Drama EKTP 5 Tahun 7 Bulan

Setiap warga Negara Indonesia yang melewati umur 17 tahun wajib memiliki identitas pribadinya yang kelak menyatakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor inilah yang nantinya digunakan sebagai primary untuk beberapa hal selanjutnya yang juga sangat penting dalam kehidupan ini seperti; Pembukaan Rekening, Pembuatan Paspor, Pembuatan SIM, daftar CPNS, melamar kerja dan beberapa keperluan lainnya.

Wajar saja kalau akhirnya saya ikutan snewen uring-uringan. Setelah 5 tahun 7 bulan akhirnya identitas yang berlaku seumur hidup itu tercetak dan resmi sudah.

Rasanya seperti apa?

Seperti terlahir kembali di usia yang baru beranjak dewasa yaitu 17 tahun atau sweet seventeen.

Drama E-KTP ini dimulai ketika saya perpanjang KTP 5 tahun lalu. Saat itu masa KTP hanyalah 5 tahun dan saya harus perpanjang saat itu. Karena dulu lagi booming KTP yang kartunya berbentuk ATM maka saya dengan wajah bahagia berharap mendapatkan kesempatan itu. Tetapi apalah daya, blankonya habis katanya. Akan dikabari beberepa waktu kedepan.

Jadilah saya selama 5 tahun dengan penuh harapan palsu tersebut menggunakan KTP kertas yang dilaminating. Petugas Kelurahan juga menyakinkan bahwa walaupun berbentuk kertas untuk NIKnya tidak akan bermasalah. Karena NIKnya sudah syah menggunakan NIK format EKTP. Yang berbeda hanyalah kertas dan kartu saja. Baiklah saya mengalah.

Sempat ditertawakan teman-teman saya. Karena KTP saya yang notabene warga DKI Jakarta ibu kota Negara Indonesia ini berbentuk kertas laminating. Bahkan saya sempat ditanya, tempat tinggal saya tejangkau blanko EKTP ndak? Rasanya pengen saya jitakin kepalanya. Tapi memang keadaannya seperti itu.

Dilema dan rasa makin uring-uringan melanda ketika pesta pemilihan Gubernur DKI Jakarta putaran ke-dua untuk periode 2017-2022, dimana dengan ajaibnya nama saya gugur sebagai pemilih karena dianggap tidak memenuhi syarat, dan harus di laporkan ke Kelurahan. Apalah arti suara saya yang memilihpun rasanya hanya butiran debu. Tetapi melihat Mama dan tetangga mencoblos itu rasanya yah teramat perih. *hiks

Jadi saya urus ke Kelurahan. Betapa kagetnya ketika NIK saya ada dua dengan nama yang sama. Apakah mungkin ya di Indonesia ini ada nama yang sama untuk dua orang yang berbeda? Ketika saya minta di cek, ternyata NIK itu untuk nama saya semua. Satu terdaftar di Jakarta satunya terdaftar di Klaten.

Terus gimana akhirnya?

Saya harus menghadap ke Suku Dinas Pencatatan Sipil (Sudin Capil) Klaten untuk meminta pencabutan warga di Klaten dan memindahkan ke Sudin Jakarta. Tetapi sebelumnya saya harus meminta surat pengantar dari Keluarahan dan Sudin Jakarta.

And drama starting from now…

Drama ini dimulai ketika proses peralihan antar Sudin. Setelah mendapatkan surat permohonan Pindah kemudian saya meminta Simbah saya untuk meneruskan ke Sudin Klaten untuk di cabut berkasnya. Simbah sempat sedih siy memrosesnya. Karena saya kan lahirnya di Klaten mbokya seterusnya jadi warga Klaten saja. Tapi, karena semua berkas saya kebanyakan di Jakarta, dan sudah saya jelaskan juga ke Simbah akhirnya Simbah mengerti. Dan proses pencabutan berkas Sudin Klaten dengan surat pernyataannya beres.

Surat tersebut di kirim ke alamat saya yang di Jakarta oleh Simbah.

Setelah itu, saya melapor kembali ke Sudin Jakarta bahwasannya saya minta di syahkan menjadi warga Jakarta. Sudin melihat surat dari Klaten dan dinyatakan saya tidak lagi memiliki double NIK sehingga saya bisa melakukan proses selanjutnya ke Kelurahan untuk foto EKTP.

Saya menuju ke Kelurahan. Mengantre, mengamati, dan kemudian saya dipanggil untuk pengecekan nama, foto, sidik jari, dan lain-lainnya. Setelah itu surat keterangan rekam EKTP keluar. Surat ini bertujuan untuk pengganti EKTP sambil menunggu blanko yang entah kapan turunnya. Jadi penasaran itu blanko naik kemana siy, ya? Kok ndak turun-turun. Weyalah mbok pikir naik tangga, Ndue!*

Suket tersebut baru bisa diambil keesokan harinya setelah di tanda tangani oleh Pak Lurah. Baiklah mari pulang.

7 bulan berlalu tanpa kepastian dan drama lainnya terjadi…

Selama proses menunggu EKTP selesai, saya merasakan bagaimana merananya hidup tanpa KTP. Serba salah, bank tidak bisa menerima Suket dengan alasan entah bagaimana. Dan KTP kertas saya tersebut sudah habis masa berlakunya. Saya sudah jelaskan berkali-kali bahwa harusnya masih berlaku tetap saja mereka tidak mau terima. Akhirnya SIM saya jadi tumbalnya. Bersyukur saya pernah perpanjang SIM dengan mudah dan murah sebelumnya.

Drama lainnya adalah, ketidakpastian kapan blanko tersebut turun. Bisa saja kalau mau complaint ke Badan Pemerintahan menggunakan situs lapor.go.id. Yang mana saya pernah membaca memang banyak keluhan perihal EKTP dan hampir semuanya kerespon. Mungkin itu pilihan terakhir saja untuk saya.

Akhirnya masa-masa paspor saya harus diperpanjang tiba juga. Saya harus perpanjang paspor saat ini karena saya mau isssued tiket perjalanan saya beberapa waktu mendatang. Jadi saya perlu EKTP tersebut. Dan drama masih berlanjut.

And drama still continue…

Saya menghadap ke Kelurahan lagi, tidak ada perkembangan. Saya diminta menunggu seminggu kemudian.

Seminggu setelahnya, saya mendapati kabar bahwa data saya masih belum lengkap sehingga foto saya tidak muncul. Saya harus ke Sudin untuk menanyakan kekurangan data apa saja yang diperlukan.

Setelah ke Sudin, saya seminggu kemudina ke Kelurahan lagi. Data sudah ada dan saya diminta menunggu lagi. Lagi dan lagi. Ketika saya menanyakan bagaimana bisa selama ini? Saya diminta sering aktif bertanya ke Sudin.

Seminggu kemudian ke Sudin dan mengabari bahwa EKTP saya masih dalam proses mohon bersabar. Ah, saya lelah.

Dua minggu berlalu, akhirnya saya ke Kelurahan dan mengabari bahwa Senin bisa diambil. Silahkan diambil hari Senin. Kebetulan Mama saya datangnya hari Jum’at.

Senin pagi dengan semangat juang 45 sebelum jam 8 Mama sudah ke Kelurahan dan dikabari bahwa EKTP saya sudah diantarkan ke RW karena dibagikan dan didata ke RW.

Mama saya ke RW dan dikabari pula bahwa hari Sabtu ada acara RT se RW dimana tempat saya tinggal, jadi sudah ada di Pak RT.

Mama saya pantang menyerah. Akhirnya, setelah perjuangan sana-sini dan drama yang terhitung 5 Tahun 7 Bulan, resmi sudah saya memiliki EKTP.

Rasanya seperti apa? Eh ini tuh nanya lagi tho, ya? Kan diatas sudah dijawab. Huft. Okay saya tambahkan, like a dream come true!

Bahagia luar biasa.

Entah, permasalah kasus EKTP ini kapan terurai. Harapan saya kalaupun ada yang bermain oknum-oknum tertentu kenapa tega, ya? Padahal itu kan identitas dan haknya warga Negara Indonesia. Tega niannya caramu, menunda blankoku. *eh malah nyanyi.

Semoga sistem Pemerintahan Indonesia selalu berkembang dan bisa maju. Serta memudahkan bagi warganya. Sehingga tidak perlu lagi ada drama-drama selanjutnya.

Akhirnya, saya syah juga jadi warga DKI Jakarta, guys!

Regards,

Ndueisndue

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *