Ndue’s Journey To Puncak Bogor (Januari 2018)

Bisa dikatakan ini adalah permulaan dari perjalanan saya berlibur di tahun 2018 ini. Sepulang dari Hongkong-Macau trip Agustus 2017 saya masih dalam tahap menata kehidupan karena beberapa hal masih tersisa untuk dibayarkan. Dan juga karena memang saya harus menghemat jatah cuti tahun 2018 untuk beberapa hal satu dan lainnya.

Perjalanan singkat ini tidak pernah direncanakan sebelumnya. Spontan saja karena saya merengek ke Bu Okta dan Mba Riska untuk pergi jalan-jalan. Jadilah di tetapkan harinya akhir bulan Januari 2018 selepas gajian dan disepakati pula siapa saja yang ikut yakni Saya, Bu Okta, Septian, Mba Riska dan suaminya. Tetapi di hari Jum’at Mba Riska mengabari bahwa suaminya tidak bisa gabung karena mengikuti wamil dari kantornya. Tetapi kita tetap konsisten pada rencana awal yaitu berangkat.

Saya menginap di Bekasi di rumahnya Bu Okta. Jadilah perjalanan dimulai dari titik temu keluar tol Bekasi Barat yakni didepan MM mal. Saya takjub dengan kota bernama Bekasi ternyata malnya berdekatan. Dan walaupun dijuluki sebagai kota yang padat tetap saja banyak orang yang masih bertahan di Bekasi.

Berang-berang bawa berkat, yuk mari kita berangkat!

Mundur 1 jam dari kesepakatan pertemuan di awal bukanlah hal yang biasa. Ngaret itu julukannya. Karena membaca info bahwa jalur buka-tutup puncak untuk naik ke puncak bisa lolos diantara jam 10 sampai jam 12 maka dirasa masih aman.

Waktu tempuh yang ada 3 jam dari Jakarta untuk mencapai puncak. Puncak dalam keadaan berkabut saat itu. Bahkan untuk melihat jalanan pun harus berhati-hati karena batas penglihatan yang berkisar 1 meter ke depan saja. Kalau pemandangan ini biasa saja menurut kalian, beda dengan saya yang merasa bahwa ini adalah fenomena luar biasa. Saya bisa melihat kabut dan dingin luar biasa. Yang hebatnya lagi ini di Indonesia. Tidak perlu jauh-jauh ke luar Negeri.

Dan saya yang paling norak karena sering buka-tutup kaca mobil hanya untuk melihat dan merasakan kabut itu menghambur ke arah wajah saya.

Tujuan pertama sebenarnya ke Curug Cilember, tapi dibatalkan karena masih dalam batas jalur buka-tutup. Jadilah kami memutar arah menuju Taman Cibodas. Karena ingin melihat Bunga Sakura. Tapi waktunya tidak tepat. Bunga sakura sudah berguguran dari dua minggu yang lalu. Jadi daripada kami menyesali kesia-kesiaan kami datang ke Taman Cibodas, kami menghibur diri dengan bermain di air terjun yang ada di Taman Cibodas.

Puas bermain air dan foto-foto di Taman Cibodas, kamu melanjutkan untuk makan siang di Sate Maranggi. Sate Maranggi ini ternyata ada beberapa bagian yang bisa dipilih. Ada yang campuran lemak dan daging, dan juga ada yang full lemak. Tergantung selera yang makan. Oh ya, Sate ini bumbunya adalah oncom. Konon lebih enak disantap menggunakan ketan bakar. Sate ini dagingnya menggunakan daging sapi. Karena saya orangnya kalem-kalem aja, jadi menurut saya memang sate paling enak itu hanya ada dua yakni sate ayam dan kambing. *eh kalem?

Makan di Sate Maranggi tergolong murah. Kami makan disana dengan porsi berlima hanya cukup membayar Rp. 195.000,- saja. Wah benar-benar murah meriah, ya? Itupun sudah ditambah 5 kelapa muda yang batokan bukan gelas.

Perjalanan dilanjutkan ke arah Cipanas. Karena kami menginap di Villa Kota Bunga yang ada di Komplek perumahan Kota Bunga. Di komplek ini banyak terdapat pilihan Villa. Bisa kalian pilih sesuai dengan budget, anggota, dan style dari Villanya. Tapi memang kebanyakan type Jepang yang mendominasi. Saran saya baiknya kalau menginap disini, kalian daripada bingung bagaimana pertanyaan lokasinya ke Pak Satpam, ada baiknya tahu kalian akan menginap di Blok Berapa. Tanyakan ke pemilik Villanya, ya!

Walaupun harga Villanya sudah ada di penawaran online jangan lupa untuk ditawar. Karena biasanya sepintar-pintarnya pemilik Villa, pasti akan luluh juga kalau ada yang nawar dengan sepenuh hati. Walaupun harganya turun hanya 50ribu tapi kepuasan hasil menawar itu yang gak tergantikan.

Acara selama dipuncak ini adalah penuh dengan kekeluargaan. Jadi untuk makan malam dan sarapan besok pagi dimasak bersama-sama untuk dimakan rame-rame juga. Dan makan malam kali ini sepakat untuk Tomyam Seafood, Ayam Bakar Bumbu Barbeque, dan Sambal Mentah. Sambalnya saya dong yang ngeracik dan enak menurut saya. Sisanya Mba Riska yang memasak. Makan malam disantap dengan nikmat dan penuh dengan suasana kekeluargaan.

Karena juga bulan Januari curah hujan masih tinggi, jadi Puncak hujan tidak berhenti juga sepanjang malam. Bahkan sampai pagi menjelang hujan juga tetap tidak berhenti.

Rencananya pagi kami mau ke Little Venice yang dekat dengan Villa. Tetapi sampai jam 10 hujan tidak juga reda. Daripada memaksakan untuk bermain tetapi jadi sakit karena kehujanan, jadilah kami memutuskan untuk pulang.

Dan perjalanan pulang durasinya luar biasa. Stuck gitu aja di jalan sampai 6 jam. Bersyukurnya selama kena macet kami dihibur dengan kabut yang setia menemani.

Pulang dari Villa jam 10 pagi, dan sampai rumah jam 10 malam. Walau terkesan hanya stay di Villa, tapi suasana kekeluargaan yang tercipta juga kenangan bersama tidak akan lekang tergerus oleh waktu. Entah diantara kami siapa yang akan meninggalkan kebersamaan ini suatu hari ini, tetapi kenangan dan gambar yang ada membuktikan kita pernah ada di suatu masa yang sama.

Regards,

Ndueisndue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *