Posted on

Ndue’s Journey To Melacca – Malaysia (April 2017)

Melaka World Heritage City

Setelah sukses perjalanan ala backpacker ke Singapore November 2016 lalu, baru berselang satu minggu saja saya sukses meracuni teman seperjuangan saya yakni Corry untuk mengajaknya ke Negara Tetangga yakni Malaysia. Tadinya niat iseng tersebut karena banyaknya artikel yang saya baca perihal Malaka atau Melaka atau bisa juga Melacca. Nah, karena saya bisa mengambil hatinya dan meyakinkan si Corry bahwa ini menjadi pengalaman hidup, maka dia mengiyakan dan menyetujui untuk berkunjung ke Negara tersebut.

Dari November 2016 sampai dengan akhir Desember 2016 adalah waktu yang diberikan kepada saya untuk mencari maskapai murah tapi bertaraf Nasional. Rada pusing juga siy sebenarnya, karena kalaupun ada jamnya itu lho yang tidak bersahabat. Karena Semesta Mendukung, akhirnya saya mendapatkan tiket Malaysia Airlines dengan harga yang sangat-sangat terjangkau, Alhamdulillah.

Perjalanannya itu sendiri baru bisa terealisasi di Bulan April 2017. Dengan tidak menambahkan jadwal cuti karena cuti tahun 2017 sudah di sesuaikan dengan liburan yang ada. Maka, seperti kebetulan yang berlipat, long weekend, ditambahkan penerbangan yang terjangkau. Yippiy!

Tadinya sempat rada takut pas mau issued tiket MAS, tetapi karena saya selalu beranggapan bahwa Takdir dan Matinya seseorang sudah ditentukan, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi. Dengan semangat berlibur jadilah kami berangkat ke Negeri Jiran, Malaysia.

Sebelum berangkat, saya dengan Corry membagi tugas. Dia jadwalnya perihal transportasi disana. Karena kebanyakan review yang kami baca untuk transportasi menuju ke Sentral Malaka banyak dari KLIA 2 rada-rada pusing juga siy sebenarnya. Tetapi, setelah dijalani semua berjalan mulus dan kami sampai juga di Malaka.

Malaysia Airlines sendiri landing di Bandara Kuala Lumpur International Airport atau KLIA 1 atau juga KLIA saja. Disini, pusat dari penerbangan Nasional yang tiba di Negara Malaysia. Untuk mencapai ke Malaka sendiri kita harus ke Terminal Sentral Malaka. Jadi, tidak ada yang langsung ke bangunan merah Malaka. Kita harus transit dulu.

Terminal busnya sendiri ada di lantai bawah. Kalau kalian bingung, bisa bertanya ke petugas Bandara. Mereka siap membantu baik dengan Bahasa Inggris, ataupun Melayu. Kami langsung menuju ke lantai 1 dan langsung ditemui Bis di line 5 untuk segera melaju ke Malaka. Tarifnya sendiri lumayan mahal menurut saya, per orangnya RM 37,5. Dengan nilai tukar per RM-nya Rp. 3.500,- Tetapi, pas kami memasuki Bisnya, luar biasa nyaman sekali. Saya hitung hanya dengan 10 Orang saja, Bus tetap jalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Saat itu kami jalan di Jam 14.45 Waktu Malaysia.

Ini didalem bus siap untuk jalan-jalan.

Selama perjalanan dari KLIA 1 ke Sentral Malaka ditempuh dengan 2,5 jam. Jalanannya seperti tol dengan pemandangan hijau. Sayangnya saya tertidur selama 1 jam karena di pesawat tadi saya tidak tidur. Jadi saya hanya bisa menikmati perjalanan selama 1,5 Jam sisanya. Perjalanan ke Sentral Malaka tidak terkena macet jadi kalian bisa menikmati perjalanannya yang menyenangkan.

Sampai di Sentral Malaka, kami mencari bus ke dalam Negeri (bahasanya seperti itu) jalannya lumayan didalam terminal itu. Ikuti saja petunjuknya. Sampai kami menemui pintu dengan banyak Bus Panorama Malaka. Karena kami ingin ke Bangunan Merah (Stadthuys) kami mengambil Bus dengan jalur no. 17. Jadi jangan salah naik Bus ya teman-teman. Tarifnya sendiri di Bus ini hanya RM 3 dan bayarlah dengan uang pas.

Panorama Malaka No. 17

Setelah ditemui bangunan merah Bapak drivernya kemudian memberikan kode untuk turun dan banyak penumpang yang turun disana. Termasuk kami dan rekan traveler dari Argentina yang saya temui. Di Malaka sendiri kalau kalian ingin menginap, saya sarankan cari penginapan atau guest house murah di Jonker Walk. Banyak ditemui disana. Kami menginap di Layang-Layang Guest House. Walaupun tidak ada Teve, Kamar mandinya sharing dengan yang lain. Tetapi bisa di kategorikan nyaman dan bersih. Tentu saja harganya juga standar.

Kami sampai di penginapan sekitar jam 6 Sore waktu Malaysia. Istirahat sekitar 1 jam untuk mengisi daya baterai dan badan, kami melanjutkan jalan-jalan ke Jonker Walk di malam minggu untuk ngeceng eh bukan, untuk menikmati pasar malam yang ada di sana. Sebelum jalan, kami memutuskan untuk makan malam. Kali ini menu makannya ayam. Yiayyy! Untuk makan malam berdua cukup membayar RM 30 berdua. Harga yang standar dibandingkan biaya makan di Singapore. *hiks.

Ketemu kokoh Hokaido, ini kesukannya si Corry..

Jadi, Jonker Walk kalau malam minggu berubah menjadi kawasan pasar malam sepanjang jalan tersebut. Bukan sepanjang jalan kenangan lho ya. Nah.. Setelahnya kami makan malam, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran pinggir sungai Malaka. Padahal, sungai seperti ini di Indonesia banyak, saya suka sedih kalau mengingatnya. Kenapa di Negara tetangga, objek sungai bisa menjadi seramai dan semenarik ini. *drama mulai*

Pemandangannya sungai…

Anyway, kami memesan es kopi, teh hangat, dan kentang goreng semua dibayar seharga RM 18. Hampir 1,5 jam kami duduk santai di malam itu sambil membicarakan masa depan dan berharap suatu saat nanti kami bisa kembali ketempat ini dengan orang terkasih yang kemudian menjadi halal untuk kami. Saya suka suasana seperti ini, mungkin ini seperti Jimbarannya-Bali, tetapi rileksasi dari perahu-perahu yang lewat dan lampu yang cahayanya temaram menambah sempurna suasana yang ada.

Suasananya gak tergantikan..

Setelah jam 9 malam, kami memutuskan untuk berjalan ke Jonker Walk untuk melihat-lihat apa saja yang bisa kami beli. Selama hampir 2 jam menyelusuri jalanan malam dengan banyak pedagang menawarkan jajanannya, dan kami sudah membeli barang-barang yang sekiranya kami butuhkan, tiba saatnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Our drinks..

Sampai di kamar, jam setengah 12 malam. Setelah cerita lagi, barulah jam 12 Malam saya tertidur dan bangun di jam 6 pagi untuk persiapan jalan-jalan pagi menyelusuri jejak peninggalan sejarah Malaka.

Setelah sarapan roti dan minuman hangat yang bisa diambil dipenginapan, kami memulai perjalanan tepat jam 8.30 Pagi. Mulai melihat-lihat spot foto yang bagus untuk diambil dan bersyukurnya, didepan penginapan sendiri ada grafiti yang cantik untuk di ambil fotonya.

Dari ketinggian 80 Meter Menara Taming Sari

Icon malaka sendiri adalah kicir-kicir angin, gereja merah, gereja yang ada di bukit St. Paul, museum maritim, dan menara taming sari yang bisa melihat malaka dari ketinggian 80 Meter. Dan kami mengunjungi semuanya. Bahagia!

Menara Taming sendiri sama dengan Tiger Sky Tower  yang ada di Singapore, hanya saja menurut saya lebih suka menikmati dan merasakan TST karena selama menara tersebut berputar, kita akan dijelaskan tentang negara Singapore. Nah untuk menikmati wahana ini, kalian cukup membayar RM 27 sudah mendapatkan 1 botol air mineral.

Perjalanan malaka berakhir siang itu karena kami harus bergegas untuk menuju ke Kuala Lumpur. Sebagian foto sudah saya share di Instagram saya. Silahkan berkunjung ya.

Kemudian apabila ingin menanyakan budget dan itenary disana silahkan tinggalkan komentar ya.

🙂

Kota bersejarah Malaka.
Corry in action 🙂
St. Paul Malaka.
Jonker Street.
suka warna merahnya 😀
Grafiti depan penginapan.
Icon Malaka.. Salah satunya.
Gereja Merah Melaka.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *