Posted on

Ndue’s Journey to Gumuk Pasir Parang Tritis – Jogjakarta ( Juli 2017 )

Hello, Gumuk Pasir. I Just love you. 🙂

Akhir-akhir ini perhatian dan keinginan saya untuk menulis dan mengisi artikel di blog ini hilang sudah. Entah karena alasan yang selalu ampuh saya pakai yakni tidak sempatnya saya alias sibuk untuk mengurusi blog ini. Tetapi, diluar perkiraan saya, Agustus 2017 ini menjadi bulan yang luar biasa memerdekakan saya dengan liburan yang hampir setiap minggu selama 3 minggu berturut-turut. Alhamdulillah.

Perjalanan yang akhirnya sukses dan saya nyatakan menyenangkan paling hebat di sepanjang tahun 2017 sampai dengan hari ini adalah Hongkong-Macau Trip. Dan saya akan tetap menuliskannya kemudian. Tenang saja, saya janji kali ini akan menuliskan dan membagi pengalaman saya kemarin di Negeri yang terkenal dengan kalimat Hongkong-nya. Seperti contoh dibawah ini:

X : Ndue, kamu kurusan, deh?

N : Kurusan dari Hongkong?!

Atau banyak percakapan yang sepertinya Hongkong itu adalah Negara yang tidak masuk diakal atau susah digapainya. Padahal, selama ada niatan pasti bisa singgah juga. Jadi bersabar saja, ya! Saya pasti akan menuliskannya. 🙂

Perjalanan ke Jogja kali ini di bulan Juli. Bulan yang menjadi suatu momentum hebat dalam hidup saya. Karena bulan Juli adalah bulan dimana saya dilahirkan di dunia ini. Jadi, saya beranggapan bahwa perjalanan bulan Juli ini adalah semacam kado untuk diri saya sendiri.

Im ready for this trip! Yiayyy.

Kota yang saya pilih adalah Jogjakarta. Selama setahun ini saya bolak-balik ke kota yang penuh cinta dan kenangan ini. Tetapi, tetap saja Jogja selalu saja memberikan magnetnya untuk saya kembali dan kembali lagi. Entah karena suasana kotanya, atau memang kota ini menjadi daya tarik sendiri untuk saya selalu singgah di tempat ini.

Gak bosen, Ndue? Jogja lagi, Ndue?

Pertanyaan yang sering saya dengar, dan saya selalu mengatakan tidak pernah bosan untuk singgah. Karena Jogja itu seperti never ending story jadi selalu ada saja tujuan baru dimana saya menghabiskan waktu atau mendapati hasil foto-foto buat saya bagikan ke Instagram saya.

Well, kali ini saya putuskan untuk mengunjungi Gumuk Pasir Parangtritis. Gumuk atau semacam padang pasir ini berada di selatan Jogja, atau sebelum kita ke Pantai Parangtritis. Jadi, karena saya ini suka banget meriset lokasi atau gaya apa yang bagus untuk IG saya, saya selalu memastikan bahwa tempat yang saya tuju adalah benar bukan di sebelahnya atau salah tempat. Karuan saja, ketika saya berhenti di gumuk pasir bukan seperti yang ada digambar-gambar yang selalu di post oleh akun IG dari Jogjakarta.

Icon of Gumuk Pasir – Jogjakarta.

Perbedaan itu terletak di ayunan yang ada di gumuk pasir itu. Jadi ada dua bagian gumuk pasir yang ada di kawasan parangtritis ini. Yang ayunannya satu atau disebelah timur itu bernama Gumuk Pasir Parangkusumo dan yang ayunannya dua disebelah barat itu bernama Gumuk Pasir Parangtritis. Awalnya saya berpikir apakah ayunannya sudah di renovasi? Ternyata ketika saya tanyakan ke bocah-bocah yang bermain disana bahwa yang saya maksudkan ada disebelahnya.

Take a photos like a model. 😀

Alih-alih ingin langsung bergegas pindah lokasi, saya malah banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Gimana saya bisa move on kalau pasir-pasir yang ada disini itu halus banget. Bahkan tingkah saya sendiri seperti anak kecil yang sedang mandi pasir. Kebahagiaan ini natural tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Juga rasa takjub atas tempat yang Instagramable seperti ini. Kalau saja ini ada di Jakarta pasti banyak anak-anak kekinian yang ketempat ini dan berebut foto. Sayangnya, ketika saya mengunjungi lokasi ini cenderung sepi hanya beberapa orang saja.

Yang ayunannya satu, bernama Gumuk Pasir Parangkusumo.

Jarak yang ditempuh dari kota Jogja menuju lokasi ini adalah sekitar 26KM. Saya menempuhnya menggunakan sepeda motor yang disewa. Dan walaupun jauh, jalan di Jogja ini tidak mengular kemacetan yang panjang seperti yang ada di Jakarta. Jadi saya bisa menikmati panorama yang disajikan oleh alam Jogja untuk sekedar memberikan warna yang lain untuk bisa diserap oleh kedua mata saya. Alhamdulillah. Saya menempuh perjalanan ini dengan suka-cita selama 1 jam lewat 10 menit saja.

Sampai di gerbang kawasan pantai selatan Jogja, siapkan uang sebesar Rp. 5.000,- per orang untuk masuknya. Dengan tiket seharga ini, saya bisa menikmati jajaran pantai yang ada di kawasan selatan Jogja ini. Dan selama parkir motor cukup membayar Rp. 3.000,- setiap lokasi yang didatangi.

Kalau jalan dari gumuk timur ke barat gak jauh, kok. Nanti sepanjang jalan ada pepohonan seperti ini. 🙂

Target saya di gumuk pasir untuk mengambil foto adalah 1 jam saja cukup. Tetapi, kenyataannya berbeda jauh. Sudah 2 jam saya ditempat ini. Panas terik tidak bisa menghalangi saya untuk menikmati bulir-bulir pasir yang ada di tempat ini. Sampai merengek untuk tidak mau pulang, karena saya sudah jatuh hati dan tidak mau berpisah dengan tempat ini.

Yang ayunannya dua, namanya Gumuk Pasir Parangtritis. Gak mau pulang dari tempat ini. 🙁

Karena keterbatasan waktu yang ada, jadi saya harus segera berpisah dan suatu saat nanti saya pasti akan singgah lagi. 🙂

Sampai jumpa, Gumuk Pasir. I just love you since the first time i feel you in my foot. I really really can’t move on from your memories. Please, take me back after this!

Deeply in love with you. 🙂

 

Regards,

 

Ndue.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *