Layoff Pandemic
Journey Ndue

Cerita Setelah di Layoff Karena Pandemic Covid 19

Kena layoff atau pengurangan karyawan menjadi salah satu pengalaman yang sangat berarti dalam cerita hidup saya. Dan tidak pernah terbayangkan juga kalau akhirnya dunia ini berubah begitu cepat karena adanya Pandemic Corona Virus yang ada di Indonesia sejak Maret 2020 lalu.

Setelah berjuang selama beberapa bulan dan membayangkan kemungkinan terburuk adalah saya menjadi salah satu karyawan yang akan layoff oleh Perusahaan. Kemudian setiap harinya saya tidak lagi membayangkan kemungkinan itu, tetapi mulai menyiapkan dan belajar menghadapi tentang keputusan Perusahaan bila sewaktu-waktu terjadi.

Pertengahan November 2020 akhirnya saya dipanggil dan diberikan surat harus–dikatakan dengan menyesal oleh Perusahaan bahwa saya harus menerima keputusan kalau efektif besok sudah tidak lagi menjadi karyawan di Perusahaan tersebut.

Rasanya? seakan dunia saya runtuh. Hopeless. Tidak lupa untuk menangis sejadi-jadinya. Karena saya tidak pernah membayangkan selama hidup ini kalau saya bisa menerima surat sakti tersebut. Bahkan bila digambarkan dalam sebuah diagram, karir saya sebagai pekerja sangat menjanjikan. Naik pertahunnya, kemudian bisa moving ke Perusahaan per 3 dan 2 tahun sekali, dan kemudian diagramnya turun sampai batas bawah dan melebihi batas yang ada. Drop seakan terjun bebas.

Kalau saya menangis saja tidak akan mengubah suatu keadaan dan tidak akan menyelesaikan permasalahan apapun. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengabari Mama dirumah. menceritakan kondisinya kalau ini akan menjadi buruk untuk keuangan saya. Dan Mama meresponnya dengan sangat legowo bahwa sudah waktunya saya beristirahat karena sudah terlalu bekerja dengan keras beberapa tahun ini. Mama adalah Mama nomor satu yang ada di dunia ini. Semakin menangislah saya karena sikap nrimonya yang diajarkan Mama.

Saya bercerita dengan rekan kerja yang lain sampai jam 11 malam. Kemudian pamit dan memeluk mereka satu persatu. Menyampaikan ucapan terima kasih atas cerita yang ada selama 10 bulan tersebut. Bagaimanapun mereka adalah keluarga lainnya dalam kehidupan perkantoran. Saya menangis berpisah dengan mereka. Dan yang saya ingat adalah ketika saya pulang dengan taksi, Bapak driver menanyakan kenapa barang saya banyak yang dibawa pulang? saya jawab saya kena pengurangan kerja. Sampai didepan gang rumah, Bapak ini mendo’akan saya untuk selalu tabah dan semoga rezekinya dipermudah. Saya menangis lagi.

Sampai dirumah lewat jam 12 saya lihat Mama dan Susi sudah tertidur pulas. Saya pikir aman untuk saya menaruh barang dan beristirahat untuk menghadapi hari esok. Baru saja 10 menit sampai, Mama bangun dan menanyakan bagaimana keadaan saya. Perasaan seorang Mama sangatlah peka, dan dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang saya katakan bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja.

Kemudian saya tidak keluar rumah beberapa hari selanjutnya. Saya mengurung diri dirumah. Alasannya? jelas malu sama tetangga. Malu karena terlihat menganggur. Malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Perasaan tidak enak ini terus saja menggelayuti sampai Mama bilang ke saya, kamu gak sendirian di saat seperti ini keluar dong dari rumah bilang ke mereka kalau kamu pengangguran saat ini. Itu bukan aib, ini karena keadaan. Tidak usah malu.

Saran itu berhasil. Saya kemudian keluar rumah dengan bangga menyatakan bahwa saya pengangguran saat ini. Saya berbahagia karena bagaimanapun akan ada cerita setelah perjalanan ini. Saya percaya. Jadi saya memulai semua dari -0-. Percaya atau tidak? saya tidak pernah menyesali keputusan dimasa lalu. Justru karena keputusan itu, saya mengerti dan mendapati cerita tentang rasanya di layoff.

Saya menjadi pengangguran selama 1,5 bulan karena Alhamdulillah berkahe Gusti Allah saya diterima kerja kembali. Rencananya saat itu adalah saya ingin beristirahat 2 sampai 3 bulan untuk pindah sementara waktu di rumah saya yang di Klaten menemani Simbok karena setelah kepergian Mbah Kakung bulan Agustus 2020 lalu, Simbok dirumah sendirian. Rencana itu tentunya sudah saya diskusikan dulu dengan Mama dan Susi. Setelah sebelumnya saya meminta per November saya mau mudik, dan Mama menyetujui per tanggal 09 Desember kami mudik.

Saya bahkan tidak cerita ke teman terdekat saya. Karena saya tidak mau membebani mereka dengan cerita sedih ini. Kehidupan sudah cukup sulit akhir-akhir ini. Tetapi, karena mereka sudah mengenal saya dengan baik mereka sudah mengerti apa yang terjadi dan tidak pernah sekalipun menanyakan kenapa saya bisa di Klaten untuk waktu yang lama. Justru mereka menanyakan kapan saya kembali karena setiap saya update instagram story, mereka akan iri akan kehidupan saya di Klaten.

Yang bisa saya sampaikan dalam tulisan ini adalah selama masih memiliki penghasilan yang stabil, ada baiknya mulai saat ini porsi untuk tabungan dibesarkan. Selama 1,5 bulan nganggur atau setara dengan 2 kali pengeluaran yang ada, saya gunakan tabungan dana darurat yang sudah saya siapkan beberapa bulan sebelumnya. Dengan adanya dana darurat ini bisa menutupi semua kewajiban yang harus saya penuhi, kecuali ada beberapa pos pengeluaran yang dibantu sama Mama dan Susi. Disinilah komunikasi antar keluarga sangat diperlukan dan Keluargalah tempat dimana kita bisa merasa nyaman dari pandangan yang tidak mengenakkan diluar sana.

Saat menjadi pengangguran itu juga, masalah gak berhenti begitu saja. Developer rumah di Citra meminta saya untuk menyelesaikan pemecahan sertifikat. Hal yang seperti bom waktu sebenarnya, karena saya sudah tahu ini akan terjadi dalam beberapa waktu ini. Tetapi yang tidak bisa saya bayangkan adalah disaat menjadi pengangguran justru permintaan itu ada. Saya meminta pendapat Mama apakah mau diundur dengan denda perbulan yang dikenakan atau mau dilanjutkan prosesnya. Dan disepakati untuk dilanjutkan proses pemecahan sertifikat tersebut dengan meminjam uang Mama. Satu masalah terselesaikan.

Selama menjadi pengangguran kemarin, beginilah siklus kehidupan saya;

  1. Minggu pertama saya menghabiskan waktu untuk menonton film. Menghibur diri saya sendiri. Mengurung diri dirumah. Masih mencoba meyakinkan diri kalau semua baik-baik saja setelah ini
  2. Minggu kedua mulai membuka diri untuk update CV di situs pencarian kerja. Mulai merasakan hampa karena dirumah saja gak ada aktifitas dandan untuk style ke kantor.
  3. Minggu ketiga mulai aktif melamar kesana-kemari melalu online. Dan mulai merapal do’a setiap lewat tengah malam untuk hari esok ada jawaban dari aplikasi yang dikirimkan.
  4. Minggu keempat mulai beristirahat total dari dunia online digital karena saya harus pulang ke Klaten dan dirumah susah signal yang tampilan di handphone selalu E. Dan diminggu ini sibuk di Klaten untuk mengurusi pengajian kepergian 100 hari Mbah Kakung.
  5. Minggu kelima mulai menikmati hidup dengan keliling sawah Simbok, jajan makanan di Klaten dan kulineran. Kemudian jalanjalan sama Mama dan sampai ngantar Mama ke stasiun untuk ke Jakarta lagi.
  6. Minggu keenam beberapa telephone sudah masuk untuk jadwal interview setiap ada jadwal harus ngungsi ke rumah Bulik atau Cafe yang ada satu-satunya di daerah rumah saya di Klaten. Di minggu ini sudah disibukkan dengan aktifitas penjualan hasil panen (padi kering) Simbok dari pengambilan padi dirumah sampai menerima hasilnya. Wah.. ini sih proses yang bikin deg-degan.
  7. Minggu ketujuh mulai pamer di Instagram tentang kehidupan di Klaten dan mulai legowo kalau menjadi pengangguran. Kalau orang bertanya sudah berani menjawab beristirahat sejenak di Klaten.
  8. Minggu kedelapan, final interview kesusahan signal akhirnya interviewnya di tengah sawah dengan motor lalu lalang, dan Alhamdulilah dikabarkan sore itu juga kalau ada email masuk berjudul “Welcome to our family” di minggu ini akhirnya saya benar-benar menikmati fase pengangguran dengan jajan, jalan, dan menghabiskan sisa dana darurat di bulan tersebut. Karena budget dana darurat selama saya pengangguran adalah 6 bulan kedepan dan Alhamdulillah, 1 minggu kemudian saya sudah mendapatkan pekerjaan baru jadi dana darurat masih aman dan bisa jajan kembali.

Banyak orang yang melihat saya di social media menilai kehidupan saya baik-baik saja dan sangat nyaman. Mereka bahkan tidak tahu ada cerita seperti ini dan bagaimana saya harus bangkit menghadapinya, dan memulai cerita setelahnya. Karena menurut teman saya, apa yang saya perlihatkan di socmed tersebut adalah ilusi yang baik. Bahkan ada rekan saya sampai saat ini tidak percaya kalau saya pernah kena layoff.

Selalu berperasangka baik terhadap Allah seperti yang Mama dan Simbok ajarkan. Simbok selalu mengajarkan kalau hidup seberat apapun harus bersyukur Gusti Allah gak akan ninggalin kita begitu aja, justru dengan dikasih kesusahan Gusti lagi negur kita buat makin bersyukur lagi. Ada benarnya karena saya selama ini kurang bersyukur, banyak mengeluh, dan parahnya lagi tingkat kesombongan saya naik dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Sekalinya ada cerita begini, baru saya menyadari kalau apa yang saya dapatkan itu bisa diambil begitu saja dengan mudahnya tanpa harus menunggu apapun itu sama Gusti Allah.

Sepulang dari Klaten, saya seperti merasakan kehidupan ini berbeda jauh banget. Saya yang dulunya selalu ngoyo sekarang udah kayak let it flow saja. Yang terpenting adalah saya gak boleh sombong lagi dan selalu bersyukur. Bersyukur karena saya punya keluarga hebat yang selalu menemani dan mendukung saya sejauh ini. Bersyukur karena Gusti Allah menggantikan dengan segera pekerjaan yang diambil kemarin. Bersyukur karena bisa melalui cerita sedih akhir tahun lalu. Bersyukur karena Gusti Allah memberikan kekuatan untuk saya melanjutkan cerita hidup selanjutnya. Bersyukur karena saya diberikan waktu untuk beristirahat sejenak dari kehidupan ‘persaingan’ di Kota ini. Bersyukur karena saya tidak pernah ditinggalkan oleh rekan-rekan saya. Dan yang terpenting adalah Bersyukur bisa punya waktu buat liburan lama di Klaten karena selama saya bekerja tidak pernah pulang kampung selama ini.

Awal tahun 2021 ini adalah cerita baru untuk harapan baru. Tahun dimana harapan saya sebarkan dalam proposal do’a yang saya kirimkan dan didengar langit tanpa batas. Tahun dimana akhirnya semua kewajiban saya satu persatu bisa dilunasi. Tahun dimana akhirnya saya belajar untuk berinvestasi kembali. Tahun dimana saya akhirnya belajar Bahasa baru yaitu Bahasa Korea supaya kelak kalau ke Korea lagi saya tidak bingung dan menangis seperti dipostingan ini. Tahun dimana saya akhirnya belajar untuk menghargai bantuan apapun itu. Tahun dimana saya akhirnya belajar untuk lebih terbuka terhadap Mama karena dia tahu mana yang baik untuk anaknya.

Oh ya, buat yang tanya bagamana saya bisa membayar satu persatu kewajiban di tahun 2020 lalu, itu semua karena tabungan yang saya usahakan tetap terisi dari tahun 2019 lalu. Saya ingat betul pada saat saya minta surat pengantar untuk pengajuan Visa Korea Selatan, Mba CS Bank Biru menawari saya untuk membuka tabungan dengan jangka waktu 2 tahun dan angsuran perbulannya sekian. Karena saat itu ada promo dengan pembukaan tabungan tersebut saya bisa dapat kartu Flazz dengan karakter lucu dan saldo sekian. Tabungan tersebut selalu saya usahakan terisi setiap bulannya sampai Februari 2021 lalu akhirnya jatuh tempo. Dari pencairan ini saya bisa membayar biaya pemecahan sertifikat dan menaikkan berkasnya dari Hak Guna Bangunan ke Sertifikat Hak Milik. Jadi uang tersebut sebenarnya tabungan saya untuk Ke Korea lagi tahun 2021 ini dan karena Pandemic masih berlangsung, saya gunakan untuk pos yang lain. hehehe. Karena prinsip hidup saya adalah, tidak ada yang salah dalam hal menabung dan investasi pasti akan berguna dikemudian hari.

Mudah-mudahan dengan saya bercerita di blog ini, bisa menginspirasi kalian untuk selalu berperasangka baik sama Gusti Allah dan tidak pernah lupa untuk bersyukur. Karena setelah cerita sedih pasti akan ada cerita bahagia setelahnya. Saya masih belajar untuk bisa lebih bersyukur lagi akan cerita apapun yang ditawarkan semesta ini. Mudah-mudahan Pandemic ini segera berlalu. Karena masih ada beberapa impian yang saya kirimkan melalui proposal do’a dan mudah-mudahan langit menyampaikan ke Gusti Allah untuk diterima dan diberkahi.

Pada intinya saya juga manusia yang bisa merasakan sepayah itu, sesedih itu, sefrustasi itu, semenangis itu. Tidak ada manusia yang sempurna. Jangan pernah sesali keputusan dimasa lalu. Benar kata Mama, setiap saya cerita tentang masa lalu dia selalu mengatakan kamu gak akan tahu ceritamu segitu uniknya dikemudian hari yang saat ini kamu rasakan. Jadi semua itu adalah yang terbaik dari setiap keputusan yang ada. 🙂

Mudah-mudahan saya bisa semangat menulis di tahun ini, ya! karena blog ini selalu menjadi saksi bagaimana hidup saya naik dan turunnya. Terima kasih teman-teman sudah berkenan membaca tulisan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.