Posted on

Ndue’s Journey to Danau Biru Cisoka – Tangerang (2017)

Postingan perihal perjalanan saya ke Hong Kong saya postponed dulu, ya. Karena saya lagi kepikiran untuk menulis acara weekend list saya untuk sekedar kuliner atau menjelajahi tempat-tempat disekitaran domisili saya. Karena saya memiliki target baru bahwasannya saya harus pergi keluar untuk menghibur diri setelah seminggu bertempur dengan hiruk-pikuk Jakarta. Duh, luar biasa sekali bahasa saya kali ini, ya!

Baiklah, postingan kali ini saya bermain disekitaran tempat yang kemungkinan beberapa tahun kedepan saya singgahi. Setelah juga berdiskusi sama Dia, akhirnya mencapai kesepakatan untuk menjelajahi Tangerang. Dari dulu, saya kepengennya pergi ke Planetarium, hanya saja Planetarium masih dalam perbaikan yang entah harus berapa lama lagi dibuka secara umum.

Perjalanan ini ke lokasi bernama Danau Biru Cisoka. Atau bisa juga bernama lain Danau Biru Cigaru, Telaga Biru Cisoka, dan bisa juga menjadi Danau Cisoka Cigaru. Apapun namanya, lokasinya selalu sama ketika kalian mengetikkan petunjuk ke Danau Cisoka.

Cuaca saat itu mendung cenderung hujan. Setelah meyakinkan diri bahwa   harus berangkat karena tergiur sepanjang jalanan berwarna biru alias tidak ditemukan tanda-tanda macet, jadilah kami berangkat ke tempat yang ngehits ini.

Perjalanan ditempuh menggunakan sepeda motor selama 1 jam 10 menit untuk jarak tempuh dari rumah saya 40KM. Luar biasa, perjalanan kali ini menyebrang Provinsi. *oke kali ini lebay*

Benar kalau lokasinya memang masuk kedalam seperti harus masuk ke gang perumahan warga sekitar. Jadi, jangan berharap lokasinya benar-benar dipinggir jalan raya. Kalau bingung, tinggal ikuti saja GPS mengarahkan. Jalanan tadi masih bisa dilalui mobil simpangan kok, jadi jangan paranoid dulu mendengar berita kalau jalanan sempit atau apalah. Semua itu harus dibuktikan dengan jejak langkah kaki kita di sana. *ciye~

Sebelum masuk ke danau, ada plang tanda bahwa masuk ke Danau tersebut harus melewati penjaga jalan didepan. Saya katakan penjaga, karena kami membayar Rp. 5.000,- untuk bisa menuju ke arah danau. Disini, tidak ada tiket masuk alias tidak ada bukti pembayarannya. Setelah itu masuk ke gerbang kedua membayar lagi sebesar Rp. 5.000,- kali ini ada tiketnya. Dan untuk parkir sepeda motor kita juga harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 5.000,- Jadi total untuk administrasi dua orang dengan satu sepeda motor adalah Rp. 15.000,-

Sampai disana cuaca masih mendung. Air di danau tidak menampakkan warna biru seperti yang sering saya lihat di Instagram. Seketika hati saya sedih dan menciut.

Sambil iseng berfoto-foto dilokasi manapun, semesta mendukung saya kali ini. Awan mendung bergeser menjadi awan yang cerah dan menghasilkan foto-foto yang cantik juga untuk menjadi koleksi dan dibagikan di Instagram saya. Alhamdulillah.

happiness 🙂

Oh ya, di danau ini semua aman. Tidak ada pengamen atau pengemis. Walau terkesan dikelola oleh warga, semuanya bisa sesuai dengan harapan kita. Hanya saja, kalau Pemerintah peduli, akan banyak peluang usaha tercipta disana. Seperti tempat makan permanen atau toilet permanen disekitaran danau-danau ini.

Okeh, saya hanya bisa berpendapat dan membaca dari internet. Itu beneran danau, ya? Sebenarnya dulu ini adalah galian pasir yang kemudian sudah tidak beroperasi lagi. Kemudian hujan menggenangi bagian-bagian yang menjadi galian ini. Jadi genangan air itu kena paparan sinar matahari dan perubahan cuaca sehingga berubah menjadi warna biru atau hijau. Walaupun ini galian, tidak dianjurkan untuk berenang disana. Konon, dalamnya lebih dari 10 Meter. Saya bayanginnya aja merinding, jadi nikmati saja untuk bisa berfoto-foto disana.

Jangan mencoba berenang..

Rekan-rekan saya yang melihat foto saya pada heran. Bahkan sebagian kena tipu oleh saya yang mengaku bahwa lokasi pengambilan foto ini adalah di Belitung yang terdapat danau kaolin. Sebagian percaya, sebagian keukeuh bahwa saya menipu. Ketika saya berkata jujur sebagian yang percaya tadi mencari tahu lokasinya dan ingin berkunjung kesana. Cihui kan saya? Bisa membuat orang penasaran dan semoga benar-benar tertarik untuk berkunjung kesana.

Setelah dua jam saya berkeliling dan mengambil foto dengan berbagai macam gaya juga yang aneh-aneh semua karena kelakuan saya itu, saya memutuskan untuk meminta pulang saja. Karena cuaca mendadak mendung dan takut turun hujan. Semua makanan disana terlihat enak, tetapi saya belum tertarik untuk mencobanya. Saya lebih tertarik dengan Bapak-Bapak penjual cilok yang dibalurin telur kemudian digoreng. Enak betul rasanya dan murah meriah.

candid :p

Mengenai perjalanan kali ini menyenangkan. Dan terima kasih ‘Dia’ yang selalu menemani saya dan berusaha untuk membuat hasil foto-foto saya selalu keren untuk dibagikan di Instagram saya. Kalian bisa langsung mampir ke blog saya, ya!

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.  🙂

 

Regards,

 

Ndue

 

One thought on “Ndue’s Journey to Danau Biru Cisoka – Tangerang (2017)

  1. […] Baca juga : Ndue’s Journey to Danau Biru Cisoka – Tangerang […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *