Sebuah Perjalanan Penuh Arti Ke Suku Baduy Dalam (Mei, 2018)

Septian, Mas Andri, Mas Doni, Ndue, Mas Syarif, Syifa, Acha. Sebelum Berpisah..

Menjadi mimpi saya sedari 4 tahun yang lalu untuk bisa berkunjung ke Suku Baduy Dalam. Kenapa harus ke Baduy? Karena dari beberapa cerita kawan-kawan yang pernah singgah ke sana, menemukan dan bagaimana bertahan tanpa komunikasi dan lampu ditengah hutan adalah suatu perjalanan dimana menemukan siapa dan seberapa kuat diri kita. Semua bertumpu pada kemauan untuk tetap melangkah sehingga bisa mencapai kawasan Desa Baduy Dalam.

Perjalanan kali ini saya tempuh dengan rekan kantor. Sebuah ide yang tercetus begitu saja tanpa suatu kesepakatan. Tahun 2018, sebelum puasa mari kita ke Baduy. Dan kalimat ajakan itu bersambut baik oleh Syifa, Acha, Septian dan seharusnya Mas Didit. Sayangnya, 3 hari sebelum hari H, Mas Didit mengabari bahwa tidak bisa ikut karena ada suatu urusan yang tidak mungkin ditinggalkan.

Kali ini kami menggunakan jasa Travel untuk Open Trip, dan dengan tegas kami menyatakan bahwa Travel yang begitu menjanjikan kalau dilihat dari websitenya, ternyata gagal total dalam mengeksekusi perjalanan kali ini. Saya sudah memohon dari awal di grup OT tersebut, bahwa saya termasuk peserta dengan tingkat kecepatan seperti liliput. Saya lelet, dan pelan. Juga bentar-bentar mau istirahat. Tapi, saya tetap mencoba untuk berusaha terus dan terus mencapai tempat tujuan.

Travel yang dimaksudkan rupanya seperti memihak pada kelompok tertentu. Dimana kelompok ini bisa berjalan dengan cepat. Sebagai saran saja, mungkin kalau selanjutnya ada OT apakah motifnya menekan harga atau gimana, dengan hampir 30 peserta, hanya ada 2 Tour Leader dan bisa kelompok saya rasakan, bahwa kami hampir tidak bertemu dengan para TL tersebut. Berangkat tidak ontime, dan seperti melepas kita dengan jasa porter yang ada dari para Suku Baduy. TL yang seperti kabur meninggalkan kami di Ciboleger tanpa memberikan arahan dimana tempat makan atau sholat dimana, TL yang ah.. entahlah banyak nilai minus kami berikan.

Saya sampai bertanya kepada para TL kalau begini dilepas, saya atau teman saya berjalan dipinggir jurang dan terpeleset dengan jalur yang licin tersebut apakah diantara kalian ada yang akan kembali dan menemukan kami? Mereka diam saja, pihak travel pun juga tidak bisa menjawab. Payah. Dan mengenai refund uang Mas Didit saja tidak karuan juntrungannya. Kami sudah bayar lunas, tetapi tidak bisa di transfer kembali. Kalaupun dipotong sebesar DP tidak apa-apa tetapi di websitenya pun tidak ada aturan menjadi deposit. Ah.. semua itu menyebalkan dan mohon maaf saya dan teman-teman dari kelompok liliput seperti kapok. Dan tidak akan merekomendasikan travel ini kerekan-rekan yang lain.

Saya tidak akan menyebutkan nama travelnya. Saya takut merusak rezeki atau nama baiknya. Biarlah ini menjadi pembelajaran kami lagi. Dan baiknya memang saya berkonsultasi dengan Mama. Karena Mama pasti punya rekanan travel di beberapa wilayah di Indonesia. Karena mereka punya grup Travel Agent, sayangnya, karena ini dadakan jadi tidak sempat konsultasi. Maka, pengalaman ini kami anggap pembelajaran.

Tahu begini, daripada bayar jasa OT, mendingan ke para porter yang dengan setia menjaga kami. Dan mereka mendapati bayaran yang tidak seberapa. Rasanya sedih dan pedih. Pengen nangis kalau ingat. Tapi, yasudahlah. Saya dan teman saya berjanji tentang suatu hal. Semoga Allah membalas rezeki pada porter yang berbaik hati tersebut. Amiin.

–Okeh, lanjut mengenai perjalanannya—

Karena perjanjian awal yang sudah ngaret total, kami akhirnya sampai di Ciboleger jam 12.30. Dan masih harus beristrahat. Setelah juga kami seperti anak hilang yang ditinggal begitu saja, kami makan siang nge-bakso saja. Murah meriah. Cukup membayar Rp.10.000,- saja dan rasanya enak, kok. Setelahnya kami mencari Masjid untuk sholat dan meminta keselamatan sama Allah dalam perjalanan ini.

Muka sumringah sebelum memulai perjalanan.

Dari awal, kami sudah memutuskan untuk menggunakan jasa porter untuk membawa tentengan minuman kami. Karena kami tahu pasti ini akan menjadi hal yang berat. Nama porter pertama yang sabar mengikuti kami adalah Mas Andri. Ditemukan oleh Syifa. Saya masih bekeras hati akan membawa tas saya untuk sampai ke rumah Mas Andri.

Oh ya, Mas Andri adalah salah satu warga dari Baduy Dalam. Jadi kalau Sabtu-Minggu Mas Andri dan beberapa warga akan turun ke Ciboleger untuk mendapati pekerjaan sebagai porter.  Akan ada banyak warrga Baduy Dalam yang turun dan sabar mengikuti kita. Mereka sepertinya memahami bahwa kami pura-pura strong padahal baru di beberapa langkah tanjakan pertama, saya langsung KO. Brain freeze! Darah diotak saya tidak normal, nafas ngos-ngosan akhirnya tumbang. Dan Mas Andri menyelamatkan saya dengan membawa tas saya. Liliput pertama yang KO jelas sudah bisa diprediksikan adalah saya.

Disebelah Mas Andri, sudah ada Mas Doni yang sepertinya sudah bisa membaca siapa yang akan KO selanjutnya. Walaupun tadinya kami menolak untuk menggunakan jasa itu, tetapi mereka rupanya lebih memahami kalau ditengah perjalanan akan ada pengunjung yang KO dan karuan saja, Acha KO di tanjakan selanjutnya. Okeh, akhir Mas Doni bisa memahami kalau sok-sokan kuat tapi akhirnya malu juga sih. Hahaha. Tapi, bersyukur Mas Doni setia mengikuti kami.

Spot foto di Suku Baduy Luar.

Perjalanan berangkat ini kami tempuh selama 5,5 jam. Dimulai dari jam 13.30, sampai di desa Baduy dalam bernama Cibeo sekitar jam 19.00 malam. Luar biasa. Perjalanan yang mengajari saya bahwa kaki-kaki saya harus melangkah terus kedepan tanpa boleh berputar kembali. Langkah yang penuh perjuangan tanpa menyerah. Sesekali saya perlu menengok kebelakang untuk menguatkan diri saya bahwa ternyata saya bisa berjalan sejauh ini dan setinggi ini.

Sepanjang perjalanan berangkat, kami banyak berinteraksi dengan Mas Andri dan Mas Doni. Terlebih Syifa, dia yang paling semangat diantara kami. Kalau Septian dengan setianya menjaga para ciwi-ciwi ini diantara Mas-Mas perkasa itu. Kalau saya udah fokus aja sama jalan. Bener kata Mas Andri sama Mas Doni, jangan lihat kedepan kalau itu tanjakan Mba Rini, dijalani saja, fokus pada jarak pandangan didepan kaki saja, biar gak terasa beban.

Masih Semnagat!!

Saran seperti itu ternyata worth it banget! Ketika menanjak, saya hanya bisa berjalan selangkah-dua langkah- kemudian saya berhenti. Menarik nafas kembali dan berjalan lagi. Mereka masih setia menemani saya dibelakang, sedangkan Syifa, Acha dan Septian sudah menyemangati didepan saya, diatas, mereka sudah sampai diatas tanjakan. Sedangkan saya masih berjuang. Loh TLnya kemana? Ah… jangan dibahas lagi! Malas sudah membahas TLnya yang bisa dikategorikan meninggalkan kami begitu saja.

Baru di sepertiga perjalanan akhir, Syifa akhirnya menyerah dan menggunakan Mas Syarif untuk membantu membawa tasnya. Syifa KO gara-gara si Acha memberikan saran yang gak banget dengan minuman segar bersoda itu yang berwarna hijau. Dan satu pelajaran terbaik kalau mendaki jangan minum soda atau minuman manis, pasti kalian akan merasa mual dan nafas tidak sampai lagi. Hahaha. Awas kau, Cha!

Acha paling takut sama jembatan. :p

Sebuah prestasi yang menyenangkan buat diri saya pribadi adalah, selama berjalan naik-turun ini, tidak terasa saya kekurangan oksigen dengan banyak menguap. Saya heran kenapa saya tidak separah waktu mendaki Pulau Padar, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo kemarin? Apakah fisik saya sudah menyesuaikan dengan keadaan disini? Atau karena udara disini bisa dicerna paru-paru saya? Mungkin saja, dan satu prestasi lagi, kaki saya tidak kram. Tidak seperti pada saat ke Prau 3 tahun lalu, drama kram kaki itu terjadi berulang-ulang.

Sepanjang perjalanan kami menanyakan Mas Andri dan Mas Doni, rumah kalian dimana? Rumah kalian ternyata jauh banget, ya? Dan mereka hanya senyum menyemangati kami. Kemudian sampai saat ini asya berpikir, kalau tidak ada mereka dipastikan saya tidak akan sampai ke Baduy Dalam, dan Rumah dengan menyenangkan. Mereka itu seperti orang yang masuk ke dalam pertemanan kami. Mereka sahabat perjalanan kami. Terima kasih banyak!

Muka udah berkurang sedikit sumringahnya..

Setelah jalur naik terakhir yang sangat begitu curam, akhirnya hujan turun. Dan waktu sudah mendekati Maghrib. Hujan makin deras dan jalanan super licin. Hati-hati dan cermat itu yang diperlukan. Dan, saran saya mendingan kalian menggunakan sepatu gunung itu membantu saya dalam perjalanan ini. Sesekali hampir jatuh karena salah pijakan ke akar yang licin. Sisanya sepatu gunung itu membantu langkah saya. Syifa jatuh 4 kali. Acha udah gemeteran, dan Septian masih dibelakang menunggui kami.

Karena kami tidak juga sampai, Kami dijemput Bapak yang rumahnya nanti akan ditempati. Kami minim senter. Bersyukur Syifa dan Mba dibelakang membantu untuk menerangi jalan kami yang sudah kehujanan dan licin. Bapak khawatir kalau kami masih sangat jauh dari perjalanan ke rumahnya. Kami sudah payah sekali rasanya, dan harapan itu ada.. lumbung! Ya, kalau sudah ada lumbung, berarti rumah-rumah warga sebentar lagi sampai. Akhirnya kami sampai tepat setelah 5,5 jam berjalan. Kaki rasanya udah gak karuan.

Di rumah Baduy Dalam, kami belajar sesuatu. Bahwa kehidupan yang alami adalah hidup yang menghargai apa yang alam berikan dan seharusnya kita jaga untuk kelestariannya. Mandi langsung dari air sungai, tidak boleh menggunakan sabun atau sesuatu yang berbusa. Mau buang air besar atau kecil juga langsung ke sungai. Kalau sudah pagi kelihatan banyak orang dibatu-batu untuk membuang kotoran mereka, sudah cuek saja. Saya juga jadi terbiasa, Kok. Walau masih kadang risih, tapi ini benar-benar bersatu dengan alam.

Makan malam kami begitu nikmat. Dimakan ramai-ramai. Berbagi obat-obatan kayak koyo, obat pusing dan minyak oles. Kami menemukan keluarga baru. Dan jangan lupa bawa selimut juga bantal selama tinggal di Baduy Dalam. Karena disana dingin dan tidur hanya beralaskan tikar bambu. Dan semua gelap, hanya ada sinar dari senter atau penerang sumbu. Kalau saya tahunya itu diyan. Entah bahasanya dikalian apa, ya?

Pagi menjelang. Saya tidur lelap semalam. Sesekali bangun karena kaki dan tangan saya gak karuan sakitnya.

Setelah persiapan, kami berangkat dan berpamitan. Jam 8 kami pulang bersama Mas Andri dan Mas Doni lagi. Oh iya juga Mas Syarif.

Udah istirahat keberapa kali ini ya…

Perjalanan pulang banyak turunannya, dan ini yang membuat dengkul saya menahan berat badan saya. Harus super ekstra usaha untuk tidak menyerah. Kaki rasanya udah gak karuan. Kalau pulang kalian harus ke icon dari Jembatan Akar. Biar afdol sudah kalau ke Suku Baduy. :p

Jembatan Akar. Sudah menghapus air mata. Sudah dekat dengan rumah warga luar..

Oh ya, sepanjang perjalanan pulang, saya udah menyerah total. Saya akui, saya cengeng kok. Jadinya saya udah nangis berkali-kali. Hopeless, tidak ada harapan saya bisa menyelesaikan perjalanan ini. Bersyukur banget ya Allah, saya memiliki Syifa, Acha, Septian, Mas Andri, Mas Doni dan Mas Syarif yang membantu dan menyemangati saya tidak henti. Mereka memberikan support luar biasa. Ketika saya mulai nangis, mereka bilang, Sabar Mba Rini sebentar lagi sampai.

Dan benar saja Mas Doni pemimpin didepan bilang, dibalik pohon kelapa itu, nanti sudah ada tukang ojek yang siap mengantar ke Cijahe untuk dijemput elf. Dan bisa pulang. Kalau mau jalan kaki juga gakpapa tapi 1 jam nanti sampainya. Okeh, saya mau naik ojek aja. Saya sudah hopeless karena sepanjang saya memandang, hanya ada hutan, belum ada tanda-tanda jalan raya.

“Ndue.. Beneran itu ada tukang ojeknya, sayang!”

Syifa berteriak bahagia, memberikan semangat kepada saya yang masih saja dibawah belum bisa naik ke atas. Saya kemudian berjalan lunglai, air mata saya berurai begitu aja. Saya gak bisa memberhentikannya. Air mata sedih karena akhirnya saya harus pisah sama Mas Andri dan Mas Doni, air mata bahagia juga karena akhirnya saya menemukan orang dengan kendaraannya. Saya bingung mengungkapkannya bagaimana. Intinya tukang ojeknya bingung kenapa saya nangis, saya bilang jalan aja, Mas..

Mungkin begini ekspresi bahagianya.

Akhirnya saya sampai di Cijahe, langsung mandi dirumah warga. Dan siapsiap pulang ke rumah. Saat terberat dari perjalanan adalah perpisahan. Itu yang saya rasakan ketika harus berpisah dengan penyelamat dan penyemangat perjalanan dari kelompok liliput ini. Sampai jumpa lagi Mas Andri dan Mas Doni, sampai kita berjumpa lagi. Entah kapan, semoga kalian bisa ke Jakarta dan mari berjumpa kembali.

Suku baduy mengajarkan saya tentang kekuatan, kejujuran, kesetiaan, dan semangat akan berjuang. Mereka tidak beralaskan kaki, mereka tidak menggunakan handphone, tetapi mereka bisa kuat dan semangat menjalani kehidupan ini. Mereka setia dan patuh kepada aturan yang berlaku. Sedangkan kalau saya, kadang dikasih aturan masih suka di entar-entarin. Yah ampun. 🙁

Perjalanan ini mengajari saya bahwa dalam kehidupan ini akan ada pertemuan dan perpisahan yang begitu syahdunya. Akan ada teman dan sahabat yang menolong dan peduli kepada kita dalam keadaan berjuang bersama. Mereka orang-orang yang tidak akan terlupa dalam kehidupan ini.

Terima kasih untuk Syifa, Acha, dan Septian atas perjalanan dan tidak akan terlupakan sampai kapanpun. Juga kepada suku Baduy Dalam dan Luar yang mengajari saya banyak hal. Terima kasih Mas Andri, Mas Doni dan Mas Syarif atas bantuannya. Semoga Allah memberika kebaikan untuk kita semua. Amiin.

Terima kasih temans, atas perjalanan ini.

Regards,

Ndueisndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *