Liburan Pandemic
Lombok Island

Pengalaman Liburan Ke Lombok di Waktu Pandemic

Bagaimana pengalaman liburan ke Lombok Dan Gili disaat Pandemic Covid? Kalian bisa baca di postingan saya ini.

Kita semua tahu Pandemic saat ini sedang berlangsung di seluruh penjuru dunia dan belum juga berakhir sampai saat ini. Di Indonesia sendiri kasus Corona Pertama kali ditemukan bulan Maret 2020 dan sampai Juni 2021 malah lonjakan kasusnya sedang tinggi-tingginya. Saya memutuskan untuk menulis perjalanan liburan bulan Oktober 2020 lalu dengan Archa dengan tujuan Lombok – Nusa Tenggara Barat.

Tahun 2020 sendiri saya harus membatalkan 3 perjalanan yang sudah saya beli dan persiapkan semuanya. Kerugian yang saya alami tidak sedikit, tetapi saya selalu bersyukur diberikan kesehatan dibandingkan kerugian material yang ada. Dan 1 rencana yang akhirnya juga harus dibatalkan. Saya dan Archa adalah teman baik dalam banyak hal sejak kami bertemu dikantor lama kami yaitu tahun 2015 lalu. Dan kami menjadi teman petualang sejak tahun 2018 lalu. Setiap tahunnya kami harus pergi liburan untuk rewarding ourself for hardwork along the year. Sama halnya dengan 2020 lalu kami sudah memutuskan untuk mengambil cuti tahunan dan pergi untuk melepas penat ke statu tempat, rencana yang sudah dibahas bertahun-tahun sebelumnya juga harus kandas karena adanya Pandemic Corona 19 ini.

Liburan Pandemic

Setelah diskusi dengan Archa kami sepakat harus pergi dari luar Jakarta untuk berlibur. Oktober 2020 lalu situasinya tidak separah Juni 2021 ini. Makanya kami berani untuk membeli tiket dan kemudian jalan ke Lombok.

Kenapa Lombok? Saya ingin menjelajah pantai-pantai yang ada di Lombok. Ini bukan kali pertama saya dan Archa ke Lombok, tetapi dengan pilihan liburan domestik yang ada, kami akhirnya memutuskan untuk menuju Lombok. Disepakati juga untuk menginap di Gili Air dan kami menghabiskan waktu di Kuta, Lombok.

Sejujurnya saya tidak begitu menikmati liburan yang ada. Benar adanya bisnis pariwisatalah yang terkena dampak lebih berat dibandingkan sektor lainnya. Kalau biasanya saya mau liburan tidak perlu menyiapkan banyak waktu, kali ini harus menyiapkan jauh-jauh hari. Dan selalu utamakan membaca persyaratan penerbangan yang dikirim melalui email. Kalau biasanya hanya perlu bawa cukup uang dan datang di bandara tepat waktu, kali ini harus Rapid Test 1 hari sebelumnya, dan antrean mengular untuk masuk ke Bandara karena adanya pemeriksaan dari petugas Angkasa Pura untuk hasil Rapid kami.

Baca Juga : Pengalaman Saya dilayoff pada saat Pandemic

Begitu sampai di kedatangan Bandara Lombok kami harus mengantre lagi untuk mengisi kartu e-Hac yang ada di aplikasi dan bisa diunduh melalui smartphone kalian. Aplikasi ini digunakan untuk mengisi data pelancong dimana mereka akan tinggal dan alamat yang bisa dikontak sewaktu-waktu.

Menggunakan masker sepanjang waktu, menjaga jarak, dan tidak adanya saingan untuk foto di antara banyak lokasi yang ada di Lombok adalah hal yang kurang menyenangkan. Ternyata menjadi sepi diantara lokasi cantiknya Lombok adalah hal yang membuat kami sedih. Tidak ada keceriaan pelancong yang mengunjungi Lombok dan Gili. Benar-benar sepi sekali.

Pada saat kunjungan pertama saya ke Lombok tahun 2016 silam adalah kunjungan bisnis yang ditujukan untuk para pelaku wisata. Kebetulan saya dan saudara saya Titis datang ke Lombok mewakili perusahaan travel Mama. Kami semua diajak mengunjungi Lombok dengan fasilitas yang sangat special dan sangat menyenangkan untuk kami. Tetapi karena keterbatasan waktu jadilah kami tidak banyak menjelajahi Lombok dan Gili. Saat itu kami berada di Mataram dan Gili Trawangan. Dan kali ini saya dan Archa sepakat untuk berada di penginapan sekitar Kuta saja. Konon kata Archa, Kuta itu kayak Jimbarannya Bali jadi akan ada banyak pelancong yang datang.

Begitu kami sampai di Kuta, kami tercengang. Tidak percaya bahwa kafe-kafe yang biasanya banyak pelancong dari luar dan dalam Negeri harus banyak yang ditutup. Tidak hanya tertulis tutup saja, melainkan kursi dan mejanya sudah ditumpuk dan berdebu yang saya perkirakan sudah berbulan-bulan tertumpuk.

Saya mencoba memahami bahwa pariwisata lagi terpuruk karena Pandemic ini. Tetapi saya tidak bisa membayangkan dan melihat kenyataan yang ada didepan mata saya. Kantor Mama juga harus ditutup sementara waktu karena tidak mau mengambil resiko adanya pembatalan tiket dari maskapai yang bisa lama pengembalian dananya. Atau kalau Mama cerita grup teman-teman pegiat wisatanya juga lagi bersusah karena adanya Pandemic ini, tetapi yang saya lihat dan rasakan kali ini beneran nyata. Sangat-sangat bersusah hatinya. 

Bapak driver yang mengantarkan kami dari Bandara ke penginapan mengeluhkan sepinya penumpang, kami bisa memahami. Tetapi kalau di Kawasan Kuta dimana kami menginap selama 3 malam jam malamnya benar-benar tidak ada. Restaurant yang buka tidak banyak dan mereka menutup jam 9 malam, ini yang kami susah memahami. Jam 9 malam menurut kami masih sore. Kenapa? Karena kami berburu sunset sampai jam 6.30 malam, kemudian pulang ke hotel, beristirahat dan keluar untuk makan malam di jam 8 malam. Jalan kaki keluar hotel sudah jam 8.30 malam. Dan sepanjang jalan sepi banget, Archa bahkan tidak mengenali dan kaget kenapa bisa sesepi ini dan tidak sesuai rencana sebelumnya dimana kami bisa berjalan malam-malam sambil ngobrol dengan yang lainnya.

Malam sebelum kami bertolak ke Gili Air, kami bertemu keluarga dari Bintaro mereka adalah pelancong dari Inggris yang sudah tinggal di Indonesia 3 tahunan. Perbicangan dimulai Ketika saya menggoda putrinya yang cantik, sampai akhirnya kami bertukar pengalaman dan mengetahui satu pesawat yang sama Ketika pulang dari Lombok ke Jakarta nanti. Mereka bertanya ke kami ada rencana apa untuk besok? Kami jawab ke Gili Air, Mamanya bilang lebih baik kami berpikir kembali dan memilih Gili Trawangan saja karena disana akan lebih banyak orang. Gili Air bagus banget tapi kalau saat ini lebih baik kami one day trip saja. Tetapi Bapaknya bilang depends on us.

Sempat ragu dan minta Archa memikirkan kembali rencana kami ke Gili Air, tetapi Archa tetap maunya ke Gili Air saja walau penginapan belum dibayarkan. Jadilah kami ke dermaga penyebrangan di ujung Mataram yang bernama Dermaga Pemenang. Tadinya kami memutuskan mau menggunakan speedboat saja, tetapi tidak bisa karena harganya mahal untuk kami berdua. Loket pemesanan tiket perahu penyebrangan Gili Air ada di pojok sebelah kanan dari kedatangan. Bersyukur kami langsung gerak cepat dan Ketika sampai di loket kapalnya segera diberangkatkan jadi tidak perlu menunggu lama. Yap, penumpang yang lain menunggu 1,5 jam lamanya untuk bisa berangkat karena perahunya harus berisikan minimal 20 orang.

Dermaga Gili Air

Sampai di Dermaga Gili Air entah kenapa saya merasakan kesedihan karena kesepian. Benar-benar sepi yang ada. Gili Air terkenal dengan wisata sport air and divingnya tetapi ini benar-benar sepi. Si Domo banyak yang berdiam di dermaga, sepeda yang terparkir di dermaga menunggu pelancong untuk menyewa, dan hotel-hotel yang tutup karena tidak menutupnya biasa operasional dengan pendapatan yang ada. Gili Air tidak sebesar Gili Trawangan, jadi dalam waktu 10 menit saja kami bisa sampai diujung utara Gili Air dimana penginapan kami berada. Bersyukur penginapan kami buka, walau saya meyakini tamunya hanya kami.

Kami menyewa sepeda dengan harga spesial karena saya tahu sepeda-sepeda itu sudah terparkir lama, ban yang kempes dan perlu di pompa. Kami menyetujui pembicaraan Mama pelancong semalam kalau Gili Air cantik tetapi sepi dan tidak banyak restaurant yang buka. Kami menemukan warung makan yang buka dan mungkin satu-satunya warung makan tradisional yang buka di Gili Air saat itu. Akhirnya waktu berburu spot sunset datang juga, kami sudah berkeliling Gili dari jam 2 sampai 6 malam. Benar-benar tidak ada pelancong dalam Negeri yang biasanya berebut berfoto. Tidak jauh dari kami ada pelancong dari Luar Negeri yang juga kami temui pada saat pagi hari di Tanjung Aan. Dan saya akhirnya mengakui ke Archa kalau hidup memang harus punya kompetitor untuk memberikan efek semangat. Sepi seperti ini tuh rasanya ada yang kurang.

Makan malam di Gili Air kami putuskan untuk didekat dermaga saja dan benar saja, tidak ada musik kafe-kafe yang dinyalakan. Tidak ada pelancong yang berpesta atau sekedar menikmati malam di kafe-kafe yang ada. Gemerlap lampu tidak adalagi. Berbeda jauh banget dengan gambaran Gili Trawangan tahun 2016 lalu. Walau sebelumnya dijelaskan oleh Ibu pedagang sate yang kami temui kalau Gili Air memang tidak seperti Gili Trawangan untuk keramaiannya, tetapi ini benar-benar sepi.

Sebelum Kembali ke daratan Lombok, saya memotret beberapa gambaran bagaimana sepinya Gili Air Oktober 2020 lalu. Foto ini menjadi pengingat kita bersama suatu saat nanti Indonesia pasti Kembali maju lagi sektor pariwisatanya, saya sangat meyakini hal itu.

Sampai di perahu penyebrangan saya berjumpa dengan Bapak penjaga hotel dimana kami menginap di Gili Air. Saya sibuk berfoto, Archa yang mengobrol dengan Bapaknya. Baru kami ketahui kalau Bapaknya kemarin nyebrang dari Daratan ke Gili untuk menunggu kedatangan kami dan akhirnya sekarang kami tamunya sudah kembali ke Daratan begitupun dia. Dengan kata lain, Bapaknya khusus menunggu kedatangan kita. Duh, bersyukur kami tidak merubah rencana dari Gili Air ke Gili Trawangan. Kasihan Bapaknya kalau sampai itu terjadi kumarin.

Malam terakhir di Lombok kami memutuskan untuk menginap Kembali di daratan Kuta. Ada cerita diluar rencana yang ada ketika adanya insiden diluar perkiraan kami. Dan akibat insiden itu juga berdampak dengan rencana penjelajahan kami di hari akhir di Lombok. Setelah Insiden yang ada, driver kami sulit mencari hotel yang kami pesan karena alamat dan jalanannya yang asing untuknya. Kami menyasar ke rumah yang sangat tinggi dari daratan dan sampai mobilnya tidak kuat nanjak, walau pada akhirnya kami menemukan juga hotel yang kami pesan.

Begitu sampai hotelnya ternyata tutup. Yap, benar-benar tutup tidak ada orang. Bahkan kalau ada orangpun saya tidak mau menginap disana karena saking sepinya gak kebayang bagaimana menjadi tamu sendiri diantara banyak kamar kosong yang ada. Dan pembayaran atas hotel ini sudah lunas. Kami bilang ke pemiliknya tidak ada informasi dari platform dimana kami memesan kalau hotelnya sudah tutup lebih dari satu bulan lamanya. Karena kami memesan sudah dari 4 bulan yang lalu. Bersyukurnya Bapak pemiliknya berbaik hati mengembalikan uang penginapan yang sudah kami bayarkan ke platform aplikasi tersebut tanpa mengurangi serupiahpun.

Masalah selanjutnya adalah dimana kami harus menginap. Hari sudah gelap. Kami benar-benar putus asa. Bahwa dampak Pandemic Corona ini tidak main-main. Hotel banyak yang tutup karena pada akhirnya biaya operasional yang ada tidak bisa menutupi penghasilan yang ada. Sangat-sangat sedih.

Akhirya kami mencari hotel dimana kami bisa menginap saat itu juga. Badan kami sudah lelah dari siang hari, dan kami harus istirahat sesegera mungkin. Kami menanyakan kesediaan tempat untuk kami bisa bermalam, bersyukur ada kamar yang bisa di rapihkan untuk menginap. Harganya sangat murah untuk fasilitas dan lokasi yang ada. Kali ini saya bilang sama Archa, selalu ada Pelangi setelah hujan deras. Malam itu kami menghabiskan waktu beristirahat dan berenang juga akhirnya. 🙂

Besoknya kami mengakhiri perjalanan liburan di Lombok ini dan Kembali ke kegiatan kami seperti biasanya. Saya berterima kasih atas pengalaman yang ada untuk liburan di tengah Pandemic ini sama Archa.

Pesan dari kami adalah;

  1. Selalu menjaga protokol Kesehatan dan masker.
  2. Disaat Pandemic begini carilah penginapan yang sudah ada nama jaminan akan dibuka sehingga tidak ada kejadian hotelnya tutup tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  3. Atau kalian bisa memesan hotel on the spot disaat kondisi tidak menentu begini tidak perlu memesan dari jauh-jauh hari karena keadaan bisa berubah sewaktu-waktu
  4. Mencari makanan mungkin sulit karena banyak restaurant yang tutup jadi makanlah seadanya restaurant atau warung makan.
  5. Dihilangkan angan-angan untuk party dimalam hari karena kebanyakan kafe atau restaurant akan tutup jam 9 malam.
  6. Banyaknya restaurant yang tutup, jalanan yang lengang dan sepi akan mengakibatkan kalian merasa sangat-sangat mellow.
  7. Lombok dan wisata domestik dalam Negeri butuh pelancong seperti kalian guys! Bila keadaan sudah terkendali silahkan liburan ke dalam Negeri dulu ya!

Akan tiba saatnya Corona Virus sama halnya dengan penyakit flu yang seperti biasanya. Kita harus tetap semangat dan meyakini kalau Indonesia, dan penjuru dunia lainnya akan Kembali seperti sediakala lagi.

Oh yah untuk upload beberapa video dan story Instagram bisa dilihat di Instagram ndueisndue disini ya!

Selamat menjaga semangat dan sehat selalu yah guys!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.