Posted on

Semoga, Kelak..

Ada hal yang harus dicoba selama kita hidup di dunia ini. Entah percobaan akan hal apa-apa saja yang ada di dalam kehidupan ini. Tetapi, percobaan itu bisa jadi berhasil ataupun gagal. Kemarin, saya pun mencoba sesuatu yang diimpikan oleh orang tua manapun yang ada di Indonesia atau belahan dunia lainnya. Bukan sesuatu hal yang membanggakan atau menyenangkan untuk saya ceritakan disini. Hasilnya membuat saya patah hati, hancur berkeping-keping.

Saya masih saja belum bisa membanggakan orang tua saya. Walapun Mama saya mengucapkan kalimat penyemangat bahwa saya harus bangkit dan mencoba lagi, tetapi tetap saja ada sesak dan kecewa di relung hati saya. Anak satu-satunya ini masih saja belum bisa membanggakannya. Maafkan saya, Ma…

Andai saja saya diberikan waktu yang lebih banyak lagi, dan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, saya berjanji dan mengikat janji seumur hidup terhadap diri sendiri bahwa saya harus menjadi seseorang yang mengingat bagaimana orang tua saya akan berbahagia dan bangga melahirkan saya ke dunia ini. Ya, andai saja saya diberikan kesempatan itu. Tetapi, saat ini belum.

Banyak sebenarnya yang bisa dicoba diluar sana dengan tawaran yang lebih baik lagi, tetapi untuk orang tua atau keluarga saya di daerah, bahwa apabila saya berhasil akan memberikan cerita dan kebanggaan sendiri. Saya menyadari umur saya tidak lagi muda atau disamakan dengan-mereka-yang baru saja lulus. Tetapi, saya harus mencoba untuk kemudian mendapati pengalaman yang kelak saya bagikan ke anak dan cucu saya.

Saya menuliskan di blog ini bukan karena saya ingin berkeluh kesah. Tetapi, satu-satunya media dimana menjadi pengingat dari setiap kehidupan saya adalah di blog ini. Sama halnya ketika saya menganggur dan mencari pekerjaan kesana-kemari dua tahun lalu. Saya menuliskan tiap-tiap cerita perjuangan saya interview tetapi tetap saja masih belum mendapati tempat bernama ‘kantor’ yang menaungi saya bekerja. Sampai akhirnya saya diterima di tempat kerja sekarang ini. Sayangnya blog lama saya crash dan banyaknya virus serta blog saya menjadi ajang penjualan alat-alat berbau pornografi. Saya marah dan kecewa sehingga saya harus menghapus dan me-reset blog saya dari awal.

Saya juga menginginkan hal tersebut menjadi abadi dalam tulisan dan kemudian bisa saya baca dikemudian hari. Bahwa saya, pernah merasa terpuruk dengan hancur hatinya, menghancurkan mimpi Mama dan keluarga saya. Saya menjadi sangat sedih dan tak berdaya saat ini. Benar kata Mama saya bisa mencoba dan berusaha dengan belajar dan memperbaiki diri, hanya saja di setiap kalimat yang terlontar dari Mama, saya merasakan pedih dan sedih karena saya tidak juga mengabarkan hasil yang terbaik untuk hari ini. Maafkan saya, Ma..

Saya menyayangi, mencintai, menghormati orang tua saya tanpa batas. Saya menyadari tugas saya dilahirkan di dunia ini selain menjadi pelengkap dari keluarga kecil kami, saya menyadari tugas dan kewajiban yang hakiki. Bahwa saya harus menjadi anak yang selalu membanggakan Mama dan Bapak entah dengan bagaimana caranya. Bahkan sampai Bapak meninggalkan dunia di tahun 2011 lalu pun saya masih saja merasa belum cukup membahagiakan dan membuatnya bangga. Maafkan saya, Pak..

Kalaupun pada akhirnya saya tetap gagal dan dalam kehidupan ini saya tidak lagi mendapatkan kesempatan tersebut. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat orang tua saya bangga dan bahagia pernah melahirkan saya kedunia ini. Karena ada banyak jalan menuju Roma, pun begitu dengan cita-cita saya sampai menua nanti.

Kalau saja ada pertanyaan yang dilontarkan ke saya saat ini, apa cita-cita kamu yang sebenarnya, Ndue? Konsistenkah dari kamu kecil, Ndue?

Jawaban saya kini berubah. Cita-cita saya hanyalah membahagiakan orang tua saya dengan menjadikan diri saya sebaik-baiknya. Tidak perlu menjadi Dokter, Polisi ataupun Presiden. Menjadi diri sendiri dengan hasil pencapaian sendiri pun sudah menjadikan diri saya lebih baik daripada siapaun dan apapun.

Semoga saja satu, dua, tiga, atau lima tahun kedepan ketika saya kembali menemukan tulisan ini, saya sudah berhasil dengan kegagalan saya kemarin. Dan saya akan mengingatkan diri saya untuk tidak berpuas diri, karena saya pernah merasakan terjatuh sesakit ini. Dan semoga saja Mama saya tetap bahagia akan pencapaian saya kelak. Semoga saja.

Seperti kalimat-kalimat mutiara yang saya hafalkan dari Sekolah Dasar dulu, bahwasannya kegagalan adalah sukses yang tertunda. Semoga kalimat mutiara ini berlaku untuk saya. Amin!

 

Jakarta, 17 September 2017.

Ditulis Minggu dini hari jam 01.10

 

Ndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *