Kegalauan Lavina

Setelah hampir 2 tahun lamanya Lavina menemani saya berlibur ke beberapa Negara tetangga dan tentunya juga Indonesia, saya memutuskan untuk mengupgrade keadaannya. Lavina saya ibaratkan teman baik atau sahabat saya. Lavina juga butuh di perbaiki atau didandani supaya lebih elok lagi. Setelah juga harapan yang pernah saya tuliskan ketika menutup tahun 2017 lalu, dimana impian saya tahun ini diberikan rezeki yang tidak disangka untuk menambah kecantikan Lavina, maka saya putuskan hari ini untuk bertanya atau check up Lavina di tempat yang seharusnya.

Perasaannya gimana? Yah galau sama gundah. Sama halnya ketika saya harus pergi ke dokter rasanya gak karuan. Bedanya, Lavina adalah barang yang mudah tergerus oleh waktu. Tergantung kuatan mana yang membayar. Sedangkan untuk menggantikan Lavina adalah hal yang tidak mungkin untuk saya.

Kenapa tidak mungkin? Lavina adalah satu-satunya benda mahal yang saya beli dari hasil kenekatan saya sendiri dua tahun lalu. Dulu, saya ingin membeli kamera SLR berjenis Canon 700D. Harganya masih masuk di budget pengeluaran saya. Tetapi, karena saran Mama, jadi saya urungkan membelinya. Selain SLR kalau dibawa kemana-mana berat dan tidak praktis, maka saya memutuskan untuk membeli kamera mirrorless berjenis Olympus EPL-6.

Karena saat itu saya ataupun Mama hanya manggut-manggut dijelaskan dan tidak mengerti yang penting bisa digunakan saja itu sudah bahagia, makanya saya membeli kamera tersebut. Dan saya namakan ia Lavina – Sinar yang terang.

Hasil check up hari ini cukup mengguncang kegalauan dan menjadikan saya gundah gulana. Bagaimana tidak, saya yang tadinya hanya berpikir bahwa Lavina akan bisa cantik dengan budget yang seadanya menjadi impian belaka. Lavina tidak bisa di upgrade dengan adaptor atau router yah tadi bahasanya, secara saya juga gaptek perihal beginian.

Jadi saya mengandalkan seseorang untuk menamani saya dan dijelaskan apa arti omongan dari Mas Sales yang tadi menjawab tidak bisa. Bukannya tidak bisa, hanya kurang direkomendasikan. Jadi walaupun mau dikanibalin lensanya dengan Panasonic atau Olympuss, itu hanya ada dua kemungkinan. Kalaupun berhasil, minimal harga lensanya itu 12 jutaan. Waw apa wow banget? Atau waw wow aja? Saya mendengarnya mau pingsan.

Biaya segitu hanya untuk mengganti lensa? Saya langsung migrain dengernya. Itu seharga satu motor. Saya kalau beli motor malah bisa digunakan kemana-mana. Hiks. Mau nangis rasanya. Padahal yang tadi di display banyak kamera mirrorless baru seharga 8 jutaan saja sudah bagusnya minta ampun ini yang bikin galau maksimal. Selain maksimal yah galaunya banget!

Akhirnya, dengan wajah frustasi saya memutuskan untuk pulang saja. Saya tidak mau lagi berdebat perihal Lavina. Hal bijak yang perlu saya ambil adalah, kamera ini bagus untuk Potrait atau foto produk (semoga suatu saat ada sponsor masuk untuk minta produknya saya review) dan landscape masih bisa digunakan hanya saja butuh usaha karena tidak full frame. Apalah arti penuh digambar, kalau semua hanya menuruti nafsu saja.

*sebel sendiri

Lavina adalah yang pertama untuk saya. Lavina saya beli dengan cucuran keringat dan air mata *okeh ini lebay. Tapi yah, saya benar-benar tidak bisa menghilangkan atau menjual Lavina hanya sekedar untuk menuruti nafsu dengan membeli peralatan elektronik yang selalu upgrade setiap waktunya mengikuti pasar dan perkembangan zaman.

Dan tulisan ini sengaja saya tuliskan kemudian saya publish di blog saya. Bukan karena semata-mata untuk berkeluh kesah, hanya saja sebagai pengingat dan penyemangat saya. Kalau Lavina is never gonna be sold. Lavina will keep by my mine until last time of me. Lavina is priceless because of her historical. I will take care of Lavina seems like care with my mom.

Kan lebay, lagi!

Saya akan selalu bersama Lavina. Dan saya selalu berharap dalam proposal do’a semoga tahun ini saya diberikan jodoh dan rezeki untuk menemukan pendamping Lavina. Sehingga saya tetap bisa bersama Lavina dan pendampingnya untuk menemani perjalanan saya beberapa waktu kedepan.

Atau, semoga ada siapapun diantara pembaca blog ini yang ingin memasang iklan, menuliskan review, atau butuh di endorse bisa kok menghubungi saya langsung. Saya selalu available.

Jadi siapa calon pendamping Lavina?

Rahasia!

Mencoba tetep cool. :p

Regards,

Ndue.

Ditulis dengan penuh kegalauan. Ditambah baru pulang nonton Insidious Last Key.

2 thoughts on “Kegalauan Lavina”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *