Mandalay Le Palais Des Miroirs
Myanmar

Seharian di Mandalay Le Palais Des Miroirs

Sunset U Bridge

Le Palais Des Miroirs adalah ungkapan yang tepat ketika kami mengunjungi Mandalay dalam perjalanan ke Myanmar Oktober tahun 2019 lalu. Pada saat di Bagan, ketika kami mengunjungi salah satu candi untuk melihat dan berfoto di depan gapuranya ada pedagang buku yang menjajakan dagangannya. Saya langsung melirik Archa ketika melihat buku yang bertuliskan bahasa Perancis tersebut. Archa menjelaskan kalau itu berarti The Palace of Mirrors atau istana kaca.

Seharian kami di Bagan, saya masih kepikiran dan penasaran apa arti dari judul buku tersebut. Kenapa Myanmar terkenal dengan sebutan Le Palais Des Miroirsnya? Dimana kami bisa menemukan istana kacanya? Bagaimana kami bisa mengunjungi istana kaca yang ada di sampul buku yang saya lihat sekilas tersebut? Bahkan sampai selesai mengunjungi Bagan pun, masih belum terjawab untuk dimana istana kaca tersebut.

Dan kami melanjutkan perjalanan di kota kedua setelah Bagan, yakni Mandalay.

Mandalay

Kami memilih bus JJ express untuk menuju Mandalay karena jamnya yang sesuai. Sebelum tahu ada bus JJ express kami sempat berdebat untuk bus mana yang hendak kami gunakan. Jarak Bagan ke Mandalay hanya 6 jam saja. Dan sebagai informasi bahwa Bagan adalah kota yang tidak terlalu besar dan untuk bus-bus sedang dengan kapasitas 10-12 orang mereka mengakomodasi penjemputan dari hotel di Bagan dimana kalian menginap. Karena kami sudah membeli tiket JJ express secara online sebelum ke Myanmar, kami harus membayar 1.500 Kyat untuk biaya penjemputannya. Tidak masalah untuk kami.

Bus yang kami gunakan besar dengan kapasitas 35 orang dan banyak yang kosong karena penumpangnya hanya 15 orang saja. Bus berangkat dari Terminal Bagan Shwe Pyi jam 14.20 dan kemudian sampai di Mandalay jam 18.15 dengan sekali berhenti untuk ke toilet dan membeli makanan. Saya memanfaatkan waktu ini untuk istirahat karena saya tahu besok kami tidak beristirahat untuk mengejar tempat-tempat mana saja yang ada di Mandalay.

Ketika kali pertama sampai di Terminal Mandalay yang bernama Kywesekan Bus Station rasanya saya kena shock therapy. Bagan kota yang tenang, sejuk dan menenangkan. Mandalay benar-benar kota yang saya rasakan pertama kali adalah debu dan polusinya hampir sama dengan Jakarta di jam pulang kerja. Setelah pengambilan tas di bagasi Bus, dan setelah juga di tarik sana-sini dan di ikuti oleh Bapak-Bapak di Terminal, kami sudah sepakat untuk keluar terminal dan mencari tuk-tuk yang bisa mengantar kami ke hotel dengan budget yang sudah kami tentukan sebelumnya. Walau harus berjalan lumayan jauh karena harus keluar Terminal, tetapi kami bahagia akhirnya bisa menemukan Bapak tuk-tuk yang berbaik hati dengan harga 1.000kyat lebih murah dari kesepakatan saya dengan Archa.

Mandalay Hill

Kami memilih hotel Shwe Ingyeinn Hotel Mandalay. Letaknya di kota dengan banyak hotel di sekitarnya. Dan tinggal berjalan 100 meter kebelakang, kami menemukan pasar malam. Ini yang kami cari selama di Myanmar. Setelah proses check in dan beristirahat kami keluar untuk makan malam. Dengan 1.000 kyat kami sudah bisa membeli jajanan pasar seperti ayam goreng, bakwan goreng, dan lainnya. Saya bilang sama Archa, perihal makanan saya tidak memusingkan harus cari restaurant berlabel halal atau tidak. Selama saya tidak pesan makanan ‘itu’ kami bisa makan dimanapun. Juga kondisi keuangan kami yang masih stabil dengan masih adanya uang yang belum dipakai untuk makan siang hari ini karena di tempat istirahat tadi saya dan Archa tidak dalam kondisi mood baik untuk makan. Kami memutuskan makan di sebuah kafe yang setelah di total untuk makanan dan minuman senilai sembilan puluh ribuan untuk berdua.

Hal yang lucu adalah ketika ada komedi putar di pasar malam lagu yang diputar adalah goyang dumang. Archa refleks bilang ke saya. Ini lagu kita bisa sampai ke Mandalay hebat! Baru saya menyadari kalau saya di Negeri orang dengan kota bernama Mandalay, saya setakjub itu. Sebahagia itu.

Hotel di Mandalay

Hotel yang kami pesan sudah termasuk sarapan pagi. Kami menuju resepsionis untuk menanyakan apakah sepeda motor yang kami pesan semalam sudah siap dan bisa kami gunakan atau harus menunggu. Ternyata sepeda motornya sudah ada di lobby. Jadi kami membayar untuk biaya sewa perhari diluar biaya bensin. Setelah sarapan, kami memutuskan untuk check out karena tidak mau bolak-balik hotel dan tidak nyaman rasanya, dan kami siap berpetualang hari ini.

TUJUAN PERTAMA – KUTHODAW PAGODA

Pagoda Mandalay

Selama di Mandalay ini saya percayakan semua ke Archa. Tugas utama saya adalah menjadi supir motornya dia seharian. Dari semalam kami sepakat untuk pagoda yang pertama kali kami datangi adalah Kuthodaw Pagoda. Terletak hanya sekitar 6 kilometer saja dari hotel. Dan tidak ada biaya masuk untuk Pagoda ini, kalian hanya perlu membayar parkir motor dan selalu menjaga kesopanan karena Pagoda adalah tempat beribadah.

Pagoda di Mandalay

Ketika memasuki Pagoda ini, saya dan Archa sepakat bahwa inilah yang kami cari selama ini. Pilar dan temboknya menggunakan kaca berwarna-warni. Buddha yang kami lihat disini indah banget. Akhirnya pertanyaan mengenai Le Palais Des Miroirs mulai terjawab di tujuan pertama kami.

TUJUAN KEDUA – MANDALAY HILL

Mandalay Hill

Berbekal arahan dari Google Maps, akhirnya kami menuju tempat yang wajib kalian kunjungi selama di Mandalay. Tempat dimana kalian bisa melihat pemandangan kota Mandalay dari sini. Tempat dimana saya akhirnya menyerah untuk menikmati apapun itu disini karena semuanya cantik. Tempat ini bernama Mandalay Hill.

Untuk sebagian orang menuliskan pengalaman mereka bahwa harus berjalan kaki dari bawah untuk menuju keatas. Karena kami menggunakan sepeda motor, entah kenapa kami diarahkan untuk berjalan terus. Pertama kali saya melihat gerbang Mandalay Hill dari bawah saya takjub seperti impian menjadi kenyataan. Dan mimpi itu mulai terbentuk nyata ketika kami harus mendaki menggunakan sepeda motor. Jalan yang terjal dan berkelok, harapan saya adalah motor yang kami gunakan kuat mendaki. Bersyukurnya kami sampai dengan selamat sampai puncak Mandalay Hill. Saya bilang ke Archa, pengalaman memang gak bisa bohong. Jadi tidak perlu cemas, walau saya sendiri udah gemeteran takut gak kuat naik. Kami berhasil menghemat waktu, karena menurut pengalaman mereka yang pernah ke Mandalay Hill dengan berjalan kaki bisa 1 jam atau lebih.

Mandalay Hill

Sampai diatas kami hanya perlu membayar parkir motor, biaya masuk dan biaya ke toilet.

Waktu 1,5 jam rasanya masih kurang untuk saya menikmati keasrian disni, dan akhirnya kami sepakat disinilah puncak dari Mandalay Le Palais Des Miroirs. Semua serba kaca berwarna-warni. Dari bawah sampai sudut atas. Saya menyadari penulisnya pasti jatuh hati dengan Mandalay dari cantiknya bangunan disini. Rasanya saya mau lama-lama disini kalau tidak dingatkan Archa masih banyak tempat yang harus kami kunjungi. Dan kami bergegas meninggalkan Mandalay Hill tepat jam 12.00 siang.

Mandalay Hill

TUJUAN KETIGA – PAGODA PAING TAKHON

Saya tidak tahu nama dari Pagoda ini. Saya menyebutnya Pagodanya Paing Takhon karena Archa ngefans berat sama aktor Myanmar ini. Yang pasti jarak antara Mandalay Hill dengan Pagoda ini lebih dari 50 Kilometer untuk sekali perjalanan. Saya mengiyakan karena menurut di Maps, hanya membutuhkan waktu 1 jam 15 menit. Kami sampai harus mengisi bensin 2 kali, karena kenyataan yang ada dilapangan kami membutuhkan waktu 1 jam 25 menit.

Pagoda di Mandalay

Tetapi kami melihat sisi lain Mandalay dari perjalanan ke Pagoda ini. Kami diarahkan oleh Maps ke jalanan yang berdebu, jalanan di pinggir sungai yang menurut saya itu terusan sungai Mekong karena luas dan banyak kapal berlabuhnya, jalanan pinggiran Mandalay yang saya selalu kepikiran kalau kami hilang disini kemungkinan sulit ditemukan karena saking sepinya orang. Tetapi perjalanan menggunakan sepeda motor kali ini menyenangkan. Perasaan deg-degan dan takjub akan pemandangan yang ada itu tidak akan bisa terulang kembali.

Pagoda Mandalay

Setelah melewati jembatan sungai yang sempat saya abadikan di akun instagram saya dibuat semakin takjub dengan Mandalay. Di seberang sana sudah menanti Pagoda-pagoda dengan berwarna emas berkilauan. Saya benar-benar takjub sampai merinding. Bahkan dari jauhpun terlihat sangat cantik. Perjalanan ini berkesan untuk saya adalah pemandangannya hijau berbeda dengan Mandalay yang kami rasakan ketika pertama kali sampai.

Mandalay

Kami membayar 5.000 kyat untuk memasuki area wisata ini. Dari uang pembayaran tersebut, kami sudah bisa sepuasnya bermain di area yang merupakan Cagar Budaya di Mandalay.

TUJUAN KEEMPAT – MINGUN PAHTODAWGYI

Pagoda di Mandalay

Disini kami membeli air kelapa seharga 2.000 kyat sambil beristirahat dan berfoto sebentar. Kami harus bergegas kembali ke Mandalay kota. Kalau kalian punya banyak waktu dari pagi atau 2 hari di Mandalay banyak yang bisa kalian kunjungi baik di Mandalay kota ataupun di sekitar Cagar Budaya disini. Semua Pagodanya cantik dan instagramable tetapi selalu ingat untuk berlaku sopan dan melepas alas kaki yang kalian gunakan, ya!

Pagoda in Mandalay

TUJUAN TERAKHIR – U BEIN BRIDGE ( U-BRIDGE )

Sunset U Bridge

Jam 15.30 kami meninggalkan Cagar Budaya untuk ke menikmati sunset yang harmonis di U-Bridge Mandalay. Estimasi sampai jam 17.00 kemudian santai sebentar dan sekalian cari makan siang yang tertunda. Kami sengaja memutuskan makan siang yang tertunda sehingga menjadi makan sore di sekitaran U-Bridge untuk bisa menghemat waktu.

Dalam hal ini pengaturan waktu dan kecepatan berkendara adalah hal yang penting. Sampai di U-Bridge kami melihat jajanan lokal yang banyak di beli sama anak muda-mudi, dan kami tertarik untuk mencobanya. Makanan itu sejenis soto yang menyegarkan, saya lupa namanya apa yang pasti di Hotel pagi tadi ada juga menu itu. Tetapi masakan ibu ini enak banget. Archa sampai nambah, dan harga permangkuknya hanya 800 kyat murah meriah.

Chill versi Archa

Setelah makan, masih terlalu sore untuk melihat sunset dan banyak kafe-kafe yang berjualan disekitar jembatan ini. Kami memilih kafe yang masih banyak slot tempat untuk berfoto dan menikmati sunset. Sebelah meja kami adalah pasangan yang baru menikah, mereka menertawakan saya yang berfoto banyak dan selalu meminta difoto berkali-kali. Dengan memesan minuman 2 jus seharga 2.000 kyat kami menikmati sunset di jembatan U-Bridge.

Tempat ini romantis, sangat romantis. Saya sampai menitikkan air mata berkata dalam diri sendiri tentang perjalanan hari ini sangat menyenangkan. Bersyukur dengan cerita yang ada besama Archa hari ini.

“Cha, this is the best sunset in my life! thank you for this time..”

Sunset Mandalay

Saya mengatakan hal ini tulus. Pantas saja jembatan ini selalu menjadi icon dari Mandalay. Tidak afdol rasanya ke Mandalay kalau belum menikmati sunset di jembatan ini. Jembatan dimana pasangan muda-mudi berpadu kasih. Ah.. menyenangkan.

Jam 18.30 kami harus kembali ke hotel untuk mengisi daya baterai handphone dan kamera. Sampai di hotel jam 19.15 kami masih ada waktu untuk berganti baju yang enak untuk bermalam di bus menuju ke Yangon.

BAGAIMANA SEWA SEPEDA MOTOR DISANA?

Mandalay Hill

Awalnya deg-degan karena kami tidak memiliki SIM Internasional dan ini menjadi pengalaman pertama kami berkendara di Negara orang dengan sisi kanan sebagai jalurnya. Tetapi dengan tekad dan kehati-hatian tidak ngebut dan berpindah jalur, kami beruntung disana baik-baik saja. Walau sempat salah masuk ke jalur cepat, tetapi ada Bapak-Bapak disana memberikan kode untuk berpindah jalur. Jadi kami bisa kembali ke hotel dengan aman tanpa kekurangan satupun.

Kami 3 kali mengisi bensin, untuk sewanya bisa ditanyakan ke resepsionis apakah mereka bisa mensupport dengan penyewaan sepeda motor atau tidak. Karena mereka pasti menawari tuk-tuk untuk berkeliling Mandalay. Pengalaman kami di Cambodia lalu tidak mau terulang lagi, dan kami sepakat apapun yang terjadi memang sepeda motor sudah jadi pilihan pertama.

Selama berhati-hati semua pasti aman. Jangan lupa berdo’a juga.

Naik Motor keliling Mandalay

Kami berpamitan dengan staf hotel yang sangat ramah dan membantu kami sampai mencarikan tuk-tuk. Dengan harga murah dan mereka memberikan salam hormat kepada kami. Mandalay membuat saya jatuh cinta. Berkali-kali saya lihat foto-foto yang ada, tidak pernah bosan bahkan semakin jatuh cinta dengan Mandalay.

BERAPA PENGELUARAN SELAMA DI MANDALAY?

Semua saya jabarkan dibawah ini ya. Ini untuk harga perorangnya.

cost in Mandalay

Ah ya.. benar adanya istana kaca itu benar ada dan romantis sekali. Istana kaca itu bernama kota Mandalay. Le Palais des Miroirs – The palace of mirrors.

Istana Cermin

Baca juga perjalanan saya di Bagan disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.