Bui Vien Night Walking Street – District Vietnam

Bui Vien Night Walking Street.

Menyambung tulisan saya sebelumnya ketika kali pertama sampai di Ho Chi Minh City. Kalian bisa membacanya disini.

Tepat jam 19.30 malam kami memutuskan untuk turun kebawah. Yang pertama dilakukan adalah mengambil paspor kami setelah selesai proses penginputan data kami sebagai tamu di hotel tersebut. Mungkin Mba Resepsionistnya tidak tega melihat kami yang wajahnya udah gak karuan. Saya lagi mabok parah karena jetlag, si Chacha juga udahan kelelahan bawa tas kerilnya. Aduh, Cha.. padahal baru jalan 500 Meter saja lho ya. Hahaha. Jadi si Mbanya meyakinkan bahwa kami lebih baik diantar menuju ruangan kami nanti setelah 30 menit bisa kebawah untuk mengambil paspornya.

Jam 19.30 jalanannya masih lenggang.

Barulah 2 jam kemudian kami mengambilnya. Dan Mbanya memaklumi kepayahan kami. Jadi paspornya diberikan dengan senyuman yang teramat manis olehnya. Terima kasih, Mba!

Satu hal yang perlu saya sarankan untuk kalian yang menginap di Ho Chi Minh City yakni pilihlah penginapan di daerah District 1. Di tempat ini malam tidak akan pernah berhenti. Malam tidak akan pernah sepi. Kami sendiri takjub betapa hingar-bingar musik dan lampu dibawah menarik perhatian kami untuk segera turun dan menikmatinya. Bahkan semakin malam semakin ramai saja. Dan di malam pertama saya tidak bisa tidur, dong.. karena suara musiknya bertalu-talu rame sekali. Barulah malam kedua saya bisa menyesuaikan dengan suasana yang ada. Jadi bisa tertidur pulas.

Dan menginap di Hotel Rosabella ini sesuatu yang saya sarankan juga. Begitu turun disamping hotel ada yang jualan makan seafood berderet-deret. Tinggal kalian pilih saja mana yang mau jadi tempat makan. Selain itu juga mereka menjual bermacam-macam bir dengan harga yang beneran miring banget. Murah meriah. Walaupun murah, saya tidak membelinya. Karena saya sekarang memiliki prinsip kalau ke Luar Negeri saya harus merasakan Coca-Colanya. Dan ini menjadi perbandingan antara Cola Jakarta dan di LN. Yang pernah saya rasakan sebelumnya adalah Hong Kong, dan rasanya beneran beda. Bedanya bagaimana? Ah.. susah dijelasin. Intinya yang di HK itu beneran enak banget.

Coca Cola versi Vietnam.
Nah ini tempat makan di samping hotel. Ruame.

Malam pertama kami menelusuri  jalan dibawah hotel kami, yang kami juga baru tahu namanya Bui Vien Walking Street. Walaupun Walking street tetap saja ada kendaraan yang berlalu-lalang. Tapi tenang, tidak ada mobil lewat. Hanya ada motor yang berlalu-lalang dan mereka tidak dengan kecepatan yang tinggi. Mereka juga menyadari itu area pejalan kaki menikmati malam untuk makan dan minum. Dan juga didepan dan belakang jalan ini dijaga oleh petugas sehingga tidak banyak kendaraan yang masuk.

Begini jalanannya. Dan dari sekian banyak foto yang diambil sama Acha ini yang the best, Gak ngeblurr.

Walking street disini hampir sama dengan pasar malam yang ada di Jongker Night Market gitu. Hanya saja disini banyak yang jualan makanan dan minuman. Sedangkan kalau untuk belanja pernak-pernik gitu adaya di Ben Tanh Market. Tadinya kami mau kesana di malam hari, dan sebagai informasi kalian saja kalau pasar ini tutupnya jam  6 sore. Jadi tidak buka di malam hari. Hanya toko diluar kayak ruko-ruko dengan harga fixed price yang masih melanjutkan aktivitasnya. Dan mereka benar-benar tidak bisa ditawar karena di depan tokonya sudah terpasang papan fixed price. Baiklah.

Konon kalau ke Vietnam tidak afdol kalau belum makan makanan khasnya. Selama ini yang terkenal adalah Pho dan Kopi Vietnamnya. Psst.. Kopi Vietnam juga baru terkenal karena adanya suatu kasus yang ada di Mall itu lho.. *eh. Tetapi di luar kontroversi kasus tersebut kopi vietnam itu memang rasanya khas gitu. Enak banget. Jadi wajar kalau para pecinta dan penikmat kopi harus mencoba minuman ini.

Malam itu saya menikmati makanan khas Vietnam. Karena efek jetlag dan belum makan nasi seharian saya memilih nasi goreng yang menurut saya kayak nasi kuning minyak itu. Nasi Goreng terenak menurut saya masih yang ada di Kalideres. Langganan abang-abang tektek yang setiap malam saya beli. Nasi goreng disana rasanya ambar. Tidak terasa apapun selain untuk mengganjal perut saya saja. Berbeda dengan Chacha dia memilih seperti mie daging gitu. Kuahnya enak seger tetapi ada aroma daun mintnya jadi saya menghindari daun-daun tersebut.

Beef Noodle and Fried Rice

Akhirnya kami memesan makanan yang biasanya kami lihat di internet. Nama makanan itu Goi Cuon Spring Rolls. Sebenarnya ini ada campuran daging babinya kalau versi aslinya. Tetapi pedagangnya tahu kalau kami tidak makan daging babi, jadi bisa di ganti sama udangnya dibanyakin. Setelah dipastikan benar-benar tidak ada daging tersebut barulah kami pesan dan makan. Rasanya gimana? Jujur saya gak ketelen sama sekali. Campuran antara bihun sama dedaunan itu aduh rasanya aneh. Kalau versinya Chacha enak banget, dia bilang rasanya unik. Okay berarti lidah kami memang berbeda.

Spring roll yang biasa dilihat di Internet. Like a dream come true.
Dalemnya begini. Dan ini ada daun mintnya. T_T

Yang membuat saya tidak ketelan makan Spring Rolls itu karena ada aroma daun yang aneh. Aroma yang menghampiri saya kemudian di Kamboja dan Thailand. Barulah saya menyadari kalau daun tersebut adalah batang dan daun mint. Jelas saya gak bisa makan. Karena saya benar-benar tidak bisa makan daun ini. Lidah saya gak menerima makanan ini.

Budget makan yang saya buat untuk makan diarea ini gagal total. Semua over budget. Saya gak tahu kenapa bisa jadi mahal sekali rasanya. Setiap makan kami habis 100 ribu dari budget yang ada. Tetapi kelebihannya gak terlalu banyak, kok. Baru di hari kedua saya merasakan makanan itu enak banget. Karena kami pesan makanan seafood dan karena sudah terbiasa makanya saya bisa memakannya dengan enak.

ini makanan hari kedua dong.

Oh ya di Walking Street ini banyak banget yang jualan pakai sepeda gitu. Ada yang jualan sosis goreng gitu, ada juga kayak cumi yang diawetkan terus di bakar. Selain itu juga ada atraksi dari pengamen dan juga semburan api gitu. Intinya disitu meriah banget. Semua orang menurut saya menikmati suasananya. Mengenai masalah keamanan, Alhamdulillah aman tidak ada kerusuhan ataupun yang lainnya.

ini kondisi makin malam makin ramai..

Di malam kedua kami melihat ada Mas-Mas jualan seafood yang dimasak langsung. Dasarnya kami lapar mata kami beli saja itu makanan. Yang dipilih kerang kecil-kecil. Pas dimakan di Hotel si Chacha gak berhenti nyebut nama Gusti saking susahnya itu kerang dimakan. Hahaha.

Seafood yang dijual langsung.

Suasana Walking street makin malam makin ramai. Tetapi kami harus kembali ke Hotel untuk beristirahat. Karena rangkaian perjalanan kami untuk esok hari masih panjang. Seramai apapun, semenarik apapun, kami harus meninggalkannya.

Bye Walking Street.

Untuk selanjutnya saya akan menuliskan perjalanan kami ke Cu Chi Tunnel Museum dengan cara nge-backpaker tanpa agent tour. Ditunggu, ya.

Dan ini list harga makanan kami.

Malam pertama:

  1. Beef Noodle
  2. Fried Rice
  3. Spring Roll
  4. Tequila bucket

Saya konversikan ke IDR senilai Rp. 230.000,-

Malam kedua :

  1. Chicken Blackpaper
  2. Beef Blackpaper
  3. Rice
  4. 2 pcs Coca Cola
  5. Seafood

Saya konversikan ke IDR senilai Rp. 270.000,-

Regards,

Ndueisndue.

 

2 thoughts on “Bui Vien Night Walking Street – District Vietnam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.