Posted on

Ndue’s Journey to Watersport Nusa Lambongan – Bali ( Mei 2017 )

Banana Boat – Nusa Lembongan

Berlibur ke Pulau Dewata adalah mimpi dari kebanyakan orang yang ada di Dunia ini. Tidak terkecuali saya. Bali, menjadi sebuah tempat dimana saya merasakan rileksasi kehidupan yang seyogyanya. Bagaimanapun Bali pernah tercoreng karena dua kali kasus bom yang meneror tempat ini, tetap saja setiap orang ingin mengunjungi Bali sebagai tempat berlibur, menikah, bulan madu, ataupun urusan kantor.

Saya sendiri pernah mengujungi Bali di Tahun 2014 yang lalu. Saat itu adalah liburan keluarga kecil kami. Karena yang berangkat hanyalah saya, Mama, dan Titis. Liburan kali itu menyenangkan sekali, karena itu moment kali pertama keluarga kami bisa mengunjungi tempat di luar kota bersama setelah biasanya Mama jalan sendiri, atau saya berdua dengan Titis yang pergi. Pada saat itu, saya berdo’a di Uluwatu ataupun di Tampak Siring bahwasannya pada usia 3 tahun mendatang saya bisa mengunjungi Bali lagi. Mitos, bisa dipercaya ataupun tidak. Tetapi, saya benar-benar bisa mendarat dan menikmati Bali bersama sahabat-sahabat dari Mercu Caur.

Iseng mengikuti pameran Astindo (Asosiasi Travel Indonesia) yang ada di JCC senayan bulan Oktober tahun 2016 karena saat itu saya dan Corry mengunjungi pameran itu tujuannya adalah ingin mencari hotel di di Singapore untuk liburan kami bulan depan yakni November 2016. Tetapi, Corry melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di salah satu sudut dari booth yang ada di Astindo. Booth itu bernama Dream walk, dimana kami para pengunjung bisa merasakan bagaimana kehidupan air dan berjalan didalamnya. Hanya saja, PR selanjutnya adalah kalau kami membeli paket tersebut, kami haruslah terbang ke Bali. Dimana itu membutuhkan biaya untuk membeli tiket pesawat, penginapan, makan disana dan banyak pertimbangan lainnya. Kami mulai goyah saat itu dan berlalu di booth itu tanpa membeli paketan tersebut.

Pontoon. Tetapi bukan punya Dream Walk. yang Dream Walk saya tidak mengabadikannya. Maaf.

Setelah berputar sekali lagi, dan menghitung dengan cermat. Hitung-hitung sebagai investasi ke diri sendiri juga akhirnya kami mengiyakan untuk membeli paket tersebut dan merencanakannya liburan tahun depan, yakni 2017 untuk bisa berkunjung ke Bali lagi. Setelah sepakat dengan Corry bahwa kita harus belajar hemat lagi untuk bisa mendapati liburan yang wah, kami benar-benar nekat untuk membeli paket tersebut. Dan akhirnya dengan sangat hati-hati Corry menyimpan bukti pembelian paket itu dari bulan Oktober 2016 sampai Mei 2017, atau selama 7 bulan disimpannya. Terima kasih, Kakak.

Awal tahun 2017 kami menawarkan kepada teman-teman seperjuangan dari Mercu Buana. Alumni Mercu Buana saya namakan Mercu Caur. Saat itu yang tertarik adalah Obed dan Hulman. Tak apa, yang penting kami ada teman untuk bisa liburan sekeren itu. Dan Obed dengan kesungguhan hatinya sudah meng-issued tiket PP ke Bali dengan jadwal yang ditentukan. Obed menyusul membeli tiketnya setelah beberapa hari dari saya dan Corry membeli tiket Garuda Indonesia dengan harga yang ciamik! Tetapi Obed tidak kedapatan membeli tiket tersebut. Sehingga Obed dan Kami berbeda maskapai, yang terpenting adalah bisa sampai di Bali.

Formasi lengkap plus plus ada Blinya, tetapi ini bukan Bli Ketut.

Hulman tak kunjung ada kabar dan waktu cepat saja berganti. Bulan Maret menjadi penentu bagi siapa yang akan menemani kami ke Bali. Allah bekerja secara misterius, ditemukannya teman kami Putri yang selama ini seperti hilang, tetapi Putri Mercu bukanlah Putri yang hilang atau Putri yang ditukar. Putri selama ini jarang bertemu apabila ada arisan mercu karena dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pelajar yang meneruskan brevet A dan B untuk perpajakannya. Dari Putri, kami dipertemukan dengan Lidya, saya sendiri bahkan harus mengingat seperti apa Lidya, karena saya hanya bertemu dengannya di Semester Pendek sebulan 4 kali saja bertemunya. Tetapi benar-benar ajaib, mereka tiba-tiba saja mengabari bahwa mereka sudah meng-issued tiket dengan berbeda maskapai antara saya, Corry dan Obed. Sekali lagi, itu bukan masalah yang besar untuk kami atasi.

Sampai dengan April, hulman tak juga ada kabarnya.. sampai akhirnya kekhawatiran itu terjawab sudah. Kami dikabari bahwasannya Hulman haruslah memilih antara karirnya yang menjadi lebih baik atau memilih berlibur bersama kita tetapi karirnya menjadi tidak baik. Hulman sedang menjalani masa-masa penilaian dimana dia tidak diperbolehkan cuti walau satu haripun. Dan liburan ini mengambil hari Sabtu sampai Senin, dimana Senin kami harus cuti untuk merasakan sensasi berlibur ke Bali ini. Kami berempat sudah mendapati izin untuk cuti di hari Senin. Jadi harapan untuk Hulman bisa gabung bersama kami pupus sudah. Tak apa, kita memang harus sudah menjadi dewasa dalam menentukan apa yang baik untuk kita dan buruk untuk kita.

Sampai seminggu sebelum keberangkatan Mei 2017. Kami masih berharap Hulman memberikan kejutan yang menyenangkan. Seminggu sebelum keberangkatan kami mengkordinasi apa-apa saja dan pembagian tugas apa-apa saja yang harus dikerjakan sebelum, pada saat di Bali, dan setelah dari Bali. Setelah semua terbagi kami siap untuk berangkat minggu depan. Penginapan sudah OK, akomodasi disana sudah OK, transportasi sudah OK, konsumsi sudah OK, dokumentasi walau rencananya di handphone Obed tetapi ternyata ketika di Bali tidak memungkinkan jadi terbagi antara kita semua rata dengan kamera mirroless kesayangan saya. Semua sudah OK tinggal berang-berang bawa berkat, yuk mari kita berangkat!

Blue sea and Me 🙂

Cerita selengkapnya mungkin bisa saya tuliskan di postingan selanjutnya, karena di postingan ini saya ingin lebih fokus membahas perjalanan kami menikmati liburan watersport yang ada di Nusa Lambongan – Bali. Banyak teman-teman saya mengira bahwa sea walker yang kami kunjungi itu di Tanjung Benoa, saya sendiri tidak tahu pastinya kalau disana. Jadi kami menikmati semua wahana ini ada di Nusa Lambongan.

Minggu Pagi 21 Mei 2017 kami dijemput dari penginapan kami di Ubud jam 06.30 WITA. Kami dijemput oleh Bapak driver dari Dream Walk. Karena paket yang kami beli sudah full service dari penjemputan sampai pengantaran kembali. Dari Ubud, kami diantar kesebuah dermaga. Sayangnya saya tidak mengingatnya. Sepertinya didaerah Sanur. Dari sana kami mendaftarkan ulang untuk diberikan bermacam-macam gelang yang menandakan jenis permainan kami. Dan diantara para penumpang fast boat rasanya kami patut bangga karena gelang yang kami pakai banyak jenisnya itu menandakan apa yang akan kami nikmati di watersport nanti adalah yang paling lengkap dan paling mahal tentunya. Hahaha.

Dari fast boat tersebut kami singgah di salah satu pulau untuk menurunkan para turis dari Negara lain untuk menikmati paketan snorkeling mereka. Kapal menjadi sepi hanya tinggal rombongan kami berlima dan pasangan Steven-Sierra. Rasanya kapal ini menjadi kapal pribadi kami. Dari sini saja, kami sudah mulai menikmati perjalanan mahal ini. *eh

Its mine!

Permainan pertama adalah Glass Bottom Boat dan Mangrove Tour perjalanan melihat dunia air dari kapal yang beralaskan kaca. Kami norak! Tetapi kami juga berbahagia. Bagaimana tidak, Indonesia sedemikian sempurnanya alamnya. Kenapa kami selalu terpacu dengan Negara lain yang menawarkan shopping town-nya. Saya sampai mengucap syukur atas kesempatan ini. Bagaimana teduh dan syahdunya pulau ini. Indonesia sangatlah sempurna.

Dokumentasi By Putri. Mangrove Tour ada Bli Ketutnya di belakang.

Setelah selesai dengan Mangrove Tour dan melihat kapal Pontoon (semacam kapal transit di tengah laut untuk wahana sea walker dan lainnya) penuh pengunjung yang lain, kami singgah di Pulai Lembongan. Di Pulau ini kami mendapatkan fasilitas tambahan yakni bermain Canoe. Dan saya bersama dengan Obed, Obed yang notabene bukan kecengan, gebetan, ataupun kekasih saya. Terima kasih banyak untuk Bli Ketut dan Dream Walker yang benar-benar memberikan pelayanan yang luar biasa. Kami jatuh cinta, Bli!

Akhhhh totally berasa Nyonyah. Mewah kali liburan saya kali ini Mak…

Selesai bermain Canoe yang juga gagal karena tidak bisa mendayung dan juga saya yang riwil karena takut terbalik (pernah trauma hampir tenggelam di laut) kami dipanggil oleh Bli Ketut untuk segera menuju ke Pontoon karena pengunjung yang lain sudah selesai. Sekarang tiba saatnya giliran kami untuk memulai permainan laut ini. Mulai deg-degan tetapi banyak rasa bahagianya.

Canoe yang pencitraan aja ini mah..

Permainan pertama adalah Banana Boat. Saya pernah hampir tenggelam dan hilang di laut karena wahana ini yang pernah saya rasakan di tahun 2013 bersama Mama saya. Trauma itu tidak juga sembuh atau menghilang. Makanya dari awal saya meminta kepada teman-teman saya untuk jatuh dan terbalik. Bersyukurnya kami mendapatkan Banana Boat yang double atau berlapis dua. Sehingga kemungkinan terbalik sangatlah kecil. Alhamdulillah.

 

Ayok di tarik Bli.

Bermain Banana Boat ini menyenangkan sekali. Rasanya beban pekerjaan, beban cicilan kartu kredit, beban hutang yang lainnya sirna sudah. Saya bahagia luar biasa, begitupun rekan-rekan saya. Dan permainan berakhir siap-siap beralih ke permainan selanjutnya.

Terombang-ambing Sky Donut, Mengalahkan sakit karena cinta.

Sky Donut begitulah panggilannya. Atau donat terbang. Permainan yang membuat saya ketakutan luar biasa dan sampai menciumi donutnya, bukan untuk dimakan, karena saya sudah lemas luar biasa. Cukup satu kali putaran saja untuk saya memohon belas kasihan berhenti dan menyudahi permainan ini. Percayalah teman, rasanya terombang-ambing dengan permainan ini mengalahkan bagaimana sakit hatinya terombang-ambing oleh kepastian cinta. Sakit luar biasa. Sakit di tenggorokan, di selangkangan, di kaki dan juga di tangan. Kalau kalian tidak menekan erat-erat sesuai instrukturnya, jangan salahkan kalau kalian terbang dan jatuh ke laut. Tetapi karena permainan ini pula, rasa beban yang saya sebutkan diatas itu benar-benar semakin terlupakan.

Dan puncaknya, yang ditunggu-tunggu dari 7 bulan yang lalu. Yap, Sea Walker. Saatnya berjalan di laut. Saya ingin melihat Nemo, ingin melihat banyak ikan, dan saya banyak maunya. Setelah mendengarkan instruksi dari instruktur yang disana, kami mulai deg-degan dan ingin merasakan sensasinya. Satu-satunya kunci yang harus diingat adalah jangan panik. Benar rasanya, kami seperti Sandy di filmnya Spongebob. Saya sendiri merasakan bagaimana beratnya helm yang saya gunakan. Saat perlahan-lahan saya menuruni anak tangga dengan bantuan instruktur yang ada di sebelah saya, kuping saya mulai mendengung, tetap jangan panik.

Sea Walker minus Putri.

Sampai di penghujung tangga yang ada dikapal menandakan bahwa saya sudah bisa menapaki laut kedalaman 5 Meter tersebut. Bli di sebelah saya setia menggandeng saya. Walaupun saya sadar ini hanya menggandeng menuju tempat dimana kami bisa diambil fotonya, bukan digandeng ke pelaminan *eh. Pertama kali saya menoleh kebelakang, saya menangis! Benar-benar cengeng rasanya. Saya menangis karena saya bisa melihat laut dengan segala kesempurnaan yang ada di dalamnya. Subhanallah, Allah menciptakan sedemikian sempurnanya kehidupan di laut dan di darat. Sebelum menyentuh ikan-ikan itu saya berdo’a dalam keheningan antara saya dengan air laut. Terima kasih atas sebesar-besarnya kesempatan dan rezeki yang sedemikiannya sampai saya dan teman-teman saya berada di tempat ini. Saya berkali-kali memegang ikan-ikan yang ada di depan helm saya, ini nyata. Bukan mimpi. Allahu-akbar.

Maha sempurna ciptaan Allah.

Sayangnya rekan kami Putri tidak bisa terlalu lama didalam air. Tekanan udara yang menipis membuatnya menyerah. Kami diberikan kode diatas sebelum turun tadi. Bahwasannya apabila merasa tidak nyaman ada kode tertentu. Instruktur menegaskan bahwa ini baru saja dimulai, dan Putri juga menegaskan bahwa dirinya sudah menyerah. Jadi Putri diangkat dulu ke Pontoon. Tidak apa-apa yah Put, semoga ada rezeki lagi dikemudian hari sehingga bisa merasakan sea walker lagi.

Obed yang bukan gebetan, Kecengan, ataupun Pacar. Dan ini serasa honeymoon gambarnya sama dia. pppfttt.

Setelah 7 menitan kami dibawah dan puas sama ikan-ikan yang ada. Waktunya kami diangkat ke daratan. Helmnya terasa berat. Tetapi, tidak perlu khawatir karena sudah ada beberapa Bli di atas yang membantu memegangi Helmnya. Permainan ini berakhir. Kami tertawa bahagia dalam haru yang ada.

Begaya aja dulu…

Permainan terakhir adalah Snorkeling. Kami semua payah kecuali Putri. Luar biasa teman saya satu ini dia menyelam tanpa jaket pengaman. Dia sudah terbiasa menyelam rupanya. Saya hanya bergaya saja dipinggiran Pontoon. Karena Bli Ketut melihat tidak adanya Prospek yang bagus dari kami berlima, bergegaslah kami ke Nusa Penida untuk beristirahat dan makan siang. Seharusnya kami makan di Nusa Lembongan, sekali lagi Bli Ketut dan Dream Walk benar-benar luar biasa memberikan pelayanan ke kami. Kami singgah ke Nusa Penida untuk makan siang dan beristirahat. Bli, Kami makin cinta.

Putri in action. Taken with my GoPro. Yiayyy.

Waktu yang diberikan kepada kami adalah 2 jam. Cukup puas untuk kami makan, berenang dan mengabadikan moment dalam bentuk foto. Pemandangannya luar biasa. Beban-beban yang saya sebutkan diatas tadi benar-benar tenggelam. Kami serasa Nyonyah dan Tuan yang mendapati fasilitas sedemikiannya. Akh, luar biasa liburan kali ini. Mevvah, eh mewah maksudnya. 😀

Menu makanan yang ada adalah Buffet masakannya enak, pemandangannya lebih enak lagi. Toiletnya juga bersih, sabun dan shampoonya juga aromanya enak. Sempurna. Tidak ada yang bisa menandingi liburan kali ini semua berjalan menyenangkan.

Mari makan, abaikan Corry yang dibelakang mulai kepikiran tagihan…

Setelah selesai di Nusa Penida, kami di oper menuju Pontoon untuk transit dan berpindah ke fast boat untuk kembali ke dermaga dimana kami tadi berangkat. Permainan berakhir Jam 14.30 WITA. Sampai di dermaga, Corry menebus dokumentasi bawah laut tadi. Hasilnya banyak sekali untuk di share ditulisan ini. Sehingga sebagian saya sudah posting di media sosial saya di Instagram. Silahkan bisa melihat keseruan kami di IG saya.

Nikmat Allah mana lagi yang hendak kau dustakan?

Buah penantian dari 7 bulan lamanya terbayarkan dengan pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup ini. Saya pribadi puas atas pelayanan Dream Walk begitupun dengan rekan-rekan saya. Terima kasih Bli Ketut dan Dream Walk atas pelayanan dan liburan yang tidak terlupakan ini.

Karena banyak yang menanyakan harganya saya sekalian share disini ya.

Untuk paketnya kami mengambil paket A seharga : Rp. 1.700.000,- per Orang.

Dan untuk dokumentasi bawah lautnya seharga : Rp. 400.000,- per CD yang hanya bisa diisi 4 orang saja. Jadi kami membeli 2 CD karena personil kami ada 5. Sehingga total biayanya Rp. 800.000,-

Setelahnya kami diantarkan kembali menuju hotel kami di Legian. Tunggu perjalanan liburan ke Bali kami selanjutnya, Ya!

 

Regards,

 

Ndue. 🙂

Persahabatan bangai kepompong. Gelangnya warna-warni. Yipiiy.
Mangrove Tour. Indonesia Sempurna.
Menu makan siang yang enaknya luar biasa.
Dermaga sebelum berpisah.

 

Posted on

Ndue’s Journey To Melacca – Malaysia (April 2017)

Melaka World Heritage City

Setelah sukses perjalanan ala backpacker ke Singapore November 2016 lalu, baru berselang satu minggu saja saya sukses meracuni teman seperjuangan saya yakni Corry untuk mengajaknya ke Negara Tetangga yakni Malaysia. Tadinya niat iseng tersebut karena banyaknya artikel yang saya baca perihal Malaka atau Melaka atau bisa juga Melacca. Nah, karena saya bisa mengambil hatinya dan meyakinkan si Corry bahwa ini menjadi pengalaman hidup, maka dia mengiyakan dan menyetujui untuk berkunjung ke Negara tersebut.

Dari November 2016 sampai dengan akhir Desember 2016 adalah waktu yang diberikan kepada saya untuk mencari maskapai murah tapi bertaraf Nasional. Rada pusing juga siy sebenarnya, karena kalaupun ada jamnya itu lho yang tidak bersahabat. Karena Semesta Mendukung, akhirnya saya mendapatkan tiket Malaysia Airlines dengan harga yang sangat-sangat terjangkau, Alhamdulillah.

Perjalanannya itu sendiri baru bisa terealisasi di Bulan April 2017. Dengan tidak menambahkan jadwal cuti karena cuti tahun 2017 sudah di sesuaikan dengan liburan yang ada. Maka, seperti kebetulan yang berlipat, long weekend, ditambahkan penerbangan yang terjangkau. Yippiy!

Tadinya sempat rada takut pas mau issued tiket MAS, tetapi karena saya selalu beranggapan bahwa Takdir dan Matinya seseorang sudah ditentukan, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi. Dengan semangat berlibur jadilah kami berangkat ke Negeri Jiran, Malaysia.

Sebelum berangkat, saya dengan Corry membagi tugas. Dia jadwalnya perihal transportasi disana. Karena kebanyakan review yang kami baca untuk transportasi menuju ke Sentral Malaka banyak dari KLIA 2 rada-rada pusing juga siy sebenarnya. Tetapi, setelah dijalani semua berjalan mulus dan kami sampai juga di Malaka.

Malaysia Airlines sendiri landing di Bandara Kuala Lumpur International Airport atau KLIA 1 atau juga KLIA saja. Disini, pusat dari penerbangan Nasional yang tiba di Negara Malaysia. Untuk mencapai ke Malaka sendiri kita harus ke Terminal Sentral Malaka. Jadi, tidak ada yang langsung ke bangunan merah Malaka. Kita harus transit dulu.

Terminal busnya sendiri ada di lantai bawah. Kalau kalian bingung, bisa bertanya ke petugas Bandara. Mereka siap membantu baik dengan Bahasa Inggris, ataupun Melayu. Kami langsung menuju ke lantai 1 dan langsung ditemui Bis di line 5 untuk segera melaju ke Malaka. Tarifnya sendiri lumayan mahal menurut saya, per orangnya RM 37,5. Dengan nilai tukar per RM-nya Rp. 3.500,- Tetapi, pas kami memasuki Bisnya, luar biasa nyaman sekali. Saya hitung hanya dengan 10 Orang saja, Bus tetap jalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Saat itu kami jalan di Jam 14.45 Waktu Malaysia.

Ini didalem bus siap untuk jalan-jalan.

Selama perjalanan dari KLIA 1 ke Sentral Malaka ditempuh dengan 2,5 jam. Jalanannya seperti tol dengan pemandangan hijau. Sayangnya saya tertidur selama 1 jam karena di pesawat tadi saya tidak tidur. Jadi saya hanya bisa menikmati perjalanan selama 1,5 Jam sisanya. Perjalanan ke Sentral Malaka tidak terkena macet jadi kalian bisa menikmati perjalanannya yang menyenangkan.

Sampai di Sentral Malaka, kami mencari bus ke dalam Negeri (bahasanya seperti itu) jalannya lumayan didalam terminal itu. Ikuti saja petunjuknya. Sampai kami menemui pintu dengan banyak Bus Panorama Malaka. Karena kami ingin ke Bangunan Merah (Stadthuys) kami mengambil Bus dengan jalur no. 17. Jadi jangan salah naik Bus ya teman-teman. Tarifnya sendiri di Bus ini hanya RM 3 dan bayarlah dengan uang pas.

Panorama Malaka No. 17

Setelah ditemui bangunan merah Bapak drivernya kemudian memberikan kode untuk turun dan banyak penumpang yang turun disana. Termasuk kami dan rekan traveler dari Argentina yang saya temui. Di Malaka sendiri kalau kalian ingin menginap, saya sarankan cari penginapan atau guest house murah di Jonker Walk. Banyak ditemui disana. Kami menginap di Layang-Layang Guest House. Walaupun tidak ada Teve, Kamar mandinya sharing dengan yang lain. Tetapi bisa di kategorikan nyaman dan bersih. Tentu saja harganya juga standar.

Kami sampai di penginapan sekitar jam 6 Sore waktu Malaysia. Istirahat sekitar 1 jam untuk mengisi daya baterai dan badan, kami melanjutkan jalan-jalan ke Jonker Walk di malam minggu untuk ngeceng eh bukan, untuk menikmati pasar malam yang ada di sana. Sebelum jalan, kami memutuskan untuk makan malam. Kali ini menu makannya ayam. Yiayyy! Untuk makan malam berdua cukup membayar RM 30 berdua. Harga yang standar dibandingkan biaya makan di Singapore. *hiks.

Ketemu kokoh Hokaido, ini kesukannya si Corry..

Jadi, Jonker Walk kalau malam minggu berubah menjadi kawasan pasar malam sepanjang jalan tersebut. Bukan sepanjang jalan kenangan lho ya. Nah.. Setelahnya kami makan malam, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran pinggir sungai Malaka. Padahal, sungai seperti ini di Indonesia banyak, saya suka sedih kalau mengingatnya. Kenapa di Negara tetangga, objek sungai bisa menjadi seramai dan semenarik ini. *drama mulai*

Pemandangannya sungai…

Anyway, kami memesan es kopi, teh hangat, dan kentang goreng semua dibayar seharga RM 18. Hampir 1,5 jam kami duduk santai di malam itu sambil membicarakan masa depan dan berharap suatu saat nanti kami bisa kembali ketempat ini dengan orang terkasih yang kemudian menjadi halal untuk kami. Saya suka suasana seperti ini, mungkin ini seperti Jimbarannya-Bali, tetapi rileksasi dari perahu-perahu yang lewat dan lampu yang cahayanya temaram menambah sempurna suasana yang ada.

Suasananya gak tergantikan..

Setelah jam 9 malam, kami memutuskan untuk berjalan ke Jonker Walk untuk melihat-lihat apa saja yang bisa kami beli. Selama hampir 2 jam menyelusuri jalanan malam dengan banyak pedagang menawarkan jajanannya, dan kami sudah membeli barang-barang yang sekiranya kami butuhkan, tiba saatnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Our drinks..

Sampai di kamar, jam setengah 12 malam. Setelah cerita lagi, barulah jam 12 Malam saya tertidur dan bangun di jam 6 pagi untuk persiapan jalan-jalan pagi menyelusuri jejak peninggalan sejarah Malaka.

Setelah sarapan roti dan minuman hangat yang bisa diambil dipenginapan, kami memulai perjalanan tepat jam 8.30 Pagi. Mulai melihat-lihat spot foto yang bagus untuk diambil dan bersyukurnya, didepan penginapan sendiri ada grafiti yang cantik untuk di ambil fotonya.

Dari ketinggian 80 Meter Menara Taming Sari

Icon malaka sendiri adalah kicir-kicir angin, gereja merah, gereja yang ada di bukit St. Paul, museum maritim, dan menara taming sari yang bisa melihat malaka dari ketinggian 80 Meter. Dan kami mengunjungi semuanya. Bahagia!

Menara Taming sendiri sama dengan Tiger Sky Tower  yang ada di Singapore, hanya saja menurut saya lebih suka menikmati dan merasakan TST karena selama menara tersebut berputar, kita akan dijelaskan tentang negara Singapore. Nah untuk menikmati wahana ini, kalian cukup membayar RM 27 sudah mendapatkan 1 botol air mineral.

Perjalanan malaka berakhir siang itu karena kami harus bergegas untuk menuju ke Kuala Lumpur. Sebagian foto sudah saya share di Instagram saya. Silahkan berkunjung ya.

Kemudian apabila ingin menanyakan budget dan itenary disana silahkan tinggalkan komentar ya.

🙂

Kota bersejarah Malaka.
Corry in action 🙂
St. Paul Malaka.
Jonker Street.
suka warna merahnya 😀
Grafiti depan penginapan.
Icon Malaka.. Salah satunya.
Gereja Merah Melaka.

 

 

Posted on

A new life already begun..

This blog maybe same with previous. With same domain but the entry already gone. I don’t know what happened with my last blog. There’s alway error since half years ago. I and team already fixed with the problem or virus, but still can’t solved the problem.

I think this time same with before. We still can handle this problem and I still can write article and publish in my blog. But, unfortunetelly, we can’t fix it. Feel so sad when know that the one way for bring my blog back is uninstall my last blog, and install with new blog with same domain.

It’s OK. No big problem for me. I already spent for two years wrote in my blog. And if I should start with new entry its not big deal for me. I think if I still stand with my last blog with many problem because virus suspend my blog, that’s not good for me. And i realized if I should delete my blog, its better choice for me. 🙂

Thank you everyone for help and waiting story in my blog. With this article, I Proudly present my new blog. My new life, my new entry.

Because today, I have big experience for my life too. But I can’t share what my experience with all of you in this blog, because its my personal problem.

Please always stay in my blog. And I will write my best journey for you.

 

Regards,

 

Ndue. 🙂