Posted on

Ndue’s Journey to Watersport Nusa Lambongan – Bali ( Mei 2017 )

Banana Boat – Nusa Lembongan

Berlibur ke Pulau Dewata adalah mimpi dari kebanyakan orang yang ada di Dunia ini. Tidak terkecuali saya. Bali, menjadi sebuah tempat dimana saya merasakan rileksasi kehidupan yang seyogyanya. Bagaimanapun Bali pernah tercoreng karena dua kali kasus bom yang meneror tempat ini, tetap saja setiap orang ingin mengunjungi Bali sebagai tempat berlibur, menikah, bulan madu, ataupun urusan kantor.

Saya sendiri pernah mengujungi Bali di Tahun 2014 yang lalu. Saat itu adalah liburan keluarga kecil kami. Karena yang berangkat hanyalah saya, Mama, dan Titis. Liburan kali itu menyenangkan sekali, karena itu moment kali pertama keluarga kami bisa mengunjungi tempat di luar kota bersama setelah biasanya Mama jalan sendiri, atau saya berdua dengan Titis yang pergi. Pada saat itu, saya berdo’a di Uluwatu ataupun di Tampak Siring bahwasannya pada usia 3 tahun mendatang saya bisa mengunjungi Bali lagi. Mitos, bisa dipercaya ataupun tidak. Tetapi, saya benar-benar bisa mendarat dan menikmati Bali bersama sahabat-sahabat dari Mercu Caur.

Iseng mengikuti pameran Astindo (Asosiasi Travel Indonesia) yang ada di JCC senayan bulan Oktober tahun 2016 karena saat itu saya dan Corry mengunjungi pameran itu tujuannya adalah ingin mencari hotel di di Singapore untuk liburan kami bulan depan yakni November 2016. Tetapi, Corry melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di salah satu sudut dari booth yang ada di Astindo. Booth itu bernama Dream walk, dimana kami para pengunjung bisa merasakan bagaimana kehidupan air dan berjalan didalamnya. Hanya saja, PR selanjutnya adalah kalau kami membeli paket tersebut, kami haruslah terbang ke Bali. Dimana itu membutuhkan biaya untuk membeli tiket pesawat, penginapan, makan disana dan banyak pertimbangan lainnya. Kami mulai goyah saat itu dan berlalu di booth itu tanpa membeli paketan tersebut.

Pontoon. Tetapi bukan punya Dream Walk. yang Dream Walk saya tidak mengabadikannya. Maaf.

Setelah berputar sekali lagi, dan menghitung dengan cermat. Hitung-hitung sebagai investasi ke diri sendiri juga akhirnya kami mengiyakan untuk membeli paket tersebut dan merencanakannya liburan tahun depan, yakni 2017 untuk bisa berkunjung ke Bali lagi. Setelah sepakat dengan Corry bahwa kita harus belajar hemat lagi untuk bisa mendapati liburan yang wah, kami benar-benar nekat untuk membeli paket tersebut. Dan akhirnya dengan sangat hati-hati Corry menyimpan bukti pembelian paket itu dari bulan Oktober 2016 sampai Mei 2017, atau selama 7 bulan disimpannya. Terima kasih, Kakak.

Awal tahun 2017 kami menawarkan kepada teman-teman seperjuangan dari Mercu Buana. Alumni Mercu Buana saya namakan Mercu Caur. Saat itu yang tertarik adalah Obed dan Hulman. Tak apa, yang penting kami ada teman untuk bisa liburan sekeren itu. Dan Obed dengan kesungguhan hatinya sudah meng-issued tiket PP ke Bali dengan jadwal yang ditentukan. Obed menyusul membeli tiketnya setelah beberapa hari dari saya dan Corry membeli tiket Garuda Indonesia dengan harga yang ciamik! Tetapi Obed tidak kedapatan membeli tiket tersebut. Sehingga Obed dan Kami berbeda maskapai, yang terpenting adalah bisa sampai di Bali.

Formasi lengkap plus plus ada Blinya, tetapi ini bukan Bli Ketut.

Hulman tak kunjung ada kabar dan waktu cepat saja berganti. Bulan Maret menjadi penentu bagi siapa yang akan menemani kami ke Bali. Allah bekerja secara misterius, ditemukannya teman kami Putri yang selama ini seperti hilang, tetapi Putri Mercu bukanlah Putri yang hilang atau Putri yang ditukar. Putri selama ini jarang bertemu apabila ada arisan mercu karena dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pelajar yang meneruskan brevet A dan B untuk perpajakannya. Dari Putri, kami dipertemukan dengan Lidya, saya sendiri bahkan harus mengingat seperti apa Lidya, karena saya hanya bertemu dengannya di Semester Pendek sebulan 4 kali saja bertemunya. Tetapi benar-benar ajaib, mereka tiba-tiba saja mengabari bahwa mereka sudah meng-issued tiket dengan berbeda maskapai antara saya, Corry dan Obed. Sekali lagi, itu bukan masalah yang besar untuk kami atasi.

