Akhirnya Merasakan Puncak Macet dan Berkabut

Sejujurnya saya bingung bagaimana menuliskan judul dari postingan kali ini. Karena saya bukan mau menjelaskan bagaimana agenda perjalanan singkat saya kemarin sabtu-minggu menghabiskan waktu di Puncak Cisarua, Bogor. Karena rencana foto-foto kegiatan selama di Puncak sirna sudah ketika cuaca memegang peranan mutlak.

Kali ini saya berangkat bersama tim tax. Karena perjalanan ini spontan tidak direncanakan sebelum-sebelumnya, maka tidak ada itenarry untuk jadwal jam sekian harus disini dan disana. Semua dijalani saja dengan penuh bahagia.

Berangkat menuju Puncak aman terkendali. Ketika sampai di pintu keluar tol menuju ke arah puncak sedang diberlakukan sistem buka-tutup jalur waktu itu kami sampai jam 10 dan langsung meluncur ke atas. Sampai jam 11 kami sudah di titik aman dari pemberlakuan sistem.

Jalur berangkat sudah berkabut dan suasananya romantis. Saya yang notabene tidak pernah pergi kemana-mana melihat kabut setebal ini, merasa bahwa hidup saya begitu sempurna dan menyenangkan karena adanya kesempatan ini. Jadi sayalah orang yang paling berbahagia.

Hari pertama Puncak curah hujannya normal. Dan aman terkendali.

Esoknya, di hari Minggu kami tidak bisa kemana-mana karena hujan lebat dari Pagi dan kabut sudah terlihat. Saya rasanya ingin sembunyi dibawah selimut saja. Namun apa daya, harus beranjak pulang untuk bisa sampai di Jakarta di waktu sore.

Tetapi, baru saja memulai perjalanan di jam 10 pagi, kami sudah terjebak macet. Hiburannya adalah jam 11.30 pasti jalur akan dibuka. Kami tetap sabar menunggu.

Harapan tinggal harapan. Kendaraan tetap berhenti di tempat yang sama. Tik-tok-tik-tok waktu berlalu, detik, menit, dan jam akhirnya berlalu juga. Dan kami masih sabar menunggu.

Sampai akhirnya tidak tahan lagi. Cuacanya dingin sekali. Walau AC mobil yang dinyalakan hanya didepan, tetapi tetap saja kami menggigil kedinginan. Dan tentu saja itu berpengaruh pada hasrat untuk buang air kecil.

Bersyukur selama dalam keadaan macet perut saya tidak riwil karena saya bisa menahan gejolak tersebut. Karuan saja, akhirnya dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore kami baru bisa masuk tol. Selama macet kamu saling menghibur satu sama lain berbagi cerita ini itu ngoceh sampai saya kelaparan. Hahahaha.

Kapan lagi saya bisa menikmati kabut seromantis ini? Sekeren ini? Sungguh seluruh kabut-kabut ini adalah hal yang sempurna dari ciptaan Allah yang maha kuasa.

Semoga suatu saat nanti saya masih ada kesempatan untuk bisa ke Puncak dengan Mama dan bisa merasakan kabut romantis bersama Mama. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.