya. Walau bisa dihitung menggunakan jari berapa banyak sahabat saya, tetapi dengan adanya Chacha, Cory, Seftiana, The Trips untuk menyemangati saya adalah suatu karunia Allah yang selalu saya syukuri. Juga, saya mempunyai mantan teman kerja yang selalu berbagi materi ada Ibu Murti dan Septian. Terima kasih banyak, kalian!

Satu minggu berlalu. Dan dalam waktu ini ada beberapa orang yang penasaran akan keadaan saya dan bagaimana kondisi kantor saya yang baru. Baiklah, saya ceritakan kepada kalian bahwa omongan adalah sebagian dari do’a. Dan saya selalu percaya akan hal itu.

Sekitar 5 atau 6 tahun lalu, ketika melewati sebuah Pabrik di Tangerang, saya selalu tertawa. Namanya kok unik banget, semacam iklan teve yang dulu ada robot goyang-goyang memegang makanan cokelat itu. Iklan yang selalu membuat saya tertawa. Nama Pabrik tersebut Toray, dan nama iklan tersebut Tori-Tori.

Ternyata, saya malah diterima di perusahaan yang namanya sama. Kekasih saya saksi hidupnya, dan dia juga hanya bisa menertawakan saya. Dia bilang makanya omongan adalah do’a. Iya kemudian saya mulai berhati-hati kalau mengucapkan sesuatu.

Kemudian, setiap saya sebal sama kekasih saya kalimat yang saya ucapkan kedia itu selalu seperti ini:

“Yah Gpp kali, daripada PP.”

Kalimat diatas saya katakan berulang-ulang. Itu sekitar 7 tahunan yang lalu juga. Saat dimana masa-masa kelabilan melanda. Masa-masa kealayan saya meraja-lela. Dan sekarang dia gantian meledek saya dengan bilang ciye yang kantornya di PP bukan di GPP. *gubrak!

Rasanya KZL. Tapi mau gimana lagi saya malah bersyukur akhirnya saya bisa pindah ke kantor di salah satu gedung yang menurut saya keren dipusat kota Jakarta Selatan. Yap, kantor saya yang baru ada di Gedung Pacific Place, Alhamdulillah.

Balik ke topik postingan kali ini, tentang bagaimana saya bekerja seminggu ini. Saya menjalaninya dengan penuh keyakinan bahwa apa yang menjadi keputusan saya adalah hal yang benar. Seperti halnya kalimat yang diucapkan oleh seseorang pada saat saya diskusi pengunduran diri, bahkan kalimat itu diingatkan kembali pada saat saya membaca pesan masuk di email saya untuk pengunduran diri saya minggu lalu..

“Rini, you already make a choice and keep focus with that. Keep moving, don’t ever look back.”

Sedih, ya? Iya. Pasti. Rasanya seperti Bapak sendiri yang kemudian menyemangati setelah 3 tahun bersama. Saya akan berusaha untuk tidak pernah melihat kebelakang untuk kemudian menyesal akan keputusan ini. Melihat sesekali boleh, tetapi tidak untuk menyesal melainkan untuk mengingatkan saya bahwa saya masih harus tetap belajar dengan keadaan apapun. Manusia selalu butuh belajar dan memperbaiki sikap untuk menjadi lebih baik lagi.

Perbedaan yang mendasar pada saat perpindahan ini adalah teman-teman yang ada. Kalau dulu ditempat yang lama banyak interaksi karena teman-temannya jumlahnya banyak. Saya harus menyesuaikan dengan kondisi saat ini. Tentu di setiap perusahaan itu pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Oh ya, saya jabarkan apa yang kemudian menguatkan saya seperti dibawah ini:

  1. Fokus pada tujuan.

Tujuan saya pindah itu apa? Kalau hanya baper atau mengingat-ngingat masa lalu itu tidak akan membuat saya fokus pada tujuan saya. Saya ingin pindah untuk memiliki hal yang baru dalam pekerjaan saya. Saya harus bisa memberikan ruang untuk diri saya belajar hal yang baru. Kalau lingkungan yang dihadapi berbeda harusnya bukan suatu hambatan. Dengan fokus pada tujuan saya menikmati itu semua dengan menambah pengetahuan dengan banyak baca aturan-aturan baru yang ada di pajak atau ilmu lain untuk akunting.

