Posted on

Ndue’s Journey to Jakarta Aquarium Neo Soho (2017)

Backlight me and The Piranha. * * #piranha #siluet #backlight #fish #weekend #selfie #jakarta #enjoyjakarta #holiday

A post shared by NDue 'Rini Astuti Handayani' (@ndueisndue) on

Ada yang pernah denger atau berencana main ke Jakarta Aquarium? Tadinya saya berpikir ini semacam pameran aquarium yang ada di salah satu mall di Jakarta Barat yaitu Neo Soho. Dari awal tahun 2017 saya sudah mulai mengintip apa saja yang ditawarkan oleh Jakarta Aquarium, tetapi karena di rasa harganya lumayan jadi saya urungkan niat untuk main ke lokasi ini.

Welcome board in Neo Soho

Tetapi, setelah melihat beberapa review yang menarik tentang tempat ini, jadilah akhirnya saya mengunjungi tempat ini dua minggu lalu. Setelah juga melihat review tersebut dengan membandingkan tempat bernuansa yang sama di Sea World Ancol, rasanya tidak adil kalau saya harus mengurungkan niat itu lagi. Jakarta Aquarium itu jelas berbeda dengan yang ada di Sea World walaupun temanya hampir sama.

Untuk tiket masuk yang regular dibandrol dengan harga 175 Ribu dan apabila ingin merasakan pertunjukan 5 Dimensinya maka tiketnya dinamanya menjadi premium dengan harga 225 ribu untuk satu orangnya. Pasti banyak yang bilang, kok harganya lumayan, ya? Yah wajar aja, temans. Karena lokasinya di Mall jadi kalian ndak perlu bayar tiket masuk lainnya lagi seperti kalau ke Sea World ketika masuk kita harus membayar tiket masuk di gerbang ancolnya. Semakin banyak yang masukdalam sekeluarga, maka makin kerasa juga mahalnya siy, ya..

Rasanya mau nyelam di air ini..

Selain itu juga biaya perawatan satwanya membutuhkan biaya yang tidak murah. Terlihat dari ragam satwa yang lumayan lengkap disini dan juga perawatan untuk alat-alatnya bisa dibayangkan biayanya tidak murah. Yang menarik di Jakarta Aquarium ini setiap tempat satwa diberikan ipad untuk menunjukkan informasi hewan apa dan bagaimana cerita dari populasinya. Jadi selain liburan bisa menambah wawasan bagi anak-anak atau juga usia dewasa.

Yang menjadi hal pertama kali menarik perhatian saya adalah Nemo dan Dori. Yap, sebagai penggemar berat mereka saya harus mencari mereka terlebih dahulu baru kemudian saya ingin melihat satwa yang lainnya. Saya lupa kalau di Sea World apakah ada Nemo, tapi disini Nemo dan Dori dari ukuran kecil sampai yang menurut saya besar ada. Lengkap dengan warna yang sesuai dengan filmnya. Dan tentunya mereka gemas-menggemaskan saya luar biasa. Andai saja saya bisa membawa mereka ke rumah, saya mau menjadi anteran yang pertama untuk menjadi orang yang bisa membawa Nemo ataupun Dori kerumah. Yah ampun, they succeed stole my heart. They so cute.

the legend. 🙂

Kemudian yangmenjadi perhatian saya selanjutnya adalah Piranha. Iya ikan yang konon mematikan ini juga mempunyai spot tersendiri untuk dinamai Piranha Spot. Ketika saya mengamati ikan-ikan ini kenapa mereka tenang sekali ya. Saya jadi kepikiran bagaimana mereka bisa menjadi brutal bahkan mematikan? Apakah Piranha ini akan menjadi agresif dengan sesuatu yang pergerakannya juga secara refleks dan spontan, ya? Selama 10 menit saya mengamati, dan saya jadi terhipnotis akan ketenangan yang diberikan oleh Piranha-Piranha ini.

blue woman.

Oh ya, waktu saya membeli tiket di depan petugasnya memberikan informasi kalau weekend di jam 13, 15 dan 17, ada pertunjukkan yang menggabungkan aksi panggung dengan trik ilusi dan tarian bawah air berjudul Pearl Of The South Sea. Karena saya datang di jam 13.30 maka saya terlambat untuk pertunjukan yang pertama. Jadi saya menyaksikan yang di jam 15 saja. Lokasi pertunjukkannya sendiri ada di depan teater 5 Dimensi dekat dengan pintu keluar. Pertunjukkan ini aman untuk anak kecil, lho. Jangan khawatir karena sebelum pertunjukkannya petugasnya memberikan semacam informasi bahwa akan ada suara yang keras dan asap yang keluar sehingga para orang tua wajib untuk menjaga anak-anaknya. Dan ketika pertunjukkannya berlangsung saya sangat siap menyaksikannya. Jujur, saya aja yang udah segede ini masih kagum akan si putri duyungnya atau mermaid gimana mereka yang masih anak-anak, ya? Pertunjukkan ini keren! Beneran deh, kalian harus menyempatkan untuk melihatnya.

Very nice perform and its a honour for me to took a picture with all cast in this show 🙂

Kalau mengenai cerita theater 5 Dimensinya saya tidak mau cerita, ya. :p takutnya nanti saya spoiler. Intinya seru dan juga kerasa dingin luar biasa. Deg-degan juga, siy. Tapi menyaksikan pemandangan bawah laut yang sangat luar biasa itu rasanya kalau tidak sekalian membeli tiket yang premium rugi juga. Jadi sekalian saja beli tiket yang terusan.

Area Jakarta Aquarium dibagi menjadi 2 lantai. Ketika masuk itu saya namakan lantai atas. Di lantai ini satwanya beragam dari yang hidup di air maupun yang hidup di darat seperti ular, bunglon, katak, kura-kura dan banyak lagi. Dan ada yang menggemaskan yakni berang-berang. Ada yang pernah atau menjadi fansnya Narnia? Pasti kalian makin kesengsem sama hewan lincah ini. Dan dibawah kandang berang-berang bisa buat foto karena semacam ada lorong kacanya. Dan yang membuat saya makin bahagia lorongnya muat atau bahkan saya bisa bergerak bebas, itu tandanya badan saya gak gede-gede banget, kok. Hahahaha!

Di lorong berang-berang..

Turun ke lantai bawah langsung di sambut dengan aquarium raksasa yang instagramable. Buat saya di lantai bawah ini semua tempat bisa menjadi lokasi apik untuk diambil fotonya. Dan saya paling suka mengambil foto dengan backlight. Walaupun mungkin bagi sebagian orang gelap gak kelihatan wajahnya atau gimana. Tapi, buat saya itu semacam refleksi wajah yang eksotik. Makanya stock foto saya banyak di lokasi ini dan belum banyak yang saya upload di Instagram. Jadi sabar saja yah semua my fans, Hahaha.

looking at you, Nemo…

Kalau ada yang bilang ada batasan waktu ketika main di lokasi ini, saya tidak merasakan adanya peraturan itu. Karena ketika saya membeli tiket, saya pastikan kepada petugas yang didepan apakah benar? Ternyata tidak ada batasan waktu saya bisa leluasa bermain di dalam hingga Jakarta Aquarium tutup jam 22. Jadinya saya kemarin puas-puasin disana saja. Mungkin kalau ada ide foto prewed disana juga keren, kok. Tapi prewednya pakai hape saja jangan pakai flash jadi hasilnya nanti backlight and exotic. Seriously im being fan of backlight photos. Entah sejak kapan karena menurut saya memang keren.

M for your intial and Me.

Akhirnya setelah menunjukkan hampir jam 6 sore, saya memutuskan untuk menyudahi kebersamaan dan perjalanan saya bersama Jakarta Aquarium. Karena saya ada jadwal acara selanjutnya. Rasanya sedih juga berpisah dengan seluruh satwa yang ada disana. Semuanya keren-keren banget. Ubur-ubur yang mengingatkan saya dengan Patrick dan Spongebob dan semua hewan yang saya pernah lihat ketika saya memainkan game mancing di handphone saya dulu. Akan ada waktunya untuk berpisah juga. Suatu saat saya pasti kembali untuk mengunjungi kalian kembali. 🙂

Jadi sudah ada rencana untuk ke Jakarta Aquarium?

Regards,

Ndue.

Red Jellyfish. And i took this pic with my phone only. Instagramble 🙂
I still can see you…
backlight blue..
youre totally stole my heart~
Aquarium di lantai bawah
Posted on

Ndue’s Journey to Danau Biru Cisoka – Tangerang (2017)

Postingan perihal perjalanan saya ke Hong Kong saya postponed dulu, ya. Karena saya lagi kepikiran untuk menulis acara weekend list saya untuk sekedar kuliner atau menjelajahi tempat-tempat disekitaran domisili saya. Karena saya memiliki target baru bahwasannya saya harus pergi keluar untuk menghibur diri setelah seminggu bertempur dengan hiruk-pikuk Jakarta. Duh, luar biasa sekali bahasa saya kali ini, ya!

Baiklah, postingan kali ini saya bermain disekitaran tempat yang kemungkinan beberapa tahun kedepan saya singgahi. Setelah juga berdiskusi sama Dia, akhirnya mencapai kesepakatan untuk menjelajahi Tangerang. Dari dulu, saya kepengennya pergi ke Planetarium, hanya saja Planetarium masih dalam perbaikan yang entah harus berapa lama lagi dibuka secara umum.

Perjalanan ini ke lokasi bernama Danau Biru Cisoka. Atau bisa juga bernama lain Danau Biru Cigaru, Telaga Biru Cisoka, dan bisa juga menjadi Danau Cisoka Cigaru. Apapun namanya, lokasinya selalu sama ketika kalian mengetikkan petunjuk ke Danau Cisoka.

Cuaca saat itu mendung cenderung hujan. Setelah meyakinkan diri bahwa   harus berangkat karena tergiur sepanjang jalanan berwarna biru alias tidak ditemukan tanda-tanda macet, jadilah kami berangkat ke tempat yang ngehits ini.

Perjalanan ditempuh menggunakan sepeda motor selama 1 jam 10 menit untuk jarak tempuh dari rumah saya 40KM. Luar biasa, perjalanan kali ini menyebrang Provinsi. *oke kali ini lebay*

Benar kalau lokasinya memang masuk kedalam seperti harus masuk ke gang perumahan warga sekitar. Jadi, jangan berharap lokasinya benar-benar dipinggir jalan raya. Kalau bingung, tinggal ikuti saja GPS mengarahkan. Jalanan tadi masih bisa dilalui mobil simpangan kok, jadi jangan paranoid dulu mendengar berita kalau jalanan sempit atau apalah. Semua itu harus dibuktikan dengan jejak langkah kaki kita di sana. *ciye~

Sebelum masuk ke danau, ada plang tanda bahwa masuk ke Danau tersebut harus melewati penjaga jalan didepan. Saya katakan penjaga, karena kami membayar Rp. 5.000,- untuk bisa menuju ke arah danau. Disini, tidak ada tiket masuk alias tidak ada bukti pembayarannya. Setelah itu masuk ke gerbang kedua membayar lagi sebesar Rp. 5.000,- kali ini ada tiketnya. Dan untuk parkir sepeda motor kita juga harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 5.000,- Jadi total untuk administrasi dua orang dengan satu sepeda motor adalah Rp. 15.000,-

Sampai disana cuaca masih mendung. Air di danau tidak menampakkan warna biru seperti yang sering saya lihat di Instagram. Seketika hati saya sedih dan menciut.

Sambil iseng berfoto-foto dilokasi manapun, semesta mendukung saya kali ini. Awan mendung bergeser menjadi awan yang cerah dan menghasilkan foto-foto yang cantik juga untuk menjadi koleksi dan dibagikan di Instagram saya. Alhamdulillah.

happiness 🙂

Oh ya, di danau ini semua aman. Tidak ada pengamen atau pengemis. Walau terkesan dikelola oleh warga, semuanya bisa sesuai dengan harapan kita. Hanya saja, kalau Pemerintah peduli, akan banyak peluang usaha tercipta disana. Seperti tempat makan permanen atau toilet permanen disekitaran danau-danau ini.

Okeh, saya hanya bisa berpendapat dan membaca dari internet. Itu beneran danau, ya? Sebenarnya dulu ini adalah galian pasir yang kemudian sudah tidak beroperasi lagi. Kemudian hujan menggenangi bagian-bagian yang menjadi galian ini. Jadi genangan air itu kena paparan sinar matahari dan perubahan cuaca sehingga berubah menjadi warna biru atau hijau. Walaupun ini galian, tidak dianjurkan untuk berenang disana. Konon, dalamnya lebih dari 10 Meter. Saya bayanginnya aja merinding, jadi nikmati saja untuk bisa berfoto-foto disana.

Jangan mencoba berenang..

Rekan-rekan saya yang melihat foto saya pada heran. Bahkan sebagian kena tipu oleh saya yang mengaku bahwa lokasi pengambilan foto ini adalah di Belitung yang terdapat danau kaolin. Sebagian percaya, sebagian keukeuh bahwa saya menipu. Ketika saya berkata jujur sebagian yang percaya tadi mencari tahu lokasinya dan ingin berkunjung kesana. Cihui kan saya? Bisa membuat orang penasaran dan semoga benar-benar tertarik untuk berkunjung kesana.

Setelah dua jam saya berkeliling dan mengambil foto dengan berbagai macam gaya juga yang aneh-aneh semua karena kelakuan saya itu, saya memutuskan untuk meminta pulang saja. Karena cuaca mendadak mendung dan takut turun hujan. Semua makanan disana terlihat enak, tetapi saya belum tertarik untuk mencobanya. Saya lebih tertarik dengan Bapak-Bapak penjual cilok yang dibalurin telur kemudian digoreng. Enak betul rasanya dan murah meriah.

candid :p

Mengenai perjalanan kali ini menyenangkan. Dan terima kasih ‘Dia’ yang selalu menemani saya dan berusaha untuk membuat hasil foto-foto saya selalu keren untuk dibagikan di Instagram saya. Kalian bisa langsung mampir ke blog saya, ya!

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.  🙂

 

Regards,

 

Ndue

 

Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 2 – The Peak, Madame Tussauds Bertemu Pak Jokowi, Museum Trick Eye 3D

Bertemu Pak Jokowi di Hong Kong. Bahagia banget!

…Menyambung tulisan sebelumnya bagian – pertama dan kedua. Silahkan di klik masing-masing link untuk membacanya.

Agenda hari kedua di HK akhirnya tersusun secara rapi. Setelah pagi dan siang kami lalui, akhirnya kami siap untuk melanjutkan adegan selanjutnya yakni ke The Peak.

Yiay, our tickets already in my hand. Lets start this journey!

Apa aja yang ada di The Peak?

Di gedung ini kalian bisa mengunjungi patung lilin yang menyerupai aslinya yakni Madame Tussauds, dan tentunya bisa melihat gedung-gedung tersusun rapih dari ketinggian 428 mdpl dengan view 360 derajat yang juga bisa disebut Sky Terrace 428. Tempat ini wajib dikunjungi kalau kalian ke HK, karena selain tempatnya bagus untuk berfoto juga untuk menuju ke gedung ini sendiri di tempuh dengan The Peak Tram.

The Peak Tram already arrived. Ah.. i cant be patient for enjoy this Tram..

Apa itu The Peak Tram?

Saya menyebutnya kereta dengan dua gerbong. Kalau membaca ceritanya, kereta ini konon sudah beroperasi dari dahulu kala. Bisa ratusan tahun usianya. Tetapi, tidak perlu khawatir karena kereta ini aman dan juga selalu diperbarui. Ada sejarahnya ketika kalian memasuki The Peak atau Victoria Peak. Pada saat naik Peak Tram, jangan lupa untuk ambil posisi kanan dari kedatangan keretanya, ya! Karena kalian bisa merasakan naik kereta dengan kecuraman yang hampir miring/vertikal. Perasaan saya campur aduk, dan pastinya bahagia tidak tertandingi. Saya bahagia.

Bagaimana akses ke The Peak?

Gini, dari jauh-jauh hari sebelum sampai di HK, saya selalu berkomunikasi dengan Cory untuk memilih yang terbaik untuk agenda selama kami di HK. Mengingat waktu 5 hari 4 malam disana itu rasanya kurang banget untuk meng-explore Negara ini. Dan ternyata untuk jadwal ke The Peak adalah hari minggu. Yang mana, antreannya pasti mengular. Jadilah kesepakatan kami membeli tiket paketan dari KLOOK. Awalnya rada bingung bagaimana untuk pembayaran, meeting point, dan kesulitan-kesulitan dilapangan.

Tugas ini adalah tanggung jawab saya. Jadi sebelum saya memutuskan membeli paketan yang mana, saya pelajari dulu apa itu KLOOK dan bagaimana prosesnya. Setelah meyakinkan diri bahwa KLOOK bukan hanya sekedar aplikasi, tetapi bisa menjadi sarana mempermudah perjalanan kami, jadilah saya membelinya.

I meet you, KLOOK. *love*

Apa saja yang ada di KLOOK?

Banyak. Tergantung kalian mau memilih paketan mana-mana saja sesuai dengan selera, budget dan jam yang disepakati. Waktu itu saya memilih jam 3, dengan paketan lengkap selama kami di The Peak. Pada saat membeli, saya juga menghafalkan dimana kami harus bertemu. Yap, KLOOK bisa ditemukan di MTR Central dengan pintu keluar K. Kalau belum ada agentnya, kalian harus menunggu sampai mereka membawa bendera kuning bertuliskan KLOOK dan disebutkan jam berapa yang masuk ke jalur antrean. Semuanya tertib dan teratur.

Meeting pointnya.

Yang kami beli :

  1. Return The Peak Tram dengan antrean khusus 1 kali pada saat berangkat.
  2. Entrance Madame Tussauds.
  3. Entrance Trick Eye 3D
  4. Entrance Sky Terrace 428

Dan kami paling gencar jalan di belakang guide kami untuk menanyakan posisi duduk yang nyaman, bagaimana prosedur kami disana, dan juga bertanya seputar The Peak. Oh ya point pertama diatas, apabila kalian membeli untuk weekend itu sangat, sangat berguna. Betapa antreannya mengular dengan jalur umum, tetapi dengan membeli special line from KLOOK, tidak perlu mengantre. Saya, merasakan seperti orang penting karena jalan tertutup pembatas itu terbuka begitu saya lewat. Really really worth it.

Sampai di The Peak, kami langsung melihat lokasi Madame Tussauds. Saat itu jam 4 sore dan karena di rasa masih rame pengunjung, kami memutuskan untuk ke Museum Trick Eye 3D saja dulu. Ternyata, ada di gedung sebelah. Jadi kami keluar menuju gedung bernama The Peak Galleria.

Gedung The Peak Galleria juga sama dengan The Peak. Bentuk bangunannya juga menyerupai Mall dengan 3 lantai saja. Dan lantai paling atas bisa ditemukan Trick Eye 3D. Sebenarnya museum ini banyak banget di Indonesia. Tetapi, rezekinya saya pertama kali justru di HK. Alhamdulillah. Mungkin, saya akan mengunjungi yang ada di Indonesia suatu saat nanti.

Untuk tema di museum ini ada 5 bagian dan terbagi juga menjadi 5 ruangan. Secret Garden di bagian pertama, World of Masterpice di bagian kedua, Great Adventure di bagian ketiga, Neverland di bagian keempat, dan terakhir adalah Hong Kong Discovery.

Tidak perlu mengantre. Because KLOOK have special line. Yiay~

Memasuki ruangan seperti ini menjadikan saya ataupun Cory berasa muda kembali. Suasanya ceria dan berwarna-warni. Dari setiap bagian-bagian itu yang saya suka adalah di bagian pertama. Disana warnanya dominan biru, warna kesukaan saya. Dan yang PR adalah ketika badan besar saya ini memasuki tong untuk bergaya di depan Monalisa. Butuh tenaga ekstra dan bantuan Cory juga pandangan penuh tanya dari beberapa pengunjung kenapa saya nekat terjerembab di tempat itu. Jadi, untuk kalian hati-hati ya karena terjebak dalam tong itu lebih menyakitkan daripada terjebak nostalgia. *eh.

Ini butuh usaha keras buat bisa gelantungan kayak begini…
Full of colour..
Rainbow of me…

Setelah berkeliling, berfoto di museum ini selama 2 jam kami keluar. Tidak langsung memasuki The Peak lagi. Ada 1 jam kami beristirahat dan bercerita ngalor-ngidul tentang kerjaan, kisah percintaan, harapan, atau apapun saja yang bisa kami ceritakan dan dilebur dalam sore dibawah gedung The Peak senja itu.

Favorite spot~
Terjebak di Tong…

Dan langsung kami berjalan kembali ke Madame Tussauds. Sebenarnya pada saat ke Singapore November 2016 lalu, kami berdua sudah mengunjungi museum patung lilin ini. Hanya saja, kali ini istimewa. Kenapa istimewa? Jelas, ada dua Presiden Indonesia di museum tersebut. Dimana, yang terbaru adalah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Karena kami berdua ngefans dengan Bapak Jokowi, maka kami harus mengunjungi dan merasakan dekat dengan Bapak walau hanya melalui patungnya. Tetapi, si Bapak benar-benar mirip aslinya. Oh ya, pada saat kami kesana tepatnya mendekati hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tema baju dan backgroundnya Pak Jokowi juga berbeda. Saat itu Bapak menggunakan batik dengan berlatar belakang monas, icon of Jakarta, and Indonesia.

Finally i meet you Mr. President. 🙂

Saya penasaran, kenapa harus Bapak Jokowi yang terpilih? Setelah saya baca penjelasannya baru saya mengerti dan setuju. Dituliskan bahwa Pak Jokowi terkenal dengan ‘blusukannya’ dan juga Presiden yang ingin mengembalikan ke-maritiman Indonesia dengan membangun banyak proyek jalanan di Indonesia yang menghubungungkan satu pulau dengan pulau lainnya. Duh Pak, kerennya Bapak kok ya kebangetan. Dan setelah melihat ekspresi Cory yang tidak ingin berpisah dengan Bapak rasanya sedih, Pak. Seperti berpisah dengan kekasih saja, kami harus menemui Bapak di Negara Hong Kong, Negara yang jauh dari Indonesia, Pak. Seandainya saja ada Bapak disana beneran, pasti rasanya kami histeris, Pak. Hahaha.

Setelah bersedih karena berpisah dengan Pak Jokowi, akhirnya saat yang membahagiakan untuk saya, dong! Saya bisa bertemu dengan HULK! Yah ampun saya histeris, saya seperti bertemu dengan seseorang yang saya rindui selalu. Saya ngefans sama superhero ini dari 15 tahun yang lalu dan akhirnya bertemu dengan Hulk adalah sesuatu yang luar biasa mengguncang perasaan saya malam itu. Rasanya, cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Cinta itu terbalaskan dengan melihatnya saja. Kemudian saya juga menyadari bahwa saya mulai lebay.

Johny deep.

Setelah mendapatkan beberapa foto dengan artis-artis dan figur mendunia disini, kami memutuskan untuk keluar. Dan ternyata jam sudah menunjukkan angka 9 malam. Saatnya menikmati pemandangan malam di Negara ini.

Karuan saja, walaupun masuk ke Sky Terrace 428 bayar, masih banyak turis yang datang dan menikmati udara sejuk malam di musim panas ini dan melihat lampu gemerlap yang luar biasa indahnya dari jejeran gedung-gedung pencakar langit dibawah sana. Warna-warni menentramkan hati siapapun yang melihatnya. Sebenarnya kita bisa menikmati alam lebih indah lagi di tempat-tempat yang ada di Indonesia dengan julukan Bukit Bintang. Saya pernah merasakan dan melihatnya ketika berkunjung ke Jogja bulan Juli 2017 lalu. Tetapi di HK tetap saja berbeda. Cuaca panas walaupun hari sudah malam masih saja bisa dirasakan. Suasananya benar-benar berbeda dan menyenangkan. Dan kemudian terjadilah dialog yang super lebay dan juga selalu diucapkan setiap harinya.

Ndue : “Cor, gue pengen nangis. Gue bahagia banget, bersyukur liburan yang kita rencanain 8 bulan lamanya akhirnya bisa dirasakan saat ini dan malam ini. Lu bahagia, Cor?”

Cory : “Banget. Jangan lupa selalu bersyukur sama Tuhan.”

Spot foto yang selalu ramai..
Sky Terrace 428. Pic taken by myself.

Dan dialog semacam ini selalu kami ucapkan disetiap kesempatan  yang ada. Setelah dirasa cukup menikmati pemandangan ini, dan juga merasa bahwa antrean pulang naik The Peak Tram makin malam makin mengular, kami putuskan untuk pulang saat itu juga. Jam menunjukkan angka 9 Malam dan kami turun. Sampai diantrean The Peak Tram, kaki sudah mulai kram dan luar biasa panjangnya. Estimasi kami mengantre 1 jam 15 menit dengan bediri. Walhasil, kami menikmati antrean ini dengan suka cita sambil merencanakan perjalanan besok ke Macau dan juga bertemu rekan saya Dimas. Suatu kebetulan ketika akhirnya saya dan Dimas memiliki jadwal liburan dan tujuan yang sama.

Dari stasiun The Peak Tram masih berjalan sekitar 10 menit untuk mencapai MTR Central. Walaupun jam 10.30 malam tetapi masih banyak ditemui antrean turis untuk kembali ke tempatnya masing-masing. Dari Central kami langsung menuju ke MTR Tsim Sha Tsui. Kami mendarat cantik di hotel jam 11.00 Malam. Selama di negara ini saya merasa waktu berjalan begitu cepatnya. Dan di tengah malam gini, kami masih di luar berjalan-jalan di gemerlap lampu Negara ini. Coba kalau di Jakarta, Mama saya pasti sudah sibuk menanyakan lokasi dan kapan saya pulang. But, its okay! Mommy always caring me so much. Thank you very much, Mom. I love you.

Sampai hotel kami masih makan malam dong. Makannya jam 11.15 malam. Dan tidur jam 2 pagi setelah juga berkabar dan mengupdate social media kami. Besok pagi adalah jadwal saya bangun pagi untuk menyebrang ke Macau. Jadi PR luar biasa ketika saya harus bangun pagi, mandi, dan menyiapkan sarapan. Kaki saya pegal luar biasa. Dan saatnya saya tidur karena Cory sudah tertidur dari 1 jam yang lalu.

Perjalanan kami menuju Macau dan keajaiban bertemu dengan Dimas, saya akan ceritakan selanjutnya. Selamat menanti!

Itenary hari kedua adalah :

  1. Causeway Bay
  2. Victoria Park
  3. Dim Sum Halal di Islamic Canteen Center
  4. The Peak Tram
  5. Musuem Trick Eye 3D – The Galeria Peak
  6. Madame Tussauds – The Peak
  7. Sky Terrace 428 – The Peak
  8. Tsim Sha Tsui

Regards,

Ndue.

Sore itu, di bawah Sky Terrace 428.
Mom help me. Mom..
Lepaskan dia Cor…. jangan ketahuan banget jomblonya..
Angel of Cory.
HULK~~~~
Star from HK. Jacky~
the sexiest woman in this world!
Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 2 – Victoria Park, Causeway Bay, Dim Sum Canteen Islamic Center

Diantara Tram Ding-Ding.. Icon of Hong Kong.

…sambungan dari part 1 sebelumnya. Silahkan bisa di lihat disini.

Hong Kong serasa di Indonesia? Tentu bisa dan ada. Hari kedua saya di HK adalah hari minggu. Rencana pagi dan siang ini random saja, karena belum tersusun secara pasti. Barulah pada sore dan malam hari kami sudah ada jadwal mau kemana-mananya. Jadi karena juga pagi ini kami bangun kesiangan, ikuti saja jejak kaki melangkah. Walaupun masih random kami sudah memiliki beberapa opsi yang bisa diambil untuk tetap disinggahi selama kami di HK.

Lets start this second day, Kak! enjoy HK.

Baiklah, pertama kali saya merengek untuk ke Victoria Park. Sebuah taman yang ada di daerah Causeway Bay. Taman ini terkenal dengan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mengadakan pertemuan, atau semacam temu kangen, atau juga bisa dikatakan bahasa kekiniannya gathering. Tadinya rencana kami mau ke kedutaan Republik Indonesia yang ada di Hong Kong. Setelah tanya sana-sini tidak juga bertemu, jadi dipastikan kami menuju ke arah Victoria Park saja.

Tahun 2010, Victoria Park pernah menjadi terkenal dengan film apik dari Lola Amaria yang juga berjudul Minggu Pagi di Victoria Park. Duh, dulu ya saya kepengen banget ke lokasi ini. Dan 7 tahun kemudian saya berhasil mewujudkannya. Im so happy!

Untuk mencapai ke Victoria Park, kami naik MTR dari Tsim Sha Tsui kemudian menuju ke arah Causeway Bay. Setelah turun disana, ikuti saja arah ke Victoria Park untuk mengetahui pintu mana yang mau dituju. Atau, kalau kalian ndak mau repot yasudah tanya saja sama orang-orang disana yang kebanyakan juga orang Indonesia yang menuju ke taman tersebut.

Sepanjang jalan kaki dengan mereka, saya kok merasa tidak asing di Negara ini, ya? Entah kenapa, rasanya welcoming banget. Apakah karena memang orang-orang Indonesia terkenal dengan ramahnya termasuk juga saya lho ya! Hahaha. Tapi, saya merasa tidak asing dan tentunya, im not alone in this country. Mereka yang berbicara menggunakan Bahasa Indonesia dengan di bagi-bagi menjadi beberapa bahasa daerah lagi. Duh, ini siy bukan di HK rasanya.

Lapangan basket yang ada di seberang Victoria Park.

Saya berjalan menyelusuri taman ini. Sepanjang jalan, mereka menggelar tikar-tikar atau alas untuk duduk dan bertukar cerita. Sayup-sayup saya dengarkan kebanyakan bercerita perihal ‘majikan’ atau bagaimana situasi mereka bekerja. Tidak jarang juga mereka berbagi resep masakan, makanan, atau bahkan saya lihat ada yang sedang mengulek sambal rujak untuk dimakan bersama. Seketika saya mellow keingetan Mama dan masakan sambalnya yang luar biasa ngangenin itu. *mulai lebay lagi*

Minggu pagi di Victoria Park, Ndue..

Semua yang duduk disana diatur oleh petugas seperti keamanannya. Jadi tidak ada yang sembarangan gelar di jalan, atau buang sampah sembarangan. Semuanya tertib dan alangkah menyenangkannya berada di sini. Tidak jarang juga saya ditawari makanan oleh mereka. Melihat pejuang devisa Negara ini entah kenapa hati saya sedih. Mereka harus bertahan jauh dari sanak saudara untuk beradu nasib disini. Dan mungkin saja dengan caranya seperti ini mereka bisa menghilangkan sedikit rasa rindu untuk Negara Indonesia dan terlebih keluarga mereka. Stay strong yah, Mba.. your family must proud of you!

Setelah berkeliling di Victoria Park, selanjutnya kami sepakat untuk makan siang dulu. Walaupun masih tergolong pagi karena disana jam 12 siang setara dengan jam 11 di Indonesia, jadilah kami menelusuri jalanan di Causeway Bay. Sekalian kalau ada yang jual waffle atau egg tart kami mau beli. Sayangnya, kamu tidak menemukan makanan yang harus dibeli saat kami berada di HK. *sedih

Victoria Park, HK.

Cory menyiapkan jadwal selanjutnya dengan sangat matang ternyata. Dia sudah menyiapkan kisi-kisi untuk menuju tempat makan yang halal tersebut. Saya dan dia sepakat harus cari makanan halal selama kami di HK. Dan Cory dari entah dua bulan sebelumnya atau bahkan lebih dia sudah berburu video atau daftar makanan yang harus dicoba. Luar biasa teman saya yang satu itu.

Baiklah, kami harus makan dim sum halal dan juga we should eat and visit this place untuk hari ini. Nama makanannya adalah dim sum di kantin Masjid Ammar and Osman Ramju Islamic Centre. Namanya lumayan rumit, ya! Dan juga menuju ke lokasi ini tergolong rumit menurut saya.

Tanpa koneksi dan maps hanya berbekal insting, kali ini si Cory luar biasa usahanya untuk bisa ke lokasi ini. Dengan persiapan screenshot dari petunjuk arah yang kita cari selama di hotel karena adanya wi-fi disana. Dan dengan berbekal tanya sana-sini akhirnya bisa bertemu juga. Rasanya bahagia luar biasa.

Well, jadi gimana petunjuk arahnya, Ndue?

Okay gini, yang pertama dituju adalah MTR Causeway Bay dan kemudian turun di Wan Chai. Setelah dari Wan Chai, cari pintu exit A3. Keluar di pintu kami hanya terdiam terpaku melihat keramaian yang ada didepan mata. Tujuan kami adalah Masjid itu aja dulu yang bisa ditanya ke pengunjung di sekitar stasiun MTR ini. Dari beberapa orang yang ditanya hasilnya nihil.

Keluar MTR Wan Chai. Saking galaunya foto aja udah hayuk~

Sampai akhirnya kami bertemu dengan Mba Dian. Kami berkenalan dengannya sepanjang dari Wan Chai sampai ke Masjid. Mba Dian yang mengantarkan kami. Tadinya Mba Dian juga tidak yakin apakah Masjid yang dituju untuk bertemu pengajiannya adalah yang sama dengan tujuan kami. Dan Alhamdulillah ternyata sama.

Patokannya sevel untuk ke islamic center.

Jadi dari keluar A3, menyebrang sekali untuk ke stasiun Tram Ding-Ding. Selama di HK kalian wajib banget nyobain transport ini lho, gengs. Karena ini transportnya yang juga jadi icon dari HK itu sendiri. Dan pastinya kalau ada film-film yang shooting di HK pasti ada adegan transport ini kelihatan.

Didalam Tram Ding-Ding..

Naik Tram Ding-Ding nomor 43-E di O’brien Road, dan hanya dua stasiun dari pemberhentian tersebut baru kalian turun ya. Supaya lebih yakin kalian turunnya di nomor 47-E di Tonochy Road. Dan kalian harus jalan dulu sebelum menemukan Masjid ini. Setelah turun di 47-E, kalian nyebrang nanti ada lapangan basket yang main kokoh-kokoh kesukaannya Cory. Hahaha. Nah, naik tangga di samping lapangan basket tersebut. Terus nyebrang jalan lagi dan jalan aja disebelahnya Sevel sampai kalian jalan buntu kemudian belok kekiri. Nah, masjidnya ada di situ.

Mari nyebrang..
Alhamdulillah sampai juga. Ada Ndue, ada Saya di depan Masjid ini.

Walaupun hari minggu tetapi Masjid tidak terlalu ramai. Kami berpisah dengan Mba Dian di depan Masjid. Kami berterima kasih dan bersalaman sambil mengucapkan semoga ada kesempatan untuk bertemu lagi di Indonesia ataupun di HK dikemudian hari. Oh ya, Mba Dian sudah dua tahun di HK dan sedang mengajukan cuti untuk kembali ke Indonesia. Semoga saja dipermudah yah, Mba.

Kami masuk pintu masjid yang paling kanan. Mungkin celana saya kependekan atau ada yang aneh dengan penampilan kami sehingga semua memandang kami. Tetapi, berlalu begitu saja setelah kami lemparkan senyum ke mereka. Kantinnya sendiri ada di lantai 5, silahkan naik lift saja.

Didepan pintu masuk kantin islamic center – lantai 5.

Sedih adalah ketika saya bisa di Masjid tetapi karena siklus bulanan jadi tidak bisa sholat disini. 🙁

Sampai di lantai 5, kami dihampiri waitressnya dan menanyakan berapa orang. Karena kami hanya berdua langsung mendapatkan tempat makan. Dan tiba saatnya memesan dim sumnya, sejujurnya saya bingung karena bahasa kami rada ndak nyambung. Jadi saya hanya menunjukkan angka yang mana saja yang mau kami order. Di buku menu ada kok harganya. Karena menurut kami ini harga murah untuk makan di HK, jadi saya selaku juru pesan memesan dengan banyaknya. Hahaha.

Tenang, kalau gak habis bisa dibungkus, kok. Hanya saja biasa untuk take awaynya adalah HK 1 dolar, alias 1.720 kalau di tukar dengan mata uang IDR. Rasa dim sumnya enak banget ternyata. Apalagi yang model bakso goreng, Duh! Rasanya kayak gak mau move one. Kali ini saya minumnya soft drink Coca Cola, rasanya segar banget. Gak tau kenapa rasanya beda banget sama yang ada di Jakarta. Beneran rasanya nyegerin dan bikin ketagihan.

Karena ada beberapa dim sum yang gak habis, kami bungkus sisanya. Dan terima kasih banyak lho Kak Cory yang sudah membawakan sepanjang hari walau di akhir hari sempat ragu mau dibuang atau tidak. Ternyata pas di buka aromanya tidak bau, jadi masih dibawa pulang dan kami bisa panaskan dengan microwave yang ada di kulkas. Alhamdulillah.

Lagi ditugasin Nyonyah Cory buat order makanan..
Makanannya datang. yiay!

Dan total makan kami disana adalah HKD 141 dengan exchange IDR 1.720 per 1 dolarnya. Jadi silahkan di konversikan. 😀

Mari makan..
Wajah bahagia…

Benar adanya, belum afdol ke HK kalau belum ke dua tempat sepanjang pagi dan siang ini. Waktu makan sudah selesai, saatnya kami kembali ke MTR Central untuk melanjutkan perjalanan sore-malam selanjutnya. Karena perjalanan sore-malam ini menyenangkan dan panjang untuk diceritakan, saya akan melanjutkan kemudian, ya! Harap bersabar 😀

Wait for next post, ya!

Itenary lengkapnya juga saya tuliskan setelah hari kedua ini closed, ya! Di postingan selanjutnya. Kalau ada yang mau ditanyakan, silahkan tulis dicomment yah, gengs!

Regards,

Ndue.

Full of colour.. Ah.. can’t move on from this Country..
Ini daftar harga dan makanan yang kita pesan..
Posted on

Ndue’s Journey to Hong Kong – Day 1 ( August, 2017 )

Welcome greeting in Hong Kong International Airport. Welcome!

Seperti yang pernah saya janjikan sebelumnya bahwa saya akan menuliskan perjalanan saya ke Hong Kong, dan inilah postingan pertama saya. Postingan ini rencananya akan saya buatkan sambung-menyambung untuk  beberapa post dikemudian hari. Jadi tetap saya optimis akan menyelesaikannya.

Kenapa Hong Kong? Dan kenapa pas summer holiday? Kan kalau panas mah di Indonesia juga sering, gak musim dingin aja?

Duh, ini semacam pertanyaan yang banyak di lontarkan beberapa rekan saya yang kemudian menimbulkan efek ciut untuk melanjutkan perjalanan ini. Tetapi, semakin Cory dan tentunya Instagram Discover Hong Kong mengupdate perihal summer festival yang akan diadakan di Hong Kong dan Macau, saya makin bersemangat untuk menyelesaikan misi liburan yang luar biasa mahal (menurut saya) dan menyenangkan kali ini.

Discover Hong Kong. Im ready~

Berbekal tiket buruan hasil mendapatkan bonus bekerja selama tahun 2016 lalu, dan melalui pertemuan yang random gitu saja dengan Cory, tercetuslah ide gila buat issued tiket liburan ke Hong Kong (selanjutnya saya singkat HK saja, ya!) dan sejujurnya saya malah pengennya melancong ke Thailand yang menurut beberapa rekan dan bloger menceritakan bahwa Thailand lebih murah dan makananannya lebih enak. Terlebih, saya hobi sekali membeli teh Thailand alias Thai Tea jadi rasanya saya ingin merasakan minuman ini di Negara asalnya.

Tetapi ada keraguan di Cory. Sehingga terputuskan untuk membeli tiket Garuda PP ke HK yang juga disepakati bulan Agustus 2017. Tiket kami beli dari akhir Desember 2016. Pada saat mengissued tiket tersebut saya mengajukan request apabila ke HK haruslah mengunjungi Disney Land. Jadi, sepakat mengenai tiket, waktu keberangkatan, dan lokasi yang dituju.

Wajah bahagia sebelum boarding time..

Kenapa ke HK harus summer? Jujur saya juga tidak mengerti musim di HK saat itu. Saya mempertimbangkan kalau di Agustus 2017 saya sudah aman tabungannya. Karena saya ini hanyalah pegawai yang menerima bayaran di akhir bulan dan mendapatkan tunjangan di hari raya Idul Fitri, makanya bisa saya sisihkan sebagian untuk membayar Disney Land dan uang saku disana. Yah itu tadi semua random saja.

Setelah semua itenary dan perlengkapan di siapkan. Tibalah tanggal 12 Agustus 2017 hari Sabtu tepatnya. Cory menjemput saya didepan gang, maklum anak gang bukan anak komplek. Saya diantar oleh Mama sambil memastikan anaknya ini akan terbang jauh sekali dan keadaannya baik-baik saja saat berpisah.

Proses check in dan bagasi sudah semua selesai, saatnya menunggu dipanggil oleh petugas untuk memasuki gate yang diinstruksikan sebelumnya. Berhubung kami berangkatnya Agustus 2017, jadi penerbangan Internasional Garuda Indonesia sudah menggunakan terminal 3 dengan Gate A.

Ciri khas Terminal 3 niy. 😀

Jadwal penerbangan kami adalah 10.10 dan sampai di Hong Kong International Airport (HKIA) jam 16.10 dengan waktu tempuh 5 jam dan adanya perbedaan waktu dimana HK 1 jam lebih cepat daripada Indonesia. Dan sejujurnya, dengan perbedaan waktu 1 jam saja, saya lebay dengan merasakan jetlag. Percayalah, saya lebay.

Selama penerbangan cuacanya luar biasa cerah. Tidak terjadi guncangan yang berarti. Pesawat kami penuh dan sebagian besar penumpangnya adalah Warga Indonesia yang menjadi pekerja di HK. Disebelah saya ibu-ibu yang baik dan heran karena saya dikatakan niat banget ke HK hanya untuk liburan bukan bekerja. Tetapi, saya merasakan ‘rumah’ di perjalanan ini. Ibu-Ibu ini menceritakan bagaimana mereka di kontrak selama dua tahun dan baru bisa kembali ke Indonesia. Saya mendadak mellow mendengar ceritanya. Selama satu jam mengudara semua hening dan saya ikutan hening jadinya saya tertidur satu jam untuk menghilangkan kantuk.

Saya terbangun karena pembagian sarung tangan dan makan siang. Karena penerbangan ini merupakan penerbangan yang jauh dan membutuhkan waktu 5 jam, maka disediakan bantal, selimut, sarung tangan, penutup mata dan telinga. Penerbangan ini dibuat senyaman mungkin.

Jam 16.10 kami sampai di HKIA. Hal pertama yang dilakukan adalah menuju imigrasi dan mencari dimana letak bagasi sesuai penerbangan kami. Setelah mendapatkan visa on arrival yang mendapatkan waktu tinggal di HK selama 29 hari, kamu menuju tempat pengambilan bagasi dengan melihat papan informasi. Entah kenapa, waktu yang digunakan untuk mengambil bagasi kami lebih dari 45 menit lamanya.

Langit Hong Kong. Subhanallah. 🙂

Seperti biasanya ketika saya dan Cory ngebolang adalah tidak pernah membeli kuota disana. Kami hanya mengandalkan insting dan bertanya kesana-kemari. Setelah juga bekal membaca blog untuk liburan kali ini setidaknya saya ada gambaran perihal transportasi yang digunakan. Karena kami backpakeran jadi semuanya menggunakan alat transportasi umum. Nah, untuk mendapatkan transportasi ke Tsim Sha Tsui tempat kami menginap tinggal mengikuti petunjuk yang mengarah ke bus stasiun. HK ramah akan turis, dimana-mana ada petunjuk yang jelas dan banyaknya tourist information.

Kami langsung mencari ‘pangkalan’ bus dengan nomor A21 yang menuju ke Tsim Sha Tsui dengan tarif HKD 33 saja. Di bus stasiun HKIA sudah ada barisan antrean sesuai dengan nomor bus. Jadi tidak perlu bingung nyasar. Untuk membayarnya bisa dengan kartu Octopus yang kami beli di HKIA seharga HKD 150 dengan deposit HKD 50 dan saldo HKD 100. Okeh, berangkatlah kita ke Tsim Sha Tsui dengan bus Cityflyer yang super keren ini. Jarak antara Airport dengan Tsim Sha Tsui East adalah 45 menitan jadi bisa sambil tidur atau menikmati pemandangan yang keren ini.

Octopus Card..

Kami turun di Tsim Sha Tsui East dan rada kebingungan juga menjadi dimana Chungking Manshion. Gedung ini sama tingginya dengan gedung-gedung yang bejejer megah di Tsim Sha Tsui. Kami rada kebingungan dimana  posisinya. Karena kami bawa-bawa koper jadi banyak orang yang menawarkan jasa penginapan di gedung ini. Beruntungnya Cory ngeh kalau di depannya ini adalah gedung yang kami cari. Untuk penginapan disini sangat strategis walaupun banyak reviewer bilang kurang layak, tapi dengan budget seadanya kami menginap 4 hari disini semoga saja tidak sehoror yang ada di review.

Penginapan kami ada di Blok D dengan lantai 16. Memang suasana pada saat masuk ke gedung ini rada horor. Tetapi, selama kita bisa jaga diri, jaga barang bawaan semua akan aman-aman saja. Dan bersyukur juga kami menginap di lantai paling atas sehingga kalau mau turun pasti mendapatkan lift. Oh iya, disini sistem liftnya ganjil atau genap, jadi kalian harus memperhatikan kalian menginapnya di lantai ganjil atau genap.

Penginapan kami menyenangkan. Proses check in yang tidak bertele-tele, resepsionisnya bisa berbahasa inggris fasih, dan yang terpenting ruangannya bersih dan sesuai dengan prediksi saya. Walaupun sempit tidak seperti hotel di Indonesia, tetapi dengan uang yang dibayarkan dan fasilitas yang kami dapatkan lebih dari cukup. Oh ya terpenting kamar kami dekat dengan microwave dan pengisian air minum gratis. Alhamdulillah, apalagi saya harus banyak-banyak minum air putih disana takut dehidrasi, dan air putih disana seharga HKD 9 dengan rate 1.720 per 1 HKD. Luar biasa mahalnya. 😐

Mungkin perihal penginapan ini akan saya tuliskan terpisah untuk detailnya, ya!

Satu lantai biasanya ada beberapa nama penginapan. Kami ada di Australian 🙂

Kami memutuskan untuk beristirahat sambil mandi dan mengupdate social media kami. Tepat jam 19.45 kami keluar hotel dan memutuskan melihat Pulse Summer Festival yang ada di Tsim Sha Tsui atau disekitaran Pelabuhan Harbour. Jadi pertunjukan malam ini sekitaran 8 menit per-sesi untuk membangunkan Naga dan menceritakan sejarah HK. Seriously man, this show is very entertaining. Every light gave me effect so adorable. Tidak pernah saya merasakan warna-warni semeriah ini dan ditambah suasana syahdu di Pelabuhan Harbour, membuat saya tidak kuasa menahan tetesan air mata haru. Saya yang biasanya melihat di mesin pencarian, dan selama ini bermain monopoli hanya membaca lokasi dimana harus membayar sewa kepada mereka yang memiliki pelabuhan ini. Malam itu, saya merasakan, menginjakkan kaki saya di Negara Hong Kong yang jauh dari Mama dan Indonesia. Alhamdulillah, dan semua ini saya bayar dengan jerih payah sendiri. Nikmat Allah mana lagi yang hendak saya dustakan?

Mau nangis terharus T_T
Pulse Festival Tsim Sha Tsui. Hong Kong~

Cory itu anaknya suka kepo IG HK untuk tempat dan makanan apa saja yang harus diburu. Tak luput malam itu, ada uncle penjaja es krim yang ada di sekitaran pelabuhan. 1 es krim seharga 10HKD. its mean if you exchange in IDR 17.200,- for one cup ice cream cone. Dan antrenya itu yah ampun deh banyak juga peminatnya. Rasanya gimana, Ndue? Standar aja siy menurut saya. Hahaha. Enakan es krim M**.

Waktu menunjukkan pukul 21.30, mau kemana kita? Saya tidak mau pulang gitu aja ke Hotel. Saya kesini untuk menjelajahi tiap tempatnya. Jadi kami sepakati untuk ke Ladies Market yang ada di sekitaran Mong Kok. Rada ragu juga apakah masih pada buka atau tidak, dan sampai sana sudah sebagian bergegas untuk tutup. Yasudahlah, kami hanya berkeliling sebentar mencari oleh-oleh gantungan kunci dan tempelan kulkas. Dan kalau belanja di Ladies Market harus pintar-pintar menawar, ya! Tawarlah dari separuh harganya, jangan langsung membeli dengan deal harga yang mereka lontarkan. Namanya juga pasar, kalian berhak menawar.

Mong Kok malam itu luar biasa meriahnya. Disetiap pertemuan jalan-jalan yang ada di sudut kota ini dipenuhi orang-orang dengan atraksinya. Mereka, sebagian melakukan senam. Sebagian melakukan atraksi dengan kemampuan kungfu ataupun bernyanyinya. Mereka, menghibur semua pengunjung dengan menyumbangkan sebagian uangnya. Dan beneran saya gak bisa move on dengan gemerlap lampu dan tulisan yang nyala-nyala di sudut kota ini. Semua sempurna dan saya kini mengakui dan menyetujui kenapa HK disebutnya Las Vegasnya Asia. Semuanya disini menarik perhatian, dan keren buat foto atau instagramble.

Kami pulang tepat jam 23.00 dan baru ingat belum makan malam. Makan terakhir adalah dipesawat tadi jam 12.00. Sudah 11 jam perut kami belum terisi lagi. Karena bingung mau makan apa, akhirnya kami kembali dulu ke Tsim Sha Tsui dan mencari tempat makan yang buka 24 jam. Ketemulah kami pada tempat makan bernama MCD. Gak bisa move on ternyata. Habisnya adanya hanya ini di jam 23.30 penyelamat perut kita.

Makanan dari GA 860 siang itu.

Oh ya di MCD HK ternyata sistemnya self service dan saya kena teguran karena lama ordernya dari antrean di belakang. Ng.. nganu gimana saya mau cepat ordernya lha wong saya sendiri bingung gimana memilihnya dan mengoperasikan menunya. Sampai akhirnya si Bapaknya tadi terdiam karena saya bilang sorry it was my first time for using this machine. Step by step I should read carefully. Because, if I click and wrong its mean that I should pay and eat this food. Dan si Bapaknya memaklumi, mungkin karena bahasa saya juga yang ala kadarnya jadinya yaudah dia pasrah saja. Nah, saya memilih menunya Burger, Kentang, Minum. Setelah semua konfirm, langkah selanjutnya tetap ke kasir untuk bayar menggunakan uang cash. Sebenarnya, bisa juga pada saat finish my order tadi langsung pay by credit card or octopus ada pilihannya. Tetapi, saya pikir uang HKD lebih simple. Setelah membayar, antre lagi dibagian pengambilan makanan. Menunggu nomor order dipanggil dan langsung deh makan. Oh ya, di MCD HK jangan berharap saus melimpah, ya!

Jam menunjukkan 00.45 waktunya pulang ke penginapan dan siap-siap untuk rencana hari esok. Terima kasih ya Allah untuk waktu dan pengalaman luar biasa di hari pertama pertualangan kami di HK. Sampai penginapan pun kami harus mandi dan beberes. Waktu untuk siap-siap tidur adalah jam 2 pagi sebelum menutup mata, tidak lupa kami mengucap syukur atas rezeki dan kesempatan yang luar biasa hari kemarin.

Dan perjalanan ke dua di HK berlanjut setelah ini, ya.

Kesimpulan itenary hari pertama.

  1. Soetta – HKIA
  2. HKIA – Tsim Sha Tsui
  3. Pulse Festival – Mong Kok – Ladies Market
  4. Dinner MCD – Tsim Sha Tsui – Hotel

Regards,

Ndue.

Mikir keras. Mak, anakmu ini ternyata jenius, Mak…
Mong Kok.
Ladies Market.
Es Krim buruan si Cory.
Bahagia. Alhamdulillah, Banget.
Posted on

Semoga, Kelak..

Ada hal yang harus dicoba selama kita hidup di dunia ini. Entah percobaan akan hal apa-apa saja yang ada di dalam kehidupan ini. Tetapi, percobaan itu bisa jadi berhasil ataupun gagal. Kemarin, saya pun mencoba sesuatu yang diimpikan oleh orang tua manapun yang ada di Indonesia atau belahan dunia lainnya. Bukan sesuatu hal yang membanggakan atau menyenangkan untuk saya ceritakan disini. Hasilnya membuat saya patah hati, hancur berkeping-keping.

Saya masih saja belum bisa membanggakan orang tua saya. Walapun Mama saya mengucapkan kalimat penyemangat bahwa saya harus bangkit dan mencoba lagi, tetapi tetap saja ada sesak dan kecewa di relung hati saya. Anak satu-satunya ini masih saja belum bisa membanggakannya. Maafkan saya, Ma…

Andai saja saya diberikan waktu yang lebih banyak lagi, dan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, saya berjanji dan mengikat janji seumur hidup terhadap diri sendiri bahwa saya harus menjadi seseorang yang mengingat bagaimana orang tua saya akan berbahagia dan bangga melahirkan saya ke dunia ini. Ya, andai saja saya diberikan kesempatan itu. Tetapi, saat ini belum.

Banyak sebenarnya yang bisa dicoba diluar sana dengan tawaran yang lebih baik lagi, tetapi untuk orang tua atau keluarga saya di daerah, bahwa apabila saya berhasil akan memberikan cerita dan kebanggaan sendiri. Saya menyadari umur saya tidak lagi muda atau disamakan dengan-mereka-yang baru saja lulus. Tetapi, saya harus mencoba untuk kemudian mendapati pengalaman yang kelak saya bagikan ke anak dan cucu saya.

Saya menuliskan di blog ini bukan karena saya ingin berkeluh kesah. Tetapi, satu-satunya media dimana menjadi pengingat dari setiap kehidupan saya adalah di blog ini. Sama halnya ketika saya menganggur dan mencari pekerjaan kesana-kemari dua tahun lalu. Saya menuliskan tiap-tiap cerita perjuangan saya interview tetapi tetap saja masih belum mendapati tempat bernama ‘kantor’ yang menaungi saya bekerja. Sampai akhirnya saya diterima di tempat kerja sekarang ini. Sayangnya blog lama saya crash dan banyaknya virus serta blog saya menjadi ajang penjualan alat-alat berbau pornografi. Saya marah dan kecewa sehingga saya harus menghapus dan me-reset blog saya dari awal.

Saya juga menginginkan hal tersebut menjadi abadi dalam tulisan dan kemudian bisa saya baca dikemudian hari. Bahwa saya, pernah merasa terpuruk dengan hancur hatinya, menghancurkan mimpi Mama dan keluarga saya. Saya menjadi sangat sedih dan tak berdaya saat ini. Benar kata Mama saya bisa mencoba dan berusaha dengan belajar dan memperbaiki diri, hanya saja di setiap kalimat yang terlontar dari Mama, saya merasakan pedih dan sedih karena saya tidak juga mengabarkan hasil yang terbaik untuk hari ini. Maafkan saya, Ma..

Saya menyayangi, mencintai, menghormati orang tua saya tanpa batas. Saya menyadari tugas saya dilahirkan di dunia ini selain menjadi pelengkap dari keluarga kecil kami, saya menyadari tugas dan kewajiban yang hakiki. Bahwa saya harus menjadi anak yang selalu membanggakan Mama dan Bapak entah dengan bagaimana caranya. Bahkan sampai Bapak meninggalkan dunia di tahun 2011 lalu pun saya masih saja merasa belum cukup membahagiakan dan membuatnya bangga. Maafkan saya, Pak..

Kalaupun pada akhirnya saya tetap gagal dan dalam kehidupan ini saya tidak lagi mendapatkan kesempatan tersebut. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat orang tua saya bangga dan bahagia pernah melahirkan saya kedunia ini. Karena ada banyak jalan menuju Roma, pun begitu dengan cita-cita saya sampai menua nanti.

Kalau saja ada pertanyaan yang dilontarkan ke saya saat ini, apa cita-cita kamu yang sebenarnya, Ndue? Konsistenkah dari kamu kecil, Ndue?

Jawaban saya kini berubah. Cita-cita saya hanyalah membahagiakan orang tua saya dengan menjadikan diri saya sebaik-baiknya. Tidak perlu menjadi Dokter, Polisi ataupun Presiden. Menjadi diri sendiri dengan hasil pencapaian sendiri pun sudah menjadikan diri saya lebih baik daripada siapaun dan apapun.

Semoga saja satu, dua, tiga, atau lima tahun kedepan ketika saya kembali menemukan tulisan ini, saya sudah berhasil dengan kegagalan saya kemarin. Dan saya akan mengingatkan diri saya untuk tidak berpuas diri, karena saya pernah merasakan terjatuh sesakit ini. Dan semoga saja Mama saya tetap bahagia akan pencapaian saya kelak. Semoga saja.

Seperti kalimat-kalimat mutiara yang saya hafalkan dari Sekolah Dasar dulu, bahwasannya kegagalan adalah sukses yang tertunda. Semoga kalimat mutiara ini berlaku untuk saya. Amin!

 

Jakarta, 17 September 2017.

Ditulis Minggu dini hari jam 01.10

 

Ndue.

Posted on

Ndue’s Journey to Gumuk Pasir Parang Tritis – Jogjakarta ( Juli 2017 )

Hello, Gumuk Pasir. I Just love you. 🙂

Akhir-akhir ini perhatian dan keinginan saya untuk menulis dan mengisi artikel di blog ini hilang sudah. Entah karena alasan yang selalu ampuh saya pakai yakni tidak sempatnya saya alias sibuk untuk mengurusi blog ini. Tetapi, diluar perkiraan saya, Agustus 2017 ini menjadi bulan yang luar biasa memerdekakan saya dengan liburan yang hampir setiap minggu selama 3 minggu berturut-turut. Alhamdulillah.

Perjalanan yang akhirnya sukses dan saya nyatakan menyenangkan paling hebat di sepanjang tahun 2017 sampai dengan hari ini adalah Hongkong-Macau Trip. Dan saya akan tetap menuliskannya kemudian. Tenang saja, saya janji kali ini akan menuliskan dan membagi pengalaman saya kemarin di Negeri yang terkenal dengan kalimat Hongkong-nya. Seperti contoh dibawah ini:

X : Ndue, kamu kurusan, deh?

N : Kurusan dari Hongkong?!

Atau banyak percakapan yang sepertinya Hongkong itu adalah Negara yang tidak masuk diakal atau susah digapainya. Padahal, selama ada niatan pasti bisa singgah juga. Jadi bersabar saja, ya! Saya pasti akan menuliskannya. 🙂

Perjalanan ke Jogja kali ini di bulan Juli. Bulan yang menjadi suatu momentum hebat dalam hidup saya. Karena bulan Juli adalah bulan dimana saya dilahirkan di dunia ini. Jadi, saya beranggapan bahwa perjalanan bulan Juli ini adalah semacam kado untuk diri saya sendiri.

Im ready for this trip! Yiayyy.

Kota yang saya pilih adalah Jogjakarta. Selama setahun ini saya bolak-balik ke kota yang penuh cinta dan kenangan ini. Tetapi, tetap saja Jogja selalu saja memberikan magnetnya untuk saya kembali dan kembali lagi. Entah karena suasana kotanya, atau memang kota ini menjadi daya tarik sendiri untuk saya selalu singgah di tempat ini.

Gak bosen, Ndue? Jogja lagi, Ndue?

Pertanyaan yang sering saya dengar, dan saya selalu mengatakan tidak pernah bosan untuk singgah. Karena Jogja itu seperti never ending story jadi selalu ada saja tujuan baru dimana saya menghabiskan waktu atau mendapati hasil foto-foto buat saya bagikan ke Instagram saya.

Well, kali ini saya putuskan untuk mengunjungi Gumuk Pasir Parangtritis. Gumuk atau semacam padang pasir ini berada di selatan Jogja, atau sebelum kita ke Pantai Parangtritis. Jadi, karena saya ini suka banget meriset lokasi atau gaya apa yang bagus untuk IG saya, saya selalu memastikan bahwa tempat yang saya tuju adalah benar bukan di sebelahnya atau salah tempat. Karuan saja, ketika saya berhenti di gumuk pasir bukan seperti yang ada digambar-gambar yang selalu di post oleh akun IG dari Jogjakarta.

Icon of Gumuk Pasir – Jogjakarta.

Perbedaan itu terletak di ayunan yang ada di gumuk pasir itu. Jadi ada dua bagian gumuk pasir yang ada di kawasan parangtritis ini. Yang ayunannya satu atau disebelah timur itu bernama Gumuk Pasir Parangkusumo dan yang ayunannya dua disebelah barat itu bernama Gumuk Pasir Parangtritis. Awalnya saya berpikir apakah ayunannya sudah di renovasi? Ternyata ketika saya tanyakan ke bocah-bocah yang bermain disana bahwa yang saya maksudkan ada disebelahnya.

Take a photos like a model. 😀

Alih-alih ingin langsung bergegas pindah lokasi, saya malah banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Gimana saya bisa move on kalau pasir-pasir yang ada disini itu halus banget. Bahkan tingkah saya sendiri seperti anak kecil yang sedang mandi pasir. Kebahagiaan ini natural tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Juga rasa takjub atas tempat yang Instagramable seperti ini. Kalau saja ini ada di Jakarta pasti banyak anak-anak kekinian yang ketempat ini dan berebut foto. Sayangnya, ketika saya mengunjungi lokasi ini cenderung sepi hanya beberapa orang saja.

Yang ayunannya satu, bernama Gumuk Pasir Parangkusumo.

Jarak yang ditempuh dari kota Jogja menuju lokasi ini adalah sekitar 26KM. Saya menempuhnya menggunakan sepeda motor yang disewa. Dan walaupun jauh, jalan di Jogja ini tidak mengular kemacetan yang panjang seperti yang ada di Jakarta. Jadi saya bisa menikmati panorama yang disajikan oleh alam Jogja untuk sekedar memberikan warna yang lain untuk bisa diserap oleh kedua mata saya. Alhamdulillah. Saya menempuh perjalanan ini dengan suka-cita selama 1 jam lewat 10 menit saja.

Sampai di gerbang kawasan pantai selatan Jogja, siapkan uang sebesar Rp. 5.000,- per orang untuk masuknya. Dengan tiket seharga ini, saya bisa menikmati jajaran pantai yang ada di kawasan selatan Jogja ini. Dan selama parkir motor cukup membayar Rp. 3.000,- setiap lokasi yang didatangi.

Kalau jalan dari gumuk timur ke barat gak jauh, kok. Nanti sepanjang jalan ada pepohonan seperti ini. 🙂

Target saya di gumuk pasir untuk mengambil foto adalah 1 jam saja cukup. Tetapi, kenyataannya berbeda jauh. Sudah 2 jam saya ditempat ini. Panas terik tidak bisa menghalangi saya untuk menikmati bulir-bulir pasir yang ada di tempat ini. Sampai merengek untuk tidak mau pulang, karena saya sudah jatuh hati dan tidak mau berpisah dengan tempat ini.

Yang ayunannya dua, namanya Gumuk Pasir Parangtritis. Gak mau pulang dari tempat ini. 🙁

Karena keterbatasan waktu yang ada, jadi saya harus segera berpisah dan suatu saat nanti saya pasti akan singgah lagi. 🙂

Sampai jumpa, Gumuk Pasir. I just love you since the first time i feel you in my foot. I really really can’t move on from your memories. Please, take me back after this!

Deeply in love with you. 🙂

 

Regards,

 

Ndue.

Posted on

Perpanjang SIM C Beda Domisili dengan Online Mudah dan Murah

Yiayy SIMnya telah selesai dicetak. Alhamdulillah.

Kemarin, saya merasa menjadi perempuan yang luar biasa keren. Bagaimana tidak, saya berhasil memperpanjang masa aktif SIM C saya yang berbeda domisili dengan usaha saya sendiri tanpa bantuan calo ataupun teman yang mendampingi. Intinya saya benar-benar usaha sendiri dari -0- sampai dengan berhasil memperpanjang SIM C tersebut.

SIM C saya sebelumnya dikeluarkan oleh Polres Jawa Tengah, karena domisili saya sebelumnya adalah di Klaten. Dan dengan entah perasaan apa ini namanya, saya harus merelakan SIM saya berpindah domisili menjadi Metro Jaya, karena domisili saya saat ini adalah di Jakarta Barat. Berat hati untuk meninggalkan kependudukan di Klaten yang asri itu, tapi apa daya, kehidupan saya sudah berpindah sedari puluhan tahun di Jakarta. Jadi, nikmati saja lah.

Awalnya saya sempat dilanda perasaan bingung. Bagaimana bisa saya memperpanjang SIM tersebut di SATPAS DAAN MOGOT. Karena minimnya informasi itulah yang membuat saya juga frustasi sedemikiannya memikirkan proses dan biaya yang harus saya keluarkan. Saya sudah mulai berpikir dari bulan Mei kemarin tentang kira-kira proses dan biaya yang harus saya siapkan untuk memperpanjangnya.

 

Sampai pada titik saya mendapati inspirasi dari social media benar memang bahwa selama kita berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya, tidak malas, dan gunakan social media tepat pada kegunaannya, banyak informasi yang bisa saya dapatkan untuk prosedurnya seperti apa dalam hal perpanjang SIM C saya tersebut.

Informasi yang saya peroleh adalah bahwa untuk perpanjang SIM C beda domisili tersebut diperlukan adanya surat mutasi atau pindah domisili yang dikeluarkan dari domisili saya sebelumnya, yakni Klaten ditujukan ke Jakarta Barat. Kemudian baru bisa diperpanjang di Jakarta untuk SIM saya tersebut.

Sampai kemudian, saya menyempatkan mampir ke Polres Klaten pada saat mudik kemarin dengan menyiapkan fotocopy SIM dan KTP yang sudah E-KTP. Dan hasilnya nihil. Karena sistem dari Polri saat ini sudah luar biasa canggih, informasi yang saya peroleh tersebut sudah tidak terupdate. Lantas saya meminta solusi kepada petugas Polres yang sangat baik tersebut, bahwa dengan mendaftar secara langsung di SATPAS DAAN MOGOT, atau dengan cara mendaftarkan diri secara online di website POLRI bisa langsung perpanjang tanpa surat mutasi lagi.

Baiklah, saya mulai mempelajari kembali apa yang namanya daftar online dan mudah tersebut. Usaha yang diperlukan adalah jangan pernah malas membaca dan mencari tahu tentang informasi yang ada di website POLRI tersebut. Jadi saya runutin bagaimana –step by step- yang tertulis disana. Dan tidak ketinggalan dokumen apa-apa saja yang perlu disiapkan. Bersyukurnya, saya langsung gerak cepat, sehingga SIM C bisa diperpanjang online selama masa berlakunya belum habis. Kalau yang sudah habis masa berlakunya gimana? Saya juga kurang paham, coba kalian cari informasinya lagi ya.

ID Card – setiap peserta yang masuk. Wajib digunakan, ya!

Nah, setelah saya mengisi formulir yang ada di website tersebut, dan nomor registrasi online sudah dikirimkan via email yang saya tuliskan pada isian tersebut langkah selanjutnya adalah membayar biaya perpanjang SIM C tersebut. Pembayarannya sendiri bisa dilakukan di ATM BRI, atau teller BRInya langsung, atau juga bisa secara langsung pada saat kalian datang ke SATPASnya. Waktu itu saya coba bayar pakai ATM BRI di luar jam kerja dan datanya tidak ditemukan. Saya sempat curiga apakah ada yang salah atau tidak dalam hal mengisi nomor registrasinya tetapi, paginya saya coba sebelum berangkat ke SATPAS dan dengan ajaibnya ketika saya ketikkan nomor registrasi tersebut langsung muncul nama saya, keterangan perpanjang apa, dan biaya yang harus dibayarkan yakni cukup Rp. 75.000,-

Pada saat mengisi pilihan lokasi pengambilan SIM saya cari informasi dulu apakah SATPAS DAAN MOGOT buka atau tidak di hari sabtu. Bersyukur SATPAS DAAN MOGOT buka di hari sabtu, bergegaslah saya untuk ke lokasi yang dituju. Karena pertimbangannya Sabtu pasti ramai karena banyak pekerja yang memanfaatkan waktunya untuk datang ke lokasi ini. Jadi dari rumah saya berangkat pukul 07.45.

 

Lagi-lagi, saya sarankan untuk memudahkan dan tidak shock melihat antrean mengular yang ada di lokasi baiknya disiapkan dulu dokumen apa-apa saja yang perlu dibawa. Cari tahu informasi sebanyak-banyaknya perihal persiapan yang harus disiapkan. Atau pada saat mendapatkan email registrasi dari Polri, disebutkan juga dokumen yang dibawa. Diantaranya:

  1. Fotocopy KTP dan KTP asli yang sudah E-KTP
  2. Fotocopy SIM dan SIM asli
  3. Surat keterangan Sehat

Untuk point 1 dan 2 mungkin tidak menjadi hal yang membingungkan, tetapi untuk point 3 bagaimana? Di website online Polri juga ada pilihan dokter yang direkomendasikan untuk suratnya menjadi rujukan pada saat perpanjang SIM. Dan saya manfaatkan klinik yang ada di Jakarta Barat tersebut untuk meminta SKSnya. Sebenarnya di SATPAS DAAN MOGOT juga ada dokternya untuk dimintai SKSnya tetapi, kuat-kuatkanlah kekuatan kalian, karena antreannya bikin orang mules duluan, saking panjangnya. Prinsipnya saya adalah, tidak apa-apa mengantre beberapa pasien di Klinik tersebut, karena kan mengantrenya duduk dan dingin ada Acnya. Jadi sampai di SATPAS semua dokumen sudah siap tinggal menuju loket perpanjang SIM.

Saya juga merasa jenius atas prinsip saya tersebut diatas. Karena pada saat datang ke Kantor SATPAS saya diberikan identitas peserta ujian di pintu masuk. Jangan bingung bagaimana selanjutnya, tanyakan petugas yang ada. Bapak-Bapaknya disana banyak yang standby dan ramah juga membantu. Nyatanya saya tidak tersesat diantara banyak orang tadi hanya bermodalkan muka melas dan banyak bertanya. Karena, saya juga tidak mau tersesat dijalan. Hahaha.

Formulir yang harus diisi.

Setelah dicek dokumentnya lengkap, saya dirujuk ke loket No. 21, 22 dan 23. Yang bacaannya Perpanjang SIM diatas loket tersebut. Betapa bahagianya saya dilayani oleh Bapak yang ramah dan baik yang juga tetangga di kampung halaman. Intinya saya bahagia. Dari Bapak ini saya dijelaskan, walaupun sudah daftar online, saya perlu ke bank BRI untuk meminta formulir untuk diisi. Oh ya, siapkan juga alat tulis ya. Kalaupun tidak membawa, di luaran banyak yang jualan 1 setnya kayaknya 5ribuan sudah dapat bulpoint dan pensil.

Selesai mengisi formulir, saya harus mengcopy bukti pembayaran via atm tersebut. Bingung juga rasanya harus dimana saya fotocopynya. Lagi-lagi jangan malu bertanya, ketemu Bapak yang bertugas dikasih tahu petunjuk arahnya. Dan sempat shock ketika tahu harga perlembar copynya adalah Rp. 1.000,- *okeh saya kelihatan pelit ya* hahahaha.

Balik lagi ke Loket 21 dan ketemu Bapak yang baik tadi. Setelah minta izin untuk menyisir rambut saya dipersilahkan. Tidak lama prosesnya saya dirujuk ke bilik untuk pengambilan foto. Kebetulan saat itu tidak antre, jadi saya bebas memilih yang mana saja. Saya masih bahagia dan saya juga berpamitan ke Bapak tetangga tadi, berterima kasih sebesar-besarnya atas kesabarannya melayani saya.

Setelah berfoto, langsung diarahkan ke loket no. 30 diluar gedung. Tidak antre juga disana. Hanya butuh waktu tidak sampai 3 menit nama saya dipanggil. Dan jadilah SIM C atas nama saya dengan keluaran dari POLDA METRO JAYA. Dan lebih bahagia lagi ketika Bapak petugas di loket 30 juga orang Klaten. Wah, intinya saya bahagia luar biasa dan kecemasan-kecemasan akan adanya kesulitan di lapangan tidak terbukti sama sekali. Alhamdulillah. Saya keluar di pintu keluar dan mengembalikan ID Card peserta ujian tadi ke Bapak yang bertugas disana. Saya kemudian bahagia meng-update IG story saya dan menceritakan bahwa semua berjalan dengan sempurna dan tanpa memakan waktu yang lama. Karena total saya di SATPAS hanya kirakira 40 menitan saja sudah selesai. Yiayyyy.

Oh ya, dan ini rincian biayanya, yah.

  1. Surat Keterangan Sehat dari Klinik yang tertera di Web Polri Rp. 15.000,-
  2. Biaya perpanjang SIM C Rp. 75.000,-
  3. Fotocopy struk ATM di SATPAS Rp. 1.000,-
  4. Fotocopy SIM dan KTP saya stock 10 lembar Rp. 5.000,-
  5. Parkir di SATPAS Rp. 2.000,-

Total biaya yang dikeluarkan Rp. 98.000,- saja. Saya bersorak-sorak bahagia.

Intinya, guys. Jangan pernah malas membaca dan mencari informasi. Juga jangan mau jadi generasi yang instant yang apa-apa akan selesai dengan sendirinya dan cepat. Kalian harus berusaha mencoba. Karena kalau tidak pernah mencoba, kalian tidak pernah tahu rasanya berhasil atas usaha yang kalian lakukan. Dan terima kasih kepada POLRI yang sudah mempermudah pelayanan ke masyarakan dengan adanya sistem Online. Semoga POLRI dan Indonesia akan lebih maju dan berjaya.

Sampai jumpa 5 tahun kemudian!

 

Regards,

Ndue.

Posted on

Ndue’s Journey to Watersport Nusa Lambongan – Bali ( Mei 2017 )

Banana Boat – Nusa Lembongan

Berlibur ke Pulau Dewata adalah mimpi dari kebanyakan orang yang ada di Dunia ini. Tidak terkecuali saya. Bali, menjadi sebuah tempat dimana saya merasakan rileksasi kehidupan yang seyogyanya. Bagaimanapun Bali pernah tercoreng karena dua kali kasus bom yang meneror tempat ini, tetap saja setiap orang ingin mengunjungi Bali sebagai tempat berlibur, menikah, bulan madu, ataupun urusan kantor.

Saya sendiri pernah mengujungi Bali di Tahun 2014 yang lalu. Saat itu adalah liburan keluarga kecil kami. Karena yang berangkat hanyalah saya, Mama, dan Titis. Liburan kali itu menyenangkan sekali, karena itu moment kali pertama keluarga kami bisa mengunjungi tempat di luar kota bersama setelah biasanya Mama jalan sendiri, atau saya berdua dengan Titis yang pergi. Pada saat itu, saya berdo’a di Uluwatu ataupun di Tampak Siring bahwasannya pada usia 3 tahun mendatang saya bisa mengunjungi Bali lagi. Mitos, bisa dipercaya ataupun tidak. Tetapi, saya benar-benar bisa mendarat dan menikmati Bali bersama sahabat-sahabat dari Mercu Caur.

Iseng mengikuti pameran Astindo (Asosiasi Travel Indonesia) yang ada di JCC senayan bulan Oktober tahun 2016 karena saat itu saya dan Corry mengunjungi pameran itu tujuannya adalah ingin mencari hotel di di Singapore untuk liburan kami bulan depan yakni November 2016. Tetapi, Corry melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di salah satu sudut dari booth yang ada di Astindo. Booth itu bernama Dream walk, dimana kami para pengunjung bisa merasakan bagaimana kehidupan air dan berjalan didalamnya. Hanya saja, PR selanjutnya adalah kalau kami membeli paket tersebut, kami haruslah terbang ke Bali. Dimana itu membutuhkan biaya untuk membeli tiket pesawat, penginapan, makan disana dan banyak pertimbangan lainnya. Kami mulai goyah saat itu dan berlalu di booth itu tanpa membeli paketan tersebut.

Pontoon. Tetapi bukan punya Dream Walk. yang Dream Walk saya tidak mengabadikannya. Maaf.

Setelah berputar sekali lagi, dan menghitung dengan cermat. Hitung-hitung sebagai investasi ke diri sendiri juga akhirnya kami mengiyakan untuk membeli paket tersebut dan merencanakannya liburan tahun depan, yakni 2017 untuk bisa berkunjung ke Bali lagi. Setelah sepakat dengan Corry bahwa kita harus belajar hemat lagi untuk bisa mendapati liburan yang wah, kami benar-benar nekat untuk membeli paket tersebut. Dan akhirnya dengan sangat hati-hati Corry menyimpan bukti pembelian paket itu dari bulan Oktober 2016 sampai Mei 2017, atau selama 7 bulan disimpannya. Terima kasih, Kakak.

Awal tahun 2017 kami menawarkan kepada teman-teman seperjuangan dari Mercu Buana. Alumni Mercu Buana saya namakan Mercu Caur. Saat itu yang tertarik adalah Obed dan Hulman. Tak apa, yang penting kami ada teman untuk bisa liburan sekeren itu. Dan Obed dengan kesungguhan hatinya sudah meng-issued tiket PP ke Bali dengan jadwal yang ditentukan. Obed menyusul membeli tiketnya setelah beberapa hari dari saya dan Corry membeli tiket Garuda Indonesia dengan harga yang ciamik! Tetapi Obed tidak kedapatan membeli tiket tersebut. Sehingga Obed dan Kami berbeda maskapai, yang terpenting adalah bisa sampai di Bali.

Formasi lengkap plus plus ada Blinya, tetapi ini bukan Bli Ketut.

Hulman tak kunjung ada kabar dan waktu cepat saja berganti. Bulan Maret menjadi penentu bagi siapa yang akan menemani kami ke Bali. Allah bekerja secara misterius, ditemukannya teman kami Putri yang selama ini seperti hilang, tetapi Putri Mercu bukanlah Putri yang hilang atau Putri yang ditukar. Putri selama ini jarang bertemu apabila ada arisan mercu karena dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pelajar yang meneruskan brevet A dan B untuk perpajakannya. Dari Putri, kami dipertemukan dengan Lidya, saya sendiri bahkan harus mengingat seperti apa Lidya, karena saya hanya bertemu dengannya di Semester Pendek sebulan 4 kali saja bertemunya. Tetapi benar-benar ajaib, mereka tiba-tiba saja mengabari bahwa mereka sudah meng-issued tiket dengan berbeda maskapai antara saya, Corry dan Obed. Sekali lagi, itu bukan masalah yang besar untuk kami atasi.

Sampai dengan April, hulman tak juga ada kabarnya.. sampai akhirnya kekhawatiran itu terjawab sudah. Kami dikabari bahwasannya Hulman haruslah memilih antara karirnya yang menjadi lebih baik atau memilih berlibur bersama kita tetapi karirnya menjadi tidak baik. Hulman sedang menjalani masa-masa penilaian dimana dia tidak diperbolehkan cuti walau satu haripun. Dan liburan ini mengambil hari Sabtu sampai Senin, dimana Senin kami harus cuti untuk merasakan sensasi berlibur ke Bali ini. Kami berempat sudah mendapati izin untuk cuti di hari Senin. Jadi harapan untuk Hulman bisa gabung bersama kami pupus sudah. Tak apa, kita memang harus sudah menjadi dewasa dalam menentukan apa yang baik untuk kita dan buruk untuk kita.

Sampai seminggu sebelum keberangkatan Mei 2017. Kami masih berharap Hulman memberikan kejutan yang menyenangkan. Seminggu sebelum keberangkatan kami mengkordinasi apa-apa saja dan pembagian tugas apa-apa saja yang harus dikerjakan sebelum, pada saat di Bali, dan setelah dari Bali. Setelah semua terbagi kami siap untuk berangkat minggu depan. Penginapan sudah OK, akomodasi disana sudah OK, transportasi sudah OK, konsumsi sudah OK, dokumentasi walau rencananya di handphone Obed tetapi ternyata ketika di Bali tidak memungkinkan jadi terbagi antara kita semua rata dengan kamera mirroless kesayangan saya. Semua sudah OK tinggal berang-berang bawa berkat, yuk mari kita berangkat!

Blue sea and Me 🙂

Cerita selengkapnya mungkin bisa saya tuliskan di postingan selanjutnya, karena di postingan ini saya ingin lebih fokus membahas perjalanan kami menikmati liburan watersport yang ada di Nusa Lambongan – Bali. Banyak teman-teman saya mengira bahwa sea walker yang kami kunjungi itu di Tanjung Benoa, saya sendiri tidak tahu pastinya kalau disana. Jadi kami menikmati semua wahana ini ada di Nusa Lambongan.

Minggu Pagi 21 Mei 2017 kami dijemput dari penginapan kami di Ubud jam 06.30 WITA. Kami dijemput oleh Bapak driver dari Dream Walk. Karena paket yang kami beli sudah full service dari penjemputan sampai pengantaran kembali. Dari Ubud, kami diantar kesebuah dermaga. Sayangnya saya tidak mengingatnya. Sepertinya didaerah Sanur. Dari sana kami mendaftarkan ulang untuk diberikan bermacam-macam gelang yang menandakan jenis permainan kami. Dan diantara para penumpang fast boat rasanya kami patut bangga karena gelang yang kami pakai banyak jenisnya itu menandakan apa yang akan kami nikmati di watersport nanti adalah yang paling lengkap dan paling mahal tentunya. Hahaha.

Dari fast boat tersebut kami singgah di salah satu pulau untuk menurunkan para turis dari Negara lain untuk menikmati paketan snorkeling mereka. Kapal menjadi sepi hanya tinggal rombongan kami berlima dan pasangan Steven-Sierra. Rasanya kapal ini menjadi kapal pribadi kami. Dari sini saja, kami sudah mulai menikmati perjalanan mahal ini. *eh

Its mine!

Permainan pertama adalah Glass Bottom Boat dan Mangrove Tour perjalanan melihat dunia air dari kapal yang beralaskan kaca. Kami norak! Tetapi kami juga berbahagia. Bagaimana tidak, Indonesia sedemikian sempurnanya alamnya. Kenapa kami selalu terpacu dengan Negara lain yang menawarkan shopping town-nya. Saya sampai mengucap syukur atas kesempatan ini. Bagaimana teduh dan syahdunya pulau ini. Indonesia sangatlah sempurna.

Dokumentasi By Putri. Mangrove Tour ada Bli Ketutnya di belakang.

Setelah selesai dengan Mangrove Tour dan melihat kapal Pontoon (semacam kapal transit di tengah laut untuk wahana sea walker dan lainnya) penuh pengunjung yang lain, kami singgah di Pulai Lembongan. Di Pulau ini kami mendapatkan fasilitas tambahan yakni bermain Canoe. Dan saya bersama dengan Obed, Obed yang notabene bukan kecengan, gebetan, ataupun kekasih saya. Terima kasih banyak untuk Bli Ketut dan Dream Walker yang benar-benar memberikan pelayanan yang luar biasa. Kami jatuh cinta, Bli!

Akhhhh totally berasa Nyonyah. Mewah kali liburan saya kali ini Mak…

Selesai bermain Canoe yang juga gagal karena tidak bisa mendayung dan juga saya yang riwil karena takut terbalik (pernah trauma hampir tenggelam di laut) kami dipanggil oleh Bli Ketut untuk segera menuju ke Pontoon karena pengunjung yang lain sudah selesai. Sekarang tiba saatnya giliran kami untuk memulai permainan laut ini. Mulai deg-degan tetapi banyak rasa bahagianya.

Canoe yang pencitraan aja ini mah..

Permainan pertama adalah Banana Boat. Saya pernah hampir tenggelam dan hilang di laut karena wahana ini yang pernah saya rasakan di tahun 2013 bersama Mama saya. Trauma itu tidak juga sembuh atau menghilang. Makanya dari awal saya meminta kepada teman-teman saya untuk jatuh dan terbalik. Bersyukurnya kami mendapatkan Banana Boat yang double atau berlapis dua. Sehingga kemungkinan terbalik sangatlah kecil. Alhamdulillah.

 

Ayok di tarik Bli.

Bermain Banana Boat ini menyenangkan sekali. Rasanya beban pekerjaan, beban cicilan kartu kredit, beban hutang yang lainnya sirna sudah. Saya bahagia luar biasa, begitupun rekan-rekan saya. Dan permainan berakhir siap-siap beralih ke permainan selanjutnya.

Terombang-ambing Sky Donut, Mengalahkan sakit karena cinta.

Sky Donut begitulah panggilannya. Atau donat terbang. Permainan yang membuat saya ketakutan luar biasa dan sampai menciumi donutnya, bukan untuk dimakan, karena saya sudah lemas luar biasa. Cukup satu kali putaran saja untuk saya memohon belas kasihan berhenti dan menyudahi permainan ini. Percayalah teman, rasanya terombang-ambing dengan permainan ini mengalahkan bagaimana sakit hatinya terombang-ambing oleh kepastian cinta. Sakit luar biasa. Sakit di tenggorokan, di selangkangan, di kaki dan juga di tangan. Kalau kalian tidak menekan erat-erat sesuai instrukturnya, jangan salahkan kalau kalian terbang dan jatuh ke laut. Tetapi karena permainan ini pula, rasa beban yang saya sebutkan diatas itu benar-benar semakin terlupakan.

Dan puncaknya, yang ditunggu-tunggu dari 7 bulan yang lalu. Yap, Sea Walker. Saatnya berjalan di laut. Saya ingin melihat Nemo, ingin melihat banyak ikan, dan saya banyak maunya. Setelah mendengarkan instruksi dari instruktur yang disana, kami mulai deg-degan dan ingin merasakan sensasinya. Satu-satunya kunci yang harus diingat adalah jangan panik. Benar rasanya, kami seperti Sandy di filmnya Spongebob. Saya sendiri merasakan bagaimana beratnya helm yang saya gunakan. Saat perlahan-lahan saya menuruni anak tangga dengan bantuan instruktur yang ada di sebelah saya, kuping saya mulai mendengung, tetap jangan panik.

Sea Walker minus Putri.

Sampai di penghujung tangga yang ada dikapal menandakan bahwa saya sudah bisa menapaki laut kedalaman 5 Meter tersebut. Bli di sebelah saya setia menggandeng saya. Walaupun saya sadar ini hanya menggandeng menuju tempat dimana kami bisa diambil fotonya, bukan digandeng ke pelaminan *eh. Pertama kali saya menoleh kebelakang, saya menangis! Benar-benar cengeng rasanya. Saya menangis karena saya bisa melihat laut dengan segala kesempurnaan yang ada di dalamnya. Subhanallah, Allah menciptakan sedemikian sempurnanya kehidupan di laut dan di darat. Sebelum menyentuh ikan-ikan itu saya berdo’a dalam keheningan antara saya dengan air laut. Terima kasih atas sebesar-besarnya kesempatan dan rezeki yang sedemikiannya sampai saya dan teman-teman saya berada di tempat ini. Saya berkali-kali memegang ikan-ikan yang ada di depan helm saya, ini nyata. Bukan mimpi. Allahu-akbar.

Maha sempurna ciptaan Allah.

Sayangnya rekan kami Putri tidak bisa terlalu lama didalam air. Tekanan udara yang menipis membuatnya menyerah. Kami diberikan kode diatas sebelum turun tadi. Bahwasannya apabila merasa tidak nyaman ada kode tertentu. Instruktur menegaskan bahwa ini baru saja dimulai, dan Putri juga menegaskan bahwa dirinya sudah menyerah. Jadi Putri diangkat dulu ke Pontoon. Tidak apa-apa yah Put, semoga ada rezeki lagi dikemudian hari sehingga bisa merasakan sea walker lagi.

Obed yang bukan gebetan, Kecengan, ataupun Pacar. Dan ini serasa honeymoon gambarnya sama dia. pppfttt.

Setelah 7 menitan kami dibawah dan puas sama ikan-ikan yang ada. Waktunya kami diangkat ke daratan. Helmnya terasa berat. Tetapi, tidak perlu khawatir karena sudah ada beberapa Bli di atas yang membantu memegangi Helmnya. Permainan ini berakhir. Kami tertawa bahagia dalam haru yang ada.

Begaya aja dulu…

Permainan terakhir adalah Snorkeling. Kami semua payah kecuali Putri. Luar biasa teman saya satu ini dia menyelam tanpa jaket pengaman. Dia sudah terbiasa menyelam rupanya. Saya hanya bergaya saja dipinggiran Pontoon. Karena Bli Ketut melihat tidak adanya Prospek yang bagus dari kami berlima, bergegaslah kami ke Nusa Penida untuk beristirahat dan makan siang. Seharusnya kami makan di Nusa Lembongan, sekali lagi Bli Ketut dan Dream Walk benar-benar luar biasa memberikan pelayanan ke kami. Kami singgah ke Nusa Penida untuk makan siang dan beristirahat. Bli, Kami makin cinta.

Putri in action. Taken with my GoPro. Yiayyy.

Waktu yang diberikan kepada kami adalah 2 jam. Cukup puas untuk kami makan, berenang dan mengabadikan moment dalam bentuk foto. Pemandangannya luar biasa. Beban-beban yang saya sebutkan diatas tadi benar-benar tenggelam. Kami serasa Nyonyah dan Tuan yang mendapati fasilitas sedemikiannya. Akh, luar biasa liburan kali ini. Mevvah, eh mewah maksudnya. 😀

Menu makanan yang ada adalah Buffet masakannya enak, pemandangannya lebih enak lagi. Toiletnya juga bersih, sabun dan shampoonya juga aromanya enak. Sempurna. Tidak ada yang bisa menandingi liburan kali ini semua berjalan menyenangkan.

Mari makan, abaikan Corry yang dibelakang mulai kepikiran tagihan…

Setelah selesai di Nusa Penida, kami di oper menuju Pontoon untuk transit dan berpindah ke fast boat untuk kembali ke dermaga dimana kami tadi berangkat. Permainan berakhir Jam 14.30 WITA. Sampai di dermaga, Corry menebus dokumentasi bawah laut tadi. Hasilnya banyak sekali untuk di share ditulisan ini. Sehingga sebagian saya sudah posting di media sosial saya di Instagram. Silahkan bisa melihat keseruan kami di IG saya.

Nikmat Allah mana lagi yang hendak kau dustakan?

Buah penantian dari 7 bulan lamanya terbayarkan dengan pengalaman yang tidak terlupakan seumur hidup ini. Saya pribadi puas atas pelayanan Dream Walk begitupun dengan rekan-rekan saya. Terima kasih Bli Ketut dan Dream Walk atas pelayanan dan liburan yang tidak terlupakan ini.

Karena banyak yang menanyakan harganya saya sekalian share disini ya.

Untuk paketnya kami mengambil paket A seharga : Rp. 1.700.000,- per Orang.

Dan untuk dokumentasi bawah lautnya seharga : Rp. 400.000,- per CD yang hanya bisa diisi 4 orang saja. Jadi kami membeli 2 CD karena personil kami ada 5. Sehingga total biayanya Rp. 800.000,-

Setelahnya kami diantarkan kembali menuju hotel kami di Legian. Tunggu perjalanan liburan ke Bali kami selanjutnya, Ya!

 

Regards,

 

Ndue. 🙂

Persahabatan bangai kepompong. Gelangnya warna-warni. Yipiiy.
Mangrove Tour. Indonesia Sempurna.
Menu makan siang yang enaknya luar biasa.
Dermaga sebelum berpisah.

 

Posted on

Ndue’s Journey To Melacca – Malaysia (April 2017)

Melaka World Heritage City

Setelah sukses perjalanan ala backpacker ke Singapore November 2016 lalu, baru berselang satu minggu saja saya sukses meracuni teman seperjuangan saya yakni Corry untuk mengajaknya ke Negara Tetangga yakni Malaysia. Tadinya niat iseng tersebut karena banyaknya artikel yang saya baca perihal Malaka atau Melaka atau bisa juga Melacca. Nah, karena saya bisa mengambil hatinya dan meyakinkan si Corry bahwa ini menjadi pengalaman hidup, maka dia mengiyakan dan menyetujui untuk berkunjung ke Negara tersebut.

Dari November 2016 sampai dengan akhir Desember 2016 adalah waktu yang diberikan kepada saya untuk mencari maskapai murah tapi bertaraf Nasional. Rada pusing juga siy sebenarnya, karena kalaupun ada jamnya itu lho yang tidak bersahabat. Karena Semesta Mendukung, akhirnya saya mendapatkan tiket Malaysia Airlines dengan harga yang sangat-sangat terjangkau, Alhamdulillah.

Perjalanannya itu sendiri baru bisa terealisasi di Bulan April 2017. Dengan tidak menambahkan jadwal cuti karena cuti tahun 2017 sudah di sesuaikan dengan liburan yang ada. Maka, seperti kebetulan yang berlipat, long weekend, ditambahkan penerbangan yang terjangkau. Yippiy!

Tadinya sempat rada takut pas mau issued tiket MAS, tetapi karena saya selalu beranggapan bahwa Takdir dan Matinya seseorang sudah ditentukan, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi. Dengan semangat berlibur jadilah kami berangkat ke Negeri Jiran, Malaysia.

Sebelum berangkat, saya dengan Corry membagi tugas. Dia jadwalnya perihal transportasi disana. Karena kebanyakan review yang kami baca untuk transportasi menuju ke Sentral Malaka banyak dari KLIA 2 rada-rada pusing juga siy sebenarnya. Tetapi, setelah dijalani semua berjalan mulus dan kami sampai juga di Malaka.

Malaysia Airlines sendiri landing di Bandara Kuala Lumpur International Airport atau KLIA 1 atau juga KLIA saja. Disini, pusat dari penerbangan Nasional yang tiba di Negara Malaysia. Untuk mencapai ke Malaka sendiri kita harus ke Terminal Sentral Malaka. Jadi, tidak ada yang langsung ke bangunan merah Malaka. Kita harus transit dulu.

Terminal busnya sendiri ada di lantai bawah. Kalau kalian bingung, bisa bertanya ke petugas Bandara. Mereka siap membantu baik dengan Bahasa Inggris, ataupun Melayu. Kami langsung menuju ke lantai 1 dan langsung ditemui Bis di line 5 untuk segera melaju ke Malaka. Tarifnya sendiri lumayan mahal menurut saya, per orangnya RM 37,5. Dengan nilai tukar per RM-nya Rp. 3.500,- Tetapi, pas kami memasuki Bisnya, luar biasa nyaman sekali. Saya hitung hanya dengan 10 Orang saja, Bus tetap jalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Saat itu kami jalan di Jam 14.45 Waktu Malaysia.

Ini didalem bus siap untuk jalan-jalan.

Selama perjalanan dari KLIA 1 ke Sentral Malaka ditempuh dengan 2,5 jam. Jalanannya seperti tol dengan pemandangan hijau. Sayangnya saya tertidur selama 1 jam karena di pesawat tadi saya tidak tidur. Jadi saya hanya bisa menikmati perjalanan selama 1,5 Jam sisanya. Perjalanan ke Sentral Malaka tidak terkena macet jadi kalian bisa menikmati perjalanannya yang menyenangkan.

Sampai di Sentral Malaka, kami mencari bus ke dalam Negeri (bahasanya seperti itu) jalannya lumayan didalam terminal itu. Ikuti saja petunjuknya. Sampai kami menemui pintu dengan banyak Bus Panorama Malaka. Karena kami ingin ke Bangunan Merah (Stadthuys) kami mengambil Bus dengan jalur no. 17. Jadi jangan salah naik Bus ya teman-teman. Tarifnya sendiri di Bus ini hanya RM 3 dan bayarlah dengan uang pas.

Panorama Malaka No. 17

Setelah ditemui bangunan merah Bapak drivernya kemudian memberikan kode untuk turun dan banyak penumpang yang turun disana. Termasuk kami dan rekan traveler dari Argentina yang saya temui. Di Malaka sendiri kalau kalian ingin menginap, saya sarankan cari penginapan atau guest house murah di Jonker Walk. Banyak ditemui disana. Kami menginap di Layang-Layang Guest House. Walaupun tidak ada Teve, Kamar mandinya sharing dengan yang lain. Tetapi bisa di kategorikan nyaman dan bersih. Tentu saja harganya juga standar.

Kami sampai di penginapan sekitar jam 6 Sore waktu Malaysia. Istirahat sekitar 1 jam untuk mengisi daya baterai dan badan, kami melanjutkan jalan-jalan ke Jonker Walk di malam minggu untuk ngeceng eh bukan, untuk menikmati pasar malam yang ada di sana. Sebelum jalan, kami memutuskan untuk makan malam. Kali ini menu makannya ayam. Yiayyy! Untuk makan malam berdua cukup membayar RM 30 berdua. Harga yang standar dibandingkan biaya makan di Singapore. *hiks.

Ketemu kokoh Hokaido, ini kesukannya si Corry..

Jadi, Jonker Walk kalau malam minggu berubah menjadi kawasan pasar malam sepanjang jalan tersebut. Bukan sepanjang jalan kenangan lho ya. Nah.. Setelahnya kami makan malam, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran pinggir sungai Malaka. Padahal, sungai seperti ini di Indonesia banyak, saya suka sedih kalau mengingatnya. Kenapa di Negara tetangga, objek sungai bisa menjadi seramai dan semenarik ini. *drama mulai*

Pemandangannya sungai…

Anyway, kami memesan es kopi, teh hangat, dan kentang goreng semua dibayar seharga RM 18. Hampir 1,5 jam kami duduk santai di malam itu sambil membicarakan masa depan dan berharap suatu saat nanti kami bisa kembali ketempat ini dengan orang terkasih yang kemudian menjadi halal untuk kami. Saya suka suasana seperti ini, mungkin ini seperti Jimbarannya-Bali, tetapi rileksasi dari perahu-perahu yang lewat dan lampu yang cahayanya temaram menambah sempurna suasana yang ada.

Suasananya gak tergantikan..

Setelah jam 9 malam, kami memutuskan untuk berjalan ke Jonker Walk untuk melihat-lihat apa saja yang bisa kami beli. Selama hampir 2 jam menyelusuri jalanan malam dengan banyak pedagang menawarkan jajanannya, dan kami sudah membeli barang-barang yang sekiranya kami butuhkan, tiba saatnya kami memutuskan untuk kembali ke penginapan.

Our drinks..

Sampai di kamar, jam setengah 12 malam. Setelah cerita lagi, barulah jam 12 Malam saya tertidur dan bangun di jam 6 pagi untuk persiapan jalan-jalan pagi menyelusuri jejak peninggalan sejarah Malaka.

Setelah sarapan roti dan minuman hangat yang bisa diambil dipenginapan, kami memulai perjalanan tepat jam 8.30 Pagi. Mulai melihat-lihat spot foto yang bagus untuk diambil dan bersyukurnya, didepan penginapan sendiri ada grafiti yang cantik untuk di ambil fotonya.

Dari ketinggian 80 Meter Menara Taming Sari

Icon malaka sendiri adalah kicir-kicir angin, gereja merah, gereja yang ada di bukit St. Paul, museum maritim, dan menara taming sari yang bisa melihat malaka dari ketinggian 80 Meter. Dan kami mengunjungi semuanya. Bahagia!

Menara Taming sendiri sama dengan Tiger Sky Tower  yang ada di Singapore, hanya saja menurut saya lebih suka menikmati dan merasakan TST karena selama menara tersebut berputar, kita akan dijelaskan tentang negara Singapore. Nah untuk menikmati wahana ini, kalian cukup membayar RM 27 sudah mendapatkan 1 botol air mineral.

Perjalanan malaka berakhir siang itu karena kami harus bergegas untuk menuju ke Kuala Lumpur. Sebagian foto sudah saya share di Instagram saya. Silahkan berkunjung ya.

Kemudian apabila ingin menanyakan budget dan itenary disana silahkan tinggalkan komentar ya.

🙂

Kota bersejarah Malaka.
Corry in action 🙂
St. Paul Malaka.
Jonker Street.
suka warna merahnya 😀
Grafiti depan penginapan.
Icon Malaka.. Salah satunya.
Gereja Merah Melaka.