Konsisten Menabung atau Mengangsur?

Galau mau update foto yang mana. Okay, wajarin aja fotonya ini dulu. πŸ˜€ πŸ˜€

Malam ini saya sedang dalam mood yang bagus. Bagus karena saya sedang bahagia dimana akhirnya saya berhasil menginstall aplikasi WordPress di handphone ini. Dari beberapa hari belakangan ini saya mendadak keingetan bahwasannya dulu saya menulis tanpa batasan sama sekali. Tidak peduli bagaimana content blog saya nantinya, saya akan tetap menulis. Mau jadi cerita fiksi, thriller, atau curhatan random saja seperti saat ini.

Karena pada dasarnya mau blog saya di domain ini atau di domain saya yang sudah bertahun-tahun dan berkali-kali saya ganti, ndueisndue tetaplah seorang perempuan yang dipenuhi banyak cerita galau dalam hidupnya. Jangan khawatir, semua akan berakhir bahagia. Amiin.

Well, pernah gak kalian dengar pertanyaan seperti ini;

Mendingan nabung atau berhutang sehingga kita punya komitmen?

Saat ini saya ada di kalimat pernyataan kedua diatas. Saya selalu berkomitmen dengan hutang. Bermacam-macam hutang sudah saya pernah rasakan. Apa saja? Yah hutang kartu kredit, hutang arisan, hutang kpr, dan hutang budi? *eh

Rasanya semua itu gak enak. Gak nyaman. Seperti saya harus memberikan makan kepada benda-benda yang menyerupai hidup itu dengan sebaik-baiknya. Salah makan atau terlambat memberikan makan bisa-bisa saya langsung kena denda. Ah, lelah.

Dan mendadak siang ini saya mendapatkan ide perihal menabung secara konsisten. Wacana ini tercetus setelah obrolan tenant sebelah yang membicarakan perihal menabung. Saya sudah mencoba menabung uang berwarna hijau dengan nominal Rp. 20.000,-an, selama satu tahun konsisten dan hasilnya Alhamdulillah. Sesuai dengan target.

Jadi, bagaimana prosedur menabung konsisten?

Menabung berdasarkan tanggal. Contoh, sekarang tanggal 18, yang mana artinya saya harus menabung 18ribu. Begitupun selanjutnya tanggal 19 saya harus bisa menabung 19ribu. Begitu seterusnya sampai akhir bulan di titik maksimal 31ribu.

Kalau lupa bagaimana?

Gampang. Saya harus membayarnya double dihari selanjutnya. Itu konsekuensi karena saya lupa. Ini juga sebagai pengingat dan pembuktian bahwa saya bisa menepati janji dan konsisten untuk menabung setiap harinya selama satu tahun jangka waktu yang saya tetapkan.

Kenapa ribet banget siy mau nabung aja? Tinggal hitung perbulan berapa aja kok repot.

Biasalah, kalau orang bertanya dengan nada sinis gitu anggap saja mereka perhatian. Walau dengan cara yang sedikit unik. Memang bisa saja menabung di awal atau di akhir, tapi metode menabung seperti itu memberatkan untuk saya. Karena saya termasuk perempuan yang berambisi, dimana hutang, aktiva harus berjalan seimbang. Saya masih tetap harus membayar banyak cicilan hutang perbulannya, saya juga harus bisa menabung sedikit-demi sedikit yang konon kata pepatah lama-lama menjadi bukit. Amiin.

Juga sebagai penyemangat saya, berhutang memang terkadang baik apalagi dengan iming-iming cicilan 0% atau tanpa bunga. Kapan lagi memiliki barang dengan tanpa tambahan biaya lainnya?

Itu juga yang saya rasakan. Tahun kemarin menjadi goal tertinggi saya ketika saya bisa berlibur kesana-kemari rasanya tanpa bernafas. Setiap tanggal gajian, hari itu juga langsung di eksekusi untuk membayar porsi cicilan hutang ini dan itu. Sampai akhirnya, saya tersadar. Bahwa komitmen sesungguhnya adalah menabung dengan keikhlasan. Bukan terpaksa membayar cicilan hutang. Dan saya berjanji, untuk memulai komitmen di tahun ini.

Sebentar, jadi saya sudah ketinggalan 18 hari ya? Jadi harus di rapel. Okeh, semangat menghitung akumulasinya. Dan harus dimulai.

Semoga setahun kedepan saya bisa berkomitmen, dan saya akan mengupdate hasil dari postingan hari ini.

Yes. Mari menabung!

Regards

 

Ndueisndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *