Royal Palace Phnom Penh
Cambodia

Phnom Penh Mutiara Asia dari Negara Kamboja

Phnom Penh dan Kamboja memang belum terkenal seperti halnya Jepang dan Korea selatan untuk wisatawan dari Indonesia. Tetapi, Phnom Penh adalah tempat yang wajib kalian kunjungi. Tidak cukup hanya sekali saja, Phnom Penh meninggalkan cerita yang menarik dan seakan-akan memanggil saya untuk kembali singgah ke Negara Kamboja dan menjelajahi Phnom Penh yang pernah dikenal sebagai Mutiara Asia ini.

Kenapa Phnom Penh disebut sebagai Mutiara Asia? Ibu Kota dari Negara Kamboja ini dianggap menjadi salah satu kota peninggalan Negara Perancis yang terindah yang pernah dibangun sebagai kota-kota di Indocina pada tahun 1920. Tetapi Phnom Penh juga pernah memiliki sejarah kelam pada tahun 1975. Seperti yang saya kutip dari wikipedia disini.

Kota ini jatuh ke Khmer Merah pada tanggal 17 April 1975. Sebagian besar penduduk, termasuk mereka yang kaya dan berpendidikan, dievakuasi dari kota dan dipaksa untuk melakukan kerja di pertanian pedesaan sebagai ”manusia baru“. Tuol Svay Prey High School diambil alih oleh pasukan Pol Pot dan diubah menjadi 21S- kamp penjara, di mana mereka ditahan dan disiksa. Pol Pot berusaha kembali ke perekonomian agraris dan karena itu menewaskan banyak orang dianggap sebagai musuh, “malas”, atau politik terdidik.

Banyak orang mati kelaparan sebagai akibat dari kegagalan masyarakat agraris dan penjualan beras Kamboja ke Cina dalam pertukaran untuk peluru dan persenjataan. Bekas sekolah tinggi yang sekarang menjadi Museum Genosida Tuol Sleng, tempat penyiksaan Khmer Merah yang menampilkan perangkat dan foto para korban.

Tetapi Phnom Penh saat ini menjadi tempat yang sangat cantik. Perlahan-lahan sejarah kelam itu mulai tergantikan dengan pembangunan yang cantik disetiap sudut kotanya.

Kamboja menjadi Negara kedua dalam perjalanan 3 Negara yang kami sepakati. Kami memutuskan Phnom Penh sebagai tujuan kami menginap dan mengujungi wisata yang ada disini. Perjalanan kami tempuh selama 8 jam dari Ho Chi Minh City, Vietnam. Untuk melewati perbatasan antar Negara dengan menggunakan transportasi bus adalah pengalaman pertama untuk kami. Sebelumnya kami membaca beberapa Traveler yang pernah kena random sampling dan dikenakan beberapa dollar untuk kondektur busnya, semua itu tidak terjadi pada kami. Melewati perbatasan dengan sempurna, dan pekerja di Bus Mekong Express juga membantu kami tanpa pamrih. Kami berhasil sampai di Phnom Penh jam 8 malam tanpa kendala yang berarti.

Ada hal yang menarik ketika saya dan Archa mengunjungi Phnom Penh. Entah karena kami sudah merasa berhasil di Vietnam atau bagaimana sehingga sempat miss communication satu sama lainnya. Akhirnya berselisih paham selama lebih dari 1 jam, selebihnya keajaiban terjadi, Archa ahli memotret saya, dan hasilnya bagus-bagus jadi saya memaafkannya.

Ada apa saja tempat wisata di Phnom Penh? Ini cerita versi kami.

***

Phnom Penh, Kamboja
16 Oktober 2018

  • Mata Uang Negara Kamboja

Negara Kamboja ini mata uangnya USD dan Riel Kamboja. Selama disana kami menggunakan USD untuk bertransaksi.

Perhitungannya adalah 4.000 Riel = 1 USD. Contohnya kalau harga minuman 2.000 Riel = 0,5 USD kalau di konversi ke IDR = 7.750,-

Pada saat kami kesana Oktober 2018 lalu nilai tukar Dollar di angka Rp. 15.500,- / 1 USD. Saat itu rupiah lagi terperosok sampai angka Rp. 15 ribu sekian. Mudah-mudahan kalau ada kesempatan kesana lagi Dollar turun seperti saat ini atau bisa lebih baik lagi yakni bisa stabil di angka Rp. 10 ribu sekian saja.

  • Transportasi Keliling Phnom Penh

Satu-satunya transportasi yang bisa mengantarkan kami ke tempat satu dan lainnya adalah tuk-tuk. Kami dibantu oleh staff Hotel Salita untuk mencarikan tuk-tuk dan negosiasi harganya. Dengan membayar USD 20 dibagi berdua dengan Archa.

Dalam hal ini kami baru menyadari kesalahan harga. Kenapa? Kami tidak menyiapkan dengan baik rencana perjalanan kami yang mana seharusnya dengan harga segitu kami bisa ke museum yang selalu saya nantikan keberadaannya yakni Killing Fields. Mungkin akan ada rezeki suatu saat bisa ke Phnom Penh dan tempat wisata di Negara Kamboja lainnya.

  • Statue of King Father Norodom Sihanouk
Statue Of Father King Norodom Sihanouk

Tempat pertama yang kami tuju adalah patung Raja Norodom Sihanouk. Monumen ini ada ditengah kota Phnom Penh. Kalau jaraknya dari Hotel Salita tempat kami menginap tidak terlalu jauh. Untuk ketempat ini kalian tidak perlu mengeluarkan biaya karena terbuka untuk umum. Monumennya ada ditengah taman.

Mungkin kalau sore hari akan banyak keluarga yang mengujungi tempat ini. Hanya ada beberapa Bapak pemotret yang menghampiri dan menawarkan jasa cetak foto langsung jadi. Kami tidak tahu berapa harganya karena kami menolak untuk menggunakan jasa tersebut.

  • Monumen Kemerdekaan

Nah ini salah satu icon yang ada di Phnom Penh. Konon belum syah rasanya kalau singgah ke Phnom Penh tetapi belum berfoto di monumen ini. Warna dan bentuknya khas Kamboja. Monumen ini cantik di foto baik waktu siang maupun malam hari.

Monumen ini ada di belakang atau seberang dari monumen Raja Norodom Sihanouk. Aksesnya hanya perlu berjalan kaki 5 menit saja dan tidak memerlukan biaya karena terbuka untuk umum. Bisa dilihat pembangunan gedung ada di sekitaran monumen ini. Mungkin beberapa tahun kedepan Phnom Penh makin cantik karena pembangunan tersebut telah selesai.

  • Royal Palace ( Istana Kerajaan Phnom Penh )

Kami harus segera menuju ke Royal Palace setelah puas berfoto di Monumen Raja Norodom Sihanouk dan Monumen Kemerdekaan, karena kami pernah baca artikel bahwa Royal Palace akan ditutup setelah jam 2. Hal ini dikarenakan istana tersebut digunakan oleh raja dan keluarganya. Jadi sebisa mungkin kalau kalian merencanakan ke Royal Palace saat jam baru buka yakni jam 9 atau 10 untuk puas berkeliling dan berfoto disini.

Tiket masuknya USD 10 untuk wisatawan dan wajib menggunakan pakaian rapi. Kalian mau mengunjungi istana kerajaan jadi harus menjaga etika, ya!

Ada yang menarik di Royal Palace ini, ketika diujung pintu keluar ada banyak foto-foto kenangan dari Raja Norodom sepanjang kepemimpinannya. Dan ada Bapak Presiden Indonesia yakni Pak Soekarno dengan Raja Norodom. Saya bangga sekali melihat betapa Pak Soekarno pada tahun 1950an pernah mengunjungi Kamboja dan bertemu dengan Raja Norodom.

  • Silver Pagoda

Bangunan ini ada dikawasan Royal Palace. Disamping bangunan ini kalian bisa temukan kisah Ramayana yang ditulis di tembok. Menurut saya, waktu ideal untuk berkeliling dan belajar sejarah dari Royal Palace ini adalah 2 sampai 3 jam. Karena saat itu kami melihat banyak biksu yang mulai memasuki kawasan Royal Palace, itu tandanya kawasan ini akan ditutup. Tepat jam 1.30 kami keluar dari Royal Palace dan melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.

  • Musem Nasional Phnom Penh, Kamboja

Kejadian yang saya ceritakan diawal adalah karena kami tidak membaca secara teliti untuk tempat wisata di Phnom Penh. Sejujurnya Archa yang bertugas di Kamboja untuk menyusun rencana perjalanan kami. Jadi saya percayakan sepenuhnya kepada Archa.

Setelah gagal ke Killing Fields karena menurut Bapak tuk-tuknya jauh dan beda wilayah saya harus legowo menerima untuk bertukar tempat wisata. Dan saya menyadari setelah sampai di Jakarta kalau sebenarnya dari Hotel kami ke Killing Fields itu hanya 11 KM dan ditempuh dengan 22 menit saja.

Salah saya juga tidak membackup Archa dalam perjalanan ini. Jadi saran saya sebelum kalian memutuskan pergi ke suatu Negara harus benar-benar dipelajari rencana perjalanan, jarak, dan biaya yang ada.

Kami disana tidak membeli SIM CARD sehingga tidak mendapatkan koneksi sama sekali. Kami berpikir kalau sudah ada Bapak tuk-tuk jadi tidak perlu membuka google maps. Ternyata benar, kami merasa ditipu dibilang jauh dan seharga USD 20. Padahal teman saya pernah ke Phnom Penh dan mengunjungi Killing Fields hanya seharga USD 15. Luar biasa, kami terlalu mudah trenyuh.

Kesalahan kedua ditempat ini adalah Archa tidak menanyakan berapa tiket masuknya, jadi dia mengeluarkan uang 20 dollar dan ketika saya menanyakan kembalian uang dia baru menyadari kalau uang tersebut pas alias tidak kembali. Kami berdua terkejut dan melihat harga yang tercetak di tiket sudah sesuai yakni USD 10/orang. Seketika saya kesal dan naik pitam. Bisa-bisanya kami tidak teliti seperti ini.

Padahal ada pengunjung lain yang hanya berfoto diluar gedungnya dan itu gratis. Tiket diperlukan pada saat memasuki pintu yang dijaga sama petugas museum. Saya makin gregetan! Walaupun di dalam museum banyak kami temui benda sejarah, tetap saja saya menyayangkan kenapa tidak ke Killing Fields yang notabene hanya membayar USD 5 itu juga sudah mendapatkan audio guide dan bisa menghabiskan waktu 2-3 jam disana dengan mendengar sejarah kelam Kamboja.  

Kembali lagi ke perjalanan kami pasti akan ada cerita untuk dikenang. Karena kejadian ini saya dan Archa makin mawas diri dan memback up satu dan lainnya. Juga trauma untuk memasuki kawasan wisata di Phnom Penh.

  • Thmey Market ( Central Market Phnom Penh )

Setelah perdebatan selesai dan juga menghabiskan uang USD 8 untuk makan siang di kawasan sungai Mekong, kami seperti orang kehilangan arah. USD 10 dollar terpakai di Museum Nasional. Padahal, budget yang kami sediakan hanya USD 3 dollar saja. Jadilah kami seperti trauma untuk memasuki kawasan yang ada.

Kami berdiskusi dan memutuskan untuk menyewa hotel setengah hari saja untuk tidur dan persiapan sebelum besok ke Angkor Wat. Tetapi Archa teringat sesuatu bahwa ada pasar yang unik dengan menjual berbagai batu emas. Dia tahu saya paling suka dengan hal yang berhubungan dengan gemerlapnya warna emas. Jadilah kami ke Pasar Sentral Phnom Penh untuk membeli Cincin dan Kalung satu paket seharga USD 8. Cincin berwarna batu merah muda tersebut masih saya gunakan sampai dengan saat ini.

Sekedar informasi bahwa bangunan dari pasar ini unik. Semua pintunya kalau dari dalam gedung terlihat sama. Bapak tuktuk menginstruksikan kami untuk mengingat gedung terdekat dari pintu masuk yang kami gunakan. Kali ini saya berinisiatif untuk memotret pintu masuknya jadi kalau kami kebingungan dengan mudah kami menemukannya. Benar saja perdebatan itu terjadi lagi karena kami tertipu dengan pintu keluar yang sama. Dengan melihat foto sebelum masuk tadi, perdebatan itu berakhir dan kami berhasil keluar tanpa tersasar.

  • Bersantai sore di kawasan sungai Mekong

Sore itu kami menghabiskan waktu di taman yang berada di terusan sungai Mekong. Taman ini ada di depannya Royal Palace. Diseberang taman ini ada tempat seperti wihara yang menarik perhatian kami.

Hal pertama yang kami cek adalah apakah ada tiket masuk yang harus dibayar atau tidak. Ternyata gratis untuk umum hanya saja karena itu tempat beribadah kalian harus menjaga sopan santun dan pakaian yang kalian kenakan.

Di wihara ini juga tergantung gong besar yang melambangkan Negara Asean. Dan ada Indonesia tentunya. Ada tangga yang berujung pada satu bangunan dimana kalian bisa masuk untuk melihat koleksi peninggalan Budha. Ada beberapa warga dan biksu yang berdoa ditempat ini.

Setelah itu kami turun dan duduk santai di pelataran sungai Mekong. Di tempat ini saya melihat banyak sekali burung dara. Rasanya hidup saya bahagia dengan mengejar banyak burung dara disana. Kalau kalian ada uang lebih bisa membeli makanan untuk burung tersebut seharga USD 1.

Burung dara identik dengan tempat beribadah, dan dikawasan ini ada beberapa seperti bangunan wihara kecil untuk berdo’a warganya. Sore itu kami mencoba berdamai kembali dengan waktu yang dihabiskan seharian di Phnom Penh. Dengan segala rencana perjalanan yang tidak sempurna dan biaya yang membuat kami rela makan malam di hotel dengan Pop Mie.

Perjalanan di Phnom Penh 1 hari tersebut menyenangkan. Walau kami terbebani dengan tarif tuk-tuk yang mahal dan tiket masuk yang lumayan merogoh kocek kami, setidaknya kami mengukir cerita dan berakhir dengan berpelukan di sore itu, Sungai Mekong saksi kami.

  • Budget yang dikeluarkan di Phnom Penh
  1. Sewa tuk-tuk USD 10 (sudah dibagi berdua dengan Archa)
  2. Royal Palace USD 10
  3. National Museum USD 10
  4. Makan siang USD 8
  5. Belanja di Central Market USD 8
  6. Tuk-tuk dari hotel ke bus USD 2
  7. Sleeping Bus USD 16

Total uang keluar USD 64 dengan rate Rp. 15.500/1 USD.

Terima kasih Phnom Penh, perjalanan ditempatmu meninggalkan kesan mendalam untuk kami. Kami siap untuk melanjutkan perjalanan ke Siem Reap malam ini dengan menggunakan sleeping bus.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.