Menikmati Sunrise di Puncak Borobudur (Feb, 2018)

Pagi itu syahdu dan romantis di Borobudur. Pict by me. ndueisndue

Berkunjung ke Jogja tahun ini berbeda dari tahun-tahun yang lalu. Kali ini saya berkesempatan untuk merasakan moment sunrise di Candi Borobudur. Berbicara Candi Borobudur rasanya setiap orang yang pernah kesana pasti mempunya pengalaman yang tidak akan tergantikan walaupun bisa ke Borobudur lagi. Hal itu juga berlaku untuk saya. Mengingat Candi Borobudur adalah seperti mengingat kembali fase kehidupan terindah selama saya di dunia ini. Slide-per-slide kehidupan ini berputar dan membawa saya akan kenangan tahun 2007 silam dimana saya pernah kesana bersama Alm. Bapak, Mama, dan Keluarga Bulik Ning. Saya yang dulu merengek karena selama 17 tahun belum juga pernah merasakan pengalaman berkunjung ke Borobudur, akhirnya saat itu Bapak saya menurutinya. Bahagia dan saya akhirnya memiliki foto sekeluarga di depan Candi Borobudur bersama keluarga saya utuh, dan moment seperti itu tidak akan pernah terulang kembali. Baiklah cukup pembuka yang sedih ini. Karena menurut saya Borobudur adalah salah satu kenangan terbaik dalam kehidupan saya. 🙂

Tahun 2018 saya mendapati kesempatan untuk berkunjung melangkahkan kaki saya kembali di Candi yang dulu pernah menjadi situs warisan budaya yang masuk dalam keajaiban dunia. Menurut saya, Borobudur adalah peninggalan yang luar biasa cantik dan megahnya. Kita semua wajib menjaga dan menghormati setiap yang melekat di Borobudur. Candi ini dibuat berdasarkan nilai-nilai kehidupan, bukan untuk dilupakan begitu saja.

Matahari mulai menujukkan kecantikannya..

Perjalanan di mulai dari jam 03.00 pagi dari Hotel. Saat itu kami menginap di hotel yang berada di Jogja. Ya, hotel yang menurut saya mewah dan membuat saya tidak bisa move on  karena suasananya. Hotel itu benama Hotel Tentrem. Saya sempat drama dulu karena bangun jam segitu setelah semalam baru bisa terlelap jam 01.00. Hal yang saya benci kemudian muncul. Saya menjadi cengeng, mudah menangis, sensitif, hanya karena saya masih mengantuk. Setelah drama tersebut, akhirnya saya memecahkan rekor menjadi peserta terlama dan yang ditunggu untuk kemudian ditinggal rombongan bus. Ya, karena saya paling lama turunnya dan waktu menunjukkan jam 03.30 pagi.

Perjalanan Jogjakarta-Magelang adalah sekitar 45 menit. Saya memanfaatkannya untuk tidur kembali. Menikmati sunrise untuk spot foto terbaik di Borobudur adalah dari Hotel Manohara. Kami sampai di Manohara Hotel masih gelap gulita, jam menunjukkan angka 04.20. Saya masih bekesempatan untuk sholat subuh. Alhamdulillah.

Cuaca saat itu cerah tidak seperti hari-hari sebelumnya yang turun hujan sehingga sang matahari tidak menampakkan dirinya dengan sempurna. Pagi itu seperti semesta mendukung rencana kami menikmati sunrise di Borobudur. Semuanya cerah. Setelah sholat, kami dikordinasikan dengan memegang tiket masing-masing, sticker, dan senter untuk menerangi jalan kami.

Halo, Borobudur dan matahari 🙂

Tadinya saya berpikir bahwa kalau menuju ke atas itu jalannya lumayan seperti yang pernah saya lalui di tahun 2007 lalu. Ternyata semua itu salah. Dugaan dan rasa malas berjalan saya itu sama sekali tidak terbukti. Perjalanan lepas dari hotel Manohara tepat di jam 04.50. Suasana masih gelap gulita. Saya bingung bagaimana mengabadikan perjalanan pagi itu. Bersyukurnya Instagram membantu saya menyimpan Instastory di laman akun saya. Sehingga kalau kalian mau melihat bagaimana perjalanan itu bisa langsung direct ke Instagram saya, ya!

Pada saat lepas dari Manohara kami semua dibekali tiket masuk. 1 sobekan untuk masuk ke dalam Candi, dan 1 sobekan lagi untuk ditukarkan pada saat turun nanti di restaurant dengan secangkir teh atau kopi dan camilan untuk sarapan pagi. Bukan camilan juga siy ya menurut saya karena itu sudah cukup membuat perut saya kenyang.

Ada 2 kali pengecekan tas. Saran saya jangan bawa yang berat-berat karena naik tangganya lumayan. Ternyata Manohara hotel ini lokasinya benar-benar di Pelataran Borobudur. Makanya Manohara menawarkan paket wisata untuk menikmati sunrise. Wah keren, ya!

Kabut kala itu membisikkan banyak cerita romatis kepada saya..

Jam 05.20 saya sudah menuju puncak. Mataharinya masih terlihat semburatnya saja. Sambil saya mendengarkan pemandu wisata kami menjelaskan sejarah dari Borobudur ini. Pemandu wisata kali ini bernama Mba Indien. Dan Mba Indien ini orangnya menyenangkan sekali. Hawanya selalu takjub atas kalimat-kalimat yang dia keluarkan dan selalu bisa tertawa. Mba Indien menyerahkan acara selanjutnya kepada masing-masing peserta untuk menikmati sunrise sampai jam 07.00 pagi karena kami harus turun dan kembali ke Hotel.

Saat yang dinantikan tiba. Tepat jam 05.40 mataharinya mulai menampakkan kecantikannya. Subhanallah, hal yang diperjuangkan dengan drama pagi ini terbayar dengan pemandangan cantik sedemikiannya. Saya menikmati matahari terbit di salah satu Candi terbesar di Indonesia ini. Saya mendapati kesempatan berharga ini di Candi Borobudur, dan kemudian drama itu berlanjut lagi. Saya tidak kuasa menahan haru, bahagia, takjub, bersyukur karena kesempatan yang ada. Saya langsung memutar haluan untuk mengusap air mata yang mulai menetes. Saya kemudian cengeng.

Wajah cengeng ini beneran deh jelek sekali, ya? T_T

Allah menciptakan semesta ini dengan istimewa. Allah menciptakan dunia ini dengan sempurna. Semua ciptaan Allah. Begitu yang saya ucapkan dalam batin saya. Ternyata yang saya bayangkan ke Borobudur akan sulit karena jalan yang jauh dan rame berlalu-lalang semua itu terpatahkan. Wisatawan yang ke Borobudur di saat matahari terbit kebanyakan Warga Negara Asing. Kemana wisatawan lokal, ya? Apakah memang belum terkenal untuk menikmati sunrise disini, ya?

Mudah-mudahan setelah ini akan banyak wisatawan lokal yang berkunjung untuk menikmati salah satu kesempurnaan Allah. 🙂

Karena beberapa rekan dari tim tengah asyik mengabadikan foto-foto sunrise saya kemudian memisahkan diri untuk melihat Candi Borobodur dari sisi yang lainnya. Karena menurut saya ini kesempatan yang langka bisa berkeliling Borobudur dipagi hari dengan orang yang tidak terlalu ramai. Kalau melalui jalur manual pada saat siang hari akan ramai, jadi tidak puas untuk berfoto-foto.

Berjalanlah saya disisi lain Borobudur. Dan saya menemukan banyak spot untuk berfoto. Saya bahagia dan entah harus mencurahkannya dengan cara yang bagaimana lagi. Borobudur ini benar-benar keajaiban dunia. Semua bagiannya sempurna. Semua bagian Borobudur adalah hal yang indah dan abadi. Saya kemudian berkeliling kesana-kemari bahkan saya baru sadar kalau saya jarang berfoto bersama tim di bagian matahari terbit disebelah timur.

Sebelum pulang pagi itu cerah sekali. Beneran deh cantik sekali.

Saya melihat kabut bertumpuk-tumpuk, melihat puncak gunung diantaranya, dan saya melihat, merasakan stupa-stupa ini semua memiliki cerita yang seolah-olah memanggil saya untuk mendapati bagian cerita dari mereka. Stupa ini bercerita tentang tingkatan manusia dimana dasarnya manusia adalah ada hal yang buruk, kemudian ada juga dibagian atas adalah kebaikan dan kebijakan. Karena manusia itu unik.

Rasanya belum puas 1 jam saya berbagi cerita dalam hati dengan beberapa bagian candi atau juga Borobudur itu sendiri. Tetapi panggilan untuk berkumpul bersama tim sudah di layangkan. Saya menjadi bagian terakhir dari tim. Saya melihat beberapa rekan sudah berkumpul dibawah. Rasanya sedih dan pedih harus mengakhiri perjalanan ini. Saya masih rindu sedalam-dalamnya akan Candi Borobudur ini.

Entah kapan lagi bisa mengukir cerita dan berbagi cerita di tempat ini. Tetapi, Borobudur tetaplah hal terbaik dalam kehidupan saya. Baik kenangan bersama keluarga saya ditahun 2007 silam, atau kenangan bersama rekan-rekan kantor tahun 2018 ini. Saya bahagia dan saya tidak akan pernah lupa akan waktu bersama yang pernah terjadi dalam kehidupan saya.

Terima kasih kepada Hafiz yang membantu saya me-retouch beberapa foto disini. Thanks alot, Men!

Sarapan kali ini nikmat sekali. Berlatarkan Borobudur. Alhamdulillah.

Sampai jumpa di lain waktu Borobudur, Stupa, dan Sang Surya. Jangan pernah melupakan saya, ya.

-Akomodasi-

Tiket masuk untuk lokal Ro. 325.000,- kalau yang asing sepertinya 400ribuan.

Dari Tentrem Hotel menggunakan bus 45 menit perjalanan.

Senter ditukar di front office Hotel Manohara untuk ditukar dengan selendang berlabelkan Borobudur menandakan syah sudah kita dari sunrise di Manohara Hotel.

Atau kalau ingin menginap di Manohara Hotel bisa menikmati sunrise tanpa tiket masuk, ya? Perihal ini saya tidak tahu. Kalau ada yang pernah punya pengalaman bisa di share, ya!

Sampai jumpa dilain waktu Borobudur. Kamu tahu betapa saya mencintaimu utuh dan sempurna.

Regards,

 

Ndueisndue.

One thought on “Menikmati Sunrise di Puncak Borobudur (Feb, 2018)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *