Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 2 – The Peak, Madame Tussauds Bertemu Pak Jokowi, Museum Trick Eye 3D

Bertemu Pak Jokowi di Hong Kong. Bahagia banget!

…Menyambung tulisan sebelumnya bagian – pertama dan kedua. Silahkan di klik masing-masing link untuk membacanya.

Agenda hari kedua di HK akhirnya tersusun secara rapi. Setelah pagi dan siang kami lalui, akhirnya kami siap untuk melanjutkan adegan selanjutnya yakni ke The Peak.

Yiay, our tickets already in my hand. Lets start this journey!

Apa aja yang ada di The Peak?

Di gedung ini kalian bisa mengunjungi patung lilin yang menyerupai aslinya yakni Madame Tussauds, dan tentunya bisa melihat gedung-gedung tersusun rapih dari ketinggian 428 mdpl dengan view 360 derajat yang juga bisa disebut Sky Terrace 428. Tempat ini wajib dikunjungi kalau kalian ke HK, karena selain tempatnya bagus untuk berfoto juga untuk menuju ke gedung ini sendiri di tempuh dengan The Peak Tram.

The Peak Tram already arrived. Ah.. i cant be patient for enjoy this Tram..

Apa itu The Peak Tram?

Saya menyebutnya kereta dengan dua gerbong. Kalau membaca ceritanya, kereta ini konon sudah beroperasi dari dahulu kala. Bisa ratusan tahun usianya. Tetapi, tidak perlu khawatir karena kereta ini aman dan juga selalu diperbarui. Ada sejarahnya ketika kalian memasuki The Peak atau Victoria Peak. Pada saat naik Peak Tram, jangan lupa untuk ambil posisi kanan dari kedatangan keretanya, ya! Karena kalian bisa merasakan naik kereta dengan kecuraman yang hampir miring/vertikal. Perasaan saya campur aduk, dan pastinya bahagia tidak tertandingi. Saya bahagia.

Bagaimana akses ke The Peak?

Gini, dari jauh-jauh hari sebelum sampai di HK, saya selalu berkomunikasi dengan Cory untuk memilih yang terbaik untuk agenda selama kami di HK. Mengingat waktu 5 hari 4 malam disana itu rasanya kurang banget untuk meng-explore Negara ini. Dan ternyata untuk jadwal ke The Peak adalah hari minggu. Yang mana, antreannya pasti mengular. Jadilah kesepakatan kami membeli tiket paketan dari KLOOK. Awalnya rada bingung bagaimana untuk pembayaran, meeting point, dan kesulitan-kesulitan dilapangan.

Tugas ini adalah tanggung jawab saya. Jadi sebelum saya memutuskan membeli paketan yang mana, saya pelajari dulu apa itu KLOOK dan bagaimana prosesnya. Setelah meyakinkan diri bahwa KLOOK bukan hanya sekedar aplikasi, tetapi bisa menjadi sarana mempermudah perjalanan kami, jadilah saya membelinya.

I meet you, KLOOK. *love*

Apa saja yang ada di KLOOK?

Banyak. Tergantung kalian mau memilih paketan mana-mana saja sesuai dengan selera, budget dan jam yang disepakati. Waktu itu saya memilih jam 3, dengan paketan lengkap selama kami di The Peak. Pada saat membeli, saya juga menghafalkan dimana kami harus bertemu. Yap, KLOOK bisa ditemukan di MTR Central dengan pintu keluar K. Kalau belum ada agentnya, kalian harus menunggu sampai mereka membawa bendera kuning bertuliskan KLOOK dan disebutkan jam berapa yang masuk ke jalur antrean. Semuanya tertib dan teratur.

Meeting pointnya.

Yang kami beli :

  1. Return The Peak Tram dengan antrean khusus 1 kali pada saat berangkat.
  2. Entrance Madame Tussauds.
  3. Entrance Trick Eye 3D
  4. Entrance Sky Terrace 428

Dan kami paling gencar jalan di belakang guide kami untuk menanyakan posisi duduk yang nyaman, bagaimana prosedur kami disana, dan juga bertanya seputar The Peak. Oh ya point pertama diatas, apabila kalian membeli untuk weekend itu sangat, sangat berguna. Betapa antreannya mengular dengan jalur umum, tetapi dengan membeli special line from KLOOK, tidak perlu mengantre. Saya, merasakan seperti orang penting karena jalan tertutup pembatas itu terbuka begitu saya lewat. Really really worth it.

Sampai di The Peak, kami langsung melihat lokasi Madame Tussauds. Saat itu jam 4 sore dan karena di rasa masih rame pengunjung, kami memutuskan untuk ke Museum Trick Eye 3D saja dulu. Ternyata, ada di gedung sebelah. Jadi kami keluar menuju gedung bernama The Peak Galleria.

Gedung The Peak Galleria juga sama dengan The Peak. Bentuk bangunannya juga menyerupai Mall dengan 3 lantai saja. Dan lantai paling atas bisa ditemukan Trick Eye 3D. Sebenarnya museum ini banyak banget di Indonesia. Tetapi, rezekinya saya pertama kali justru di HK. Alhamdulillah. Mungkin, saya akan mengunjungi yang ada di Indonesia suatu saat nanti.

Untuk tema di museum ini ada 5 bagian dan terbagi juga menjadi 5 ruangan. Secret Garden di bagian pertama, World of Masterpice di bagian kedua, Great Adventure di bagian ketiga, Neverland di bagian keempat, dan terakhir adalah Hong Kong Discovery.

Tidak perlu mengantre. Because KLOOK have special line. Yiay~

Memasuki ruangan seperti ini menjadikan saya ataupun Cory berasa muda kembali. Suasanya ceria dan berwarna-warni. Dari setiap bagian-bagian itu yang saya suka adalah di bagian pertama. Disana warnanya dominan biru, warna kesukaan saya. Dan yang PR adalah ketika badan besar saya ini memasuki tong untuk bergaya di depan Monalisa. Butuh tenaga ekstra dan bantuan Cory juga pandangan penuh tanya dari beberapa pengunjung kenapa saya nekat terjerembab di tempat itu. Jadi, untuk kalian hati-hati ya karena terjebak dalam tong itu lebih menyakitkan daripada terjebak nostalgia. *eh.

Ini butuh usaha keras buat bisa gelantungan kayak begini…
Full of colour..
Rainbow of me…

Setelah berkeliling, berfoto di museum ini selama 2 jam kami keluar. Tidak langsung memasuki The Peak lagi. Ada 1 jam kami beristirahat dan bercerita ngalor-ngidul tentang kerjaan, kisah percintaan, harapan, atau apapun saja yang bisa kami ceritakan dan dilebur dalam sore dibawah gedung The Peak senja itu.

Favorite spot~
Terjebak di Tong…

Dan langsung kami berjalan kembali ke Madame Tussauds. Sebenarnya pada saat ke Singapore November 2016 lalu, kami berdua sudah mengunjungi museum patung lilin ini. Hanya saja, kali ini istimewa. Kenapa istimewa? Jelas, ada dua Presiden Indonesia di museum tersebut. Dimana, yang terbaru adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Karena kami berdua ngefans dengan Bapak Jokowi, maka kami harus mengunjungi dan merasakan dekat dengan Bapak walau hanya melalui patungnya. Tetapi, si Bapak benar-benar mirip aslinya. Oh ya, pada saat kami kesana tepatnya mendekati hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tema baju dan backgroundnya Pak Jokowi juga berbeda. Saat itu Bapak menggunakan batik dengan berlatar belakang monas, icon of Jakarta, and Indonesia.

Finally i meet you Mr. President. 🙂

Saya penasaran, kenapa harus Bapak Jokowi yang terpilih? Setelah saya baca penjelasannya baru saya mengerti dan setuju. Dituliskan bahwa Pak Jokowi terkenal dengan ‘blusukannya’ dan juga Presiden yang ingin mengembalikan ke-maritiman Indonesia dengan membangun banyak proyek jalanan di Indonesia yang menghubungungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Duh Pak, kerennya Bapak kok ya kebangetan. Dan setelah melihat ekspresi Cory yang tidak ingin berpisah dengan Bapak rasanya sedih, Pak. Seperti berpisah dengan kekasih saja, kami harus menemui Bapak di Negara Hong Kong, Negara yang jauh dari Indonesia, Pak. Seandainya saja ada Bapak disana beneran, pasti rasanya kami histeris, Pak. Hahaha.

Setelah bersedih karena berpisah dengan Pak Jokowi, akhirnya saat yang membahagiakan untuk saya, dong! Saya bisa bertemu dengan HULK! Yah ampun saya histeris, saya seperti bertemu dengan seseorang yang saya rindui selalu. Saya ngefans sama superhero ini dari 15 tahun yang lalu dan akhirnya bertemu dengan Hulk adalah sesuatu yang luar biasa mengguncang perasaan saya malam itu. Rasanya, cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Cinta itu terbalaskan dengan melihatnya saja. Kemudian saya juga menyadari bahwa saya mulai lebay.

Johny deep.

Setelah mendapatkan beberapa foto dengan artis-artis dan figur mendunia disini, kami memutuskan untuk keluar. Dan ternyata jam sudah menunjukkan angka 9 malam. Saatnya menikmati pemandangan malam di Negara ini.

Karuan saja, walaupun masuk ke Sky Terrace 428 bayar, masih banyak turis yang datang dan menikmati udara sejuk malam di musim panas ini dan melihat lampu gemerlap yang luar biasa indahnya dari jejeran gedung-gedung pencakar langit dibawah sana. Warna-warni menentramkan hati siapapun yang melihatnya. Sebenarnya kita bisa menikmati alam lebih indah lagi di tempat-tempat yang ada di Indonesia dengan julukan Bukit Bintang. Saya pernah merasakan dan melihatnya ketika berkunjung ke Jogja bulan Juli 2017 lalu. Tetapi di HK tetap saja berbeda. Cuaca panas walaupun hari sudah malam masih saja bisa dirasakan. Suasananya benar-benar berbeda dan menyenangkan. Dan kemudian terjadilah dialog yang super lebay dan juga selalu diucapkan setiap harinya.

Ndue : “Cor, gue pengen nangis. Gue bahagia banget, bersyukur liburan yang kita rencanain 8 bulan lamanya akhirnya bisa dirasakan saat ini dan malam ini. Lu bahagia, Cor?”

Cory : “Banget. Jangan lupa selalu bersyukur sama Tuhan.”

Spot foto yang selalu ramai..
Sky Terrace 428. Pic taken by myself.

Dan dialog semacam ini selalu kami ucapkan disetiap kesempatan  yang ada. Setelah dirasa cukup menikmati pemandangan ini, dan juga merasa bahwa antrean pulang naik The Peak Tram makin malam makin mengular, kami putuskan untuk pulang saat itu juga. Jam menunjukkan angka 9 Malam dan kami turun. Sampai diantrean The Peak Tram, kaki sudah mulai kram dan luar biasa panjangnya. Estimasi kami mengantre 1 jam 15 menit dengan bediri. Walhasil, kami menikmati antrean ini dengan suka cita sambil merencanakan perjalanan besok ke Macau dan juga bertemu rekan saya Dimas. Suatu kebetulan ketika akhirnya saya dan Dimas memiliki jadwal liburan dan tujuan yang sama.

Dari stasiun The Peak Tram masih berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai MTR Central. Walaupun jam 10.30 malam tetapi masih banyak ditemui antrean turis untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Dari Central kami langsung menuju ke MTR Tsim Sha Tsui. Kami mendarat cantik di hotel jam 11.00 Malam. Selama di negara ini saya merasa waktu berjalan begitu cepatnya. Dan di tengah malam gini, kami masih di luar berjalan-jalan di gemerlap lampu Negara ini. Coba kalau di Jakarta, Mama saya pasti sudah sibuk menanyakan lokasi dan kapan saya pulang. But, its okay! Mommy always caring me so much. Thank you very much, Mom. I love you.

Sampai hotel kami masih makan malam dong. Makannya jam 11.15 malam. Dan tidur jam 2 pagi setelah juga berkabar dan mengupdate social media kami. Besok pagi adalah jadwal saya bangun pagi untuk menyebrang ke Macau. Jadi PR luar biasa ketika saya harus bangun pagi, mandi, dan menyiapkan sarapan. Kaki saya pegal luar biasa. Dan saatnya saya tidur karena Cory sudah tertidur dari 1 jam yang lalu.

Perjalanan kami menuju Macau dan keajaiban bertemu dengan Dimas, saya akan ceritakan selanjutnya. Selamat menanti!

Itenary hari kedua adalah :

  1. Causeway Bay
  2. Victoria Park
  3. Dim Sum Halal di Islamic Canteen Center
  4. The Peak Tram
  5. Musuem Trick Eye 3D – The Galeria Peak
  6. Madame Tussauds – The Peak
  7. Sky Terrace 428 – The Peak
  8. Tsim Sha Tsui

Regards,

Ndue.

Sore itu, di bawah Sky Terrace 428.
Mom help me. Mom..
Lepaskan dia Cor…. jangan ketahuan banget jomblonya..
Angel of Cory.
HULK~~~~
Star from HK. Jacky~
the sexiest woman in this world!
Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 1 ( August, 2017 )

Welcome greeting in Hong Kong International Airport. Welcome!

Seperti yang pernah saya janjikan sebelumnya bahwa saya akan menuliskan perjalanan saya ke Hong Kong, dan inilah postingan pertama saya. Postingan ini rencananya akan saya buatkan sambung-menyambung untuk  beberapa post dikemudian hari. Jadi tetap saya optimis akan menyelesaikannya.

Kenapa Hong Kong? Dan kenapa pas summer holiday? Kan kalau panas mah di Indonesia juga sering, gak musim dingin aja?

Duh, ini semacam pertanyaan yang banyak di lontarkan beberapa rekan saya yang kemudian menimbulkan efek ciut untuk melanjutkan perjalanan ini. Tetapi, semakin Cory dan tentunya Instagram Discover Hong Kong mengupdate perihal summer festival yang akan diadakan di Hong Kong dan Macau, saya makin bersemangat untuk menyelesaikan misi liburan yang luar biasa mahal (menurut saya) dan menyenangkan kali ini.

Discover Hong Kong. Im ready~

Berbekal tiket buruan hasil mendapatkan bonus bekerja selama tahun 2016 lalu, dan melalui pertemuan yang random gitu saja dengan Cory, tercetuslah ide gila buat issued tiket liburan ke Hong Kong (selanjutnya saya singkat HK saja, ya!) dan sejujurnya saya malah pengennya melancong ke Thailand yang menurut beberapa rekan dan bloger menceritakan bahwa Thailand lebih murah dan makananannya lebih enak. Terlebih, saya hobi sekali membeli teh Thailand alias Thai Tea jadi rasanya saya ingin merasakan minuman ini di Negara asalnya.

Tetapi ada keraguan di Cory. Sehingga terputuskan untuk membeli tiket Garuda PP ke HK yang juga disepakati bulan Agustus 2017. Tiket kami beli dari akhir Desember 2016. Pada saat mengissued tiket tersebut saya mengajukan request apabila ke HK haruslah mengunjungi Disney Land. Jadi, sepakat mengenai tiket, waktu keberangkatan, dan lokasi yang dituju.

Wajah bahagia sebelum boarding time..

Kenapa ke HK harus summer? Jujur saya juga tidak mengerti musim di HK saat itu. Saya mempertimbangkan kalau di Agustus 2017 saya sudah aman tabungannya. Karena saya ini hanyalah pegawai yang menerima bayaran di akhir bulan dan mendapatkan tunjangan di hari raya Idul Fitri, makanya bisa saya sisihkan sebagian untuk membayar Disney Land dan uang saku disana. Yah itu tadi semua random saja.

Setelah semua itenary dan perlengkapan di siapkan. Tibalah tanggal 12 Agustus 2017 hari Sabtu tepatnya. Cory menjemput saya didepan gang, maklum anak gang bukan anak komplek. Saya diantar oleh Mama sambil memastikan anaknya ini akan terbang jauh sekali dan keadaannya baik-baik saja saat berpisah.

Proses check in dan bagasi sudah semua selesai, saatnya menunggu dipanggil oleh petugas untuk memasuki gate yang diinstruksikan sebelumnya. Berhubung kami berangkatnya Agustus 2017, jadi penerbangan Internasional Garuda Indonesia sudah menggunakan terminal 3 dengan Gate A.

Ciri khas Terminal 3 niy. 😀

Jadwal penerbangan kami adalah 10.10 dan sampai di Hong Kong International Airport (HKIA) jam 16.10 dengan waktu tempuh 5 jam dan adanya perbedaan waktu dimana HK 1 jam lebih cepat daripada Indonesia. Dan sejujurnya, dengan perbedaan waktu 1 jam saja, saya lebay dengan merasakan jetlag. Percayalah, saya lebay.

Selama penerbangan cuacanya luar biasa cerah. Tidak terjadi guncangan yang berarti. Pesawat kami penuh dan sebagian besar penumpangnya adalah Warga Indonesia yang menjadi pekerja di HK. Disebelah saya ibu-ibu yang baik dan heran karena saya dikatakan niat banget ke HK hanya untuk liburan bukan bekerja. Tetapi, saya merasakan ‘rumah’ di perjalanan ini. Ibu-Ibu ini menceritakan bagaimana mereka di kontrak selama dua tahun dan baru bisa kembali ke Indonesia. Saya mendadak mellow mendengar ceritanya. Selama satu jam mengudara semua hening dan saya ikutan hening jadinya saya tertidur satu jam untuk menghilangkan kantuk.

Saya terbangun karena pembagian sarung tangan dan makan siang. Karena penerbangan ini merupakan penerbangan yang jauh dan membutuhkan waktu 5 jam, maka disediakan bantal, selimut, sarung tangan, penutup mata dan telinga. Penerbangan ini dibuat senyaman mungkin.

Jam 16.10 kami sampai di HKIA. Hal pertama yang dilakukan adalah menuju imigrasi dan mencari dimana letak bagasi sesuai penerbangan kami. Setelah mendapatkan visa on arrival yang mendapatkan waktu tinggal di HK selama 29 hari, kamu menuju tempat pengambilan bagasi dengan melihat papan informasi. Entah kenapa, waktu yang digunakan untuk mengambil bagasi kami lebih dari 45 menit lamanya.

Langit Hong Kong. Subhanallah. 🙂

Seperti biasanya ketika saya dan Cory ngebolang adalah tidak pernah membeli kuota disana. Kami hanya mengandalkan insting dan bertanya kesana-kemari. Setelah juga bekal membaca blog untuk liburan kali ini setidaknya saya ada gambaran perihal transportasi yang digunakan. Karena kami backpakeran jadi semuanya menggunakan alat transportasi umum. Nah, untuk mendapatkan transportasi ke Tsim Sha Tsui tempat kami menginap tinggal mengikuti petunjuk yang mengarah ke bus stasiun. HK ramah akan turis, dimana-mana ada petunjuk yang jelas dan banyaknya tourist information.

Kami langsung mencari ‘pangkalan’ bus dengan nomor A21 yang menuju ke Tsim Sha Tsui dengan tarif HKD 33 saja. Di bus stasiun HKIA sudah ada barisan antrean sesuai dengan nomor bus. Jadi tidak perlu bingung nyasar. Untuk membayarnya bisa dengan kartu Octopus yang kami beli di HKIA seharga HKD 150 dengan deposit HKD 50 dan saldo HKD 100. Okeh, berangkatlah kita ke Tsim Sha Tsui dengan bus Cityflyer yang super keren ini. Jarak antara Airport dengan Tsim Sha Tsui East adalah 45 menitan jadi bisa sambil tidur atau menikmati pemandangan yang keren ini.

Octopus Card..

Kami turun di Tsim Sha Tsui East dan rada kebingungan juga menjadi dimana Chungking Manshion. Gedung ini sama tingginya dengan gedung-gedung yang bejejer megah di Tsim Sha Tsui. Kami rada kebingungan dimana  posisinya. Karena kami bawa-bawa koper jadi banyak orang yang menawarkan jasa penginapan di gedung ini. Beruntungnya Cory ngeh kalau di depannya ini adalah gedung yang kami cari. Untuk penginapan disini sangat strategis walaupun banyak reviewer bilang kurang layak, tapi dengan budget seadanya kami menginap 4 hari disini semoga saja tidak sehoror yang ada di review.

Penginapan kami ada di Blok D dengan lantai 16. Memang suasana pada saat masuk ke gedung ini rada horor. Tetapi, selama kita bisa jaga diri, jaga barang bawaan semua akan aman-aman saja. Dan bersyukur juga kami menginap di lantai paling atas sehingga kalau mau turun pasti mendapatkan lift. Oh iya, disini sistem liftnya ganjil atau genap, jadi kalian harus memperhatikan kalian menginapnya di lantai ganjil atau genap.

Penginapan kami menyenangkan. Proses check in yang tidak bertele-tele, resepsionisnya bisa berbahasa inggris fasih, dan yang terpenting ruangannya bersih dan sesuai dengan prediksi saya. Walaupun sempit tidak seperti hotel di Indonesia, tetapi dengan uang yang dibayarkan dan fasilitas yang kami dapatkan lebih dari cukup. Oh ya terpenting kamar kami dekat dengan microwave dan pengisian air minum gratis. Alhamdulillah, apalagi saya harus banyak-banyak minum air putih disana takut dehidrasi, dan air putih disana seharga HKD 9 dengan rate 1.720 per 1 HKD. Luar biasa mahalnya. 😐

Mungkin perihal penginapan ini akan saya tuliskan terpisah untuk detailnya, ya!

Satu lantai biasanya ada beberapa nama penginapan. Kami ada di Australian 🙂

Kami memutuskan untuk beristirahat sambil mandi dan mengupdate social media kami. Tepat jam 19.45 kami keluar hotel dan memutuskan melihat Pulse Summer Festival yang ada di Tsim Sha Tsui atau disekitaran Pelabuhan Harbour. Jadi pertunjukan malam ini sekitaran 8 menit per-sesi untuk membangunkan Naga dan menceritakan sejarah HK. Seriously man, this show is very entertaining. Every light gave me effect so adorable. Tidak pernah saya merasakan warna-warni semeriah ini dan ditambah suasana syahdu di Pelabuhan Harbour, membuat saya tidak kuasa menahan tetesan air mata haru. Saya yang biasanya melihat di mesin pencarian, dan selama ini bermain monopoli hanya membaca lokasi dimana harus membayar sewa kepada mereka yang memiliki pelabuhan ini. Malam itu, saya merasakan, menginjakkan kaki saya di Negara Hong Kong yang jauh dari Mama dan Indonesia. Alhamdulillah, dan semua ini saya bayar dengan jerih payah sendiri. Nikmat Allah mana lagi yang hendak saya dustakan?

Mau nangis terharus T_T
Pulse Festival Tsim Sha Tsui. Hong Kong~

Cory itu anaknya suka kepo IG HK untuk tempat dan makanan apa saja yang harus diburu. Tak luput malam itu, ada uncle penjaja es krim yang ada di sekitaran pelabuhan. 1 es krim seharga 10HKD. its mean if you exchange in IDR 17.200,- for one cup ice cream cone. Dan antrenya itu yah ampun deh banyak juga peminatnya. Rasanya gimana, Ndue? Standar aja siy menurut saya. Hahaha. Enakan es krim M**.

Waktu menunjukkan pukul 21.30, mau kemana kita? Saya tidak mau pulang gitu aja ke Hotel. Saya kesini untuk menjelajahi tiap tempatnya. Jadi kami sepakati untuk ke Ladies Market yang ada di sekitaran Mong Kok. Rada ragu juga apakah masih pada buka atau tidak, dan sampai sana sudah sebagian bergegas untuk tutup. Yasudahlah, kami hanya berkeliling sebentar mencari oleh-oleh gantungan kunci dan tempelan kulkas. Dan kalau belanja di Ladies Market harus pintar-pintar menawar, ya! Tawarlah dari separuh harganya, jangan langsung membeli dengan deal harga yang mereka lontarkan. Namanya juga pasar, kalian berhak menawar.

Mong Kok malam itu luar biasa meriahnya. Disetiap pertemuan jalan-jalan yang ada di sudut kota ini dipenuhi orang-orang dengan atraksinya. Mereka, sebagian melakukan senam. Sebagian melakukan atraksi dengan kemampuan kungfu ataupun bernyanyinya. Mereka, menghibur semua pengunjung dengan menyumbangkan sebagian uangnya. Dan beneran saya gak bisa move on dengan gemerlap lampu dan tulisan yang nyala-nyala di sudut kota ini. Semua sempurna dan saya kini mengakui dan menyetujui kenapa HK disebutnya Las Vegasnya Asia. Semuanya disini menarik perhatian, dan keren buat foto atau instagramble.

Kami pulang tepat jam 23.00 dan baru ingat belum makan malam. Makan terakhir adalah dipesawat tadi jam 12.00. Sudah 11 jam perut kami belum terisi lagi. Karena bingung mau makan apa, akhirnya kami kembali dulu ke Tsim Sha Tsui dan mencari tempat makan yang buka 24 jam. Ketemulah kami pada tempat makan bernama MCD. Gak bisa move on ternyata. Habisnya adanya hanya ini di jam 23.30 penyelamat perut kita.

Makanan dari GA 860 siang itu.

Oh ya di MCD HK ternyata sistemnya self service dan saya kena teguran karena lama ordernya dari antrean di belakang. Ng.. nganu gimana saya mau cepat ordernya lha wong saya sendiri bingung gimana memilihnya dan mengoperasikan menunya. Sampai akhirnya si Bapaknya tadi terdiam karena saya bilang sorry it was my first time for using this machine. Step by step I should read carefully. Because, if I click and wrong its mean that I should pay and eat this food. Dan si Bapaknya memaklumi, mungkin karena bahasa saya juga yang ala kadarnya jadinya yaudah dia pasrah saja. Nah, saya memilih menunya Burger, Kentang, Minum. Setelah semua konfirm, langkah selanjutnya tetap ke kasir untuk bayar menggunakan uang cash. Sebenarnya, bisa juga pada saat finish my order tadi langsung pay by credit card or octopus ada pilihannya. Tetapi, saya pikir uang HKD lebih simple. Setelah membayar, antre lagi dibagian pengambilan makanan. Menunggu nomor order dipanggil dan langsung deh makan. Oh ya, di MCD HK jangan berharap saus melimpah, ya!

Jam menunjukkan 00.45 waktunya pulang ke penginapan dan siap-siap untuk rencana hari esok. Terima kasih ya Allah untuk waktu dan pengalaman luar biasa di hari pertama pertualangan kami di HK. Sampai penginapan pun kami harus mandi dan beberes. Waktu untuk siap-siap tidur adalah jam 2 pagi sebelum menutup mata, tidak lupa kami mengucap syukur atas rezeki dan kesempatan yang luar biasa hari kemarin.

Dan perjalanan ke dua di HK berlanjut setelah ini, ya.

Kesimpulan itenary hari pertama.

  1. Soetta – HKIA
  2. HKIA – Tsim Sha Tsui
  3. Pulse Festival – Mong Kok – Ladies Market
  4. Dinner MCD – Tsim Sha Tsui – Hotel

Regards,

Ndue.

Mikir keras. Mak, anakmu ini ternyata jenius, Mak…
Mong Kok.
Ladies Market.
Es Krim buruan si Cory.
Bahagia. Alhamdulillah, Banget.