  1. Menata hati.

Ini juga hal yang penting. Kalau udah kerasa kangen masa-masa bercanda dengan teman kantor yang lama, saya kemudian hanya perlu menutup mata dan mengingatnya. Semenit-dua menit tersenyum kemudian mulai bekerja lagi. Dengan begini saya merasa mereka dekat dengan saya.

  1. Selalu berpikir positif.

Seperti yang saya tuliskan diatas kalau setiap perusahaan pasti ada positif-negatifnya. Kalau hal begini cerita sama Corry dia beneran 100% memberikan energi yang positif. Dia selalu mengganti hal-hal yang negatif menjadi yang positif. Dia selalu mengajak saya untuk tidak mengeluh dan tidak membandingkan. Tetapi dia selalu membuka pikiran saya bahwa dengan berpikir positif saya akan menjadi orang yang lebih matang dan mapan lagi. Bagaimanapun dengan berpikir positif kita akan menuju pada tujuan yang jelas gak ngawang-ngawang kayak sebelumnya.

  1. Diam lebih baik.

Beberapa teman saya sampai heran kenapa saya tidak juga meng­-update kondisi kantor saya. Sudah hampir seminggu dan saya masih sok misterius dengan tidak memberikan kabar seperti biasanya. Ternyata ditempat yang baru ini memberikan sisi kedewasaan saya bahwa semua itu tidak harus diunggah ke social media saya. Saya sadar, saya punya banyak haters. Ada baiknya saya lebih baik menikmati dalam hati saja. Karena semakin saya banyak update semakin haters saya nyinyir. Dan saya lagi malas berurusan dengan mereka. *halagh

  1. Bekerja sebaik-baiknya dengan ikhlas.

Ini point tertinggi dari setiap perpindahan yang ada. Bekerja sebaik-baiknya dengan ikhlas. Karena dengan kita kerja ditempat baru itu menandakan ada penyesuaian dari gaji bulanan yang kita terima dari perusahaan sebelumnya. Saya perlu bekerja sebaik-baiknya untuk tidak mengecewakan atasan saya. Dari dulu saya diajarkan untuk bekerja dengan keras dan sebaik-baiknya. Kalau materi tidak bisa menyesuaikan, Allah akan menyesuaikan dengan pahala yang banyak. Dan Alhamdulillah saya tidak pernah ragu akan hal ini. Saya percaya Allah menyayangi saya. Dan saya harus menyayangi pekerjaan saya dimanapun saya berada.

  1. Selalu belajar.

Sebelum saya pindah, saya pernah diskusi dengan Pak Kiki. Diskusi dengan Pak Kiki adalah hal yang menyenangkan. Ketika saya menuturkan bagaimana saya takut menghadapi pekerjaan yang baru karena saya khawatir tidak mampu, Pak Kiki mengajarkan saya untuk selalu belajar. Baik hal baru atau hal yang sudah saya kuasai. Dalam belajar tidak pernah salah. Selalu rendah hati untuk mau belajar, dan jangan pernah berbesar hati. Dengan belajar saya bisa menerapkan banyak ilmu baru dan akhirnya saya memahami bahwa manusia hidup di dunia ini tidak boleh berpuas diri dengan tidak belajar.

Mungkin point-point diatas yang akhirnya menguatkan saya. Yang akhirnya menjawab keraguan akan ketakutan saya ditempat yang baru. Sampai akhirnya hari ini saya menerima pesan dari salah satu teman saya bahwa saya sudah dinyatakan lulus beradaptasi. Saya bahagia 🙂

Terima kasih untuk semua orang yang dengan penuh perhatiannya mendukung saya. Semoga kalian menemukan kebahagiaan kalian masing-masing. 🙂

 

Regards,

Ndue.