Ngebackpacker ke Chu Chi Tunnel, Yuk!

Gerbang masuk Chu Chi Tunnel.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Minggu pagi di Ho Chi Minh City, adalah waktu yang disepakati untuk kami mengunjungi Museum Chu Chi Tunnel. Museum yang bukan sekedar museum. Di tempat ini kami bisa merasakan langsung bagaimana menjadi tentara Vietnam saat perang melawan Amerika dulu. Dan menurut sejarah tentara Vietnam pintar dalam strategi walau bisa dilihat persenjataan mereka juga tradisional, mereka sukses mengalahkan Amerika. Atas dasar itu juga saya penasaran ingin mengunjungi museum tersebut.

Bersyukur itinerary yang saya susun disetujui oleh Acha. Karena pemikiran kami sama, kami harus mengunjungi museum tersebut. Dan karena saya diberi kewajiban menyusun itinerary selama di Vietnam maka saya membuatnya serinci dan semurah mungkin. Prinsip kami masih teguh untuk backpacker setengah-setengah. Dalam arti setengah berjuang untuk mengecilkan biaya hidup, tetapi setengahnya kami ingin tidur di hotel yang nyaman untuk beristirahat.

Sebenarnya banyak jasa travel yang menawarkan untuk private tour ke Chu Chi Tunnel atau pihak hotel juga menawarkan jasanya dengan open trip yang mana harganya lebih murah dari pada private tour. Tetapi tetap saja kami ingin menikmati proses perjalanan yang ada. Walau semurah apapun paketannya, kami harus ‘ngeteng’ dengan naik bus umum. Semua itu ada sisi positif dan negatifnya. Kalau memilih travel pastilah lebih singkat waktunya dan juga dijelasin oleh guidenya, tetapi kekurangannya budgetnya mahal banget. Saya pernah melihat di internet kalau pakai travel biayanya bisa diharga VND 550.000,- sedangkan kalau yang open trip itu seharga VND 150.000,- s.d VND 250.000,- tergantung jenis mobil dan anggotanya.

Dan kalau naik bus umum gimana caranya? Well, gampang. Di Vietnam itu semua busnya menurut saya keren! Kenapa? Karena busnya ber-AC dong, juga petugasnya yang sigap membantu. Mereka memang kebanyakan tidak bisa berbahasa inggris, tetapi hal unggulan adalah gunakan bahasa tubuh dan sebut saja tujuannya, mereka langsung memberikan kami tiket dan kami akan di beritahu tempat dimana kami harus turun.

Perjalanan ke Chu Chi Tunnel kami mulai.

Minggu itu, tepat jam 8.30 kami turun ke bawah untuk kemudian tanya ke resepsionist dimana bus stop untuk kami bisa sampai di terminal Chu Chi. Dan resepsionist kami menginstruksikan untuk jalan kira-kira 500 meter. Baiklah, lets go!

Let’s go Pak!

Sebenarnya kami sudah tahu ancang-ancang untuk tempat dimana kami bisa menemukan bus tersebut. Namanya Le Lai Street tetapi karena instruksi masnya tadi lebih dekat jadilah kami menunggu dipinggir jalan saja. Dan setelah pulang kami baru tahu kalau jalanan tersebut adalah di belakang terminal Le Lai atau Le Lai Street itu sendiri.

Kami menunggu bus nomor 13. Bus yang lewat rata-rata warnanya sama, dan kami sempat ragu bus tersebut benar akan lewat atau tidak, ya.. voila! Bus tersebut muncul dan masih banyak kursi yang kosong. Kami masuk dan Acha langsung bilang ke Ibu Keneknya kalau dia mau ke Terminal Chu Chi. Kami membayar VND 5.000,- saja untuk kemudian kami berada di bus tersebut selama 2 jam. Perjalanannya sebenarnya gak jauh, hanya saja kecepatan bus tersebut benar-benar dijaga, sama halnya dengan tidur saya yang terjaga selama perjalanan.

Acha yang saya tugasi untuk menunggu kapan waktunya bus berhenti sempat terkecoh untuk turun. Saya akhirnya meyakinkan dia perjalanan masih jauh karena kami harus turun pada saat bus ini berhenti di Terminal Chu Chi, which is itu tujuan terakhirnya.

Ini Ben Xe Chu Chi alias Terminal Chu Chi.

Lalu, kami pindah ke bus nomor 79. Sebelum masuk ke busnya kami bertanya ke Bapak drivernya kalau kami ingin ke Chu Chi Tunnel apakah benar ini busnya? Dia menjawab dengan bahasa tubuh. Baiklah kita naik. Kami membayar VND 4.000,- saja untuk perjalanan menyegarkan mata selama 1 jam. Selama naik bus baik nomor 13 ataupun 79 kami mencium aroma dupa yang aduhai. Dan kalau kalian mau menikmati perjalanan bersama warga lokal, kalian saya sarankan untuk wajib dan harus menggunakan bus umumnya. Disana kalian akan mendengar bagaimana percakapan mereka, walau saya tidak paham, kalian bisa melihat gaya busana mereka, dan kalian akan merasakan mereka itu senantiasa membantu tourist yang ada. Mereka juga melihat saya rada heran, mungkin saat itu saya satu-satunya yang menutupi kepala dengan hijab, jadi itu adalah sesuatu yang tidak biasa menurut mereka.

Sepanjang jalan ke Chu Chi Tunnel terbentang area persawahan yang luas. Acha cerita kalau kita mengimpor beras dari Vietnam. Sepanjang perjalanan itu juga kami berbagi cerita. Acha teman saya yang asyik untuk berdebat kadang sampai kesal masing-masing, tapi namanya juga best friend tetap saja kami berbaikan. Jadi perjalanan selama dan sejauh apapun jadi menyenangkan.

Kami diturunkan di bawah plang bertuliskan Chu Chi Tunnel. Kemudian ada seorang Ibu yang turun juga disitu. Dia tahu kami kebingungan, dia langsung menyentuh saya dan memberikan tanda dengan bahasa tangannya yang menunjuk ke arah sebrang jalan bahwa itu tempatnya masuk saja. Kami berjalan masuk kira-kira 1 KM. Tidak banyak tourist yang segembel kayak kita hahaha. Karena bus ini sepi dan tidak ada yang turun dengan kami. Makanya kami clingak-clinguk. Well, itu gerbangnya mari berfoto dulu. Okeh, resmi sudah kita jadi tourist backpacker yang keren, keren apa kere? *eh!

ini patokannya guys!

Dari gerbang itu kami masih berjalan menuju loket pembelian tiket. Kami membayar VND 90.000,- untuk tiket, guide, dan makan singkong setelah trip. Yang dimaksud guide disini itu yang resmi dari pengelolanya. Kalian gak perlu khawatir gak kedapetan guide karena walaupun kami naik bus, ada juga yang naik mobil sewaan dan gak ada yang nganterin masuk ke dalam. Jadi para guide ini standby untuk perorangan juga.

Yippiy. Tickets already in my hand.

Kami menunjukkan tiket masuk ke loket tiket kedua dan mendapati sticker untuk ditempel di baju. Dan kami berjalan melalui hutan. Kenapa hutan? Ih ya.. kalian saya sarankan dan haruskan sebelum kesini kalian baca dulu sejarah Chu Chi Tunnel. Karena dibawah hutan ini mereka para Vietnam dulu hidup dan menyusun strategi untuk melawan Amerika. Mereka hidup dengan beberapa level kedalaman dibawah tanah dan kalian gak akan berhenti merinding membayangkan dan merasakan langsung ditempat itu. Dan selalu saya sebut like a dream come true.

Ready to explore!
Hallo im ini Vietnam!

Akhirnya kami bertemu seseorang penjaga di depan aula pertemuan. Kami dikumpulkan dulu diaula tersebut untuk melihat dan mendengarkan dokumentasi dalam video hitam putih. Kalian akan merasakan kembali ke era-era perperangan dan kemenangan tersebut. Intinya saya gak berhenti merinding disitu karena saya tidak pernah membayangkan akan berada ditempat tersebut. Terus saya cengeng pengen nangis dong!

Ini aulanya..

Video selesai diputar, kami mendapati guide kami. Kami satu kelompok dari 3 Negara. Indonesia, Norwegia dan China. Dan guide kami menyampaikan duka mendalam atas apa yang menimpa di Palu dan Donggala. Luar biasa, saya gak bisa berkata apa-apa selain berterima kasih atas perhatiannya.

Perjalanan trip ini dimulai. Kami dikenalkan dengan beberapa kedalaman yang ada di aula tadi. Maaf ya fotonya ngeblur, saya gak bisa fokus. Saya masih merasa seperti mimpi. Kemudian saya tersadar juga kalau saya tidak bermimpi karena setelah memotret tersebut saya kesandung akar dan hampir tersungkur. Bersyukur saya sigap.

Ini gambaran ruangan-ruangan dan posisi di kedalamannya.

Hal pertama yang ditunjukkan oleh guide kami adalah lokasi dimana dulunya lubangan-lubangan ini terkena bom. Dan mereka menandai dengan papan untuk memberikan informasi lokasi bomnya. Dan betapa saya nganga alias amazing ada pintu masuk bunker untuk para shooter di bawah tanah ini. Kini saya paham kenapa Amerika saat itu kalah karena strategi tentara Vietnam luar biasa cerdik.  Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana mereka mendapati oksigen yang masuk dari lubangan-lubangan kecil yang orang saja tidak akan menyadari itu adalah lubang oksigen. Saya masih amazing akan strategi dan keadaan yang ada.

Bisa nebak dimana senapan-senapan itu akan keluar?
Ini contoh papan informasinya.
dibolongan kecil atas itu ada aliran oksigennya.

Tiba saatnya untuk merasakan bagaimana hidup dibawah tanah. Acha memulai masuk di ruangan senapan tersebut. Saya cukup tahu diri dengan sadar badan saya ini tidak memungkinkan masuk disana karena kebesaran. Jadi cukup Acha aja yang masuk, dan dia juga berakhir dengan terkesimanya dia akan tempat dibawah tanah tersebut yang dia bilang luas. Setidaknya saya melihat dia bahagia karena salah satu tujuan perjalanan kita di Vietnam ini berhasil. Im very happy for you, Cha!

iya pintunya sekecil itu.. ini masuknya di pintu sebelah sini.
kini kalian paham kan kenapa saya sadar diri? ini Acha keluar dari pintu lainnya.

Kali ini tidak ada alasan untuk setiap anggota yang ikut dalam kelompok ini menolak. Kami merasakan lorong-lorong bawah tanah ini dengan jalan jongkok untuk kemudian menemukan ruangan-ruangan yang sangat-sangat luas dibawah tanah. Mulai dari ruangan Operasi untuk tentara Vietnam yang terluka, ruangan rapat dengan Komandan, bunker komandan, dan ruangan lainnya. Saya sangat suka dengan ruangan rapat, entah kenapa saya merasakan auranya keren! Kalian jangan memaksa merekam saat jalan jongkok, ya! Karena disitu gak kelihatan apa-apa dan juga itu menurut saya engap bener, bisa bernafas dengan normal saja bersyukur karena keringat menetes dengan sendirinya.

kalo ini saya masih muat ya..
Ruangan operasinya.
My Favorite place.

Pemandu kami menawari apakah ingin ke second level? Which is 3 meters from here. Now youre in 3 meter in bottom of forest. Wanna try? Saya tersenyum dan mengatakan tidak cukup terima kasih. Acha yang tadinya semangat ketika ditawari pun menyatakan cukup. Saya tahu apa yang ada dipikirannya karena dia harus menghemat energinya, ini baru hari kedua di Vietnam, masih ada 7 hari lagi menanti. Iya kan, cha? Hahaha.

Jadi di Chu Chi Tunnel ini ada beberapa tingkatan kedalaman. Tingkat pertama itu 3 Meter, kemudian 6 Meter, dan terakhir 9-10 Meter. Dan kalau kalian perhatikan disetiap ruangan besar itu pasti ada banyak lorong bercabang. Saya menebak itu dulu jalanan para tentaranya, karena luasnya area ini ada 2.500KM. What??? Iya saya baca dan dengarnya juga begitu. Jadi yang kami kunjungi dan dibuka untuk dijadikan tempat wisata itu hanya sepersekian dari luas yang sebenarnya.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah selama berperang gimana bahan makanan itu bisa sampai di hutan ini? Mereka akan mendapatkannya pada saat malam hari. Dan para perempuannya akan memasak hanya satu kali saja itupun harus pagi-pagi hari. Kenapa? Supaya asapnya bisa menyatu dengan kabut dan para tentara Amerika tidak akan bisa membedakan mana asap mana kabut. LUAR BIASA! Sekali lagi saya nganga dan ngangguk. Luar biasa sekali!

ini pemandu yang saya kagumi.

Sampailah kami di akhir perjalanan trip ini. Diakhir perjalanan ini kami disuguhi singkong rebus yang dicocol dengan gula, garam, dan kacang. Rasanya enak, karena kami juga merasa kelaparan. Untuk minumnya kami beli di kios dekat kami makan tersebut. Harga minumannya lebih mahal jadi wajar.

Singkong yang luar biasa..

Saya mendengar percakapan anak dari tourist Norwegia tersebut yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal.

“Mom, I really want ice cream. Its really hot and thirsty.”

“Are you kidding me, kids! Its war area, and there’s no ice cream during the war.”

Beneran saya gak bisa nahan ketawa. Anaknya udah manyun ibunya tahu saya ketawa. Tapi tetap iya namanya seorang Ibu pasti akan membelikannya juga. Karena saya sadar pas kami berpisah si anak-anak ini pada bahagia minum ice cream.

Perjalanan ini 1 jam saja. Dan saya benar-benar sedih berpisah dengan pemandu yang suka meledek saya itu. Pemandu yang baik hatinya dan menjelaskannya dengan sabar karena saya banyak nanya. Saya benar-benar exited akan trip ini. Makanya saya gak bisa kalau berdiam saja menyimak. Dan saatnya pulang.

senjata-senjata ini ada di museum juga,

Di perjalanan pintu keluar kami menemukan beberapa foto-foto yang dipajang. Ada satu foto yang membuat saya tersenyum. Foto dimana ada kebahagiaan dengan lahirnya seorang bayi disaat perang tersebut. Dan banyak foto-foto yang menggambarkan mereka dulu baik-baik saja menjalani kehidupan di bawah hutan tersebut. Saya berbahagia karenanya.

Mereka mengabadikannya dalam banyak foto.

Karena kami tourist yang gak banyak membawa uang, kami gak membeli souvenir ataupun menyewa senjata untuk tembak-tembakan. Kami memutuskan untuk langsung pulang saja. Kami bahkan tidak membeli makan siang karena saat itu sudah jam 1.30. Kami harus berjalan kaki sejauh 1 KM keluar dan menunggu bus yang menurut saya tidak bisa ditebak kapan lewatnya.

Bersyukur hanya 10 menit saya menunggu di warung depan jalanan. Ibunya memberi tahu kami itu bus nomor 79 ke Ben Xe Chu Chi lewat siap-siap ya. Dan disana pintunya ada disebelah kanan. Jadi Bapak drivernya di kiri. Saya norak bener. Maafkanlah.

Pulang yuk cha..

Kami pulang dengan perasaan bahagia. Satu impian kami terwujud. Cerita ini akan kami kenang dan saya akan ceritakan ke anak-cucu saya kelak kalau saya pernah sekeren dan senekad itu. Kami memutuskan untuk belanja souvenir di Pasar Benh Tanh saja. Waktunya menikmati jalanan Vietnam di minggu sore ini. Kami pulang dengan kenangan yang akan dikenang sepanjang perjalanan hidup kami. Dan kami tidak akan pernah menjadi selemah sebelumnya. Saya merasakan ada kekuatan untuk lebih menghargai hidup. Mungkin ini salah satu tujuan dan manfaat dari backpacker ke suatu tempat.

Dan ini rekap pejalanan kami dengan bus umum ke Chu Chi Tunnel.

  1. Bus 13 di Le Lai Street, turun di Ben Xe (terminal) Chu Chi. Tarif VND 5.000,-
  2. Bus 79 di Ben Xe Cu Chi, turun di Chu Chi Tunnel. Tarif VND 4.000,-
  3. Tiket Masuk Chu Chi Tunnel. Tariff VND 90.000,-
  4. PP bus sampai ke Ho Chi Minh City. Tariff VND 9.000,-
  5. Minuman 2 kali beli. Harga VND 20.000,-

Total untuk perjalaan ke Chu Chi Tunnel VND 138.000,- dengan rate IDR 0,75/1VND.

Jadi ke Chu Chi Tunnel tanpa travel? Yah bisa dong! Kalian gak mau nyobain?

Regards,

Ndueisndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.