Berambisi Untuk Ber-utang

Sebelumnya saya minta maaf karena memasang foto yang tidak ada sangkut pautnta sama isi postingan kali ini. Hal ini dikarenakan saya tidak memiliki stock foto sesuai dengan postingan kali ini. Jadi wajarkanlah.

Pagi ini Mba Riska memberitahukan saya bahwa ada artikel di detik.com yang mana isinya sesuai dan ditujukan untuk saya. Pada saat saya buka artikelnya, saya merasa takjub ternyata saya benar-benar sudah hidup dalam kata-kata utang. Ternyata bahasa yang benar adalah utang bukan hutang.

Setiap awal tahun pada saat bulan Januari, Februari, Maret adalah hal terberat dalam kehidupan keuangan saya. Bagaimana tidak, saya berambisi mau membeli ini-itu, mau jalan kesana-kemari dan itu semua bisa terwujudkan dengan bantuan kartu ajaib bernama kartu kredit.

Konon, pekerja milenial pasti memiliki kartu kredit. Jadi, saya harus berbangga hati karena saya termasuk pekerja milenial tersebut. Tetapi, saya juga harus bermalu hati karena saya ketahuan bahwa saya punya utang. Sedi sekaligus bahagia begitu rasanya.

Kalau di artikel tersebut dikatakan bahwa ciri-ciri pertama seseorang sudah hidup dibawah utang adalah rasio utangnya lebih dari 35% dari nilai penghasilan atau gaji. Dan saya mencapai nilai tersebut, bahkan rasio hutang saya 125% alias besar pasak daripada tiang. Mantap jiwa, kan?

Lantas bagaimana saya bisa menutupi semua?

Selama ini saya belajar hidup dalam kenekatan dan perhitungan yang harus akurat. Melenceng sedikit saja, saya harus dengan meminjam ke Mama sebagian atau ke Abang Hafiz untuk membantu keuangan saya. Dan selama ini Alhamdulillah masih selamat dari kategori menunggak.

Hutang apa saja yang saya miliki?

Saya hanya berhutang 1 kartu kredit, 1 KPR, dan 4 arisan. Luar biasa ternyata hutang saya banyak juga.

Kalau perihal KPR itu saya anggap sebagai investasi saya satu-satunya. Sejujurnya saya tidak memiliki tabungan darurat atau sejenisnya. Penghasilan saya sudah habis untuk membayar cicilan tersebut.

Kalau normalnya cicilan KPR adalah maksimal 30% dari nilai penghasilan, saya nekat mengdeal dengan marketing bank bahwa saya mampu 80% dari nilai penghasilan saya. Dan surat persetujuan kredit disetujui, dengan jangka waktu yang menurut saya sangat singkat, saya resmi berhutang dengan bank beberapa tahun kedepan.

Sisanya 45% dari nilai penghasilan saya untuk macam-macamnya tersebut.

Dari beberapa kategori hidup tertekan karena utang tersebut, saya masih selamat dari 2 kategori lainnya. Saya tidak menjual aset untuk membayar utang, dan saya tidak gali lubang tutup lubang. Jadi masih aman Alhamdulillah 🙂

Kalau kalian lihat saya bisa beli rumah, ditambah liburan yang mevvah atau seringnya liburan, itu adalah hasil pencapaian saya karena setiap bulannya harus bekerja keras dan membayar hutang sampai akhirnya hasilnya tersebut bisa saya rasakan.

Karena yang instant dan enak hanyalah mie. Untuk hidup semua harus berjuang dan diperjuangkan. Karena saya juga bukan terlahir dari keluarga yang kaya, saya harus berjuang untuk keluarga dan Insya Allah calon keluarga saya kelak.

Jadi, selamat berjuang para pekerja milenial yang hidup dalam tekanan utang. Tanpa utang, hidup kalian tidak akan berwarna. Tanpa utang, perjuangan bekerja rasanya tidak sempurna. Karena utang, kalian akan merasakan susah makan, susah tidur, susah jajan, dan itulah seninya utang.

Semangat ya kalian! Dan saya juga menyemangati diri saya sendiri. Suatu saat indah pada waktunya.

Regards,

Ndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.