Berterima Kasih Untuk Diri Sendiri

Busan, 08 April 2019.

Halo, apa kabar? Senang rasanya bisa menyapa lagi dari laman pribadi saya. Tanpa terasa saya telah meninggalkan lama ini hampir 5 bulan lamanya. Dari bulan Januari sampai dengan saat ini ada beberapa hal yang saya prioritaskan sehingga lama-lama laman ini tidak ter­update, maafkan.

Ada banyak hal yang ingin saya bagikan kepada kalian terutama perjalanan saya di Korea Selatan April lalu. Tetapi, saat ini saya tidak ingin bercerita akan hal tersebut. Karena saya ingin bercerita tentang perjalanan hidup saya selama ini. Saya ingin menulis tentang sesuatu yang bisa mengingatkan diri saya sendiri atau kalian untuk selalu bersyukur dan berterima kasih atas apa yang ada dikehidupan ini.

Begini, sebelum keberangkatan saya ke Korea, saya selalu merasakan suatu perasaan yang datar saja. Karena gejolak perasaan saya yang menjadi diri saya uring-uringan belakangan ini, sampai akhirnya saya mengetahui penyakit apa yang menghinggapi diri saya, penyakit itu bernama kurang bersyukur atas apa yang ada. Parahnya, bahkan saya tidak pernah bersyukur dan berterima kasih atas diri saya sendiri. Penyakit yang berbahaya untuk hinggap lama-lama di hidup saya.

Sampai akhirnya saya menangis sejadi-jadinya ketika melihat suatu postingan dari salah satu akun Instagram yang saya ikuti. Akun tersebut bernama proud project. Dari akun tersebut saya belajar banyak, belajar untuk bersyukur dan belajar untuk selalu menghargai hidup ini. Kalau biasanya saya melihat postingannya hanya menitikkan air mata, kali ini saya menangis. Kenapa? Mereka posting sebuah video dari seorang pria yang mengucapkan terima kasih untuk dirinya sendiri.

Kemudian, saya cerna kalimat tersebut. Berterima kasih kepada diri sendiri? Apa iya? Bagaimana mungkin? Untuk apa? Memang ada yang bisa dibanggakan?

Banyak kemudian pertanyaan-pertanyaan yang melintas di kepala saya. Sampai kemudian saya menangis lagi. Penyakit itu terasa begitu menyakitkan, begitu sesak didada sampai akhirnya tangis saya pecah dan rasa pedih itu membuncah sedemikian pedihnya. Saya tidak pernah bahagia atas diri saya sendiri.

Saya ingat kalimat di video tersebut, kalau ada yang bisa dipercaya dalam hidup ini untuk bangkit kembali, itulah diri saya sendiri.

Itu benar. Sangat benar. Saya setuju akan kalimat ini.

Selama ini saya selalu mengadu berkeluh kesah kepada orang-orang disekitar saya, tetapi saya bahkan lupa bahwa diri saya sendirilah yang masih berusaha untuk bertahan dan meyakinkan saya bahwa saya masih bisa bertahan, saya masih bisa berjalan, saya masih bisa menghadapi segala apa yang ada di dunia ini. Dia tidak mengajarkan saya untuk menjadi egois, dia selalu mengajarkan saya untuk percaya bahwa hidup ini indah kalau kita tahu rasanya bersyukur.

Kemudian hari yang ditunggu tiba. Keberangkatan saya ke Korea setelah 8 bulan persiapan ini-itu. Kalau biasanya saya selalu mengucap syukur dan berbahagia, kali ini saya merasakan diri saya intens sekali. Saya memperbaiki diri saya sendiri dengan selalu mengucap maaf dan berterima kasih di setiap waktunya. Saya mengucapkan maaf karena saya terlalu memaksakan keinginan saya dan menjadi manusia yang angkuh. Saya berterima kasih kepada diri saya sendiri karena berani melangkahkan kaki sampai ke Negara Korea dan ini bukan sebuah angan, ini kenyataan.

Bagaimana caranya berterima kasih kepada diri sendiri?

Saya mulai menerapkan dengan cara berbicara dari hati kehati dengan perasaan saya. Setiap selesai sholat saya berdo’a untuk diberikan kebahagiaan dan kenyamanan selalu ada perasaaan saya. Dan sebelum tidur saya berdo’a lagi. Karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain mengetahui bahwa saya merasakan kenyamanan dan kebahagiaan didalam kehidupan ini daripada harus mengeluh akan sesuatu hal yang sudah menjadi takdir.

Di dunia ini tidak ada yang lebih memahami bagaimana kita selain diri kita sendiri.

Tidak ada yang percaya dimana kita bisa bangkit dari keterpurukan selain diri kita sendiri.

Tidak ada yang bisa menenangkan perasaan dan pikiran kita selain diri kita sendiri.

Tidak ada yang percaya sama kita selain diri kita sendiri.

Tidak ada yang ikut berbahagia atas pencapaian kita selain diri kita sendiri.

Tidak ada yang bersedih atas kegagalan kita selain diri kita sendiri.

Mulai saat ini, dimanapun dan dalam kondisi apapun, jangan lupa berterima kasih kepada diri sendiri karena satu-satunya orang yang percaya akan kemampuan dan kondisi kita adalah diri kita sendiri.

Dan, jangan lupa bersyukur, juga berbahagialah. Bagaimanapun hidup ini adalah kesempurnaan yang Allah berikan secara mudahnya untuk manusia yang ada di bumi ini.

 

Regards,

Ndueisndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.