Don’t stop your steps loser!

Its time for smile to future..

Postingan pertama bulan April 2018. Setelah perjalanan yang sangat menyenangkan dan tidak akan pernah dilupakan di Labuan Bajo akhir maret 2018 lalu, saya masih belum bisa fokus untuk menuliskan perjalanan tersebut. Ada beberapa pesan singkat masuk menanyakan tentang perjalanan saya kemarin, saya akan mengupdate kemudian. Bersabarlah, menuliskan sesuatu yang seumur hidup berkesan dihati itu tidak mudah.

Saya harus berdamai dengan kondisi perasaan saya yang bisa sewaktu-waktu terbawa perasaan dan memaksa saya untuk berhenti sejenak, dan melihat koleksi foto yang ada. Ya, foto yang selalu mengingatkan saya bahwa Indonesia ini cantik dan indah sekali. Ada tempat bernama Labuan Bajo yang kalian wajib kunjungi seumur hidup kalian untuk membuktikannya. Dan saya akan menuliskannya setelah perjalanan saya ke Belitung minggu depan. Bersabarlah saya minta sekali lagi.

Kali ini saya menuliskan tentang saya atau kalian yang pernah menjadi loser atau pecundang yang selalu merasa saya bukan apa-apa. Dari dulu saya ingin menuliskan perihal ini, tetapi butuh waktu dan kondisi emosional saya yang benar-benar stabil. Ini tidak mudah.

Setiap dari kita pasti akrab dengan kalimat bullying apapun bentuknya. Fisik atau yang parah psikis. Itu tidak mudah menyembuhkan trauma yang bisa terbawa seumur hidup sampai meninggal kelak. Dan saya termasuk korban dari gangguan-gangguan tersebut. Dianggap pecundang, tidak akan pernah menjadi manusia yang baik, dibuat menangis, dijahatin satu kelas, tidak boleh ada yang berteman dengan saya, dan saya pernah selama setahun tidak memiliki teman sebangku. Alasannya simple, saya cupu.

Dalam kondisi ini saya berterima kasih dengan Ibu walikelas yang memahami kondisi tidak wajar ini, jadilah Ibu walikelas melakukan sistem rolling dimana saya harus berpindah pindah meja satu dan lainnya untuk mendapatkan teman sebangku. Dan saya kemudian berpikir, andaikan saya memiliki teman sebangku yang permanen, pastilah saya akan bahagia. Tetapi pikiran itu tidak akan pernah terjadi. Mulai dari saat itu saya memahami bahwa hidup ini keras dan saya harus struggle menghadapinya dengan kekuatan dari saya sendiri, bukan dari teman-teman yang lain. Saya harus kuat!

Kalau saja saya flashback kehidupan saya beberapa puluh tahun kebelakang, mengingat-ngingat masa kecil saya yang sedemikian pedihnya, saya ataupun teman-teman saya yang dulu suka menjahili saya pasti tidak akan pernah menyangka bahwa pada akhirnya saya bisa bertahan dan mencapai kehidupan yang seperti saat ini saya jalani. Mereka kini terheran-heran, kok bisa kamu begini? Kamu kerjanya apa, siy? Bener gak kerjanya kamu? Dan banyak lagi pertanyaan antara meremehkan atau mungkin pertanyaan dengan ketidakpercayaan. Tergantung bagaimana mood saya menanggapi mereka yang bertanya.

Masa-masa SD saya setengah menyenangkan, setengahnya lagi menyedihkan. Pada saat saya sekolah dasar kelas 1-3 saya sekolah di Jakarta, dengan orang tua saya, semua begitu menyenangkan. Teman-teman bersaing yang baik, teman-teman yang menyenangkan, teman-teman yang membuat saya semangat menghadapi hari besok untuk bertemu kembali.

Kemudian, masa krisis itu terjadi. Kerusuhan dimana-mana di tahun 1998. Dengan berat hati dan kekhawatiran orang tua saya dipindahkan ke tanah kelahiran saya. Kelas 4 dan sampai saya lulus SMP saya menjalani hubungan jarak jauh dengan orang tua saya. Dan saat ini saya menyadari bahwa anak yang tumbuh jauh dari orang tua, mereka akan menghargai rasa rindu yang sesungguhnya. Saya selalu menangis saat Mama atau Bapak berangkat ke Jakarta untuk merantau. Kehidupan yang tak juga lekas membaik. Kami tetap saja hidup dalam keadaan yang apa adanya. Ke sekolah tanpa uang saku pun hal yang biasa karena memang tidak ada lagi yang bisa diberikan untuk uang saku saya. Kemudian yasudah saya hanya menunggu jam pulang sekolah untuk lekas pulang dan makan. Itu bukan hal yang menyedihkan. Saya menjalani dengan penuh bahagia.

Menghabiskan waktu saat saya sekolah di daerah bukanlah sesuatu yang mudah. Tingkat gangguannya menjadi-jadi. Saya dicemooh karena tidak bisa berbahasa daerah, saya diganggu dengan kurang ajarnya mereka meletakkan permen karet di rambut saya, dan saya tidak berani bicara ke Nenek saya. Bagaimanapun kalau saya mengadu, pasti besoknya saya akan mendapati hal yang lebih parah lagi. Nenek saya orang terkeren setelah Ibu saya, tanpa bertanya dia langsung memegang rambut saya, begitu geram dan marahnya dia saat itu. Karuan saja, besoknya Nenek saya ke sekolah untuk mencari siapa pelakunya, dimarahinlah dia, kemudian guru memberi perhatian yang lebih ke saya. Gangguannya kemudian berkurang tetapi dengan lebih parah lagi.

Tidak jarang tangan-tangan nakal mereka langsung meninju kepala saya, entah karena apa mereka spontan bergantian memukul kepala saya, mau nangis pun tidak ada gunanya. Tidak akan ada yang membela saya saat itu. Kemudian, saya hanya berdo’a dalam setiap sakit dan pedih kalau suatu saat nanti mereka akan mengerti bahwa kepala saya bisa menuntun saya menjadi orang yang lebih kuat lagi. Dan mereka akan menemukan jawabannya 15-20 tahun kemudian.

Saya tidak dendam kepada siapapun. Kenakalan anak-anak diusia itu memang wajar. Terlebih kebanyakan orang tua kami membiarkan anaknya main tidak seperti saat ini. Dulu saya kecilnya setengah tomboy, setengah feminim. Pada saat sore hari, saya bermain sepak bola dengan anak-anak pria. Karena perempuan diusia saya pasti membantu orang tuanya. Bersyukur Nenek dan Kakek saya tidak membebani saya dengan pekerjaan rumah tangga yang berat. Saat itu saya ingat bahwa bola plastiknya baru, saya sudah meminta ke teman-teman jangan menggunakan bola tersebut karena itu punya kakak kelas dan masih baru. Tetapi, mereka meyakinkan bahwa akan baik-baik saja. Firasat saya benar, mereka bermain dengan kasar dan akhirnya bola itu bocor, saya diancam harus mengganti kalau tidak kakak kelas akan menggangu saya. Dan saya nangis ketakutan, mereka tidak peduli.

Saya marah? Percuma.

Harganya berapa? Saat itu 4 ribu rupiah. Dengan uang jajan saya sehari 200rupiah, saya harus mengumpulkan 20 hari, dan kakak kelas pasti akan marah dan menganggu saya.

Saya ketakutan. Saya nangis diam-diam. Saya sedih dan pilu. Saya bingung harus bagaimana lagi.

(bahkan saat saya menuliskan ini saya tidak bisa menghentikan mata saya yang mengeluarkan air mata. Rasa sedih itu tetap saja membekas)

Besoknya saya masih belum tahu harus bagaimana. Kakak kelas masih tidak curiga. Uang terkumpul 200 rupiah, saya bingung kemudian saya menangis lagi. Sampai rumah menangis lagi. Diam di kamar tidak mau berbicara atau ceria seperti biasanya.

Kenapa harus saya? Saya kan bukan yang main sendiri? Kenapa mereka brengsek sekali?

Banyak kalimat kenapa dipikiran saya. Kini saya paham kenapa para korban bully itu akhirnya memutuskan untuk bunuh diri, karena rasanya dunia ini serasa tidak akan ada yang memahami dan mengerti kita. Disaat inilah kepekaan keluarga diperlukan. Kalau terewat satu hari saja, pasti akan lewat juga kesadaran untuk bertahan dengan keadaan.

Bersyukur Bulik saya main kerumah dan dia menemukan saya menangis. Dia bertanya kenapa saya menangis? Rindu Bapak sama Mama? Saya menggelengkan kepala. Lantas kenapa kamu nangis? Saya ceritakan kejadian dari awal, Bulik saya tersenyum dan kemudian dia bilang uang segitu jelas kamu gak akan bisa ganti. Nanti sore kalau Simbok sudah pulang dari sawah kita minta pasti Simbok mengerti keadaannya.

Sorenya Simbok memberikan uang saya. Dan betapa bahagianya saya memiliki keluarga yang baik hati. Simbok bilang kalau hanya masalah uang dia akan memahami, dia akan usahakan, yang penting saya lulus ujian dan sekolah yang bener biar pinter jadi bisa lebih kuat lagi. Dengan berbekal uang tersebut saya membeli bola plastik yang mirip dan besoknya saya serahkan ke kakak kelas, mereka ternyata tidak mempermasalahkan apapun, malah mereka menyalahkan teman-teman saya yang lebay. Jadi, bola yang bocor saya bawa pulang dan jadi mainan dirumah.

Dari situ saya belajar bahwa Simbok dan keluarga saya menyayangi saya tanpa batas. Dan sampai saat ini saya tidak bisa membalas budi ke Bulik saya yang menemukan saya saat itu. Sampai Bulik saya punya anak dua dan salah satunya sudah mulai masuk kuliah pun saya masih belum bisa melupakannya.  Saya berjanji dalam diri saya sendiri bahwa saya harus bisa membantu anak-anaknya.

Akhirnya saya dinyatakan lulus dalam prestasi 4 besar. Dan saya masuk ke sekolah menengah pertama negeri.  Walau nilainya pas-pasan setidaknya saya mendapati satu kursi atas nama saya. Harapan saya baru dan saya siap menghadapi cerita hidup yang baru.

Waktu berjalan dan ternyata masa-masa sekolah tiga tahun di menengah pertama juga bukan hal yang menyenangkan. Perlakuan-perlakuan aneh saya terima lagi, dan kemudian saya selalu bertanya.

Kenapa harus saya? Sudah lelah rasanya.

Tapi kemudian saya mendapati jawabannya, kalau saja saya dulu menyerah saya pasti tidak akan sekuat ini.

Tidak mempunyai teman adalah hal yang biasa. Apalagi sahabat, jangan berharap.

Pernah mata saya hampir copot karena teman saya usilnya gak karuan, kalau saja saat itu hal terburuk akan mata saya terjadi, pastilah saya tidak akan mendapati kehidupan seperti ini. Allah masih sayang sama saya dengan keadaan ini, saya makin bersyukur. Kalau terjadi, apa yang akan dilakukan teman saya, bertanggung jawab? Rasanya tidak mungkin.

Mereka kejam? Ya, katakan seperti itu.

Saya dendam? Tidak. Saya tidak pernah diajarkan untuk dendam atau membenci.

Saya lulus dan kemudian dipindah oleh orang tua saya ke Jakarta. Ini membuat harapan saya bangkit lagi. Saya lulus dengan nilai yang pas-pasan atau cenderung jelek. Tetapi, orang tua saya tidak sedikitpun marah. Mereka masih berharap saya bisa masuk sekolah negeri.

Harapan tinggal harapan. Saya ditolak mentah-mentah.

Bapak saya mengantarkan ke sekolahan negeri untuk mencoba mendaftarkan saya. Setelah mutar-mutar cari alamat jauh sekali menurut saya saat itu. Sampai akhirnya ketemu ada syarat yang kurang yakni amplop cokelat. Bapak saya mencari amplop tersebut, disaat mencari tinggal saya sendiri diruangan pendaftaran tersebut. Beberapa guru memanggil saya mau melihat ijazah dan nilai saya. Dan mereka menyakiti saya seumur hidup saya.

Nilai begini dari daerah mah gak akan masuk negeri ini habis-habisin waktu kami aja. Bapaknya gak perlu nyari amplop cokelat pulang aja deh ya kamu.

Rasanya pedih. Sangat pedih.

Saya keluar ruangan karena hati saya sakit sekali. Dan saya tidak mungkin menangis, di ujung sana saya melihat Bapak dengan senyumnya membawa amplop cokelat sambil berharap anaknya bisa bersekolah ditempat ini. Seketika dia berubah setelah melihat wajah saya.

Saya paham wajah saya merah mau nangis karena sakit hati.

Kenapa?

Kita pulang aja yuk, Pak. Gak diterima disini. Nilainya gak cukup.

Yaudah, jangan nangis kita ke sekolah swasta aja. Tapi biayanya mahal. Bapak akan usahain tapi kamu juga usaha buat sekolah yang bener gak ngecewain Bapak.

Saya gak bisa jawab, cuma netesin air mata. Dari situ saya sadar saya masih cengeng juga setelah apa yang terjadi selama hidup saya. Dan saya berjanji kalau saya harus sekolah yang baik dan setinggi mungkin supaya Bapak gak kecewa. Supaya Bapak gak sedih ngelihat anaknya bodoh.

Sekolah tiga tahun saya pun tidak memiliki sahabat. Mereka gak mau temenan sama saya yang uang jajannya kecil, gila ngerjain tugas, dan culun. Itu semua tidak menjadi alasan negatif untuk saya menyerah. Justru saat ini saya baru mulai mengukir harapan dan tujuan hidup saya. Saya mau jadi pekerja kantoran nantinya. Saya mau bekerja diperusahaan asing yang setiap hari bahasa asing yang digunakan. Dan saya harus bisa membanggakan kedua orang tua dan keluarga saya di daerah.

Lulus dengan nilai bahasa inggris yang sempurna saya mulai berani melangkah kedepan.

Saya kuliah D3 dimana saya banyak belajar hal positif. Kampus saya dulu jadi bahan ledekan orang karena tidak sekeren sekarang. Tetapi dari sana saya kenal sama orang-orang hebat yang mengajarkan saya tentang etika dan pola pikir. Saya berusia 17 tahun sendirian, dan lainnya sudah diangka 25-30an jauh lebih dewasa. Dan mereka sabar menghadapi saya.

2 tahun kemudian atau 6 tahun yang lalu Bapak saya pergi selama-lamanya. Patah hati terberat dalam kehidupan saya. Saya merasa hancur dan menangis selama apapun tidak akan mengembalikkan keadaan.

Bapak pergi dimana saya masih berjuang.

Saya masih belum membanggakan dia. Saya baru lulus D3. Belum S1 atau S2 seperti yang pernah saya janjikan untuknya. Saya bersedih dan patah hati.

Karena hal itu saya kemudian berusaha menjadi kuat lagi, segera saya mendaftarkan pendidikan saya dan kemudian saya dinyatakan lulus 2 tahun setelah saya mendaftarkan diri menjadi Mahasiswi. Dan mimpi itu menjadi nyata sekarang.

Saya bekerja di perusahaan asing. Saya menyandang gelar S1.

Hal yang biasa untuk kalian, tetapi luar biasa untuk saya pribadi.

Mungkin hal yang luar biasa juga untuk keluarga saya. Karena setiap saya memiliki ide tentang mimpi itu saya tidak berani cerita ke keluarga saya sebelum tahu hasilnya. Makanya kadang, Mama atau Simbok heran dengan keberanian saya dan ambisi ini. Dan mereka menyadari kalau saya bisa bertahan dan bangkit dari zona menakutkan itu.

Mereka yang menyakiti saya, mereka yang pernah berkata saya tidak cocok kerja dikantoran, mereka semua yang pernah jahat ke saya, sedikitpun saya tidak pernah merasa dendam atau marah. Saya berterima kasih karena kalian yang membentuk saya sedemikiannya.

Saya masih punya banyak mimpi kedepan. Semoga kalian selalu mendukung saya, sebagaimana saya selalu mendukung kalian.

Saya tidak pernah menyalahkan karma yang kalian peroleh sekarang. Atau cerita hidup kalian saat ini. Karena saya lebih fokus akan menata hidup saya dan keluarga saya kedepannya.

Dan untuk kalian, yang mereka sebut Pecundang, loser, don’t stop your journey. Semua akan indah pada waktunya kalau kalian berusaha. Kalau kalian mau bertahan.

Because from loser we can fight and struggle being a winner, then… keep fighting and believing with your self. We can because we brave. We can because we strong.

Kekuatan sendiri itu penting, tetapi peranan keluarga tetap yang paling utama. Juga, semoga para pelaku bully itu sudah berkurang. Semoga kita hidup di era dimana prestasi itu yang utama.

 

–dan sekalipun saya tidak pernah mendoakan mereka mendapatkan balasan–

Salam,

 

Ndue.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.