Hello Ho Chi Minh City!

Before depart from Jakarta. Herewith my bestfriend, Archa!

Vietnam adalah Negara pertama untuk memulai Asian Trip saya kali ini. Untuk perjalanan kali ini saya ditemani oleh sahabat saya bernama Archa, atau ChaCha yang mana kalau diartikan dengan bahasa Thailand berarti pelan-pelan. Dan sesuai dengan kesepakatan awal bahwa perjalanan ini kami sepakati dengan tidak terlalu ngoyo. Kalau dirasa lelah, kami memutuskan untuk beristirahat kemudian melanjutkannya lagi.

Karena itu kami resmi menamakan perjalanan ini Backpaker Asian Trip with 3 Countries only in a week. Dibilang nekat kok iya. Dibilang keren kok iya. Dibilang gembel kok iya. Dibilang kere juga iya. Atau pas nanti di Thailand dan Cambodia kami dibilang sok kaya juga iya. Intinya sematan apapun berlaku untuk kami diperjalanan ini.

Corry yang biasanya menjadi partner saya memutuskan untuk tidak ikut ketika saya menawarinya. Mungkin perjalanan seperti ini tidak cocok dengannya. Jadi Corry menemani saya di upcoming trip next year. Ini informasi tambahan saja siy, buat kalian yang menanyakan kenapa ndak sama Corry. Hehehe.

Perjalanan yang kami rencanakan dari Januari 2018. Hampir 10 bulan lamanya untuk memutuskan jadwal penerbangan, hotel, bus, dan akomodasi untuk 3 Negara ini. Saya ingat betul di Januari ketika membahas ini Chacha selalu menjawab perjalanan ini masih sangat lama. Tetapi ketika sudah 3 bulan mendekati keberangkatannya barulah dirasa kurang dan kami ngebut untuk booked and paid bus dan tiket wisata. Untuk kemudian deal semuanya. Alhamdulillah.

Kali ini kami memilih terbang bersama Malindo Air. Maskapai ini sama dengan Batik Air yang sering saya gunakan pada saat mudik. Karena saat itu budget tiket ke Vietnam yang masuk adalah Malindo Air walau dengan konsekuensi transit di Malaysia tidaklah menjadi masalah. Saya malah bahagia karena akhirnya saya menambahkan satu Negara lagi diperjalanan ini walau hanya sebagai tempat persinggahan sementara.

Hello again, Malaysia! second time in your place..

Waktu tempuh dari Jakarta ke Vietnam dengan transit di Malaysia 4 jam dengan waktu singgah 2 jam. Jadi total 6 jam perjalanan. Karuan saja seperti biasa saya kena jetlag dengan perbedaan waktu 1 jam saja. Bukan pada saat saya tiba di Malaysia, tetapi pada saat saya lepas landas dari Malaysia saja sudah klenger alias pusing dan mual. Bersyukur, Malindo memberikan makanan semacam sandwich dan roti yang enak banget. Ditambah dengan pilihan jus yang bisa kita pilih untuk diminum. Memilih Malindo Air adalah hal yang benar karena selain pesawatnya enak, ada snack yang cukup efektif untuk menghemat budget makan siang kami. Karena penerbangan dari Jakarta – Malaysia, dan Malaysia – Vietnam kami mendapati 2 kali hidangan snack.

Snack from Malindo Air. Chicken sandwich ini enak banget!

Dari dulu saya paling suka penerbangan pagi atau siang hari. Karena saya bisa melihat betapa Allah maha kuasa menciptakan langit dengan awan-awan yang sangat cantik ini. berada diatas udara di waktu siang adalah pemandangan yang luar biasa menyejukkan hati dan mata saya. Walau pada saat di udara kami terkena turbulensi karena memang kondisinya mendung tetapi Alhamdulillah kami mendarat sempurna baik di Malaysia maupun Vietnam.

Kondisi diatas langit..

Penerbangan transit ini juga menjadi pengalaman pertama saya. Awalnya saya juga cemas karena tidak tahu bagaimana prosedurnya saat di Malaysia nanti. Dan pas cetak boarding pass di Jakarta saya langsung menanyakan bagaimana ketika di Malaysia nanti dan bagasi saya apakah perlu dipindahkan? Ternyata tidak perlu khawatir, saya langsung menuju penerbangan transit dengan melapor di counter check-in­ di Malaysia. Dan setelah mendapati Gate berapa kami langsung lari untuk mengejar kereta ke Gate 30 yang ternyata di gedung sebelah. Alhamdulillah dipermudah.

lets take a selfie in KLIA.

Setelah menunggu 2 jam, saatnya kami meninggalkan Malaysia untuk melanjutkan perjalanan menuju Vietnam dengan Bandara yang ada di Ho Chi Minh City. Pada saat mendarat kami harus melewati proses Imigrasi. Antreannya bo’ ruame bener. Sekitar 1 jam kami mengantre dengan sabar. Dan saya juga deg-degan karena paspor saya kali ini baru setelah proses perpanjangan awal tahun lalu. Takutnya saya kena sample check ternyata keraguan saya tidak terbukti. Saya berhasil masuk ke Vietnam, yiay!

diatas langit Ho Chi Minh City. Ini beneran ya padat banget.

Setelah mencari bagasi kami di counter berapa, yang mana saya sudah bilang ke Chacha kalau kemungkinan bagasi kita pasti sudah muter beberapa kali saking lamanya kami mengantre. Tebakan saya sedikit benar, walau tidak muter bagasinya tapi sudah berceceran di lantai. Tenang, kami gak sendiri karena banyak juga yang senasib sama kita. Jadi tinggal dipungut aja tasnya terus keluar untuk mencari bus menuju hotel.

ready to backpacker!

Begitu kami keluar Bandara hujan besar menanti diluar. Dan kami memutuskan membeli simcard 4G seharga VND 150.000 untuk unlimitted 7 hari. Walau kami hanya 3 hari di Vietnam, tetapi untuk mencari informasi dan maps kami membutuhkan koneksi ini. Dengan konversi per IDRnya 0,75 kami jadi membelinya. Dan tentu saja kami share cost.  Jadi terkesan murah dan efektif.

ini simcardnya.

Kemudian kami mencari bus station walau hujan kami tidak bisa berdiam diri di Bandara. Jadi kami berlarian menuju bus berwarna hijau dan maafkan saya karena lupa nomornya. Kalau tidak salah itu bus nomor 152 yang searah dengan jalan hotel kami. Chacha menanyakan driver bus tersebut, dan bapaknya tidak bisa bahasa inggris. Baiklah kami harus gunakan PLAN B dimana alamat hotel sudah kami printout dan bapaknya tahu jalanannya jadi kami naik bus tersebut.

Di Ho Chi Minh City setiap bus yang kami gunakan pasti dilengkapi dengan kondektur wanita. Jadi benar-benar ada kerjasama yang baik kalau drivernya pria, kondekturnya wanita. Nah si Mbanya ini juga gak memahami bahasa inggris padahal nanya tiket doang, jadi kami kebingungan. Bersyukur ada ibu-ibu yang mengerti bahasa inggris dan membantu mbanya dengan menyampaikan ke kami, bahwa kami harus beli tiket seharga VND 5.000 untuk tarif bus ini. Oalah… baiklah kami bayar.

dikalikan saja dengan rate 0,75. Murah buanget.

Kami diturunkan di station bus dekat hotel. Hotel kami di Pham Ngu Lao. Saya sampai mengetik bahasa Inggris yang kemudian di translate ke bahasa Vietnam dan menunjukkannya ke mbanya. Jadi pas kami di stop di pemberhentian itu dan kami cek di mapsnya dekat yasudah kami turun. Tinggal 500 Meter lagi sampai di hotel kami yang bernama Rosabella Hotel.

di stasiun bus dekat hotel kami.

Tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ho Chi Minh City. Tepat jam 17.30 kami sampai di hotel. Bersyukur ruangan kami di upgrade menjadi family room with twin bed. Dan tanpa biaya tambahan sama sekali. Jadi kami langsung ke atas untuk beristirahat dan menghilangkan hawa jetlag yang saya alami.

this our room.

Kami memutuskan istirahat dulu sampai waktu Sholat Isya’ berlalu. Setelah itu kami memutuskan untuk turun kebawah menikmati hingar-bingar dikawasan walking street ini. Kami tidak salah memesan hotel. Lokasinya meriah dan mudah aksesnya.

will be walking street in the night time.

Baiklah.. artikel ini saya akhiri disini. Saya akan melanjutkan untuk walking street dan perjalanan kami di Ho Chi Minh City selanjutnya.

Semoga saya tetap konsisten.

Regards,

Ndueisndue.

3 thoughts on “Hello Ho Chi Minh City!”

    1. Wah ada Tiwi disini.

      Terima kasih sudah mampir yah Wi.
      Insya Allah kamu pasti bisa dan suatu saat bisa.

      tetap semangat, Wi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.