Sampai dengan April, hulman tak juga ada kabarnya.. sampai akhirnya kekhawatiran itu terjawab sudah. Kami dikabari bahwasannya Hulman haruslah memilih antara karirnya yang menjadi lebih baik atau memilih berlibur bersama kita tetapi karirnya menjadi tidak baik. Hulman sedang menjalani masa-masa penilaian dimana dia tidak diperbolehkan cuti walau satu haripun. Dan liburan ini mengambil hari Sabtu sampai Senin, dimana Senin kami harus cuti untuk merasakan sensasi berlibur ke Bali ini. Kami berempat sudah mendapati izin untuk cuti di hari Senin. Jadi harapan untuk Hulman bisa gabung bersama kami pupus sudah. Tak apa, kita memang harus sudah menjadi dewasa dalam menentukan apa yang baik untuk kita dan buruk untuk kita.

Sampai seminggu sebelum keberangkatan Mei 2017. Kami masih berharap Hulman memberikan kejutan yang menyenangkan. Seminggu sebelum keberangkatan kami mengkordinasi apa-apa saja dan pembagian tugas apa-apa saja yang harus dikerjakan sebelum, pada saat di Bali, dan setelah dari Bali. Setelah semua terbagi kami siap untuk berangkat minggu depan. Penginapan sudah OK, akomodasi disana sudah OK, transportasi sudah OK, konsumsi sudah OK, dokumentasi walau rencananya di handphone Obed tetapi ternyata ketika di Bali tidak memungkinkan jadi terbagi antara kita semua rata dengan kamera mirroless kesayangan saya. Semua sudah OK tinggal berang-berang bawa berkat, yuk mari kita berangkat!

Blue sea and Me 🙂

Cerita selengkapnya mungkin bisa saya tuliskan di postingan selanjutnya, karena di postingan ini saya ingin lebih fokus membahas perjalanan kami menikmati liburan watersport yang ada di Nusa Lambongan – Bali. Banyak teman-teman saya mengira bahwa sea walker yang kami kunjungi itu di Tanjung Benoa, saya sendiri tidak tahu pastinya kalau disana. Jadi kami menikmati semua wahana ini ada di Nusa Lambongan.

Minggu Pagi 21 Mei 2017 kami dijemput dari penginapan kami di Ubud jam 06.30 WITA. Kami dijemput oleh Bapak driver dari Dream Walk. Karena paket yang kami beli sudah full service dari penjemputan sampai pengantaran kembali. Dari Ubud, kami diantar kesebuah dermaga. Sayangnya saya tidak mengingatnya. Sepertinya didaerah Sanur. Dari sana kami mendaftarkan ulang untuk diberikan bermacam-macam gelang yang menandakan jenis permainan kami. Dan diantara para penumpang fast boat rasanya kami patut bangga karena gelang yang kami pakai banyak jenisnya itu menandakan apa yang akan kami nikmati di watersport nanti adalah yang paling lengkap dan paling mahal tentunya. Hahaha.

Dari fast boat tersebut kami singgah di salah satu pulau untuk menurunkan para turis dari Negara lain untuk menikmati paketan snorkeling mereka. Kapal menjadi sepi hanya tinggal rombongan kami berlima dan pasangan Steven-Sierra. Rasanya kapal ini menjadi kapal pribadi kami. Dari sini saja, kami sudah mulai menikmati perjalanan mahal ini. *eh

Its mine!

Permainan pertama adalah Glass Bottom Boat dan Mangrove Tour perjalanan melihat dunia air dari kapal yang beralaskan kaca. Kami norak! Tetapi kami juga berbahagia. Bagaimana tidak, Indonesia sedemikian sempurnanya alamnya. Kenapa kami selalu terpacu dengan Negara lain yang menawarkan shopping town-nya. Saya sampai mengucap syukur atas kesempatan ini. Bagaimana teduh dan syahdunya pulau ini. Indonesia sangatlah sempurna.

Dokumentasi By Putri. Mangrove Tour ada Bli Ketutnya di belakang.

Setelah selesai dengan Mangrove Tour dan melihat kapal Pontoon (semacam kapal transit di tengah laut untuk wahana sea walker dan lainnya) penuh pengunjung yang lain, kami singgah di Pulai Lembongan. Di Pulau ini kami mendapatkan fasilitas tambahan yakni bermain Canoe. Dan saya bersama dengan Obed, Obed yang notabene bukan kecengan, gebetan, ataupun kekasih saya. Terima kasih banyak untuk Bli Ketut dan Dream Walker yang benar-benar memberikan pelayanan yang luar biasa. Kami jatuh cinta, Bli!

Akhhhh totally berasa Nyonyah. Mewah kali liburan saya kali ini Mak…

Selesai bermain Canoe yang juga gagal karena tidak bisa mendayung dan juga saya yang riwil karena takut terbalik (pernah trauma hampir tenggelam di laut) kami dipanggil oleh Bli Ketut untuk segera menuju ke Pontoon karena pengunjung yang lain sudah selesai. Sekarang tiba saatnya giliran kami untuk memulai permainan laut ini. Mulai deg-degan tetapi banyak rasa bahagianya.

Canoe yang pencitraan aja ini mah..

Permainan pertama adalah Banana Boat. Saya pernah hampir tenggelam dan hilang di laut karena wahana ini yang pernah saya rasakan di tahun 2013 bersama Mama saya. Trauma itu tidak juga sembuh atau menghilang. Makanya dari awal saya meminta kepada teman-teman saya untuk jatuh dan terbalik. Bersyukurnya kami mendapatkan Banana Boat yang double atau berlapis dua. Sehingga kemungkinan terbalik sangatlah kecil. Alhamdulillah.

 

Ayok di tarik Bli.

Bermain Banana Boat ini menyenangkan sekali. Rasanya beban pekerjaan, beban cicilan kartu kredit, beban hutang yang lainnya sirna sudah. Saya bahagia luar biasa, begitupun rekan-rekan saya. Dan permainan berakhir siap-siap beralih ke permainan selanjutnya.

Terombang-ambing Sky Donut, Mengalahkan sakit karena cinta.

Sky Donut begitulah panggilannya. Atau donat terbang. Permainan yang membuat saya ketakutan luar biasa dan sampai menciumi donutnya, bukan untuk dimakan, karena saya sudah lemas luar biasa. Cukup satu kali putaran saja untuk saya memohon belas kasihan berhenti dan menyudahi permainan ini. Percayalah teman, rasanya terombang-ambing dengan permainan ini mengalahkan bagaimana sakit hatinya terombang-ambing oleh kepastian cinta. Sakit luar biasa. Sakit di tenggorokan, di selangkangan, di kaki dan juga di tangan. Kalau kalian tidak menekan erat-erat sesuai instrukturnya, jangan salahkan kalau kalian terbang dan jatuh ke laut. Tetapi karena permainan ini pula, rasa beban yang saya sebutkan diatas itu benar-benar semakin terlupakan.

Dan puncaknya, yang ditunggu-tunggu dari 7 bulan yang lalu. Yap, Sea Walker. Saatnya berjalan di laut. Saya ingin melihat Nemo, ingin melihat banyak ikan, dan saya banyak maunya. Setelah mendengarkan instruksi dari instruktur yang disana, kami mulai deg-degan dan ingin merasakan sensasinya. Satu-satunya kunci yang harus diingat adalah jangan panik. Benar rasanya, kami seperti Sandy di filmnya Spongebob. Saya sendiri merasakan bagaimana beratnya helm yang saya gunakan. Saat perlahan-lahan saya menuruni anak tangga dengan bantuan instruktur yang ada di sebelah saya, kuping saya mulai mendengung, tetap jangan panik.

Sea Walker minus Putri.

Sampai di penghujung tangga yang ada dikapal menandakan bahwa saya sudah bisa menapaki laut kedalaman 5 Meter tersebut. Bli di sebelah saya setia menggandeng saya. Walaupun saya sadar ini hanya menggandeng menuju tempat dimana kami bisa diambil fotonya, bukan digandeng ke pelaminan *eh. Pertama kali saya menoleh kebelakang, saya menangis! Benar-benar cengeng rasanya. Saya menangis karena saya bisa melihat laut dengan segala kesempurnaan yang ada di dalamnya. Subhanallah, Allah menciptakan sedemikian sempurnanya kehidupan di laut dan di darat. Sebelum menyentuh ikan-ikan itu saya berdo’a dalam keheningan antara saya dengan air laut. Terima kasih atas sebesar-besarnya kesempatan dan rezeki yang sedemikiannya sampai saya dan teman-teman saya berada di tempat ini. Saya berkali-kali memegang ikan-ikan yang ada di depan helm saya, ini nyata. Bukan mimpi. Allahu-akbar.

Maha sempurna ciptaan Allah.

Sayangnya rekan kami Putri tidak bisa terlalu lama didalam air. Tekanan udara yang menipis membuatnya menyerah. Kami diberikan kode diatas sebelum turun tadi. Bahwasannya apabila merasa tidak nyaman ada kode tertentu. Instruktur menegaskan bahwa ini baru saja dimulai, dan Putri juga menegaskan bahwa dirinya sudah menyerah. Jadi Putri diangkat dulu ke Pontoon. Tidak apa-apa yah Put, semoga ada rezeki lagi dikemudian hari sehingga bisa merasakan sea walker lagi.

Obed yang bukan gebetan, Kecengan, ataupun Pacar. Dan ini serasa honeymoon gambarnya sama dia. pppfttt.

Setelah 7 menitan kami dibawah dan puas sama ikan-ikan yang ada. Waktunya kami diangkat ke daratan. Helmnya terasa berat. Tetapi, tidak perlu khawatir karena sudah ada beberapa Bli di atas yang membantu memegangi Helmnya. Permainan ini berakhir. Kami tertawa bahagia dalam haru yang ada.

Begaya aja dulu…

Permainan terakhir adalah Snorkeling. Kami semua payah kecuali Putri. Luar biasa teman saya satu ini dia menyelam tanpa jaket pengaman. Dia sudah terbiasa menyelam rupanya. Saya hanya bergaya saja dipinggiran Pontoon. Karena Bli Ketut melihat tidak adanya Prospek yang bagus dari kami berlima, bergegaslah kami ke Nusa Penida untuk beristirahat dan makan siang. Seharusnya kami makan di Nusa Lembongan, sekali lagi Bli Ketut dan Dream Walk benar-benar luar biasa memberikan pelayanan ke kami. Kami singgah ke Nusa Penida untuk makan siang dan beristirahat. Bli, Kami makin cinta.

Putri in action. Taken with my GoPro. Yiayyy.

Waktu yang diberikan kepada kami adalah 2 jam. Cukup puas untuk kami makan, berenang dan mengabadikan moment dalam bentuk foto. Pemandangannya luar biasa. Beban-beban yang saya sebutkan diatas tadi benar-benar tenggelam. Kami serasa Nyonyah dan Tuan yang mendapati fasilitas sedemikiannya. Akh, luar biasa liburan kali ini. Mevvah, eh mewah maksudnya. 😀

Menu makanan yang ada adalah Buffet masakannya enak, pemandangannya lebih enak lagi. Toiletnya juga bersih, sabun dan shampoonya juga aromanya enak. Sempurna. Tidak ada yang bisa menandingi liburan kali ini semua berjalan menyenangkan.

Mari makan, abaikan Corry yang dibelakang mulai kepikiran tagihan…

Setelah selesai di Nusa Penida, kami di oper menuju Pontoon untuk transit dan berpindah ke fast boat untuk kembali ke dermaga dimana kami tadi berangkat. Permainan berakhir Jam 14.30 WITA. Sampai di dermaga, Corry menebus dokumentasi bawah laut tadi. Hasilnya banyak sekali untuk di share ditulisan ini. Sehingga sebagian saya sudah posting di media sosial saya di Instagram. Silahkan bisa melihat keseruan kami di IG saya.

Nikmat Allah mana lagi yang hendak kau dustakan?

Buah penantian dari 7 bulan lamanya terbayarkan dengan pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup ini. Saya pribadi puas atas pelayanan Dream Walk begitupun dengan rekan-rekan saya. Terima kasih Bli Ketut dan Dream Walk atas pelayanan dan liburan yang tidak terlupakan ini.

Karena banyak yang menanyakan harganya saya sekalian share disini ya.

Untuk paketnya kami mengambil paket A seharga : Rp. 1.700.000,- per Orang.

Dan untuk dokumentasi bawah lautnya seharga : Rp. 400.000,- per CD yang hanya bisa diisi 4 orang saja. Jadi kami membeli 2 CD karena personil kami ada 5. Sehingga total biayanya Rp. 800.000,-

Setelahnya kami diantarkan kembali menuju hotel kami di Legian. Tunggu perjalanan liburan ke Bali kami selanjutnya, Ya!

 

Regards,

 

Ndue. 🙂

Persahabatan bangai kepompong. Gelangnya warna-warni. Yipiiy.
Mangrove Tour. Indonesia Sempurna.
Menu makan siang yang enaknya luar biasa.
Dermaga sebelum berpisah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *