Ndue’s Journey to Desa Wisata Cibuntu (Kuningan) and Cirebon (August, 2017)

Pada saat saya berkunjung ke Cirebon, saya masih belum berhijab. Jadi harap dimaklumi lihat saja isi ceritanya. Sebagian foto sudah saya putuskan untuk tidak diposting. Karena bagaimanapun setiap manusia memiliki kehidupan masa lalunya. Dan mungkin tulisan pembuka ini akan saya gunakan beberapa kali untuk penulisan perjalanan saya yang lain.

Panorama Cibuntu – Kuningan Jawa Barat. * * Sabtu, 26 Agustus 2017. Saya dan rekan-rekan 1 team accounting berkesempatan mengunjungi desa wisata Cibuntu. * * Menginap di salah satu homestay terbaik yang ada di Cibuntu bernama Teratai dari kakeknya @rizqa_melia selain homestaynya bersih dan cantik, lokasinya juga sangat strategis. * * Pertanyaan yang saya ajukan adalah, apa yang menarik dari desa ini sehingga banyak homestay yang disini. Dan terjawab sudah ketika pagi hari kami menelusuri tempat-tempat yang ada di kawasan desa ini. * * Penduduknya ramah dan luar bergotong-royong, banyak hasil olahan yang bisa dijual. Suasana pegunungan yang sejuk, kawasan purbakala, mata air kahuripan, dan air terjunnya. * * Sejuk dan suasananya candu untuk saya datang kembali. Semoga ada kesempatan lain waktu untuk saya berkunjung kembali. * * #kuningan #cibuntu #traveler #traveling #panorama #mountain #holiday #traveling #traveler #jalanjalan #trip #likeforlike #sunrise #green #trip

A post shared by NDue 'Rini Astuti Handayani' (@ndueisndue) on

Cirebon adalah tempat ke empat dalam urutan tempat yang paling saya rindukan untuk kembali. Yang pertama tentulah Klaten, kemudian Yogyakarta, Bali, dan Cirebon. Berkunjung ke Cirebon saya seperti kembali ke kampung halaman sendiri. Kota dimana semua akses transportasi bisa masuk dan kota dimana semua makanan untuk berkuliner dengan rasa yang nikmat dan harga yang sangat-sangat wajar dikantong.

Kali ini saya berkunjung ke Cirebon melalui transportasi mobil pribadi yang mana nantinya akan melewati tol Cipali. Seumur-umur saya belum pernah melewati tol Cipali dan ketika memutuskan untuk berangkat ke Cirebon menggunakan jalur ini hati saya rasanya bahagia sekali.

Dengan background Gunung Cermai. Luar biasa cantiknya. Gunungnya bukan orangnya. :p

Kunjungan pertama saya ke Cirebon adalah Natal tahun 2015 yang lalu. Walau saya tidak merayakan Natal, tetapi ketika saya melihat liburan yang lumayan panjang dan juga tiket pulang kampung atau berlibur ke tempat lain tidak masuk akal, jadilah saya memutuskan untuk ke Cirebon saja sama mama. Saat itu kami PP menggunakan kereta api. Berangkat dengan Argo Muria pulang dengan Kereta Eksekutif Tegal Bahari.

Dari kecil saya penasaran dengan Cirebon, karena ketika bolak-balik pulang kampung melewati jalur apapun yang menjadi patokan Mama dan Bapak adalah Cirebon. Rasanya kalau sudah memasuki Cirebon seperti babak baru dalam perjalanan kami. Cirebon menandakan ujung dari perjalanan yang nantinya terbelah menjadi utara untuk menuju ke Semarang, atau selatan menuju ke Yogya dan Klaten tempat kelahiran saya.

Setelah kunjung pertama, saya mendapati kesempatan untuk berkunjung kembali di tahun 2016 dan 2017 dalam acara West Java Travel Mart. Mama saya adalah termasuk pejuang wisata Indonesia ini. Mama saya bekerja sebagai Agent Tour dan saya sendiri membantu Mama untuk mempromosikan kantornya dan juga saya yang suka jalan-jalan mendapati kesempatan seperti ini rasanya bahagia sekali. Dan kali ini adalah kali keempat saya ke Cirebon.

Tujuan kali ini selain ke Cirebon adalah ke Desa Wisata Cibuntu yang berada dekat ke arah kuningan. Acara kali ini saya pergi bersama rekan-rekan dari departemen finance, accounting and tax Toray. Serta kami mengajak pula atasan kami yakni Mr. Akiyama. Jadi karena kami acaranya gathering rasanya tema wisata kali ini adalah kekeluargaan dan tidak yang ekstrim seperti main paralayang. Bisa-bisa ada yang jantungan nanti. Hahaha.

Setelah perundingan yang disepakati kami memutuskan untuk menginap dengan menggunakan dua metode. Malam pertama kami menginap di homestay, dan malam kedua kami menginap di lapangan alias camping. Saat membayangkan saja saya rasanya sudah tidak sabaran, karena pasti sangat-sangat menyenangkan. Its gonna be fun, and lets start this holiday!

Kami menginap di homestay Teratai yang juga pernah terpilih sebagai homestay di Cibuntu. Pemenang dari homestay ini menerima penghargaan dari Menteri Pariwisata Indonesia yang berlangsung di Singapura. Rasanya saya penasaran kenapa bisa terpilih, ya? Padahal saya perkirakan pasti ada beberapa homestay yang ada disana. Dan ketika kami sampai di homestaynya Mbah Kung alias Mbahnya Mba Riska, barulah kami setuju bahwa homestay ini layak menang. Homestay Teratai memiliki 5 kamar untuk tamu, semuanya bersih. Mbah Putri menjaga kebersihannya dengan detail. Dan kalau kalian menginap di Homestay Teratai, request sama Mbah Putri untuk dibuatkan wedhang ronde. Rasanya enak tidak ada duanya. Masakah Mbah Putri untuk sarapan kita juga enak. Saya kebayang kalau aja setiap hari saya disana, pasti badan saya ini makin menggendats gak karuan. Hahaha.

Didepan Homestay Teratai full team + Mbah Kung & Mbah Putri.

Cuaca di Cibuntu sangat-sangatlah dingin. Saya tidur menggunakan jaket dan menarik selimutpun rasanya tidak mempan. Rasanya dingin ini menyelinap menusuk ketulang-tulang di sekujur tubuh saya. Saya ingin segera terlelap dan ingin rasanya segera pagi untuk kemudian menikmati apa yang disuguhkan oleh Cibuntu.

Pagi itu agenda kami berkeliling Desa Wisata Cibuntu. Kenapa dinamakan Desa Wisata? Karena sepanjang tracking kita akan dijelaskan apa-apa saja yang nanti kita akan temui. Oh ya, jangan lupa menggunakan topi caping gunungnya, ya. Ketika saya tanya kenapa harus menggunakan ini? Pemandunya menjawab untuk melindungi kepala supaya tidak kepanasan. Kalau aja pertanyaan itu saya yang menjawab, saya akan jawab silahkan kalian pakai, supaya kelihatan kece kalau difoto. Hahaha.

Tong sampahnya nyebelin gak mau dipindah. 😐

Memasuki perjalanan pertama ditemui wisata purbakala dan peninggalannya. Dijelaskan juga kenapa disebut purbakala karena konon katanya situs tersebut berkaitan dengan asal-usul desa Cibuntu. Karena ditempat ini juga ditemukan perkakas yang digunakan sebagai alat bantu manusia zaman dulu. Karena saya menyukai sejarah, jadi saya mengangguk dan menyetujui bahwa memang manusia itu penuh dengan sejarah. Asal jangan sejarah masa lalu dengan kenangan aja yang diinget, yah!

Kemudian di perjalanan selanjutnya kami bertemu dengan air mata kahuripan. Sumber air ini berasal langsung dari pegunungan Cibuntu. Konon, yang meminum air ini akan dientengkan jodohnya dan mendapatkan wajah yang selalu awet muda. Air ini sudah pernah diteliti dan bisa diminum walau tanpa dimasak. Saya pasti selalu senang mencoba hal-hal beginian. Mengenai mitos itu tergantung kepercayaan masing-masing, tetapi rasa airnya memang benar-benar segar. Dan semoga saya benar-benar awet muda, ya!

Okeh ini muka gak nyantai. Tidur 3 jam aja bangun-bangun udah begini bentuknya. wkwkkwkw

Perjalanan selanjutnya kami menemui hamparan hutan seperti karet kalau saya bilang, Nah di hutan ini sudah mulai digunakan untuk acara berkemah dari sekolah-sekolah. Ditempat ini saya sudah kelelahan jadi yasudah saya gak ambil foto deh. Huft.

Perjalalan dilanjutkan untuk melihat benda bersejarah lagi. Ada semacam arca purbakala yang bisa dilihat oleh mata. Arca tersebut sudah diberi pagar dan biasanya ada penjaganya yang memberikan akses kepada pengunjung untuk masuk. Kalau menurut penglihatan saya arca ini menyerupai ratu. Dan kalau kita menghentakkan kaki ketanah seperti tanah dibawah itu ruang hampa yang tidak ada isinya. Ada semacam bunyi pong, pong tapi tidak amblas. Bagaimana bisa, ya? Allah yang menciptakannya dan kita senagai manusia harus mensyukuri segala ciptaan-Nya.

Perjalanan dilanjutkan menuju air terjun Curug Gongseng. Saya tidak tahu mitosnya kalau mandi disini apakah juga bisa awet muda atau tidak, yang pasti saya mandi disini rasanya sejuk luar biasa. Pemandangan membentang indah sekali. Gunung yang indah, sawah, dan bumi perkemahan yang ada di depan mata. Subhanallah ternyata Cibuntu ini benar-benar desa wisata yang menentramkan pikiran juga jiwa. Saya benar-benar langsung jatuh hati merasakan di titik ini. Setelah hampir 1 jam mandi, kami memutuskan untuk pulang ke homestay dan melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Seger dan mari berpose..

Setelah selesai beberes, waktu menunjukkan jam 10.00 dan kami bersiap untuk ke museum perjanjian Linggarjati yang ada di Kuningan. Saya baru pertama kali berkunjung ke tempat ini dan sama sekali tidak terbayang apa-apa saja yang bisa saya dapati disini. Ketika sampai di kawasan museum ini saya langsung berdecak kagum. Ada banyak sekali bendera merah putih yang berkibar di tempat ini. Ternyata, memang ada program yang dirancang untuk mengibarkan 1.000 (seribu) bendera merah putih saat itu. Saya kurang paham apakah karena bulan itu adalah bulan kemerdekaan Indonesia, ataukah program ini akan berlanjut sampai dengan batas waktu yang tidak terhingga. Intinya, tempat ini benar-benar indah.

Seribu Merah Putih.

Untuk tiket masuk kawasan ini saya kurang tahu detailnya. Menurut saya tidak terlalu mahal, seperti museum-museum lainnya. Karena pada saat membayar, sudah ada Bu Murti dan Pak Kiki yang mengurus semuanya. Setelah mendapatkan guide kami dijelaskan mengenai lokasi wisata ini. Pada intinya tempat ini dulunya digunakan oleh Presiden kita Bapak Soekarno untuk melakukan perundingan secara de facto bahwa Belanda mengakui Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura. Dan Belanda harus meninggalkan wilayah de facto paling lambat tanggal 1 Januari 1949.

Saya merinding ketika menerima penjelasan tersebut. Ternyata dahulu Belanda mau pergi meninggalkan Indonesia saja tidak semudah itu. Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, masih perlu perundingan untuk menyatakan wilayah mana-mana saja yang menjadi kekuasaan Indonesia sampai akhirnya dari Sabang-sampai Merauke bebas merdeka dari para penjajah. Ditambah dengan peninggalan tempat tidur dan kursi-kursi yang ada disana. Saya bisa merasakan bahwa benda-benda ini jadi saksi bisu saat itu. Dan mereka yang kita telah berpulang dan pernah berada di lokasi ini tidak akan pernah tergantikan oleh apapun dan siapapun.

Meja yang menjadi saksi bisu perundingan saat itu.

Perjalanan berakhir, dan kami memutuskan untuk berpindah ke daerah Cirebon. Sebelumnya kami mampir untuk makan siang dahulu.

Tetep foto dulu didepan rumahnya sebelum pulang.

Memasuki kawasan Cirebon, saya ditugaskan untuk memutuskan lokasi mana-mana saja yang bisa didatangi. Karena Cirebon identik dengan sejarah, saya memutuskan untuk Goa Sunyaragi dan Keraton Cirebon.

Pertama yang didatangi adalah Goa Sunyaragi. Pintu masuknya berbayar Rp. 10.000,- Saya menyukai Goa ini karena bentuknya yang unik. Selain itu, kalau tempat ini benar-benar bagus diambil foto dari manapun. Gerbang masuknya seperti berada dibali, dan bentuk goanya yang unik menyerupai karya seni fractal, bentuknya tidak beraturan tetapi indah, sangat indah.

Goa Sunyaragi with full team.

Goa ini konon dibangun sebagai tempat beristirahat dan mediasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Wajar saja kalau kalian kesini, kalian akan menumakan ketenangan dan hanyut dalam suasana tenang. Saya sendiri kalau kesini rasanya seperti gak mau pulang. Cuasa panas bagaimanapun saya tetap menyukai untuk bertahan di Goa ini karena Goa ini sudah saya cintai sebegitu dalamnya.

Feel like Im in Bali~
Masih banyak lagi tempat yang bisa dipakai buat foto.

Baiklah, waktunya kami melanjutkan perjalanan ke Keraton Cirebon. Dan ini menjadi kali ketiga saya berkunjung ke Keraton. Tadinya saya berpikir bahwa saya akan bangga memperkenalkan kereta kencana dan lukisan Prabu Siliwangi yang 3 Dimensi tersebut. Tetapi, Keraton mengalami perubahan dimana benda-benda bersejarah tersebut dipindahkan keruang baru yang mana kita harus bayar lagi apabila masuk. Dan menurut saya bayar masuknya lumayan mahal. Dibandrol Rp.25.000,- jadi kami hanya singgah sebentar dengan wajah yah dikatakan sedikit kecewa. But its owkey, we’re going come back to Cibuntu.

Yang penting punya fotonya dulu~

Sampai di Cibuntu sudah petang, jadi kami bersiap-siap mandi dan langsung menuju Camping Ground. Ini semacam kemah bahagia gitu atau bahasa gaulnya campcer a.k.a camping ceria. Jadi kita sudah disediakan makan malam, tenda, selimut, dan perlengkapan semuanya. Untuk toiletnya sudah disiapkan juga bangunan permanennya. Jadi kawasan ini sudah di support dengan banyak fasilitas yang mendukung. Biaya permalam disini saya kurang tahu juga, karena sudah ada Mba Riska dan Bu Murti yang mengkoordinasi, kalian bisa coba cari tahu di mesin pencarian bernama Google, ya.

Acara malam hari ini romantis banget. Berlangitkan bintang cerah. Kami bahagia, larut dalam suasana malam itu. Akhirnya saya merasakan berkemah lagi. Bahagia. Tapi, karena fisik sudah lelah, jam baru menunjukkan angka 9 malam saja udah nyeri semua. Gigi sudah mulai gemletak beradu gak karuan. Saya lihat di temparature yang ada ternyata suhu 20 derajat celcius.

Daripada saya kalah dengan suasana dingin, saya mengalihkan dengan bernyanyi, makan, dan memanggang jagung. Kebetulan kami dibuatkan semacam layar tancap gitu, jadi sekalian bisa nonton atau nyanyi bersama. Kami mencoba menerbangkan lampion, tetapi, dapat peringatan bahwa lampion bisa saja membakar hutan. Angin sangat kencang dan hutan dalam keadaan mudah terbakar. Jadi, kami hanya memegang lampion-lampion itu sambil berbahagia dalam temaram malam.

Seumur-umur baru megang lampion. Terharu. T_T

Jam menunjukkan angka 11 malam, dan suhu sudah berada di 17 derajat celcius. Kali ini saya benar-benar tidak kuat diluar, semua sudah memasuki tenda, giliran saya memasuki tenda berdua dengan Mba Laura. Saya terbangun jam 1 pagi karena kedinginan dan kebelet pipis. Dalam gelapnya malam saya berjalan sendirian ke toilet. Suhu mencapai 15 derajat celcius. Dan saya makin gak karuan rasanya.

Pagi akhir menyapa kami. Saya kemudian bergegas olahraga pagi menerbangkan layang-layang. Yang lain ada yang mandi di curug lagi atau hunting foto ke tempat yang lain. Setelah sarapan, saya memutuskan untuk berenang. Karena disana juga sudah ada fasilitas kolam renang. Setelah 1 jam setengah berenang abal-abal karena saya tidak terlalu pandai, saya dipanggil untuk beberes dan kemudian pulang.

Jam 11 tepat kami meninggalkan Kuningan setelah berpamitan dengan Mbah Kung dan Mbah Putri. Karena estimasi kami sampai di Jakarta harus sebelum jam 3 sore untuk bisa beristirahat dirumah. Kali ini perjalanan saya ke Cirebon bertambah pengalaman lainnya dengan mengunjungi desa Cibuntu. Saya selalu bahagia.

Dalam kehidupan ini adakalanya kita harus melewati tempat yang sama untuk sekedar mengingat perjalanan dan kenangan sebelumnya. Karena perjalanan ditempat yang sama dengan orang yang berbeda akan selalu memberikan kenangan yang berbeda pula. Dan kenangan-kenangan tersebut yang nantinya akan mengingatkan kita pada satu sama lain bahwa kita pernah ada di satu masa yang sama.

Terima kasih Cibuntu, Kuningan, dan Cirebon untuk setiap keramahan yang ada. Suatu saat saya akan kembali lagi untuk memeluk kalian dalam kenangan yang baru.

Sudah dua kali mengunjungi Gua Sunyaragi – Cirebon, dan selalu merasa bahwa saya sedang di Bali. * * Menurut saya, Gua ini sangat unik. Struktur bebatuan yang terbentuk seperti goresan fractal yang pernah disukai oleh rekan saya @gbhz30. Bebatuannya berkarakter, ketika menyusuri Gua ini juga seperti bermain didalam labirin. * * Hanya labirin, bukan labirin rasa yang pernah saya tuliskan. Indonesia kaya akan peninggalan-peninggalan sejarahnya. Kita sebagai pemuda-pemudi penerus bangsa haruslah bangga dan menjadi tugas kita untuk Terus menjaga dan melestarikannya. * * Melancong keluar Negeri boleh saja, tetapi satu-satunya tempat yang paling nyaman dan indah adalah pulang ke Indonesia. Merdeka Negaraku! #cirebon #traveling #travelgram #fractal #trip #traveler #jalanjalan #holiday #likeforlike #guasunyaragi #gua #sunyaragi #history #wonderfullIndonesia #Indonesia #blue

A post shared by NDue 'Rini Astuti Handayani' (@ndueisndue) on

Regards,

Ndue.

2 thoughts on “Ndue’s Journey to Desa Wisata Cibuntu (Kuningan) and Cirebon (August, 2017)”

  1. Kuningan – Cirebon memang keren !!

    Ayo semuanya jadikan Kuningan – Cirebon sebagai destinasi wisata untuk liburan kalian.
    Dan jangan lupa mampir ke Desa Wisata Cibuntu ya. 😀

    It’s time to Back to Nature!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *